
Chalissa sudah keluar dari rumah sakit tapi dia masih belum bertemu dengan Akhtar. Segala cara sudah dilakukan lelaki itu namun hasilnya nihil. Melihat cinta Akhtar yang begitu besar pada Chalissa, Andrea memutuskan untuk membantunya. Siang ini, Chalissa mengantarkan gaun hasil rancangannya ke butik Alea. Andrea meminta Akhtar menemuin Chalissa di sana.
Setelah mendapat kabar dari Andrea, Akhtar bergegas menuju butik Alea. Harapnya, Chalissa mau bertemu dengannya sehingga dia bisa mengutarakan apa yang dipikirkannya tiga hari belakangan ini.
Di tempat lain, tepatnya di kampus, Rain baru saja menerima panggilan dari Alea yang mengatakan kalau gaun pengantin yang dipesan salah satu kliennya sudah selesai dan sudah bisa diambil. Rain segera menuju mobilnya kemudian memacunya menuju butik.
Akhtar sampai di butik Alea. kedatangannya sudah ditunggu oleh Andrea. Dia segera membawa pria itu ke lantai dua. Tempat Chalissa sedang memajang gaun rancangannya. Sesampainya di atas, perempuan berwajah oriental itu memberi kode pada para pegawai untuk turun. Kini hanya ada Chalissa dan Akhtar di ruangan itu. Namun Chalissa masih belum menyadarinya.
“Lissa.”
Chalissa mematung mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia bergeming, tak menjawab apalagi membalikkan tubuhnya. Akhtar mendekat lalu memeluk Chalissa dari belakang.
“Akhtar lepas.”
“Ngga Lis, tolong jangan menghindar terus. Ayo kita bicarakan masalah kita.”
“Apalagi yang mau dibicarakan? Hubungan kita sudah selesai.”
“Belum, hubungan kita belum berakhir. Aku tahu Lis, aku sudah tahu semuanya. Kejadian di Singapura.”
Chalissa terdiam, dia cukup terkejut Akhtar sudah mengetahui semuanya. Akhtar melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh kekasihnya itu menghadap ke arahnya.
“Apa karena itu kamu menghindariku?”
“Maaf, maaf karena aku ngga bisa menjaga diriku. Aku...”
“Ssssttt...” Akhtar menaruh telunjuknya di bibir Chalissa.
“Mari kita menikah.”
Mata Chalissa membulat mendengar ajakan Akhtar. Di saat dirinya menghindar karena merasa sudah tak layak untuknya. Kini dengan mudahnya Akhtar mengajaknya menikah.
“Tar, kamu sadar apa yang kamu bilang?”
“Sangat sadar. Hubungan kita sudah berjalan dua tahun dan aku pikir lebih baik kita menikah secepatnya. Supaya aku bisa menjagamu dengan baik.”
“Tapi aku... aku sudah kotor.”
“Aku ngga peduli. Kamu melakukannya karena dijebak. Aku mencintaimu Lissa, ayo kita menikah.”
Chalissa begitu terharu dengan sikap Akhtar. Matanya berkaca-kaca, Akhtar menyentuh pipi kekasihnya itu lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan lembut Akhtar mencium bibir Chalissa, menyesapnya dengan penuh kelembutan. Chalissa melingkarkan tangannya ke leher kekasihnya. Keduanya mulai terhanyut dalam ciuman berbalut kerinduan.
Rain sampai di butik Alea. salah satu pegawai mengarahkannya ke lantai dua. Setengah berlari Rain naik ke lantai dua. Namun saat akan memasuki ruangan, langkahnya terhenti saat melihat sepasang kekasih sedang berciuman mesra. Rain memalingkan wajahnya, dengan gerakan tanpa suara dia bergegas kembali ke lantai bawah.
“Rain.”
Rain terjengit ketika Alea memanggilnya. Niatnya yang ingin langsung pulang pun terhenti. Sambil menahan sesak di dada, Rain menghampiri Alea.
“Bagaimana kamu sudah lihat gaunnya?”
“Hmm.. belum mi.”
“Ayo mami antar,” Alea menarik tangan Rain. Saat akan menapaki anak tangga, dari arah atas Akhtar dan Chalissa menuruni tangga.
“Sudah selesai Lis?”
“Sudah tante.”
__ADS_1
Mata Rain bersiborok dengan mata Akhtar, namun gadis itu segera memutuskan tatapannya dengan melihat ke arah lain. Sejak makan malam yang gagal, Akhtar tak pernah menghubunginya lagi.
“Rain, aku mau minta tolong boleh?”
“Soal apa kak?”
“Kamu mau kan ngerancang pernikahan aku dengan Akhtar.”
DUARR
Rain seperti habis tersambar petir mendengar rencana pernikahan Akhtar dengan Chalissa. Berbeda dengan Alea yang merasa senang keponakannya akan segera menikah.
“Kalian akan menikah? Ya ampun tante senang dengarnya. Kamu mau ya Rain merancang pernikahan mereka? Demi mami.”
“I.. Iya mam.”
“Besok aku ke kantor kamu Rain, untuk membicarakan konsepnya.”
“Boleh kak. Mami, aku pulang dulu ya.”
“Loh, itu gaunnya gimana?”
“Nanti Hari yang ambil gaunnya mi. Rain lupa mau antar mama ke pengajian.”
“Oh ya sudah. Hati-hati sayang.”
Rain hanya tersenyum kemudian bergegas pergi. Dia tak akan sanggup berlama-lama dengan sepasang kekasih itu. Dengan kecepatan tinggi Rain memacu kendaraannya. Tanpa disadari, dia mengarahkan kemudi mobilnya ke area pemakaman. Tak ada niatan Rain untuk turun. Dia menundukkan kepalanya hingga menyentuh kemudi lalu menangis sepuasnya.
TING
From The Lion :
Di mana?
Rain.
Ngapain kamu di kuburan?
Rain, jawab!
To The Lion :
El... 😭😭😭
Tak lama ponsel Rain kembali berbunyi, kali ini panggilan masuk dari sang pengirim pesan yang tak lain adalah Elang. Rain menenangkan diri sejenak, baru kemudian menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” suara Rain terdengar bindeng.
“Kenapa?”
“El.. hiks.. hiks.. kak Akhtar... hiks.. hiks.. kak Akhtar mau nikah sama Lissa hiks..”
Terdengar helaaan nafas Elang setelah mendengar penuturan sahabatnya. Rain kembali terisak. Elang hanya diam mendengarkan isak tangis sahabatnya itu.
“Hiks.. hiks.. harapan gue hancur El... kalau memang kak Akhtar mau menikah dengan Lissa, kenapa dia kasih harapan ke gue, El hiks.. hiks...”
__ADS_1
“El.. kok lo diem aja sih?”
“Beresin dulu nangisnya terus keluarin dulu ingus lo. Biar ngga sedot-sedot mulu.”
“Eeelll!!!”
Walaupun kesal, Rain menuruti juga ucapan Elang. Dia berusaha menenangkan diri. Setelah tak terdengar lagi tangisan sahabatnya, Elang memulai kuliah shubuhnya, karena di London memang masih shubuh.
“Rain, berapa lama kalian dekat?”
“Tiga bulan.”
“Lalu status bang Akhtar dengan Lissa saat itu?”
“Lagi break katanya.”
“Lo ngga diapa-apain kan sama dia? Jangan bilang kalau kalian pernah..”
“Ngga lah! Lo kira gue cewek apaan,” Rain langsung memotong ucapan Elang setelah tahu kemana arah pembicaraan pemuda yang dijuluki singa olehnya.
“Baguslah kalau kalian ngga melakukan hal-hal yang melanggar agama. Terus sekarang masalahnya di mana? Apa yang buat lo sampai nangis bombay kaya gini? Sejak awal lo tahu mereka berhubungan, lo pasti udah siap kan kalau mereka nikah? Masalahnya apa? Apa karena bang Akhtar udah PHP-in elo? Lo sendiri yang bilang, bang Akhtar selalu bersikap baik sama semua orang, elo nya aja yang baper. Sekarang lo mau nyalahin siapa? Bang Akhtar? Lissa? Lo sendiri yang masuk di antara mereka. Mau mereka break kek, LDR kek, ngga seharusnya lo ada di antara mereka. Karena apa? Ujung-ujungnya pasti elo yang bakalan terluka.”
“Terus gue mesti gimana El?”
“Ya ngga gimana-gimana, lanjutin hidup lo seperti biasanya. Selama setahun kemarin lo baik-baik aja kan. Berarti bukan hal yang mustahil buat elo melanjutkan hidup. Jangan buang waktu meratapi sesuatu yang bukan milik lo. Jalan lo masih panjang, Rain. Nikmati masa muda lo dengan melakukan hal yang bermanfaat. Gue pernah bilang kan, kejar baiknya dulu. Kalau lo udah jadi perempuan yang baik, maka jodoh yang baik juga akan datang buat elo.”
“Lissa minta gue yang urus pernikahannya.”
“Ya urus aja. Anggap mereka sama seperti klien lo yang lain. Be strong, Rain. Jangan tunjukkin kelemahan elo. Elo gadis yang kuat, lo boleh nangis bombay sekarang tapi jangan pernah menitikkan airmata di depan mereka. Dan berhentilah menatap ke arah bang Akhtar. Buka mata lo lebar-lebar Rain, ada laki-laki lain yang tulus cinta sama elo. Coba buka hati lo buat dia.”
“Siapa? Gara?”
“Iya Gara. Dia mungkin bukan tipe pria idaman lo. Dia mungkin ngga seperti bang Akhtar yang sikapnya mirip papa Regan, tapi dia tulus sayang sama elo Rain. Seorang laki-laki yang mencintai perempuan, maka dia ngga akan mau menyakiti perempuan itu. Gue percaya Gara ngga akan berani nyakitin perasaan elo. Tapi bang Akhtar, ada nama perempuan lain di hatinya dan peluang dia nyakitin elo lebih besar. Berhenti Rain, berhenti nyakitin diri lo sendiri. Kalau lo ngga mau terima Gara, it’s okay tapi yang penting lo harus bisa menata hati. Jangan terpuruk terlalu lama. Sekarang lo pulang, jangan bikin papa sama mama cemas.”
“Iya El, thanks udah mau dengerin curhatan gue. Thanks ngga pernah bosen buat nasehatin gue. Sorry kalau gue selalu nyusahin elo. Makasih udah mau jadi pengganti kak Rakan buat gue.”
“Itu janji gue sama elo, Rain. Gue akan tetap menjadi bang Rakan buat elo, sampai elo bertemu dengan pasangan hidup lo nanti.”
Rain kembali menangis, bukan karena masih sedih mengingat pernikahan Akhtar dan Chalissa. Tapi karena merasa terharu dengan kata-kata Elang.
“Yee nangis lagi.”
“Gue kan terhura sama ucapan lo.”
“Dih lebay, udah sana pulang. Gue tutup ya, awas kalau lo ngga pulang! assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, dasar singa bawel!”
Elang memutuskan panggilannya. Setelah berbicara dengan sahabatnya, hati Rain merasa sedikit lega. Dihidupkan mesin kendaraannya, tak lama roda bulat itu bergulir meninggalkan area pemakaman.
🍁🍁🍁
**Udah luka ditambah garem pula. Kasihan Rain, mengurus pernikahan Akhtar dan Lissa. Menurut kalian El suka ngga sih sama Rain? Atau murni karena ingin jadi pengganti Rakan aja?
Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya. Jangan lupa like nya juga. Kalau masih ada vote yang belum terpakai bisa juga dong lempar ke sini. Buat yg kesel sama Akhtar, boleh kok lempar Akhtar melalui mamake, pake bunga, kopi, kursi pijat atau silet😂
See you on next chapter😉**
__ADS_1