Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Ayah is The Best


__ADS_3

“Saya harap kerjasama kita terus berlanjut ke bidang yang lain.”


Deski menjabat tangan Elang setelah pertemuan mereka selesai. Pebisnis muda itu puas dengan kinerja Humanity dalam memenuhi kebutuhan hotel dan restoran yang berada di bawah naungan Mahameru Group.


“Mudah-mudahan pak Deski.”


“Oh iya, papa saya berminat untuk mengakuisisi hotel milik Gala Corp yang ada di Palembang.”


“Benarkah? Kalau begitu bapak bisa bertemu langsung dengan penanggung jawabnya, pak Firlan.”


“Boleh. Akhir pekan ini ada perayaan ulang tahun papa saya. Pestanya private, tidak banyak yang diundang. Saya harap pak Elang beserta istri bisa datang. Dan tolong katakan pada pak Firlan untuk datang. Kita bisa bicarakan akuisisi hotel di sana.”


“In Syaa Allah saya akan datang. Nanti saya juga akan mengabari pak Firlan. Terima kasih untuk undangannya.”


“Sama–sama pak Elang. Ok, sepertinya saya harus pergi sekarang.”


Elang berdiri lalu mengantar tamunya sampai ke depan pintu ruangannya. Virza menganggukkan kepalanya ke arah Deski ketika pria itu melintasinya.


Sementara di depan gedung Humanity, Azkia baru saja turun dari mobil. Hari ini dia sengaja datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang seperti permintaan suaminya. Sebelum naik ke lantai atas, dia lebih dulu menuju More & Most Coffie. Azkia memesan enam cup kopi dengan rasa yang berbeda sesuai dengan kesukaan para penghuni lantai sebelas.


Deski menghentikan langkahnya ketika sudut matanya menangkap sosok wanita yang tengah diincarnya sedang duduk menunggu di coffie shop. Senyumnya mengembang melihat Azkia di sana. Dengan cepat pria itu menghampiri lalu duduk di hadapannya. Azkia tentu terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


“Hai.. ketemu lagi kita. Ternyata kamu memang jodohku.”


Azkia tak menanggapi. Dia segera memasukkan ponsel ke dalam tas saat pelayan datang mengantarkan pesanannya. Tanpa menghiraukan Deski, dia berjalan keluar. Pria itu dengan cepat mengikutinya lalu mensejajarkan langkahnya.


“Hey c’mon give me a chance. Mau makan siang bersamaku?”


“Aku sudah ada janji makan siang,” Azkia mengangkat kotak bekal di tangannya.


“Oh ya? Dengan siapa? Temanmu?”


“Suamiku.”


“What?? Suami?? Hahaha.... alasanmu sungguh klise. Well.. karena aku juga punya banyak pekerjaan hari ini, kamu aku lepaskan. Tapi jika kita bertemu lagi, aku pastikan tidak akan melepasmu,” Deski mengedipkan sebelah matanya pada Azkia.


“Sinting,” desis Azkia seraya mempercepat langkahnya namun Deski mencegatnya.


“Give me your number.”


“Minggir.”


Deski bergeming, Azkia bergeser ke arah kanan namun Deski mengikutinya. Azkia menatap kesal ke arah Deski namun lelaki itu hanya melemparkan senyuman. Senang sekali membuat wanita di depannya ini kesal. Sekali lagi Azkia bergeser tapi lagi-lagi Deski menghalanginya. Keduanya tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi tak jauh dari sana.


“Kia...”


Azkia menoleh mendengar suara di belakangnya. Seperti melihat malaikat penolong, Azkia segera menghambur ke arah Adit kemudian mencium punggung tangannya.


“Papa,” panggilnya.


Deski mengernyitkan keningnya mendengar kata papa keluar dari mulut Azkia. Sejenak dipandanginya pria paruh baya di depannya ini. Begitu pula dengan Adit, ditelisiknya wajah Deski penuh kecurigaan.


“Apa dia mengganggumu nak?”


“Maaf om, saya tidak bermaksud mengganggu. Hanya menanyakan nomor ponselnya saja. Saya Deski,” Deski mengulurkan tangannya ke arah Adit, dengan enggan Adit menyambut uluran tangan pria itu.

__ADS_1


“Saya permisi. Lain kali saya harap kamu menerima tawaran saya,” Deski mengedipkan matanya ke arah Azkia lalu beranjak pergi.


“Dasar sinting,” kelutus Azkia kesal.


“Kamu mau kemana nak?”


“Mau antar makan siang buat mas El. Papa mau ketemu ayah?”


“Hmm.. kita ada janji makan siang di Premium. Ayo..”


Adit merangkul bahu Azkia, keduanya berjalan menuju lift. Pemilik sepasang mata yang sedari tadi terus mengawasi Azkia bernafas lega melihat kedatangan Adit.


“Pak, pak Adit sudah datang,” suara Andri membuyarkan lamunan Irzal.


“Hmm.. apa kamu tahu siapa laki-laki yang bersama Kia tadi?”


“Dia Deski, putra dari Erik Yudhistira, CEO Mahameru Group. Deski dan mas Elang sedang ada kerjasama.”


“Cari tahu semua tentang Deski. Laporannya harus sudah ada besok di meja saya.”


“Baik pak.”


Melihat gelagat Deski pada Azkia, Irzal menangkap sesuatu yang kurang baik dari laki-laki itu. Setelah memastikan Deski tak kembali, Irzal segera beranjak. Dia melangkahkan kakinya menuju lift diikuti Andri dari belakang.


🍁🍁🍁


“Assalamu’alaikum.”


Azkia menyembulkan kepalanya setelah membuka pintu ruangan Elang. Rapat singkat yang diadakan Elang langsung berakhir setelah kedatangan sang istri. Fitria membereskan berkas yang berserakan di meja.


Jayden menyambar kopi yang ada di tangan Azkia kemudian membagikannya kepada semua yang ada di ruangan. Azkia menaruh kotak bekal di meja, membuka lalu menyusunnya di atas meja.


“Ini buat kita juga nih?” tanya Jayden.


“Mana ada. Udah sana keluar,” usir Elang.


Jayden dan yang lain segera keluar dari ruangan. Sebelum pergi Farel menyempatkan diri mencomot perkedel jagung dari kotak bekal. Elang mendelik ke arahnya namun tak dipedulikan olehnya.


Elang berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya. Tak lama dia kembali lagi lalu duduk di samping sang istri. Azkia menyendokkan lauk ke dalam kotak berisi nasi lalu memberikannya pada Elang.


“Makasih sayang. Kamu makan juga ya, mas suapin.”


“Ngga usah mas, aku bisa makan sendiri.”


“Kamu udah masakin buat mas, jadi sekarang biar mas yang suapin kamu.”


“Kan udah kewajibanku masak buat mas.”


“Udah kewajiban mas juga bahagiain kamu, salah satunya suapin kamu.”


Azkia tersipu malu mendengar gombalan suaminya. Elang mulai menyuapi Azkia bergantian dengan dirinya.


“Sayang, akhir minggu ada undangan pesta ulang tahun relasi bisnis mas. Kamu ikut ya.”


“Iya mas.”

__ADS_1


Elang mengusap sisa saos yang menempel di sudut bibir Azkia dengan ibu jarinya lalu menjilatnya. Azkia memandangi wajah suaminya lekat-lekat, perlakuan Elang sebelum dan sesudah menikah berubah drastis. Berulang kali dia dibuat terkejut dengan romantisme yang ditunjukkan suaminya itu.


“Habis ini ada acara apa?”


“Ngga ada mas. Hari ini libur kuliah.”


“Temenin mas sampai pulang kerja ya. Kamu istirahat aja di kamar.”


“Iya mas.”


Azkia membereskan kotak bekal di atas meja. Setelah itu masuk ke kamar, sedang Elang bersiap untuk menghadiri meeting bersama sang CEO.


🍁🍁🍁


Malamnya seluruh keluarga Ramadhan sedang berkumpul di ruang tengah, tak terkecuali pasangan pengantin baru. Banyak yang mereka bicarakan di sana, Irzal dengan serius mendengarkan perbincangan anak-anaknya yang terkadang mengundang gelak tawa.


“Yah, akhir minggu ini ada undangan pesta ulang tahun CEO Mahameru Group.”


“Hmm.. kamu sama Kia aja yang datang. Ayah dengar mereka berminat akuisisi hotel di Palembang.”


“Iya yah. Makanya sekalian Firlan sama Gara aku ajak ke sana. Biar mereka ketemu dan bicara langsung,” Irzal manggut-manggut saja mendengar penuturan anaknya.


“Bun, gaun buat Kia udah siap?”


“Udah tenang aja.”


“Jangan lupa niqabnya ya bun.”


“Mas,” rengek Azkia.


“El, biarkan Kia ke sana tanpa niqab,” sela Irzal.


“Tapi yah, aku ngga rela orang asing lihat wajah Kia.”


“Yang hadir di sana kebanyakan rekan bisnis kita juga. Mereka harus tahu wajah istrimu, supaya tidak ada yang berani mengganggunya ketika bertemu di luar. Kalau kamu terus tutupi wajah istrimu, bagaimana kalau ada yang berusaha mendekatinya? Lebih aman kalau mereka tahu soal Kia.”


Elang terdiam, ucapan ayahnya barusan cukup masuk akal. Di usia Azkia yang masih muda tentu akan banyak orang menyangka dia masih lajang. Walaupun berat, namun Elang menganggukkan kepalanya juga. Azkia tersenyum senang.


“Makasih yah.. ayah is the best. Love you ayah...”


“Ehem!!! biasa aja Az,” tegur Elang.


“Dasar bucin,” ledek Farel.


“Lebay,” cibir Ayunda.


“Dasar anak durjana,” Irzal mengeplak belakang kepala anaknya.


Poppy dan Azkia hanya terkikik geli melihat respon yang lainnya. Elang nampak tak peduli, dirangkulnya bahu Azkia lalu mendaratkan ciuman di pipi sang istri membuat wajah Azkia merona. Yang lain hanya memutar bola matanya jengah melihat kebucinan manusia kutub.


🍁🍁🍁


**Mas El yang harus dicemburui itu Deski bukan ayah Irzal, hadeuh...


Mohon maaf hari ini mamake cuma bisa up 1 episode dan sepertinya besok ngga akan bisa up, karena ada kesibukan di RL yang ngga bisa ditinggalin.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakya ya. Like, comment and vote nya🤗**


__ADS_2