
“Bisa kita bicara?”
Azkia mendongakkan kepalanya, matanya teralih dari layar monitor ke sosok di depannnya. Syifa berdiri di hadapannya, melihat ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Bisa tunggu lima menit lagi?”
“Aku tunggu di depan.”
Syifa meninggalkan meja kasir lalu menuju salah satu meja yang ada di depan. Azkia melanjutkan pekerjaannya, sambil pikirannya menerka-nerka hal apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu.
Lima menit kemudian pekerjaan Azkia selesai. Dia meminta Arul menggantikannya sebentar, lalu menghampiri Syifa. Azkia menarik kursi di depan Syifa yang sedang menyeruput iced cappucinonya.
“Ada apa ya kak?”
“To the point aja. Apa hubunganmu dengan Elang?”
Azkia terhenyak mendengar Syifa menanyakan hal tersebut. Hubungan keduanya tidaklah dekat, bahkan mereka belum berkenalan secara resmi tapi Syifa langsung menanyakan hal yang bersifat pribadi.
“Aku dan mas Elang hanya berteman.”
“Hanya sebatas itu? Tidak lebih?”
Azkia mengangguk pelan. Syifa tersenyum samar, diraihnya kembali gelas minumannya. Mata Syifa terus memandangi Azkia membuat gadis itu jengah.
“Aku sudah lama berteman dengan Elang. Semua tentang dirinya aku sudah tahu. Pribadinya, keluarganya, teman-temannya bahkan wanita yang dicintainya pun aku tahu.”
Syifa menjeda ucapannya, dia ingin mengetahui reaksi gadis di depannya. Sebisa mungkin Azkia menyembunyikan keterkejutannya. Dia berusaha bersikap biasa walau hatinya diliputi rasa penasaran.
“Jangan salah paham. Aku mengatakan ini karena tidak mau kamu mengalami apa yang kualami. Jujur saja, aku menyukai Elang, sangat menyukainya. Dia adalah laki-laki sempurna yang pernah kutemui. Dia juga bersikap sopan dan baik padaku. Tapi ternyata kebaikannya padaku memang hanya sebatas teman saja, tidak lebih. Elang sudah menyerahkan hatinya pada perempuan lain.”
“Siapa?”
“Kamu mengenalnya, sangat mengenalnya. Namanya Rain alisa Rayna Kamalya Vaughan, istri dari Akhtar Keenan Ibrahim, bos sekaligus pemilik mini market ini.”
“Ngga mungkin. Mas El itu lelaki yang tahu akan hukum agama. Tidak mungkin dia menginginkan istri orang lain.”
“Elang mencintai Rain sebelum dia menikah dengan Akhtar dan sampai saat ini perasaannya belum berubah. Satu-satunya perempuan yang mampu menaklukkan gunung es itu hanya Rain. Dan laki-laki seperti Elang bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta dan melupakan perasaan cintanya begitu saja. Apalagi mereka bersahabat sejak kecil, benih-benih cinta itu sudah tertanam sejak lama.”
“Sebenarnya apa tujuan kakak mengatakan itu semua padaku? Aku sudah mengatakan kalau antara aku dan mas El hanya berteman saja. Jadi soal dia mencintai perempuan lain bukan urusanku.”
Syifa tertawa kecil, hatinya begitu senang mempermainkan perasaan Azkia. Gadis itu boleh saja mengelak, tapi sorot matanya dipenuhi kecemburuan. Syifa memandangi Azkia dengan senyum terkulum.
“Jangan mengelak. Sebagai sesama perempuan aku tahu dari caramu melihat, kamu mencintainya, sama seperti diriku. Tapi apa daya ternyata kita berdua tak bisa menang melawan pesona seorang Rain.”
“Sejak awal aku juga tidak berharap kalau mas El akan membalas cintaku. Aku hanya berharap dia bisa merasakan ketulusanku. Terima kasih atas informasinya. Seperti yang kakak bilang kalau mas El hanya mencintai mba Rayna, maka aku harap kakak tidak menggangguku lagi atau melihatku dengan penuh kecemburuan karena sainganmu adalah mba Rayna, bukan aku. Maaf aku permisi, jam kerjaku belum berakhir.”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Syifa, Azkia meninggalkannya dengan hati hancur berkeping-keping mengetahui lelaki yang dicintainya ternyata mencintai perempuan. Terlebih perempuan itu adalah sosok yang dihormati dan disayanginya. Azkia kembali ke meja kasir, mencoba mengusir kegundahan hatinya dengan bekerja.
Ponsel Azkia bergetar saat sebuah pesan masuk. Elang mengabarkan kalau dirinya sudah berada di depan. Hari ini sengaja keluar kantor demi mengantar Azkia pulang ke rumah. Pemuda itu takut kalau Agus kembali datang dan menyakiti Azkia.
Azkia menghembuskan nafas panjang. Kalau boleh jujur dia tak ingin bertemu dengan Elang saat ini. Azkia ingin menata hatinya lebih dulu. Kabar yang tadi didengar dari Syifa cukup memporakporandakan hatinya. Dengan langkah gontai Azkia keluar dari ruang ganti. Dari dalam mini market dia bisa melihat Elang sedang berbincang dengan Gara. Gadis itu menghentikan langkahnya saat mendengar keduanya sedang berbicara serius.
“El, bisa bantuin gue ngga? Hotel yang ada di Palembang income-nya terus turun, mana korupsinya parah banget. Rencananya papi mau ngelepas aja hotel di sana. Bisa cariin orang yang mau beli ngga? Lo kan punya banyak koneksi, bantuin gue lah. Si Ilan juga udah mau botak kepalanya mikirin ini. Kalau sampai akhir bulan kita ngga dapet pembeli, gue sama Ilan mau dikirim ke sana buat beresin tuh hotel.”
“Kalau hotelnya udah bau gitu mana ada yang mau. Paling satu-satunya cara rombak total manajemennya. Ganti nama hotel, rekrut orang baru yang kredibel dan bisa dipercaya. Tapi nanti deh coba gue tawarin.”
“Iyalah bro bantuin gue. Kemarin kan lo udah bisa gaet Mr. Miller. Jarang-jarang loh dia mau invest di Indonesia.”
“Ya kemarin kalau bunda ngga turun tangan bantuin gue, belum tentu doi mau.”
“Bunda emang jempolan deh. Eh apa gue minta bantuan bunda aja ya.”
Elang menoyor kepala sahabatnya ini yang hanya dibalas dengan kekehannya. Saat ini Gara memang sudah bekerja di Gala Corp, mendampingi Firlan. Keduanya bekerja sambil menyelesaikan S2.
“Eh, perasaan akhir-akhir ini lo rajin banget ke sini. Ada yang lo keceng atau masih belum move on dari pemiliknya?” Gara terkekeh.
Elang tak menjawab pertanyaan Gara. Dia hanya menyesap latte miliknya. Azkia yang berdiri tak jauh dari sana berdebar menunggu jawaban pemuda itu.
“Perasaan lo sama Rain gimana?”
“Dih gaje lo.”
“Kalau ditanya apa rasa itu masih ada, ya emang masih ada tapi berapa persen kadarnya gue ngga tahu. Dia itu kan cinta pertama gue, sama kaya elo. Jadi untuk hilang dalam waktu cepat kayanya ngga mungkin aja.”
“Udah dua tahun loh dia nikah El. Harusnya lo udah bisa move on dari dia.”
“Harusnya. Tapi kadang gue kangen dia telpon gue, curhat sambil nangis-nangis gitu. Menjadi orang yang sangat dibutuhin sama dia itu kebahagiaan tersendiri buat gue.”
Tubuh Azkia kaku mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Elang. Jika tadi dia masih berharap apa yang dikatakan Syifa hanyalah kebohongan semata tapi kini semuanya terpapar dengan jelas. Elang masih mencintai Rain benar adanya. Azkia berbalik hendak pergi namun Elang lebih dulu melihatnya.
“Az.”
Azkia terdiam sebentar, dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk menangkan perasaannya baru kemudian berbalik. Dengan senyum mengembang dihampirinya Elang. Gara memandanginya dan Elang bergantian dengan tatapan curiga.
“Udah selesai?”
“Iya mas. Ya udah ayo pulang, aku mau balik lagi ke kantor soalnya.”
Azkia mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju mobil Elang. Setelah berpamitan dengan Gara, Elang bergegas menyusul Azkia. Gara terbengong melihat kedekatan kedua orang itu.
“Asem si El, bilang belum bisa lupain si Rain padahal udah ada cewek cantik gitu. Gue sumpahin lo bucin akut ma dia, tau rasa lo.”
__ADS_1
🍁🍁🍁
Malamnya Azkia tidak dapat tidur. Pikirannya masih tertuju pada Elang. Beberapa kali tubuhnya berbalik ke kanan dan kiri. Di sampingnya, Hanin sudah tertidur pulas. Azkia bangun dari tidurnya lalu keluar dari kamarnya. Perlahan dibukanya pintu kamar Daniar, terlihat wanita itu masih belum tidur.
“Bu.”
“Ada apa?”
“Kia mau tidur sama ibu, boleh ya.”
Daniar menepuk ruang kosong di sebelahnya. Azkia merangkak naik ke kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping sang ibu. Belaian lembut Daniar di kepalanya membuat hatinya sedikit tenang.
“Bu..”
“Kenapa?”
“Bagaimana kalau Kia terima lamaran kang Adi?”
Daniar menatap lekat-lekat Azkia. Wajah anak gadisnya ini nampak muram. Semenjak pulang kerja Azkia memang terlihat murung.
“Ada apa nak? Apa sesuatu terjadi padamu? Kenapa kamu tiba-tiba membahas lamaran Adi lagi?”
“Kang Adi selama ini sudah begitu baik sama kita bu. Aku malu selalu menerima bantuan darinya. Bahkan sekarang kang Adi sedang mencarikan kontrakan baru untuk kita. Kang Adi laki-laki yang baik dan aku percaya dia akan menjadi imam yang baik untukku. Dia juga akan menyayangi ibu dan Hanin.”
“Elang juga laki-laki yang baik. Kalau kemarin dia tak menolongmu, entah apa yang akan Fandy lakukan padamu.”
“Tapi mas Elang ngga mencintaiku bu. Dia mencintai perempuan lain.”
Membahas Elang, perasaan Azkia kembali tersuat. Airmatanya mulai menggenang. Daniar mengusap punggung anaknya. Azkia bukan gadis cengeng, jika dia menangis itu berarti hatinya benar-benar tersakiti.
“Ternyata cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan ya bu. Apa ini yang bapak rasakan pada ibu?”
Tangis gadis itu pecah dalam pelukan ibunya. Mata Daniar berkaca-kaca, kesedihan sang anak begitu menusuk perasaannya. Dalam hatinya menjerit memohon pada sang maha kuasa agar sang anak dapat bersama dengan orang yang dicintainya dan menjalani kehidupan bahagia.
🍁🍁🍁
**Mas El tanggung jawab, neng Az sampe nangis kaya gitu. Beneran nikah sama Adi baru tau rasa mas El.
Ngga bosen² mamake ingatkan sama kalian semua buat tinggalin jejaknya ya
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1