Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Suntik Mati


__ADS_3

Reyhan sudah siap dengan pakaian kerjanya. Kemeja lengan pendek warna biru langit dipadu dengan celana chino hitam. Sebelum berangkat ke rumah sakit, dia memutuskan untuk mengunjungi Ayunda lebih dulu untuk melihat keadaannya.


Di teras rumah, terlihat Azkia sedang menyuapi Aslan. Anak itu seperti biasa tidak mau diam. Benjol di keningnya juga sudah kempes. Reyhan tersenyum melihat Azkia yang mengejar-ngejar Aslan untuk disuapi.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Om Ley.”


Aslan berlari ke arah Reyhan. Pemuda itu berjongkok membuat Aslan dengan mudah memeluk lehernya, tanda kalau ingin digendong. Azkia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja anaknya pada Reyhan.


“Belum berangkat ke rumah sakit Rey?”


“Baru mau, tapi mau lihat keadaan Yunda dulu.”


“Kata bi Diah, Yunda berangkat ke kantor.”


“Apa?! Tuh anak kan masih sakit, disuruh istirahat sama jangan banyak gerak dulu,” kesal Reyhan. Pelan-pelan diturunkannya Aslan.


“Ya udah, aku pergi dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Om Ley!!”


“Om Rey-nya mau kerja dulu abang. Nanti kalau libur bisa main lagi.”


Aslan mengangguk dengan wajah cemberut. Azkia kembali melanjutkan aktivitasnya menyuapi Aslan. Tak lama Audio sport milik Reyhan melintas. Aslan melambaikan tangannya, walaupun belum tentu dilihat oleh Reyhan.


Reyhan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tujuannya adalah kantor Gala Corp. Dia kesal mengingat Ayunda yang keras kepala tetap pergi bekerja, di saat kondisi bahunya yang belum pulih. Sambil mengemudi, Reyhan mencoba menghubungi Farel dan Gara, namun kedua orang itu tak kunjung menjawab panggilannya.


Hanya dalam waktu sepuluh menit, dia telah tiba di kantor milik Ega. Setengah berlari Reyhan memasuki lobi kantor. Saat sedang menunggu lift, sebuah tepukan mendarat di bahunya. Reyhan menoleh, ternyata Adit yang melakukannya. Dia segera mencium punggung tangan ayah dari Gara.


“Mau kemana Rey?”


“Mau jemput Yunda pa. Tuh anak masih sakit bahunya, disuruh istirahat malah pergi kerja.”


“Emang Yunda kenapa?”


“Dua hari yang lalu dia jatuh pa, waktu nangkap Aslan yang jatuh dari ayunan.”


“Ya udah papa antar. Kata Gara, dia magang di divisi PR,” Adit mengajak Reyhan memasuki lift khusus petinggi agar lebih cepat tiba.


Ayunda menghentikan kegiatan mengetiknya ketika merasakan nyeri di bahunya. Sebenarnya Firlan sudah memberinya ijin libur, tapi karena pekerjaan tim 2 begitu banyak, dia jadi tak enak hati untuk mengambil libur. Wajahnya meringis menahan sakit ketika nyeri di bahunya semakin menjadi.


“Yunda.”


Ayunda terkejut ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Ketika menoleh, terlihat Adit sudah berada di dekat kubikelnya. Di sebelahnya berdiri Reyhan yang memandangnya dengan tatapan tajam. Ayunda menelan ludahnya kelat melihat mata Reyhan yang seperti sudah sinar laser.


Melihat kedatangan orang nomor dua di Gala Corp, Syamsir segera mendekat. Tak biasanya Adit akan datang langsung ke divisinya. Hatinya ketar-ketir takut kalau anak buahnya melakukan kesalahan fatal.


“Maaf pak Adit, saya ngga tahu kalau bapak mau ke sini.”


“Saya cuma mengantar keponakan saya untuk menjemput Ayunda. Dia masih sakit dan tidak bisa magang untuk beberapa hari. Apa kamu keberatan?”


“Oh sama sekali ngga pak. Kalau memang sakit kenapa harus memaksakan masuk Ayunda? Kamu pulang saja sekarang,” ada kegeraman dalam nada suara Syamsir.


“Iya pak.”


Ayunda membereskan barang-barangnya, memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Reyhan segera mengambil tas milik Ayunda.


“Ayo pulang,” dengan nada datarnya.


Adit memberi kode pada Ayunda untuk segera mengikuti Reyhan. Dia tahu kalau suasana hati dokter bedah itu sedang tidak bagus. Setelah berpamitan dengan Syamsir dan teman-temannya, Ayunda bergegas menyusul langkah Reyhan.


Sepeninggal Ayunda dan Reyhan, Adit juga meninggalkan tempat tersebut. Syamsir menghembuskan nafas lega, lalu kembali ke ruangannya. Terdengar kasak-kusuk dari beberapa pegawai yang melihat kejadian tadi. Tapi lebih banyak mereka fokus pada Reyhan, bertanya-tanya apa hubungan lelaki tampan itu dengan Ayunda.


Reyhan membukakan pintu untuk Ayunda, kemudian dia menuju pintu sebelah dan masuk ke dalam mobil. Reyhan membantu memasangkan seat belt Ayunda, membuat gadis itu menahan nafasnya ketika jarak tubuh mereka berdekatan. Tak lama kemudian Reyhan mulai melajukan kendaraannya.


“Kenapa kamu maksain masuk kerja Ay? Aku udah bilang kalau kamu harus istirahat minimal lima sampai tujuh hari. Kamu amnesia atau apa?”

__ADS_1


“Maaf kak. Aku ngga enak kalau harus libur. Di tim aku lagi banyak kerjaan soalnya.”


“Jadi kamu lebih mentingin kerjan dari pada kesehatan kamu, iya?! Tadi selama di kantor ngapain aja kamu?”


“Cuma ngetik sama ngangkat beberapa berkas aja.”


“Astaga Ay, bahu kamu itu belum bisa digerakkan seperti biasa. Itu bisa menyebabkan inflamasi atau pembengkakan. Kalau bengkak, maka proses penyembuhannya lebih lama. Tapi kamu masih pakai penyangga bahunya kan?”


“Udah aku lepas.”


“Ayunda!”


Reyhan menghentikan mobilnya lalu melihat ke arah gadis di sampingnya dengan tatapan marah. Ayunda terkejut melihat reaksi Reyhan.


“Kenapa kamu lepas hah?”


“Karena.. ngga enak kak.”


“Tapi itu buat kesembuhan kamu Ay. Pikiran kamu di mana sih?”


“Iya aku minta maaf, tapi kak Rey jangan marah-marah gitu dong.”


“Aku marah karena aku peduli sama kamu Ay!”


Dengan kesal Reyhan kembali melajukan kembali kendaraannya. Ayunda memalingkan wajahnya ke jendela samping. Baru sekali ini Reyhan berbicara dengan nada tinggi padanya. Mata Ayunda mengembun, hatinya kesal terus menerus menerima semburan Reyhan.


Sesampainya di depan rumah, Ayunda bergegas turun lalu menutup pintu dengan cukup kencang. Reyhan menghela nafasnya. Dia pun segera turun menyusul Ayunda yang berlari masuk ke dalam rumah.


Poppy yang uring-uringan begitu tahu anak gadisnya nekad pergi ke kantor saat keadaannya belum pulih segera menelpon suami dan anaknya. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan raut wajah kesal. Tiba-tiba Ayunda masuk dan berlari ke arahnya.


“Bunda...” Ayunda langsung memeluk Poppy.


“Kamu dari mana hah?”


“Bunda.. hiks.. hiks.. kak Rey jahat bunda hiks.. hiks.. dia marahin aku terus hiks.. hiks..”


Reyhan masuk dan melihat Ayunda sedang mengadu pada Poppy dengan airmata berderai. Dia memang sudah tahu sejak kecil kalau Ayunda anak yang cengeng dan manja.


“Kamu yang jemput Yunda?”


“Kak Rey jahat!! Aku aduin sama ayah nanti hiks.. hiks..”


Poppy tersenyum melihat tingkah manja anaknya. Sebenarnya dia ingin sekali menjewer telinga Ayunda. Tapi melihatnya dia menangis seperti ini, tak tega juga rasanya.


“Bun, aku harus periksa kondisi Yunda. Aku takut ada pembengkakan. Dia juga melepas pembebat bahunya.”


“Dasar anak nakal,” Poppy melepaskan Ayunda dari pelukannya lalumenyentil kening anak gadisnya itu.


“Ayo Rey.”


Poppy membimbing Ayunda yang masih menangis ke dalam kamarnya diikuti Reyhan dari belakang. Sebelumnya Reyhan meminta Azkia membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengompres bahu Ayunda.


Poppy mendudukkan Ayunda di ranjang dengan punggung bersandar pada headboard. Reyhan duduk di sisi ranjang lalu mulai meraba bahu Ayunda yang terluka. Gadis itu meringis ketika Reyhan menyentuhnya.


“Bun, aku harus lihat bahunya, takutnya beneran bengkak.”


Poppy mengangguk kemudian mendekati Ayunda. Reyhan mundur sejenak, membiarkan Poppy membuka kancing kemeja Ayunda. Gadis itu menggeleng kencang, malu rasanya harus memperlihatkan bahunya di depan Reyhan. Poppy melotot pada anak gadisnya, akhirnya Ayunda pasrah.


Poppy membuka tiga kancing bagian atas kemeja Ayunda kemudian menurunkan kerah kemeja sampai ke lengannya. Seketika bahu putih nan mulus itu terekspos. Reyhan kembali mendekat, wajah Ayunda memerah ketika Reyhan menatap dengan lekat bahunya. Tangannya terulur meraba bagian tulang yang bergeser kemarin. Sesuai prediksinya, ada sedikit bengkak di sana. Reyhan menaikkan kembali kemeja hingga menutupi bahu Ayunda.


“Gimana Rey?”


“Bahunya sedikit bengkak bun. Sebentar aku telpon temanku untuk membawakan obat ke sini. Dia harus disuntik lagi juga minum obat untuk mencegah radang. Sekarang di kompres aja dulu bun.”


Reyhan keluar kamar untuk menelpon Friska. Poppy mulai mengompres bahu Ayunda. Rasa nyerinya sedikit berkurang. Ketika Poppy baru selesai mengompres, Irzal, Elang dan Farel tiba. Mereka langsung menerobos masuk ke dalam kamar. melihat kedatangan Irzal, tangis Ayunda kembali pecah. Irzal segera menghampiri anak gadisnya itu. Dia duduk di samping Ayunda yang menangis tersedu di dadanya.


“Anak ayah kenapa hmm?”


“Sakit yah hiks.. hiks..”


“Udah tahu sakit, makanya diem di rumah. Kamu tuh susah banget diaturnya! Mas bakal bilang sama Gara kamu berhenti magang. Kamu magang di kantor aja!”

__ADS_1


“Ngga mau!!”


“Makanya nurut!”


“El..” tegur Irzal.


“Bang Farel hiks.. mas El jahat hiks.. kak Rey juga jahat hiks.. hiks.. kak Rey marahin Yunda terus dari tadi hiks.. hiks..” Ayunda mengadu pada Farel, berharap kakaknya itu akan membelanya.


“Syukurin! Makanya kalau jadi pasien itu nurut. Masih untung kamu ngga disuntik mati sama Rey. Punya pasien rese, bin nyebelin kaya kamu.”


“Ayah hiks.. hiks.. bang Farel tuh.”


Irzal hanya mengulum senyum saja melihat kelakuan anak-anaknya. Ayunda mempererat pelukannya di pinggang sang ayah. Poppy hanya geleng-geleng melihat Ayunda yang masih begitu manja pada suaminya.


“Haduh kapan kamu dewasanya Yun. Bunda kasihan nanti sama yang jadi suami kamu.”


“Nikahin aja sama mang Ihin bun,” celetuk Farel.


“Bang Farel! Hiks.. hiks.. semuanya jahat sama Yunda hiks.. hiks..”


“Sudah.. sudah.. El, Farel, kalian kembali ke kantor saja.”


“Iya mas, bang kalian kembali kantor aja. Ayah juga, biar Yunda aku yang urus. Sebentar lagi Friska ke sini bawa obat buat Yunda.”


“Titip Yunda ya Rey. Kalau dia susah diatur, ceburin aja ke kolam di belakang.”


Ayunda menjulurkan lidahnya ke arah Elang. Farel dan Elang segera kembali ke kantor. Begitu juga dengan Irzal. Tapi dia harus membujuk anak gadisnya dulu agar mau ditinggalkan. Butuh waktu sepuluh menit lamanya membujuk Ayunda. Itu pun setelah mendapat tatapan maut dari Poppy, baru Ayunda mau melepaskan Irzal.


Friska datang membawa obat yang diminta oleh Reyhan. Ayunda memandangi jarum suntik yang akan ditusukkan ke tubuhnya. Reyhan menyuntikkan obat pereda nyeri pada Ayunda.


“Tolong bantu pasang penyangga bahunya Fris.”


“Iya dok.”


“Kamu sudah makan?” tanya Reyhan pada Yunda.


“Belum kak, tadi ngga sempat sarapan.”


Reyhan menatap kesal pada Ayunda, membuat gadis itu menundukkan kepalanya. Azkia masuk ke dalam kamar membawakan nampan berisikan sepiring makanan dan segelas air putih.


“Habis pasang penyangga bahu, suruh dia makan terus minum obatnya.”


Reyhan keluar dari kamar. Friska bergegas memasangkan penyangga bahu pada Ayunda. Selesai dengan tugasnya, dokter residen itu pamit. Kini giliran Azkia yang menyuapi Ayunda.


Friska menghampiri Reyhan yang sedang berdiri di ruang tengah. Pemuda itu sedang menjelaskan cara merawat bahu Ayunda pada Poppy. Baru saja Friska sampai, Regan masuk ke dalam rumah. Dia cukup bingung melihat kedatangan Regan.


“Rey, gimana Ayunda?”


“Sudah baikan pa.”


“Syukurlah. Papa lihat Yunda dulu.”


Regan naik ke lantai atas ditemani oleh Poppy. Friska mengerjapkan matanya, tak percaya kalau Reyhan yang selama ini disangka berasal dari kalangan menengah ke bawah ternyata anak dari Regan.


“Dok, dokter Regan itu..”


“Iya, kamu diem aja ya. Terutama ke Aldi, jangan kasih tahu apapun. Kamu tahu kan dokter satu itu mulutnya kaya ember bocor.”


“Hihi.. iya dok.”


“Makasih ya Fris, sudah merepotkan menyuruhmu ke sini. Tolong sampaikan ke Aldi, aku cuti hari ini.”


“Sama-sama dok. Nanti saya sampaikan ke dokter Aldi. Hmm..Dokter suka ya sama Yunda? Kejar terus dok, fighting.”


Friska mengepalkan tangannya ke depan Reyhan untuk memberi semangat. Reyhan membalasnya dengan senyuman. Gadis itu kemudian pamit pergi membawa hatinya yang patah.


Hati Friska mencelos mengetahui lelaki yang dicintainya sejak dua tahun lalu ternyata sudah memiliki gadis pujaan. Tapi dia juga tidak ingin menjadi orang bodoh yang dibutakan oleh cinta. Masih banyak lelaki di luar sana yang baik dan salah satunya akan mencintainya setulus hati. Dia hanya perlu bersabar menemukan tambatan hatinya.


🍁🍁🍁


**Good job Friska, jangan ikuti jejak Vanya jadi ulet bulu.

__ADS_1


Reyhan bisa marah juga ya sama Yunda. Kalau pasien bandel kaya Yunda ngga bakal disuntik mati sama Rey, yang ada dicipok😂


Tinggalin jejaknya ya, like, comment and vote. Mamake usahakan up 2x hari ini**.


__ADS_2