
Setelah perpisahannya dengan Dimas, kondisi Firly tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Namun dia selalu berusaha menutupi kesedihannya. Kesibukannya sebagai mahasiswa baru cukup membuat perhatiannya teralihkan. Ega dan Alea menghembuskan nafas lega, setidaknya anak mereka tidak larut dalam kesedihan.
Pagi ini seluruh keluarga sedang sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas. Perdebatan Alea dan Azriel selalu saja terjadi. Alea terkadang masih sering memaksakan kehendaknya pada anak-anak. Berulang kali Ega mengingatkan istrinya itu. Alea tersenyum melihat kondisi keluarganya kembali seperti semula. Sepertinya keputusannya meminta Dimas pergi memang tepat.
Bi Surti sedang membersihkan peralatan makan yang tadi dipakai ketika Firly memasuki dapur. Dia mendekati asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak lama pada keluarganya.
“Bi.”
“Iya non.”
“Ini buat bibi. Terserah bibi mau pakai atau mau dijual. Di mata lumba-lumba ini berlian loh bi, pasti harganya mahal kalau dijual.”
“Jangan non, masa kalung sama gelang cantik ini dikasih ke bibi.”
“Ngga apa-apa kok bi. Ily ngga mau menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan om Dimas.”
Firly menaruh gelas dan kalung pemberian Dimas di tangan bi Surti kemudian beranjak pergi. Bi Surti memandangi perhiasan di tangannya seraya menghela nafas panjang.
Andai aja non Ily tahu yang sebenarnya, mungkin non ngga akan membenci pak Dimas seperti itu.
Firly keluar dari rumahnya. Sebelum masuk ke mobilnya dia melihat ke arah kediaman Poppy yang tampak sepi. Setelah kepergian Dimas seminggu yang lalu, Poppy memutuskan tinggal di vila untuk menenangkan diri, tentu saja ditemani Irzal. Ayunda dititipkan di rumah Rena, sedang Elang dan Farel tinggal di apartemen.
Firly memandangi ponselnya yang masih memasang foto Dimas sebagai wallpapernya. Dengan cepat dia menggantinya. Ingin rasanya dia menghapus semua foto Dimas di ponselnya, namun hatinya masih belum siap melakukan itu. Dia hanya mampu memblok nomor Dimas, Ringgo, Arini dan Sisil. Firly masuk ke mobilnya kemudian memacu kendaraannya itu menuju kampus.
“Ly! Ily!”
Firly bukan tak mendengar seseorang memanggilnya. Dia mendengar bahkan tahu siapa yang memanggilnya, tapi sengaja untuk menghindar. Sisil tak menyerah, gadis itu terus mengikuti langkah Firly. Sampai di tempat yang agak sepi, dia mencegatnya.
“Ly, lo kenapa sih? Kenapa ngehindarin gue? Kenapa nomer gue diblok? Gue salah apa sama elo?” sembur Sisil.
“Lo ngga salah apa-apa. Sorry gue pergi dulu.”
“Apa karena om Dimas?”
Firly menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya kemudian berjalan mendekati Sisil.
“Jangan lo sebut-sebut lagi nama dia di depan gue. Dan gue kasih saran ke elo, mending jauhin om Ringgo. Jangan sampai lo bernasib sama kaya gue. Menjadi pelampiasan duda mesum seperti mereka.”
Firly segera berlalu meninggalkan Sisil yang terbengong mendengar jawaban gadis tadi. Ingin rasanya memberitahukan kebenarannya pada Firly tapi dia juga tidak mau melanggar janjinya pada sang mama yang disertai ancaman. Arini mengancamnya untuk tutup mulut atau dirinya akan diekspor ke Australia untuk kuliah di sana.
🍁🍁🍁
Bi Surti memandangi kalung dan gelang di tangannya. Sejak Firly memberinya perhiasan itu seminggu yang lalu hatinya tak tenang. Apalagi ketika dia memergoki Firly beberapa kali menangis diam-diam di kamarnya semakin membuatnya merasa bersalah. Kalau tidak mengingat ancaman Alea, ingin rasanya dia mengatakan alasan sebenarnya Dimas meninggalkannya.
__ADS_1
Bi, saya harap bibi tutup mulut soal apa yang saya katakan pada Dimas. Semua demi ketentraman keluarga ini. Kalau saya tahu bibi buka mulut, maka itu hari terakhir bibi bekerja di sini. Bibi masih butuh uang kan untuk biaya pengobatan cucu bibi? Jadi jangan macam-macam.
“Aku pikir bu Alea itu beda. Ternyata sama saja seperti orang kaya lainnya. Selalu menggunakan kekuasan dan hartanya untuk menindas yang lemah. Huh masa bodo lah, rejeki di tangan Gusti Allah bukan di tangan bu Alea,” gumam bi Surti.
Kemudian wanita berusia 58 tahun itu membereskan semua baju-bajunya, memasukkannya ke dalam satu tas besar. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan kebenaran pada Firly agar gadis itu tidak berkubang dengan kesalahpahaman.
Bi Surti keluar dari kamarnya seraya menjinjing tasnya. Dihampirinya Ega yang sedang duduk di ruang tengah. Mumpung Alea belum pulang, bi Surti bermaksud pamit. Dia memutuskan berhenti bekerja. Bi Surti menaruh tasnya di dekat sofa. Ega heran melihat tas besar yang dibawa bi Surti.
“Loh bibi mau kemana?”
“Maaf pak, bibi tidak bisa bekerja lagi di sini. Bibi mau berhenti, maaf kalau mendadak.”
“Kenapa bi? Apa gaji bibi kurang?”
“Bukan.. bukan karena itu pak. Ng.. tadi adik saya telepon kalau dia sudah mulai bekerja, jadi tidak ada yang menjaga cucu saya. Anak saya juga harus bekerja, jadi biar saya yang mengalah. Makanya saya mau berhenti pak. Maaf kalau mendadak begini.”
“Ibu sudah tahu?”
“Be.. belum pak.”
“Tapi ini sudah malem bi,” Ega melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
“Apa tidak sebaiknya besok pagi saja bibi perginya.”
“Oh begitu, sebentar ya bi.”
Ega masuk ke dalam kamarnya. Selang beberapa menit dia keluar dengan sebuah amplop putih di tangannya.
“Ini untuk bibi.”
“Ngga usah pak. Baru seminggu yang lalu saya terima gaji.”
“Ini pesangon untuk bibi. Bibi kan udah lama kerja di rumah ini. Tolong diambil ya bi. Kalau nanti bibi mau kerja lagi atau butuh sesuatu, hubungi saya saja.”
Dengan ragu-ragu bi Surti mengambil amplop dari tangan Ega lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Saya mau pamit dulu sama anak-anak pak.”
“Silahkan bi.”
Bi Surti naik ke lantai atas. Kebetulan sekali ketiga kakak beradik itu sedang berkumpul di kamar Firly. Setelah mengetuk pintu, bi Surti masuk ke dalam kamar. Dia ikut duduk di lantai, di samping Firly.
“Non Ily, den Ilan, den Ziel, bibi mau pamit ya.”
__ADS_1
“Loh bibi mau kemana?”
“Mau pulang kampung.”
“Tapi bibi balik lagi kan?”
“Sepertinya ngga non.”
“Yah kalau bibi ngga balik lagi terus nanti yang masak siapa? Bibi kan tahu sendiri mami mana bisa masak.”
Bibi terkikik geli mendengar ucapan Azriel. Sebenarnya berat hatinya meninggalkan ketiga anak majikannya yang sudah dirawatnya sejak kecil. Bi Surti mengeluarkan perhiasan pemberian Firly dari saku bajunya kemudian mengembalikan pada pemiliknya.
“Non, ini bibi kembalikan. Barang ini lebih baik non Ily jaga, karena pemberian dari pak Dimas.”
“Kan Ily udah bilang buat bibi aja.”
“Non, sebenarnya alasan pak Dimas pergi itu karena ibu.”
“Udah deh bi, bibi ngga usah belain om Dimas. Dan aku juga udah ngga mau tahu lagi soal orang itu.”
“Waktu bapak memutuskan tinggal di apartemen, ibu sakit. Karena ibu ngga mau makan, bibi terpaksa menelpon pak Dimas. Bapak datang dan membuatkan makanan buat ibu. Pak Dimas juga membujuk ibu untuk makan. Dan saat bapak mau pulang, ibu meminta bapak meninggalkan non Ily. Bukan meminta tapi memohon. Bibi tahu kalau pak Dimas itu orang yang baik, makanya bapak menuruti keinginan ibu untuk pergi dari non Ily.”
Firly terhenyak mendengar penuturan bi Surti. Matanya mulai berembun, dia mengingat lagi pertemuan terakhir mereka. Tatapan sendu Dimas padanya, keputusasaan yang nampak di matanya. Firly merutuki dirinya yang tak menyadari itu semua, justru terbawa emosi dengan semua kebohongan Dimas.
“Maaf bibi baru bilang sekarang. Karena bibi mau pergi, makanya bibi katakan ini. Bibi harap non Ily tidak membenci pak Dimas. Dia pria yang baik dan sangat menyayangi non Ily. Bibi doakan non Ily bisa bersama pak Dimas lagi. Bibi pamit ya non. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Bi Surti keluar dari kamar, Azriel mengantar asisten rumah tangga sekaligus pengasuhnya itu sampai ke depan rumah. Bi Surti terus berjalan keluar kompleks. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan anak-anak yang sudah dirawatnya sejak kecil. Tapi dia juga tidak ingin hidup dalam penyesalan.
Bi Surti termenung di depan pintu masuk kompleks. Dia bingung harus pergi kemana. Tiba-tiba sebuah Honda Civic hitam berhenti di dekatnya.
🍁🍁🍁
**Siapa tuh yg dateng??
a. Dimas
b. Alea
c. Elang
Hai readers.. buat menemani aktivitas kalian, mamake up nih. Jangan lupa ya buat like, comment and vote nya. Selamat beraktivitas😘😘😘**
__ADS_1