
Dering ponsel Reyhan memenuhi kamar hotelnya, mengusik tidur lelap pasangan pengantin baru. Tangan Reyhan meraba nakas dekat ranjang, kemudian mengambil benda pipih miliknya yang tak berhenti berdering. Dengan mata setengah memicing Reyhan melihat ke layar ponselnya. Ternyata panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja.
“Halo.”
“Halo dok, maaf mengganggu. Kami ada keadaan darurat dok. Kami baru kedatangan korban kecelakaan beruntun di jalan tol pasteur. Dokter Sammy dan dokter Burhan tidak bisa dihubungi. Ada pasien yang membutuhkan operasi segera tapi dokter Fares dan dokter Fahri sedang mengoperasi juga.”
“Ya, saya ke sana sekarang.”
Reyhan memutuskan sambungan kemudian beranjak menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar. Guyuran air di tubuhnya berhasil membuatnya terjaga. Selesai berpakaian, dia menghampiri Ayunda yang masih terlelap. Reyhan membetulkan selimut yang menutupi tubuh Ayunda kemudian mencium keningnya. Setelah itu beranjak pergi. Tak lupa dia menuliskan pesan untuk sang istri, takut nanti Ayunda bangun dan mencarinya.
Ayunda terbangun ketika merasakan tenggorkannya terasa kering. Keningnya berkerut begitu mendapati sisi ranjangnya kosong. Ayunda bangun hendak mencari suaminya, namun pandangannya tertuju pada secarik kertas yang berada di dekat gelas berisi air putih. Ayunda mengambil kertas tersebut.
To Ayang :
Mas ada panggilan darurat dari rumah sakit. Mudah-mudahan sebelum shubuh mas sudah kembali. Kamu tidur lagi aja, jangan lupa air putihnya diminum. Love you..
Ayunda mengambil gelas yang telah disiapkan Reyhan untuknya lalu meneguk isinya sampai habis. Ayunda melihat jam di ponselnya, waktu pukul tiga lebih lima belas menit. Dia pun kembali berbaring, dirinya memang masih mengantuk dan memilih melanjutkan tidurnya.
🍁🍁🍁
Reyhan keluar dari ruang operasi bersamaan dengan Fahri. Ayah dari Nara itu terkejut melihat pengantin baru ada di rumah sakit.
“Loh, yang operasi pasien di ruangan 3 itu kamu?”
“Iya om. Katanya dokter Burhan sama dokter Sammy ngga bisa dihubungi.”
“Ck... kebiasaan dua orang itu. Sudah kamu kembali aja ke hotel. Pasien kamu biar om yang pantau.”
“Makasih om.”
Fahri hanya mengangguk. Reyhan mencium punggung tangan Fahri kemudian bergegas menuju ruang ganti. Selain lelah dan mengantuk, dia juga merindukan istrinya. Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di hotel.
Pukul lima kurang dua puluh menit, Reyhan sampai di hotel. Suasana lobi begitu lengang. Hanya nampak dua orang resepsionis yang bertugas sambil menahan kantuknya. Mereka melemparkan senyuman pada Reyhan ketika pria itu melintasi meja resespsionis.
Lift yang membawanya ke lantai lima belas akhirnya terbuka juga. Kakinya melangkah menuju suite room yang ada di bagian paling ujung. Reyhan masuk ke dalam kamar. Kondisi kamar masih sama seperti ditinggalkan tadi. Ayunda juga masih nyenyak dalam gelungan selimut.
__ADS_1
Reyhan mendekati istrinya lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap pipi Ayunda. Sensasi dingin dari telapak tangan Reyhan membuat Ayunda terjaga. Dia menggeliat lalu membuka matanya perlahan.
“Mas.. sudah pulang,” suara Ayunda terdengar serak khas bangun tidur.
“Bangun sayang, udah shubuh.”
Ayunda terdiam sebentar kemudian mengangkat tubuhnya menjadi posisi duduk. Selimut yang menutupi tubuhnya melorot hingga memperlihatkan bukit kembarnya. Tangan Reyhan terulur lalu menyentuh bulatan kenyal itu. Refleks Ayunda menepis tangan Reyhan kemudian menarik kembali selimut.
“Ngga usah ditutupin, mas juga udah lihat semuanya.”
Wajah Ayunda merona. Dia semakin membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian beranjak dari ranjang. Namun se**ngkan**nnya masih terasa nyeri, Ayunda kembali duduk di sisi ranjang. Reyhan melepaskan selimut yang membelit tubuh istrinya. Ayunda memekik pelan tapi tak dipedulikan olehnya, dibopongnya Ayunda masuk ke kamar mandi. Dia mendudukkan Ayunda di dalam bath tub lalu memutar kran air hangat.
“Berendamnya jangan lama-lama. Mas juga mau mandi lagi.”
Ayunda menutup mata dengan kedua tangannya ketika melihat Reyhan melucuti semua pakaiannya. Padahal dia juga sudah melihat tubuh polos suaminya tadi malam. Namun tetap saja ada rasa malu kalau melihatnya langsung seperti ini. Reyhan berjalan menuju pancuran kemudian membersihkan dirinya di sana.
Diam-diam Ayunda memperhatikan suaminya yang berdiri membelakangi dirinya. Dipandangi bahu kokoh Reyhan, kemudian beralih ke pinggang lalu bagian bokong yang menurutnya terlihat seksi. Ayunda menggelengkan kepalanya, saat merasa pikirannya sudah mulai mesum.
Tiba-tiba Reyhan berbalik, membuatnya buru-buru memalingkan wajah. Sesekali dia melihat dari sudut matanya. Milik suaminya bisa dikatakan cukup besar juga, pantas tadi dia merasa begitu sakit saat Reyhan membobol gawangnya. Ini pertama kalinya melihat benda pusaka laki-laki. Paling banter dia lihat milik Aslan yang sebesar cengek jablay.
Reyhan baru saja selesai berpakaian ketika terdengar bel di pintu. Seorang pegawai service terlihat berdiri di depan kamar saat Reyhan membukakan pintu. Di sampingnya terdapat koper Ayunda.
“Permisi pak. Saya mau mengantarkan koper dari ibu Rayna.”
“Oh iya, makasih.”
Pegawai itu hanya mengangguk kemudian pamit pergi. Reyhan menggeret koper ke dalam kamar seraya menutup pintu. Sesuai dugaannya, sang kakaklah yang telah menyembunyikan koper istrinya.
Ayunda keluar dari kamar mandi menggunakan bath robe. Dia tersenyum ketika melihat kopernya telah kembali. Diambilnya pakaian dari dalam koper kemudian kembali masuk ke kamar mandi. Lima menit kemudian dia keluar sudah mengenakan celana kulot dan kaos lengan panjang. Kemudian segera memakai mukena, Reyhan sudah menunggunya untuk shalat shubuh berjamaah.
Seusai shalat, Reyhan membantu Ayunda mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Reyhan meletakkan hair dryer di atas nakas. Diciumnya rambut Ayunda yang wangi lalu memeluk bahu istrinya itu dari belakang.
“Gimana tadi operasinya mas?”
“Alhamdulillah lancar.”
__ADS_1
“Kenapa harus manggil mas sih. Emang ngga ada dokter lain apa?”
“Dokter Burhan sama Sammy ngga bisa dihubungi. Ini juga mas bisa pulang karena om Fahri yang bantu pantau pasien yang habis mas operasi.”
“Ck.. dua orang itu ngga guna banget sih. Pecat ajalah, cari dokter lain yang lebih kompeten dan loyal sama profesinya.”
“Ngga semudah itu Ayang.”
“Awas aja kalau tuh burung hantu berani gangguin mas lagi, bakal aku tebas.”
“Galak banget sih istri mas,” Reyhan mencium pipi Ayunda.
“Mas tidur lagi aja, pasti ngantuk kan.”
Ayunda melepaskan tangan Reyhan dari bahunya kemudian mengajak suaminya itu berbaring di ranjang. Mereka berbaring sambil berhadapan. Reyhan mengecup bibir Ayunda. Tak disangka istrinya itu juga balas mengecup. Reyhan mengecup lagi, begitu pula Ayunda. Beberapa kali mereka saling memberikan kecupan hingga akhirnya Reyhan menarik tengkuk Ayunda dan memberinya ciuman dalam.
“Yang.. masih sakit ngga?”
“Hmm.. sedikit.”
“Mas mau lagi ya.”
Ayunda terdiam, bukan hanya bagian bawahnya yang masih terasa nyeri. Namun tubuhnya juga masih pegal-pegal. Tapi melihat wajah Reyhan yang memelas, dia jadi tidak tega.
“Yang.. boleh ngga?”
Ayunda mengangguk pasrah. Senyum terbit di wajah Reyhan. Tangannya mulai bergerak melepaskan kaos dari tubuh istrinya. Kemudian dibukanya pengait bra yang menutupi bukit kembar yang sekarang jadi favoritnya. Dengan rakus dilahapnya bulatan kenyal itu hingga Ayunda mend**ah. Perang de**han dan keringat akhirnya terjadi lagi untuk kedua kalinya.
🍁🍁🍁
**Akang dokter nambah ya abis dijeda operasi🤣
Sekarang mah tinggal part manisnya pasangan ini ya gaessss.. kisah mereka juga sebentar lagi the end. Buat kisah Farel dan Ilan mamake kasih dalam bentuk Bonchap, tapi intro hubungan mereka mamake kasih di season ini.
Terus dukung mamake ya biar tetap semangat up tiap hari kadang kalau mood turun kaya kmrn suka susah cari Ilham yang suka ngilang ngga bilang².
__ADS_1
Like, comment and vote please**..