
Azkia mematut dirinya di depan cermin. Ini adalah hari pertamanya magang. Gadis itu mengenakan rok plisket warna hitam dipadu blouse putih yang panjangnya menutupi bokongnya. Tak lupa hijab bermotif yang digerai hingga batas perut. Wajahnya sendiri hanya dipulas bedak tipis dan lipgloss berwarna pink.
Setelah dirasa cukup, Azkia berpamitan pada Daniar. Di depan gang, ojek pesanannya sudah menunggu. Dengan kecepatan sedang kuda besi yang ditunggangi pria berjaket hijau melaju menyusuri jalanan yang mulai dipadati kendaraan bermotor.
Azkia turun di depan gedung kantor setinggi dua belas lantai. Di depan gedung tertera tulisan besar Humanity Corp. Dengan langkah pasti, gadis itu memasuki lobi kantor yang sudah mulai terlihat kesibukannya. Azkia langsung menuju meja resepsionis untuk mengambil kartu magangnya.
Azkia bersyukur dapat memperoleh kesempatan magang di kantor sebesar ini. Dari jurusannya hanya dua orang yang diterima magang di sini. Dirinya juga Sandra, teman seangkatannya namun berbeda kelas. Pintu lift akan menutup ketika sebuah tangan menahannya. Seorang gadis seumuran Azkia masuk, tak lain adalah Sandra.
Selama lift bergerak, Azkia melirik ke arah Sandra. Menurut berita yang beredar, Sandra adalah salah satu anak anggota DPRD. Selain cantik, dia juga memiliki otak yang pintar. Ditunjang dengan bodinya yang aduhai, banyak mahasiswa yang berlomba-lomba menjadi kekasihnya. Penampilan Sandra kali ini pun tak kalah mempesona. Dress press body dipadu dengan blazer warna senada menampilkan kesan seksi pada dirinya.
Kotak besi yang dinaiki kedua gadis itu berhenti di lantai 6. Mereka terlebih dulu harus menemui bagian HRD yang akan menjelaskan di mana keduanya akan ditempatkan. Siulan dari beberapa karyawan pria langsung terdengar begitu Sandra memasuki ruangan. Azkia sedikit jengah melihat kelakuan mereka, berbeda dengan Sandra yang terlihat santai.
Sang manajer HRD mengatakan kalau keduanya akan ditempatkan di bagian perencanaan. Bagian tersebut memang memerlukan personil tambahan untuk mengerjakan beberapa proyek terbaru. Mereka diminta langsung menuju lantai delapan, tempat divisi mereka berada.
Situasi yang sama juga terjadi di divisi perencanaan. Divisi yang sepertiga penghuninya adalah pria merasa terhibur dengan kedatangan Sandra. Bagi mereka Sandra adalah oase di tengah gurun pasir. Mampu menjernihkan mata lelah mereka yang lebih sering menatap layar laptop. Pras yang ditugaskan sebagai supervisor mereka dengan cepat menjelaskan apa saja yang akan mereka kerjakan nantinya.
Tanpa menunggu lama, keduanya segera menuju kubikel yang telah disiapkan. Azkia akan membantu pekerjaan Vira sedangkan Sandra membantu pekerjaan Rita. Azkia bersyukur karena Vira dan Rita adalah sosok yang ramah. Pengalamannya bekerja di mini market membuat gadis itu dengan mudah beradaptasi.
Azkia tenggelam dengan pekerjaannya. Tanpa disadari waktu telah bergulir menuju jam makan siang. Terlihat beberapa karyawan sudah meninggalkan mejanya untuk mengisi perut atau menunaikan shalat dzuhur.
“Kia, kalau mau shalat kalian bisa ke lantai tiga. EDR nya ada di lima, jangan lupa name tagnya dibawa kalau ke EDR.”
“Iya bu.”
Vira dan Rita mengambil dompet serta ponselnya lalu segera menuju ke lantai lima. Azkia memilih menunaikan shalat lebih dulu sebelum makan siang. Sedang Sandra nampak sudah berjalan menuju lift bersama dengan Pras.
Selesai shalat Azkia tak langsung menuju EDR. Dia bermaksud pergi ke apotik yang ada di seberang kantor. Sebuah inhaler untuk sang ibu berhasil didapatkannya. Daniar yang mengidap asma memang selalu membutuhkan obat tersebut. Dengan langkah cepat Azkia berjalan memasuki gedung kantor. Waktu istirahat tinggal empat puluh menit lagi. Dia harus bergegas menuju EDR kalau tidak ingin melewatkan makan siang.
“Kia!”
Langkah Azkia tertahan ketika sebuah suara memanggilnya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya. Wanita cantik itu adalah salah satu customer setia R&A mart.
“Assalamu’alaikum bunda,” Azkia meraih tangan wanita itu yang tak lain adalah Poppy lalu mencium punggung tangannya.
“Waalaikumsalam. Kamu lagi ngapain di sini?”
“Aku magang di sini bun.”
“Oh ya?”
“Bunda ngapain di sini?”
“Bunda mau makan siang sama suami bunda. Kebetulan suami dan anak bunda juga bekerja di kantor ini. Kamu ikut makan bareng bunda ya. Bunda kangen udah lama ngga ketemu kamu.”
“Ngga deh bun, aku malu.”
“Ngapain malu? Ayo ikut, bunda ngga terima penolakan.”
Poppy menarik tangan Azkia masuk ke dalam lift. Gadis itu hanya bisa pasrah mengikuti langkah wanita di depannya. Karena sering berkunjung ke mini market, Poppy dan Azkia jadi sering bertemu. Tak jarang mereka menghabiskan waktu mengobrol berdua sambil menunggu pesanan roti bakar kesukaan Poppy. Melihat Azkia, Poppy seperti melihat gambaran dirinya dulu. Bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sesampainya di Premium restoran, Poppy langsung menuju meja yang telah dipesan. Terlihat Irzal sudah menunggunya. Bahkan hidangan makan siang sudah tertata di atas meja. Poppy menarik kursi di samping suaminya, sedang Azkia duduk berhadapan dengannya. Melihat kedatangan sang istri, Irzal meletakkan ponselnya di atas meja lalu memberikan kecupan di puncak kepala Poppy. Azkia tersenyum tipis melihat kemesraan suami istri tersebut.
“A, kenalin ini Azkia. Yang sering aku ceritain, karyawan di mini marketnya Akhtar.”
“Yang di depan kompleks itu?”
“Iya.”
Irzal melihat pada Azkia, gadis itu menangkupkan kedua tangannya seraya memperkenalkan diri. Irzal hanya membalasnya dengan anggukan saja. Sikap dinginnya pada perempuan yang baru dikenalnya memang tak pernah hilang meski kini usianya sudah lebih dari setengah abad. Poppy segera mengajak untuk makan. Selama menikmati hidangan, ada saja yang dibicarakan kedua wanita itu. Irzal hanya diam mendengarkan.
“Kalau kamu magang, terus pekerjaan di mini market gimana?”
“Aku ambil pas week end langsung dua shift.”
“Wah berarti kamu ngga ada hari libur dong. Harus jaga kondisi ya, jangan terlalu diforsir nanti malah sakit.”
“Iya bunda.”
“Kabar ibumu bagaimana?”
__ADS_1
“Alhamdulillah sudah lebih baik bun.”
“Syukurlah. Bunda doakan ibumu cepat sembuh.”
“Aamiin, makasih bunda.”
Harus Azkia akui kalau makanan di restoran ini begitu lezat. Tapi sayang dia tak bisa terlalu menikmatinya. Sikap dingin Irzal membuatnya sulit mencerna makanan yang masuk. Azkia menghabiskan makanannya, lalu bermaksud langsung pergi.
“Bunda, makasih buat makan siangnya. Tapi maaf, aku harus kembali ke kantor. Jam istirahatnya hampir selesai.”
“Iya, silahkan. Salam buat ibu dan Hanin ya.”
“Iya bunda. Sekali lagi terima kasih untuk makan siangnya, bunda, bapak, saya permisi dulu, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia meraih tangan Poppy lalu mencium punggung tangannya. Sejenak dia menatap Irzal, sedikit ragu untuk melakukan hal yang sama. Poppy menyenggol lengan suaminya hingga Irzal melihat ke arah Azkia. Saat gadis itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman, Irzal balas mengulurkan tangan. Dengan takzim diciumnya punggung tangan Irzal. Refleks Irzal mengusap puncak kepala Azkia. Hati gadis itu bergetar, tak pernah dia mendapatkan perlakuan sehangat ini dari bapaknya sendiri. Ternyata Irzal tidak sekaku dan sedingin yang dipikirkannya.
“Gimana a? Dia gadis yang baik kan?” tanya Poppy begitu Azkia keluar dari restoran.
“Hmm..”
“Aku mau jodohin dia sama Elang. Kayanya mereka berdua cocok deh.”
“Elang sudah punya wanita pilihannya sendiri. Kamu harus hargai itu.”
“Iya. Makanya aku mau tahu siapa perempuan yang sedang dekat dengan Elang. Aku mau memastikan apa dia perempuan yang baik. Aku ngga mau Elang salah melamar perempuan kaya ayahnya dulu.”
“Maksud kamu apa hmm?” Irzal menarik dagu Poppy hingga pandangan keduanya bertemu.
“Maksud aku jangan sampai dia salah melamar perempuan seperti aa dulu.”
“Siapa?”
“Cih pura-pura lupa sama mantan terindah.”
“Kalau kamu masih membahas Della, aa bakalan cium kamu di sini. Dan jangan harap besok pagi kamu bisa berjalan.”
“Dasar mesum. Ingat umur.”
Irzal terkekeh melihat wajah istrinya yang bersemu merah. Pria itu tak mempedulikan para pengunjung yang lain sedang melihat ke arahnya. Poppy segera menarik tangan suaminya untuk pergi meninggalkan restoran. Menyesal rasanya dia sudah mengungkit masa lalu sang suami.
Sementara itu Azkia yang sudah kembali ke mejanya, mulai mengerjakan lagi tugas yang belum selesai. Vira dan Rita tampak memasuki ruangan. Kedua wanita itu duduk di kubikelnya. Tak berapa lama Sandra ditemani Pras masuk ke ruangan. Vira memutar bola matanya melihat sikap manis Pras pada Sandra. Pras memang terkenal playboy di divisinya. Mungkin dia percaya diri dengan wajahnya yang cukup tampan hingga dengan bebas bisa mendekati para wanita.
“Kia, kamu ngga makan siang?”
“Makan kok bu. Kebetulan tadi diajak makan siang di luar.”
Vira hanya manggut-manggut saja lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Saat menjelang Ashar, Gani sang manajer perencanaan masuk ke dalam ruangan. Matanya melihat ke arah Azkia juga Sandra.
“Sandra, mulai besok kamu akan diperbantukan ke lantai sebelas untuk pengerjaan proyek baru. Sekarang kamu berikan dokumen ini ke pak Virza dan bilang kalau besok kamu akan membantu di sana.”
“Baik pak.”
Sandra mengambil berkas dari tangan Gani lalu bergegas menuju lantai sebelas. Dia sudah diberitahu kalau lantai sebelas diperuntukkan untuk wakil CEO. Menurut kabar yang didengarnya dari para karyawan, wakil CEO yang juga anak dari Irzal Ramadhan berwajah tampan, begitu pula dengan sekretaris dan asistennya. Sandra semakin bersemangat menuju ke sana.
Sandra merapihkan pakaiannya sebelum mengetuk pintu ruangan Elang. Gadis itu melangkahkan kakinya masuk begitu Fitria membukakan pintu. mulut Sandra hampir saja terbuka melihat empat orang pria berwajah tampan sedang duduk mendiskusikan sesuatu. Mata Elang memindai Sandra dari atas sampai bawah lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Permisi pak, saya mengantarkan berkas dari pak Gani. Dan mulai besok saya yang ditunjuk beliau untuk membantu di sini.”
Sebisa mungkin Sandra berbicara dengan suara lemah lembut agar terdengar merdu. Virza berdiri lalu mengambil berkas tersebut kemudian kembali ke tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Ok, kamu boleh kembali ke tempatmu. Besok langsung saja ke sini tapi sebelumnya temui dulu ibu Fitria,” tutur Farel.
Sandra mengangguk lalu keluar dari ruangan. Walaupun sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di sana. Setelah Sandra pergi, Elang menolehkan wajahnya pada Farel. Tanpa bertanya Farel sudah tahu apa maksud dari tatapan itu.
“Fitria, panggil Gani ke ruangan saya.”
“Baik pak.”
__ADS_1
Farel berdiri lalu menyusul Fitria kembali ke ruangannya. Begitu pula dengan Virza dan Jayden. Rapat singkat mereka memang sudah selesai ketika Sandra memasuki ruangan. Elang berjalan menuju kerjanya. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja. Tanpa dikomando jarinya mulai bergerak mengetik sesuatu.
To Azkia :
Masih di kantor?
From Azkia :
Iya mas.
To Azkia :
Sudah makan?
From Azkia :
Sudah mas. Mas sendiri sudah makan?
To Azkia :
Sudah. Hari ini mau ke mini market?
From Azkia :
In Syaa Allah mas. Aku masih harus nerangin ke Arul soal sistem pembukuan.
To Azkia :
Ok. Nanti tunggu aku di sana.
From Azkia :
Iya mas.
Azkia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah berbalas pesan dengan Elang. Senyum mengembang di wajahnya. Rasanya dia ingin jam kerja cepat berakhir agar bisa bertemu dengan Elang lebih cepat.
Sandra yang baru kembali dari lantai sebelas masuk ke dalam ruangan dengan wajah berseri-seri. Vira hanya melirik sekilas pada gadis itu. Sandra mendudukkan diri di kubikelnya yang letaknya bersebelahan dengan Azkia.
“Seneng banget San.”
“Gimana ngga seneng. Itu di lantai sebelas isinya cogan semua. Oh My God, mimpi apa aku besok kerja bareng mereka.”
Segitu senengnya. Emangnya seganteng apa sih mereka. paling ngga lebih ganteng dari mas Elang.
Azkia terkikik sendiri membuat Sandra menoleh ke arahnya. Gadis itu segera mengatupkan mulutnya. Rita yang baru saja dari ruangan pak Gani nampak masuk terburu-buru ke dalam ruangan.
“Kayanya bentar lagi ada yang kena tegur soal cara berpakaian nih,” ucap Rita seraya melihat ke arah Azkia dan Sandra.
Azkia menundukkan kepalanya, sepertinya pandangan Rita barusan mengarah padanya. Tanpa sadar dia menghela nafas panjang. Sandra ikut menoleh pada teman kampusnya itu. Dilihatnya penampilan Azkia dari atas sampai bawah.
“Kia, kayanya kamu harus rubah penampilan deh. Pakaian kamu tuh ribet banget, menghambat mobilitas. Coba pake hijabnya yang simple gitu.”
“Tapi kita kan kerjanya di belakang meja bukan di lapangan.”
“Ya tetap aja.”
Terdengar deheman Vira yang menandakan kedua gadis itu untuk melanjutkan pekerjaan. Mereka tak bersuara lagi dan meneruskan pekerjaan. Beberapa menit kemudian Gani masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Sandra.
“Sandra, mulai besok ganti pakaian kamu. Jangan pakai rok pendek apalagi baju ketat seperti itu. Lebih baik kamu pakai celana panjang, apalagi kamu besok bertugas di lantai sebelas. Wakil CEO kita ngga suka lihat perempuan berpenampilan seksi. Kamu mengerti?”
“I.. iya pak.”
Gani berlalu meninggalkan ruangan. Vira dan Rita nampak berusaha menahan senyumnya. Berbeda dengan Sandra yang nampak terkejut. Dipikirnya Azkia yang akan mendapat teguran, ternyata dirinya.
🍁🍁🍁
**Sandra kepedean nih, belum pernah kena semprot mas El kayanya😂
Wah ngga kerasa ngetik udah hampir 2000 kata lagi. Ditunggu terus ya feedback kalian. Like, comment and vote nya kalau masih nganggur. Sampai jumpa tar malem ya, mdh²an mamake bisa up lagi😎**
__ADS_1