Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Bertahanlah


__ADS_3

Hadeuh.. kayanya mamake kesurupan. Kok bisa hari ini up sampe 3 bab🙊


Gpp deh buat nemenin malming kalian, mamake kasih nih😉


Happy Reading🤗


*******************************************


Tawa Deski membahana ke seluruh ruangan. Suara tawanya yang keras sebagai bentuk kekecewaan atas jawaban Azkia untuknya. Tangannya mengepal kencang, matanya menyiratkan kemarahan lalu dia memanggil Meta sambil berteriak. Tak lama Meta datang bersama dengan Hanin. Azkia terkejut melihat kehadiran sang adik. Hanin yang hendak menghampiri kakaknya tertahan oleh cekalan tangan Meta.


“Kak Kia!”


“Hanin! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menculiknya juga??!!” Azkia menatap nyalang pada Deski.


“Aku sudah katakan padamu, menurutlah padaku atau aku akan menyakiti orang-orang di sekelilingmu. Sesudah Hanin, maka korban selanjutnya adalah ibu angkatmu beserta suami dan anak tunggalnya, Gara.”


“Brengsek!!!”


“Kamu yang telah merubahku menjadi pria brengsek!! Siang nanti serahkan dirimu padaku atau hidup adikmu akan berakhir. Aku tidak main-main Kia. Meta!!”


Meta menarik rambut Hanin dengan kencang lalu mengarahkan sebuah pisau kecil ke lehernya.


“Jangan sakiti dia!!”


“Kalau begitu bersiaplah, dua jam lagi aku akan menemuimu. Layani aku seperti kamu melayani suamimu. Saat ini cukup berikan tubuhmu untukku, setelah itu mulailah berikan hatimu untukku.”


Deski beranjak pergi meninggalkan Azkia yang memandangi Hanin dengan sendu. Hanin menangis tersedu, menyesal kenapa kemarin menuruti sang ayah untuk pergi bersamanya. Meta menarik pergi Hanin lalu menutup pintu. Azkia terjatuh di lantai, tangisnya kembali pecah.


Apa yang harus hamba lakukan ya Allah. Hamba tidak mungkin menyerahkan diri hamba pada lelaki itu tapi bagaimana dengan Hanin. Mas El.. tolong aku mas..


Tangis Azkia semakin keras terdengar. Begitu pula dengan Hanin yang tak berhenti menangis. Meta memasukkan Hanin ke dalam kamar lalu menutup pintunya. Dua orang pengawal berjaga di depan kamarnya. Meta bergegas kembali ke tempatnya berjaga, di depan kamar Azkia. Tangis wanita itu disertai teriakan terdengar dari dalam kamar.


Azkia terbaring di lantai, suaranya sudah hampir habis karena terus menangis dan berteriak. Perlahan dia bangun lalu dengan langkah gontai masuk ke kamar mandi. Cukup lama dia memandangi wajahnya di depan cermin. Matanya bengkak karena banyak menangis.


Maafin aku mas.. aku ngga punya cara lain untuk keluar dari masalah ini. Aku mencintaimu mas.. sangat mencintaimu. Ya Allah ampunilah dosa hamba-Mu ini. Ampunilah hamba yang lemah dan tak berdaya ini.


Azkia mengambil botol shampo yang berada di dekat wastafel. Lalu dengan kekuatan penuh dilemparkannya botol tersebut ke cermin.


PRANG!!!


Cermin hancur seketika, pecahannnya berserakan di atas wastafel. Azkia mengambil pecahan kaca tersebut, menggenggamnya dengan erat hingga telapak tangannya terluka. Matanya terpejam, hatinya sudah bulat melakukan tindakan yang dibenci oleh Allah.


Ampunilah dosa hamba-Mu yang Allah. Mas El.. jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu..


Azkia mengarahkan pecahan beling itu ke pergelangan tangannya lalu menggoresnya. Darah seketika membasahi pergelangan tangannya. Namun goresan itu ternyata kurang dalam. Azkia bermaksud mengulanginya, tapi Meta bergerak cepat dengan mencekal tangan Azkia lalu mengambil pecahan beling dari tangannya dan membuangnya ke lantai.


“Lepaskan aku!! Lepaskan aku!! Aku lebih baik mati dari pada menyerahkan hidupku untuk lelaki bejat itu!!”


Azkia memberontak, mencoba melepaskan diri dari cekalan Meta. Seorang pengawal pria mencoba membantu Meta namun gadis itu melarangnya. Deski sudah mewanti-wanti untuk tidak membiarkan pengawal laki-laki menyentuh Azkia.


“Bawakan kotak P3K kemari cepat!!”


Pengawal itu bergegas pergi. Meta terpaksa memeluk Azkia yang tengah kalap. Beberapa kali Azkia coba memberontak, tangan dan kakinya bergerak memukul juga menendang ke arah Meta. Gadis itu mengeratkan pelukannya pada Azkia lalu berbisik di telinganya.


“Tenanglah atau nyawa Hanin berada dalam bahaya.”


Mendengar ucapan Meta, Azkia mulai tenang. Dia pasrah saja saat Meta membawanya keluar dari kamar mandi. Meta mendudukkan Azkia di sisi ranjang, dia ikut duduk di samping Azkia dengan posisi membelakangi cctv yang terpasang di sudut dekat pintu. Tak lama pengawal yang disuruhnya datang dengan kotak P3K. Dengan cepat Meta mengobati luka Azkia.


“Ambilkan pakaian ganti untuk nona Azkia.”


Pengawal itu kembali keluar kamar. Dengan gerakan halus Meta mengambil sesuatu dari saku jaketnya lalu menyelipkannya ke dalam manset Azkia. Azkia memandangi Meta sejenak. Tatapan Meta tampak berbeda dari sebelumnya. Pengawal tadi datang dengan membawa pakaian baru untuk Azkia. Gamis yang dikenakannya tadi terkena noda darahnya.


“Ganti pakaianmu. Pastikan kamu tampil cantik saat tuan Deski mengunjungimu, kalau tidak, maka nyawa adikmu taruhannya.”


Meta mengajak rekannya keluar dari kamar. Azkia mengambil pakaian baru untuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ditutupnya rapat pintu kamar mandi lalu duduk di atas kloset. Dia menarik mansetnya, mengambil sebuah gulungan kecil dari dalamnya. Dengan dada berdebar Azkia membuka gulungan kertas tersebut.

__ADS_1


Aku diutus pak Elang untuk menjagamu. Bertahanlah, sebentar lagi dia akan datang menjemputmu.


Flashback


Jayden bersama Meta bertemu dengan Elang di apartemennya. Kepada Jayden, Elang meminta dicarikan seorang pengawal perempuan. Jayden memutuskan merekomendasikan Meta pada sahabatnya itu. Meta adalah seniornya di kampus, dan reputasi serta loyalitas gadis itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.


“Saat ini Deski sedang mencari pengawal perempuan. Saya minta kamu menyusup ke dalamnya, untuk mengawasi pergerakannya. Saya punya firasat kalau dia ingin menculik istri saya. Kalau sampai itu terjadi, tolong kamu jaga dia. Jangan sampai Deski atau orang lain menyentuhnya.”


“Baik pak.”


“Kamu tidak usah melaporkan apapun pada saya. Deski itu orang yang sangat teliti dan berhati-hati. Dia pasti akan mencari tahu latar belakangmu, Jayden yang akan mengurus itu semua. Jika sampai dia menculik istri saya, bersikaplah biasa, jangan menimbulkan kecurigaan yang bisa membahayakan keselamatan kalian. Dia pasti akan mengawasimu, bahkan mungkin saja menyadapmu. Prosedur selanjutnya biar Jayden yang akan mengatakannya padamu. Apa yang harus kamu lakukan jika penculikan itu terjadi. Ulurlah waktu selama mungkin sampai saya menemukan kalian. Aku percayakan keselamatan Azkia padamu.”


“Baik pak.”


Jayden kemudian menerangkan apa saja yang harus dilakukan Meta jika penculikan benar-benar terjadi. Dia juga membekali peralatan untuk mendeteksi penyadapan serta alat pemancar gps untuk mengirimkan lokasi di mana Meta berada.


Pada hari penculikan, Meta membuang kalung di lokasi pergantian mobil. Lokasi yang dipilih merupakan hasil rekomendasi darinya. Di sana sudah menunggu dua orang anak yang akan mengambil kalung tersebut. Sebelumnya Meta telah mencari orang yang bisa membantunya menjalankan rencana. Dan pilihannya jatuh pada dua orang anak yatim piatu yang bekerja serabutan. Dia juga menyerahkan sebuah ponsel serta alat pemancar gps.


“Ingat, begitu kakak membuang kalung, langsung ambil kalung itu. Tunggu telepon dari kakak, setelah itu tekan tombol ini, mengerti?”


“Iya kak.”


Setelah Azkia sampai di vila, Meta segera menghubungi kedua anak itu. Dia memakai peralatan dari Jayden agar panggilannya tidak terlacak oleh anak buah Deski yang lain.


Flashback Off


Tangis Azkia kembali pecah, diremasnya kertas kecil tersebut dengan erat. Dalam hatinya tak henti bersyukur, ternyata doanya didengar oleh sang Maha Kuasa. Semangat Azkia kembali muncul, dibuangnya kertas kecil itu ke dalam kloset, membiarkannya hilang terbawa air. Azkia mengganti pakaiannya, memoles wajahnya dengan bedak dan memulas bibirnya dengan lipstik. Dia tak ingin terlihat jelek saat Elang menjemputnya nanti.


Sementara itu di lantai bawah, Hanin yang sudah lelah menangis hanya berbaring di kasur. Otaknya berpikir keras bagaimana bisa keluar dari situasi rumit ini. Sekilas dia mendengar kalau kakaknya harus mau tidur bersama dengan Deski dengan dirinya sebagai ancaman. Hanin segera bangun dari tidurnya. Sebuah ide melintas di kepalanya.


Ayo Hanin kamu pasti bisa. Demi kak Kia aku akan melakukan apapun, walau nyawa taruhannya.


Setelah membulatkan tekadnya, Hanin bangun dari tidurnya lalu mengetuk pintu kamar. Pengawal yang berjaga membukakan pintu untuknya.


“Aku lapar.”


“Tunggu di sini.”


“Aku ngga suka makan di kamar.”


Pengawal itu akhirnya mengantar Hanin menuju ruang makan. Hanin menarik sebuah kursi lalu mendaratkan bokongnya. Seorang pelayan langsung menghampirinya.


“Mau makan apa non?”


“Aku mau makan roti panggang aja, pake selai kacang sama coklat.”


“Sebentar saya siapkan non.”


Pelayan itu bergegas menuju dapur untuk menyiapkan pesanan Hanin. Sepuluh menit kemudian dia kembali membawa roti bakar dan jus jeruk. Hanin memandangi roti di depannya. Setelah menghirup udara dalam-dalam dia mulai makan. Digigitnya roti bakar dengan selai kacang dan coklat di dalamnya.


Setelah dua gigitan masuk ke dalam perutnya, tiba-tiba nafas Hanin mulai sesak. Dia nampak terbatuk, pelayan dan pengawal yang mengawasinya makan terkejut. Wajah Hanin memerah, nafasnya tersengal. Sang pengawal berteriak memanggil temannya melihat kondisi Hanin. Meta yang mendengar teriakan dari arah bawah bergegas turun.


Hanin terbaring di lantai. Wajah sampai lehernya memerah, nafasnya tersengal-sengal. Meta segera menghampiri lalu memeriksa keadaannya.


“Apa yang dia makan?”


“Dia tadi minta roti bakar dengan selai kacang dan coklat.”


“Sepertinya dia alergi kacang. Cepat bawa ke rumah sakit.”


Pengawal yang bertugas menjaga Hanin segera membopong tubuh gadis itu lalu membawanya ke mobil. Tak lama mobil tersebut melesat menuju rumah sakit. Deski yang mendapat kabar dari Meta memutuskan kembali ke vila.


“Bagaimana keadaan anak itu?”


“Dia dibawa ke rumah sakit.”

__ADS_1


“Bodoh!!! Kenapa dibawa ke rumah sakit??!!”


“Kalau tidak bisa dibawa ke rumah sakit saya takut akan membahayakan nyawanya. Sepertinya alerginya cukup parah. Kalau sesuatu terjadi pada Hanin, bagaimana dengan ibu Azkia?”


Deski mengusap wajahnya kasar. Apa yang dikatakan Meta benar adanya. Jika sudah begini tentu Azkia tidak akan mau memenuhi permintaannya. Deski berjalan mondar-mandir. Dia harus melakukan sesuatu sebelum Elang kembali.


“Kamu pergi ke rumah sakit. Pantau keadaan anak itu.”


Meta hendak menolak tugas itu tapi takut Deski curiga padanya. Akhirnya dia memilih pergi ke rumah sakit. Deski memanggil salah satu pengawalnya.


“Cepat suruh Wawan ke sini. Bawa obat yang kemarin kuminta.”


“Baik pak.”


Pengawal itu bergegas pergi. Beberapa saat kemudian dia kembali bersama seorang pria yang bernama Wawan.


“Bagaimana obat yang kuminta?”


“Sudah siap pak. Apa bapak akan menggunakannya sekarang?”


“Apa efeknya? Apakah berbahaya?”


“Tidak bahaya pak. Efeknya hanya lemas saja. Orang yang disuntikkan obat ini tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk beberapa waktu, tergantung dosis yang diberikan.”


“Baik. Buat dia tidak bisa bergerak selama dua jam saja.”


Wawan mengangguk, dia membuka tasnya, mengambil botol obat dan jarum suntik. Setelah memasukkan obat ke dalam suntik, dia bersama dengan Deski dan seorang pengawal menuju kamar Azkia. Deski tak punya cara lain agar bisa meniduri Azkia selain membuat tubuh wanita itu lemas. Karena dia juga tidak mau bercinta jika Azkia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia ingin melihat mimik wajah wanita itu ketika bercinta dengannya.


Azkia terkejut ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Deski dan dua orang yang tak dikenalnya masuk ke dalam.


“Bagaimana Kia? Apa kamu sudah siap?”


“Mana Hanin?”


“Dia ada di bawah.”


“Bawa dia kemari. Aku mau memastikan dia dalam keadaan baik dulu.”


Deski mendesis kesal. Dia menepuk tangannya, seorang pengawal yang berjaga di luar segera masuk. Kemudian Deski memberikan isyarat pada dua orang pengawalnya itu. Kedua orang itu segera maju dan memegangi tangan Azkia.


“Lepas!!! Lepas!!!”


“Karena kamu tidak bisa diminta baik-baik, maka aku harus melakukan ini. Lakukan!!”


Wawan maju dengan jarum suntik di tangannya. Azkia terus berontak namun tenaganya tak cukup kuat melawan dua pria bertubuh besar yang memegangi tangannya. Kepalanya menggeleng dengan kuat.


“Kumohon jangan.”


Suara Azkia begitu memelas, matanya menatap pernuh permohonan pada Deski. Lelaki itu memalingkan wajahnya ke arah lain, takut hatinya luluh dan berubah pikiran. Syifa sudah mendesaknya untuk segera menjalankan rencananya. Mau tak mau Deski mengambil cara ini.


“Jangan... aku mohon jangan... mas El!!!! Tolong aku!!!”


CIIIIITTTT


Meta mengerem mobilnya tiba-tiba ketika mendengar teriakan Azkia. Diam-diam dia menaruh alat penyadap di kamar yang ditempati Azkia hingga bisa mendengar percakapan di kamar tersebut. Dengan cepat Meta memutar balik kendaraannya. Dia tak peduli kalau penyamarannya terbongkar, yang ada di kepalanya saat ini menyelamatkan Azkia dari Deski.


Tubuh Azkia jatuh terkulai ketika Wawan telah berhasil menyuntikan obat ke dalam tubuhnya. Deski segera membopong tubuh itu lalu menidurkannya di kasur. Wawan beserta dua orang lainnya bergegas meninggalkan kamar.


🍁🍁🍁


😱😱😱🙈🙈🙈


**Bagaimana ini??? Mas El masih dalam perjalanan pulang, ayo readers kita berdoa berjamaah biar usaha Deski gagal.


Jangan pelit² buat like, and komennya juga ya. Biar mamake tambah semangat up lagi😉**

__ADS_1


__ADS_2