
Hanin mematikan kompor ketika sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Firlan meletakkan dagunya di bahu sang istri.
“Masak apa sayang?”
“Sapo tahu, cumi saos padang sama udang tempura. Abang suka?”
“Apa aja yang kamu masak pasti abang makan. Abang suka semua masakanmu.”
“Gombal.”
Firlan terkekeh pelan lalu bibirnya mencium pipi sang istri. Jika ditanya bagaimana perasaan Hanin saat ini, sudah pasti bahagia. Seminggu ini kehidupan rumah tangganya sudah seperti pasangan umum lainnya. Bukan hanya bersikap baik dan hangat, namun Firlan juga tak sungkan untuk bersikap mesra pada sang istri. Seperti yang dilakukannya sekarang.
Firlan melepaskan pelukannya lalu membantu Hanin menyiapkan makanan di meja. Hari ini dia sengaja pulang ke unitnya untuk makan siang bersama sang istri di tengah jam istirahatnya.
Setelah semua makanan terhidang meja makan, keduanya mulai menyantap makan siang. Sesekali Firlan menggenggam tangan Hanin kemudian mengecup punggung tangannya. Pria itu tak menyangka perasaannya berkembang begitu cepat pada Hanin. Kini bayang-bayang Ayunda perlahan mulai memudar dari hatinya. Justru Hanin yang selalu memenuhi hati dan pikirannya.
“Han.. abis makan siang ikut abang ke kantor ya.”
“Ngapain bang?”
“Temenin abang kerja aja.”
“Ok deh. Sekalian aku mau bawain makanan buat bang Gara.”
Firlan tersenyum senang, ada Hanin yang menemaninya kerja bisa menambah semangat kerjanya. Selesai makan, Hanin memasukkan masakan yang tadi dibuatnya ke dalam kotak bekal. Gara sudah menghubunginya beberapa kali dan merengek kelaparan.
🍁🍁🍁
Stevi duduk gelisah di ruang tunggu Gala Corp. Dia tengah menunggu Firlan yang sedang makan siang. Kedatangannya tentu saja berkaitan dengan kelangsungan perusahaannya. Padahal baru tujuh tahun ini perusahaannya bisa berkembang sejauh ini. Setelah Miracle Group terdahulu mengganti namanya menjadi Cuatro Group, Harianto berinisiatif memakai nama tersebut karena dipikir membawa hoki.
Tapi sejak insiden seminggu lalu. Karena kecerobohan sang anak, perusahaan miliknya terguncang. Setelah Firlan, Reyhan dan Liam membatalkan semua kerjasama, Cuatro Group yang digawangi oleh Andra juga membatalkan kerjasamanya. Keadaan bertambah kacau ketika Humanity Corp tidak hanya membatalkan kerjasama tapi juga membuat beberapa investor menarik investasi dari perusahaannya. Sepertinya Elang benar-benar murka. Tak berhenti di situ, Elang juga menutup akses Miracle Group untuk mendapat pinjaman dana.
Satu jam sudah Stevi menunggu, akhirnya sosok yang dinantinya muncul juga. Firlan datang bersama dengan Hanin. Mood Stevi langsung hancur melihat Hanin, gara-gara wanita itu, perusahaannya berada di ujung tanduk. Apalagi Firlan menggandeng tangan Hanin begitu mesra, membuat Stevi bertambah muak.
“Firlan..”
Stevi langsung menghampiri begitu Firlan dan Hanin melintas di depan ruang tunggu. Firlan menghentikan langkahnya sejenak, tapi kemudian melanjutkan lagi langkahnya. Stevi tak menyerah, dia bergegas menyusul lelaki itu.
“Firlan.. tolong bantu aku.”
Firlan bergeming, dia terus saja berjalan. Hanin yang tak tega meremas tangan suaminya, memberinya tanda untuk berhenti. Akhirnya Firlan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangannya.
“Ada apa?”
“Ada yang ingin kubicarakan.”
“Soal apa?”
“Soal proyek kerjasama kita. Aku juga minta tolong untuk membujuk Elang mencabut embargonya.”
“Soal kerjasama kita, keputusanku sudah bulat. Kamu berani menghina istriku berarti harus siap terima resikonya. Dan soal Elang, kamu saja yang menemuinya langsung. Tapi saranku lebih baik jangan tunjukkan wajahmu di depannya kalau kamu masih mau bernafas.”
“Firlan... aku mohon...”
“Amelia.. suruh perempuan ini pergi. Kalau tidak mau, panggil satpam untuk menyeretnya keluar.”
Firlan menarik tangan Hanin kemudian masuk ke dalam ruangannya. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Mood-nya rusak bertemu dengan Stevi. Hanin duduk di samping Firlan lalu mengusap punggung suaminya pelan.
“Bang..”
“Kesel abang lihat dia. Untung perempuan, kalau laki-laki udah abang hajar dia. Beraninya dia dateng ke sini setelah menghina kamu.”
“Ya udahlah bang, ngga usah dipikirin lagi.”
“Kamu kenapa bisa santai gitu sih Han? Abang aja masih kesel kalau ingat omongannya waktu itu.”
__ADS_1
“Omongan dia ngga sepenuhnya salah bang. Bapak memang mantan napi, dia juga penipu. Bahkan tega menjual anaknya sendiri. Aku udah sering dengar hinaan yang lebih dari yang Stevi katakan. Jadi tambah satu orang lagi yang menghinaku ngga akan berpengaruh padaku.”
“Mulai sekarang abang ngga akan biarkan ada orang yang menghinamu. Dia harus berhadapan dengan abang kalau berani merendahkan dirimu atau keluargamu.”
“Makasih bang.”
“Kamu ngga perlu berterima kasih. Kamu istri abang, sudah kewajiban abang untuk melindungimu.”
Firlan meraih wajah Hanin lalu menabrakan bibirnya di bibir tipis Hanin. Gadis itu memejamkan matanya seraya membalas ciuman Firlan. Selama seminggu ini suaminya sudah mengajarinya bagaimana cara berciuman yang baik dan benar. Dan sepertinya Firlan adalah guru yang handal. Hanin kini sudah bisa mengimbangi cara berciuman Firlan.
Suara decapan masih terdengar di sekeliling ruangan. Bukan hanya bibir dan lidah mereka yang sibuk bertaut tapi posisi tubuh mereka pun sudah begitu intim. Hanin kini berada di pangkuan Firlan dengan posisi berhadapan. Tangan Firlan sudah tak enak diam, perlahan tangannya menelusup masuk ke balik kemeja Hanin. Meremat bulatan kenyal yang masih terbungkus rapih.
Hanin melenguh seraya mendongakkan kepalanya ketika Firlan terus meremat bukit kembarnya. Bibir dan lidah suaminya kini sudah menjelajah area lehernya. Sesapan Firlan yang sedikit kencang meninggalkan bercak kemerahan di leher Hanin. Keduanya semakin tenggelam dalam hasrat hingga tak mendengar bunyi ketukan pintu.
Firlan baru saja akan melepaskan pengait bra Hanin ketika pintu ruangannya terbuka. Gara yang masuk bersama dengan Amelia langsung memalingkan wajahnya. Amelia bahkan bergegas kembali ke mejanya sedang Gara masih berdiri di depan pintu.
“Woi!!! Kantor ini.”
Hanin yang terkejut mendengar suara Gara, bergegas turun dari pangkuan Firlan lalu berlari menuju kamar yang biasa digunakan Firlan untuk beristirahat. Dengan wajah tanpa dosa Gara mendekat lalu menghempaskan bokongnya di samping Firlan. Tak dipedulikannya tatapan membunuh sahabatnya itu.
“Ngapain lo ke sini?”
“Nih berkas yang harus lo tanda tangan. Tapi pelajari dulu. Inget hari ini harus udah selesai lo tanda tangan ya. Abis itu lo pulang terus lanjutin adegan tadi.”
“Bangke!!”
Gara tergelak, puas rasanya dia sudah membalas dendam tempo hari. Setelah menaruh berkas di meja, dia keluar dari ruangan. Firlan mengambil salah satu berkas, tapi sebelumnya dia memanggil Hanin agar kembali duduk di dekatnya. Setelah Hanin kembali, Firlan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya. Sambil berbaring dia membaca berkas yang tadi diberikan Gara.
🍁🍁🍁
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hanin dan Firlan sudah berbaring di atas kasur. Keduanya masih berbincang, aktivitas yang sudah seminggu ini mereka lakukan sebelum tidur.
Firlan memiringkan tubuhnya dengan tangan menyangga kepalanya. Sebelah tangannya lagi membuka kancing piyama Hanin. Kemudian dia mulai memainkan bukit kembar sang istri dengan jemarinya. Semenjak tidur bersama, Firlan melarang Hanin mengenakan bra saat tidur. Selain alasan kesehatan, hal itu juga memudahkannya saat hendak bermain dengan bulatan kenyal favoritnya.
“Sayang... kamu udah pikirin mau bulan madu kemana?”
museum Louvre, istana Versailles. Aku juga mau ke Verdon Gorge Canyon, Chateau De Chambord sama jembatan Gard. Terakhir kita ke Cap d’Adge.”
Firlan mengernyitkan keningnya ketika Hanin menyebutkan kota terakhir. Dipandanginya lekat-lekat wajah sang istri.
“Kamu ngapain mau ke Cap d’Adge?”
“Emang kenapa bang? Kata Jose, pantai di Cap d’Adge bagus loh. Aku kan penasaran. Dia bilang aku bakalan betah di sana.”
“Siapa Jose?”
“Temenku si playboy cap kadal bunting. Dia rekomendasiin kota itu buat aku kunjungi selama di Perancis.”
“Kamu tahu Cap d’Adge itu terkenal dengan kota apa?”
“Ngga. Aku belum sempat searching juga.”
Firlan mengambil ponsel dari atas nakas. Dia lalu memulai pencarian tentang Cap d’Adge. Setelah menemukan artikel tentang kota tersebut, Firlan memperlihatkannya pada Hanin. Mata Hanin membulat membaca artikel tersebut. Dia sampai menutup mulutnya. Dalam hati dia merutuki Jose yang merekomendasikan tempat tersebut.
Ternyata Cap d’Adge merupakan kawasan favorit bagi wisatawan internasional yang ingin menikmati kehidupan nudis. Bukan hal aneh jika di kota Cap d’Adge dijumpai kaum pria dan wanita tidak mengenakan pakaian. Bahkan untuk pergi ke bank, supermarket, restoran, penata rambut, toko roti, orang di sana enjoy saja dengan berte**njang ria.
“Sebenarnya tujuan kamu mau ke Cap d’Adge ngapain hmm? Kalau cuma pantai, banyak pantai di Perancis yang lebih indah. Apa jangan-jangan kamu pengen lihat bandulan ya.”
“Bandulan apaan bang?”
“Hilih pura-pura polos padahal nih otak isinya mesum semua,” Firlan menyentil pelan kening istrinya.
“Ish bang Ilan.. beneran aku ngga ngerti. Bandulan tuh apa?”
“Kamu mau ke Cap d’Adge kan pengen lihat cowok bule jalan-jalan ngga pake baju. Jadi kamu bisa lihat belalai yang gelantungan.”
__ADS_1
Wajah Hanin memerah mendengar ucapan frontal suaminya. Belum hilang rasa terkejutnya, Firlan kembali berkata yang membuat wajah Hanin semakin memerah layaknya kepiting rebus.
“Kalau kamu mau lihat bandulan, ngga usah jauh-jauh ke Cap d’Adge. Abang juga punya, mau abang lihatin sekarang?”
“Abang...”
Hanin menutup wajah dengan kedua tangannya ketika Firlan menurunkan celana piyamanya. Tanpa mempedulikan teriakan istrinya, Firlan melepas celana juga piyama bagian atasnya hingga menyisakan da**man saja. Dia lalu berpindah posisi berada di atas Hanin, mengungkung tubuh istrinya. Ditariknya tangan Hanin yang menutupi wajahnya.
Hanin membelalak ketika melihat sang suami sudah tak mengenakan piyamanya. Posisi mereka begitu dekat. Dengan jelas Hanin bisa melihat dada bidang di depannya, kemudian turun ke area perut kotaknya. Terakhir matanya tertuju pada bagian bawah yang sudah menonjol. Serta merta Hanin memalingkan wajahnya.
Firlan mulai menciumi wajah Hanin, terus turun hingga ke leher, bahu dan dada. Dilepaskannya piyama Hanin, hingga tubuh bagian atas istrinya terpampang polos. Mulutnya meraup bulatan kenyal yang sedari tadi hanya dimainkan dengan jarinya. Tubuh Hanin melengkung ke atas disertai lenguhan ketika merasakan sensasi geli sekaligus nikmat.
Tidak berhenti sampai di situ. Kini Firlan mulai menciumi perut Hanin. Kemudian tangannya melepaskan celana piyama dari kaki Hanin. Dilanjutkan dengan segitiga pengamannya. Hanin menutup matanya, terlalu malu rasanya bersitatap dengan sang suami dengan keadaan tubuhnya yang polos.
Hanin mendongakkan kepalanya, tangannya mencengkeram erat seprai ketika Firlan mulai bermain di area bawahnya. Kakinya bergerak gelisah merasakan sensasi yang baru pertama kali didapatkannya. Mulutnya tak berhenti mengerang, men**sah dan melenguh. De**hannya berubah menjadi jeritan tertahan ketika dia mencapai pelepasan pertamanya. Tubuhnya bergetar kemudian disusul dengan keluarnya cairan hangat dari inti tubuhnya. Badan Hanin lemas dibuatnya.
Mata Hanin menatap sayu ke arah Firlan yang sedang melepaskan kain terakhir dari tubuhnya. Bandulan yang tadi disebut Firlan kini terpampang nyata di depannya. Lagi-lagi Hanin memejamkan matanya. Firlan merangkak naik ke atas tubuh sang istri. Dia memulai lagi cumbuan dari awal.
Sudah cukup banyak tanda kemerahan yang tercetak di leher, bahu dan dada Hanin. Hasrat Hanin pun telah kembali. Firlan mencium bibir Hanin saat bersiap untuk memasuki wanita itu. Perlahan namun pasti, bandulannya mulai merangsek masuk. Hanin memejamkan matanya, menahan rasa sakit dan perih yang datang bersamaan.
Firlan kembali me**mat bibir Hanin untuk mengalihkan rasa sakitnya. Lalu dengan sekali hentakan bandulan miliknya berhasil menembus pertahanan Hanin yang selama ini dijaganya dengan baik. Airmata Hanin menetes saat merasakan sakit di bagian bawahnya.
Firlan terdiam sebentar, memberi waktu untuk Hanin mengatur nafas dan membiasakan miliknya di dalam sana. Kemudian dengan gerakan pelan, Firlan mulai menggerakkan pinggulnya. Sungguh rasa sakit dan perih begitu mendera Hanin, namun dia berusaha menahannya. Tapi perlahan rasa sakit itu berangsur berkurang, Hanin mulai menikmati gerakan suaminya.
Hanin memeluk erat punggung suaminya ketika merasakan pelepasan untuk kali kedua. Firlan mempercepat gerakannya, dia pun ingin segera meraih kepuasannya. Pinggul Firlan bergerak maju mundur, tangannya menarik pinggul Hanin hingga hujamannya semakin dalam. Nafas Firlan terdengar terengah ketika hampir sampai di ujungnya. Tak lama erangan keluar dari mulutnya bersamaan dengan semburan hangat miliknya di dalam milik Hanin.
Firlan menjatuhkan diri di atas Hanin sebentar. Kemudian berguling ke sisi kanan dengan tangan memeluk tubuh sang istri. Posisi Hanin kini berada di atas Firlan dengan bagian bawah mereka yang masih saling menaut. Firlan menggeser tubuh Hanin menjadi berbaring miring di sampingnya. Dia masih belum melepaskan tautannya.
“Makasih sayang..”
Firlan mengecup kening Hanin yang basah oleh keringat. Hanin hendak melepaskan diri tapi ditahan oleh Firlan.
“Jangan bergerak, tetap seperti ini. Kita istirahat dulu ya, abang masih mau lagi sayang.”
Hanin hanya meringis mendengar ucapan suaminya. Rasa perihnya masih belum hilang tapi Firlan sudah mengatakan ingin bemain lagi.
“Gimana rasanya bandulan abang?”
Hanin memukul lengan Firlan lalu menyusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Firlan terkekeh melihat istrinya yang malu-malu.
“Abang nyesel Han.”
“Nyesel kenapa bang?”
Hanin sontak mengangkat kepalanya melihat ke arah sang suami. Ada kecemasan dalam dirinya, takut kalau suaminya tak merasa puas padanya.
“Nyesel kenapa ngga dari awal kita nikah ngelakuinnya.”
Hanin kembali memukul lengan Firlan. Dia tak habis pikir, seiring kedekatan mereka, tingkah dan ucapan suaminya semakin mesum saja. Tapi tak dipungkiri Hanin menyukainya.
“I love you Hanin.”
“Abang..” mata Hanin nampak berkaca-kaca menatap ke arah suaminya.
“I really love you.”
Firlan mengecup bibir Hanin, kemudian kecupan itu berganti menjadi lu**tan dan pagutan yang langsung dibalas oleh Hanin. Dengan cepat Hanin terbuai dengan cumbuan Firlan yang sudah tahu di mana letak titik sensitifnya. Pria itu bersiap untuk pertarungan keduanya. Dan dipastikan pergulatan kedua ini akan lebih lama dan lebih bergelora dari yang pertama.
🍁🍁🍁
**Aaiihh pagi² udah dibuat hareudang sama bandulan bang Ilan🙊
Buat yg kemarin penasaran sama Farel & Ara, nih mamake kasih unboxingnya bang Ilan.
Coba kurang baik gimana mamake, pagi² udah kasih adegan enak buat kalian🙊🙈
__ADS_1
Jangan lupa loh dukungannya😉**