Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Sesak


__ADS_3

Akhtar membawa Rain pulang ke apartemennya. Tak lama setelah itu Akhtar tidur, karena semalaman bergadang menunggui Chalissa. Rain tersenyum miris, teringat khayalannya dulu saat pertama kali menjejakkan kakinya di apartemen ini. Kini semuanya menjadi kenyataan. Dia sudah resmi menyandang status sebagai nyonya Akhtar dan tinggal di apartemen ini. Tapi kehidupan pernikahan mereka tak seindah bayangannya.


Malam harinya Rain memilih memesan makanan secara online karena tidak ada apapun yang bisa dimasak. Sejak remaja Sarah sudah membiasakan Rain dengan pekerjaan dapur, karena penting untuk memuaskan perut suami. Sarah selalu mengajarkan, jangan sampai suami lebih senang menikmati makan di luar. Oleh karenanya seorang istri harus pandai mengolah berbagai masakan.


Menu ayam bakar dipilih Rain sebagai santapan makan malam. Keduanya makan dalam diam. Baik Rain maupun Akhtar tidak lagi membahas perihal kepergian Akhtar menemui Chalissa. Seusai makan malam, Akhtar masuk ke ruangan kerjanya. Masalah perusahaan sudah menantinya untuk segera diselesaikan. Walau sebagian klien sudah kembali begitu mendengar pernikahannya dengan anak pemilik Rakan Putra Group.


Rain masuk ke dalam kamar tidur. Untuk sesaat dia memandangi kasur berukuran king size yang tertutup seprai berwarna biru muda. Jantungnya sedikit berdebar membayangkan dirinya berada satu ranjang dengan Akhtar. Perlahan Rain merangkak ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu. Tak lama matanya sudah terpejam karena kemarin tidak tertidur sekejap pun.


Rain terbangun ketika mendengar suara alarm di ponselnya. Dengan mata terpejam dia mematikan alarm kemudian berjalan ke kamar mandi. Selesai berwudhu baru dia menyadari kalau tidak ada Akhtar di kamar. Rain menepiskan pikiran buruk tentang suaminya dan memilih menjalankan kewajibannya dulu.


Dengan gerakan pelan Rain menggerakkan handle pintu ruangan kerja Akhtar. Dia menghembuskan nafas lega tatkala melihat suaminya tengah tertidur di sofa. Rain mendekat lalu mulai membangunkannya.


“Kak bangun, udah shubuh,” Rain mengguncangkan tubuh Akhtar pelan. Butuh beberapa saat untuk Akhtar terbangun.


“Udah shubuh kak.”


Akhtar terdiam memandangi Rain kemudian tanpa berkata apapun beranjak dari sofa lalu masuk ke dalam kamarnya. Bunyi gemericik air terdengar ketika Rain masuk ke dalam kamar. Segera disiapkannya pakaian untuk sang suami lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.


Dengan bahan seadanya yang dibeli dari mini market di depan apartemen, Rain membuatkan omelette dan roti bakar untuk sarapan mereka. Tepat jam setengah tujuh Akhtar keluar dari kamar sudah menggunakan pakaian kerjanya. Rain segera menghampiri begitu Akhtar melintas begitu saja di hadapannya.


“Kakak kerja hari ini?”


“Iya, masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan.”


“Sarapan dulu kak.”


“Aku sarapan di kantor aja. Pagi ini aku harus survey lokasi.”

__ADS_1


Rain hendak meraih tangan Akhtar tapi lelaki itu langsung berlalu pergi, tak memberikan istrinya kesempatan untuk mencium punggung tangannya. Lagi, senyuman getir tersungging di wajah cantik Rain.


🍁🍁🍁


Seminggu sudah Rain menjalani biduk rumah tangga bersama Akhtar. Masih belum ada kemajuan dalam hubungan mereka. Selama seminggu ini Akhtar selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Dia juga lebih memilih tidur di sofa ruang kerjanya. Bahkan Akhtar tak pernah menyentuh makanan yang Rain buat. Namun begitu Rain tetap mencoba tetap bersabar dengan sikap Akhtar. Dia yakin suaminya akan berubah jika dia terus menjalankan peranannya sebagai istri dengan baik.


Pagi ini seperti biasa Akhtar telah siap untuk berangkat kerja. Rain mendekat sambil membawa dasi di tangannya. Saat akan memasangkan dasi untuk Akhtar, lelaki itu menolaknya.


“Biar aku pakai sendiri.”


“Tolong kak biarkan aku menjalankan kewajibanku sekali ini saja. Selama seminggu ini kakak tak pernah memakai pakaian yang kupilihkan, kakak juga tidak tidur bersamaku bahkan tidak pernah menyentuh makanan yang kumasak. Jadi aku mohon untuk sekali ini saja ijinkan aku memakaikan dasi untukmu. Apa kakak tidak mau memberikan kesempatan pada istrimu ini untuk beribadah? Melayani suami adalah ibadah seorang istri, tidak bisakah kakak membiarkan aku melakukan ini? Lagi pula kakak sudah berjanji pada papaku dan papa Nino untuk menjadi suami yang baik bagiku. Apa begini caranya menjadi suami yang baik?”


Akhtar terdiam, kata-kata Rain begitu menohok perasaannya. Akhirnya dia memilih diam ketika Rain mulai memasangkan dasinya. Dengan cekatan tangan Rain menyimpul dasi di leher suaminya. Aroma tubuh Rain bercampur parfum menguar memasuki indra penciuman Akhtar. Ditambah jarak keduanya yang cukup dekat. Tinggi Rain yang bertubuh semampai memang tidak berbeda jauh dengan tinggi badan Akhtar. Membuat posisi bibir Akhtar berada tepat di kening istrinya.


Untuk sesaat Akhtar menikmati aroma tubuh istrinya yang membuatnya nyaman. Dadanya berdesir merasakan punggung tangan Rain menyentuh lehernya. Ingin rasanya dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping itu. Kemudian pandangannya tertuju pada bibir Rain yang merah merekah. Oh sungguh Akhtar merasakan dorongan untuk mencecap bibir itu.


“Sudah selesai.”


“Kak, aku ijin ke kampus hari ini.”


“Ya.”


Itu saja yang keluar dari bibir Akhtar selanjutnya dia meneruskan langkahnya keluar dari kamar. Akhtar melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian mempercepat langkahnya keluar dari unit apartemen. Pagi ini seperti biasa, dia akan sarapan bersama Chalissa. Bukan hanya pagi ini, tapi sejak seminggu lalu dia selalu sarapan, makan siang dan makan malam bersama Chalissa. Itulah mengapa Akhtar tak pernah menyentuh makanan yang dibuatkan istrinya.


🍁🍁🍁


Selesai bimbingan Rain bermaksud langsung pulang, namun Tina, temannya mengajaknya makan siang bersama. Karena tak enak, Rain pun menyetujuinya. Tak lupa dia mengirimkan pesan pada Akhtar. Tak ada balasan dari suaminya, hanya saja tanda centang abu yang sudah berubah menjadi biru dianggap Rain sebagai lampu hijau untuknya.

__ADS_1


Baru saja mereka akan meninggalkan kampus, Akbar, kakak tingkat yang sudah lama memendam perasaan pada Rain mendekat.


“Rain.”


“Eh kang Akbar, tumben ke kampus.”


“Iya, abis ngurus wisuda. Kalian mau kemana?”


“Mau makan siang.”


“Boleh gabung? Aku yang traktir deh.”


Rain dan Tina saling berpandangan kemudian mengangguk. Senyum terlihat di wajah Akbar. Ketiganya berjalan menuju parkiran. Rain dan Tina masuk ke mobil sedang Akbar mengikuti dari belakang dengan sepeda motornya.


Mereka memilih makan siang di Rose cafe. Cafe ini menyajikan aneka makanan ringan dan berat yang rasanya sudah tidak perlu diragukan lagi. Pemiliki cafe ini tak lain dan tak bukan adalah Dimas.


Setelah mengisi perut mereka, ketiganya berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Akbar pamit lebih dulu karena masih ada urusan, sedang Rain menemani Tina yang masih menunggu ojek online-nya. Tak lama kemudian ojek pesanan Tina datang, gadis itu segera meluncur pergi.


Rain bergegas masuk ke dalam mobil. Baru saja akan melajukan kendaraannya, mobil Akhtar melintas. Spontan Rain mengarahkan kendaraannya mengikuti mobil suaminya. Mitsubishi Lancer merah milik Akhtar masuk ke pelataran parkir sebuah restoran. Rain menepikan mobilnya di dekat restoran. Dari dalam mobil tampak Akhtar keluar disusul oleh Chalissa. Rain memegang erat kemudi melihat suaminya berjalan dengan mantan kekasihnya. Terlebih dengan tanpa malu Chalissa memeluk lengan Akhtar begitu mesranya. Tak tahan dengan pemandangan di depannya, Rain memilih untuk pergi.


🍁🍁🍁


**Sesuai janji mamake, malam ini mamake up lagi. Mohon maaf up nya kemalaman karena VC dulu ama anak.


Udah dulu ya, mamake mau ngumpet di balik selimut takut dimarahin readers🏃🏃🏃


Like..

__ADS_1


Comment..


Vote**..


__ADS_2