Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : FAREL & ARA Playboy Cap Jahe Merengkel


__ADS_3

Suara sutil yang bergesekan dengan wajan terdengar dari arah dapur. Di meja dapur, cangkang telur, kulit bawang, potongan cabai serta bungkus sosis berserakan. Di depan kompor, Ara sedang bertarung dengan wajan untuk membuat nasi goreng. Di hari libur ini, Ara ingin mencoba menu baru untuk sarapan. Biasanya dia hanya menyediakan roti atau ceplok telor.


Setelah acara menginap di rumah Poppy beberapa minggu lalu, Ara mulai serius belajar masak. Kupingnya sudah panas mendengar protesan serta ledekan dari suaminya. Dia harus menunjukkan kalau dirinya benar-benar keturunan chef terkenal.


Mendengar suara berisik dari arah dapur, Farel bergegas keluar dari kamarnya. Mulutnya menganga melihat dapurnya sudah seperti kapal pecah. Sang pelaku kekacauan sedang asik membolak-balik nasi goreng. Tangannya tak berhenti menaburkan garam, penyedap dan kecap ke dalam wajan.


Ara mematikan kompor ketika dirasa nasi goreng buatannya sudah matang. Tanpa mencicipi, dia langsung menaruh nasi goreng ke dalam dua piring. Telor ceplok yang telah disiapkan tadi diletakkan di atas nasi goreng, disusul potongan timun dan tomat.


Senyum Ara mengembang, tampilan nasi gorengnya begitu cantik. Diangkatnya dua piring tersebut kemudian membalikkan badannya. Hampir saja Ara terkena serangan jantung ketika melihat Farel sudah berada di belakangnya. Suaminya itu bersandar pada tembok dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Astaga bang Farel ngagetin aja.”


“Bikin apa?”


“Nasi goreng.”


“Cuma bikin nasi goreng tapi dapur udah kaya kapal pecah.”


Ara tak menanggapi ucapan Farel. Dengan santai dia melintasi Farel dengan dua piring nasi goreng di tangannya. Sebentar lagi dia akan membungkam mulut suaminya itu dengan rasa nasi goreng buatannya yang diyakini rasanya sama seperti restoran bintang lima. Farel mengikuti langkah Ara lalu duduk di salah satu kursi.


Dengan seksama diamatinya nasi goreng yang tersaji di hadapannya. Warnanya sudah bagus, selain telor ceplok yang tampilannya semakin baik, ada juga sosis dan mix vegetables di dalamnya. Farel sempat menelan ludahnya melihat visual nasi goreng yang tampak menggiurkan.


Ara memberikan sendok padanya. Dengan cepat Farel menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Untuk sesaat Farel terdiam, sedetik kemudian dia berlari ke dapur dan mengeluarkan nasi goreng yang ada di mulutnya. Setelah itu dia menyambar air putih yang ada di meja. Ara menatap keheranan.


Tak ada komentar dari Farel, suaminya itu terus membasahi kerongkongannya dengan air. Karena penasaran Ara menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Ternyata reaksinya sama seperti Farel. Setelah mengeluarkan kembali nasi goreng, dia juga meneguk air sebanyak-banyaknya.


“Kamu masukin garem berapa ton sih? Emang tuh nasi goreng ngga kamu cicipin dulu? Mana bawangnya belum mateng lagi.”


Biasanya ada saja balasan yang diberikan Ara, namun tidak kali ini. Sepertinya Ara cukup shock dengan hasil masakannya. Dia hanya diam memandangi nasi goreng yang visualnya begitu cantik namun rasanya ambyar. Farel yang hendak mengeluarkan kata-katanya lagi mengurungkan niatnya begitu melihat buliran bening turun dari kedua mata istrinya.


“Hiks.. hiks.. aku emang ngga becus masak. Hiks.. hiks...”


“Ra..”


“Apa? Abang mau ledekin aku lagi kan? Ayo keluarin aja semua! Aku emang ngga becus. Aku bisanya ngeracunin orang huaaaa....”


Ara menjatuhkan dirinya di lantai disertai tangisnya yang pecah seperti anak kecil. Farel hampir saja terbahak melihat tingkah sang istri, namun sebisa mungkin ditahannya. Dia berjongkok di dekat Ara.


“Udah jangan nangis. Kita sarapan di luar aja hari ini, gimana?”


Sroott


Ara menarik ingusnya yang hampir jatuh membuat Farel menjatuhkan jitakannya di puncak kepala sang istri.


“Bang Farel jahat huaaaa... papa.... bang Farel udah KDRT.. huaaaaa...”


“Lebay... buruan bangun. Mau sarapan ngga?”


Farel berdiri dari jongkoknya lalu melenggang pergi. Ara segera bangun lalu menyusul Farel keluar dari rumah. Sambil menghapus sisa-sisa airmatanya Ara mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Farel. Keduanya keluar dari kompleks lalu menuju lapangan yang letaknya tak terlalu jauh.

__ADS_1


Mata Ara memindai satu per satu pedagang yang mangkal di lapangan ini. Ada bubur ayam, kupat tahu, nasi kuning, nasi uduk, lontong kari, ketoprak, bubur kacang hijau dan aneka kue basah.


“Kamu mau apa?”


“Ngga ada seblak ya bang.”


“Jangan aneh-aneh. Pagi gini mana ada yang jualan seblak, Saeblah.”


Ara mencebikkan bibirnya ke arah Farel. Suaminya ini selalu memanggilnya dengan sebutan semaunya saja, kadang Markonah, Icih, Juminten, Enok dan sekarang Saeblah. Setelah memilih-milih, akhirnya Ara memutuskan ketoprak sebagai menu sarapannya. Berbeda dengan Farel yang memilih bubur ayam. Setelah memesan, keduanya duduk di salah satu meja yang disiapkan.


Tak jauh dari meja mereka, sekelompok ABG yang baru saja selesai lari pagi sedang menikmati sarapannya. Sesekali mata mereka melihat ke arah Farel lalu berbisik. Ara dengan jelas bisa melihat kekaguman dari cara mereka memandang suaminya. Salah satu ABG yang terpergok sedang memperhatikan Farel melemparkan senyum ke arah lelaki itu. Ara berharap suaminya itu tak mengacuhkannya seperti yang selalu dilakukan Elang. Tapi ternyata Farel membalas senyuman ABG itu. Kontan saja hal ini membuat Ara dongkol.


“Dasar playboy cap jahe merengkel, kerjanya tebar pesona mulu,” sindir Ara.


“Siapa yang playboy?”


“Pikir aja sendiri!”


“Kamu cemburu?”


“Dih cemburu... nehi...”


Ara memalingkan wajahnya ke arah lain. Farel hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang terlihat menggemaskan. Pesanan Farel dan Ara datang bersamaan. Gadis itu segera menyantap ketopraknya karena cacing di perutnya sudah berdemo.


Sarapan kali ini sungguh sangat tidak mengenakkan. Bukan karena menunya tapi pemandangan di sekeliling yang membuat Ara kehilangan ***** makan. Para ABG yang duduk tak jauh dari meja sedari tadi terus saja memandangi suaminya. Bahkan salah satu dari mereka berani mengajak kenalan. Sialnya Farel malah menerima ajakan perkenalan tersebut.


Ara menyeret Farel pulang ketika bu RT berusaha memperpanjang pembicaraannya. Ditariknya tangan sang suami menjauh dari bu RT yang masih setia menatap kepergian Farel.


🍁🍁🍁


Selepas shalat isya berjamaah, Farel tak langsung pulang ke rumah. Sesuai janjinya tadi pagi pada bu RT, dia mengikuti rapat tentang pemilihan RT baru. Berhubung RT yang sekarang sudah cukup tua, beliau menolak untuk mencalonkan diri kembali. Pak RT memberikan kesempatan pada yang lebih muda untuk maju menggantikan dirinya.


Bu RT dengan semangat meminta Farel untuk maju sebagai kandidat. Dengan halus Farel menolak permintaan wanita itu. Kesibukan Farel di kantor tak memungkinkan pria itu untuk memegang jabatan tersebut. Apalagi Ara masih belum bisa menyandang status sebagai bu RT. Istrinya itu masih sangat labil.


Setelah hampir dua jam mengikuti rapat, Farel pulang ke rumahnya bersama dengan peserta rapat lainnya. Kilatan cahaya putih terlihat di gelapnya langit malam disusul dengan bunyi guntur yang begitu keras. Semua mempercepat langkahnya menuju rumah masing-masing sebelum hujan mendahului mereka.


Baru saja Farel masuk ke dalam rumah ketika hujan turun dengan derasnya. Kedatangannya disambut dengan wajah cemberut Ara. Dengan tangan terlipat di depan dada, terdengar suara ketusnya.


“Udah selesai kencannya?”


“Rapat, Markonah.”


“Ck.. iya rapat sambil rapet sama bu RT. Apalagi cuaca lagi dingin kaya gini, enak tuh mepet-mepet.”


“Kamu kenapa sih hari ini bawaannya sewot mulu. Lagi PMS ya?”


“Sebel aja lihat cowok tukang tebar pesona, sok kegantengan.”


Ara bangun dari duduknya. Dengan kaki dihentakan, dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Farel hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia pun masuk ke dalam kamarnya. Cuaca dingin seperti ini membuatnya ingin masuk ke dalam gelungan selimut.

__ADS_1


Semakin malam, guyuran hujan bertambah deras ditambah dengan petir yang menggelegar dan angin yang bertiup kencang. Farel semakin merapatkan selimutnya ketika udara dingin semakin menusuk tulang. Sayup-sayup Farel mendengar sebuah suara memanggilnya. Farel yang belum sepenuhnya bangun berusaha menyadarkan diri dan menajamkan telinganya.


“Bang Farel!!!”


“Bang Farel!!!”


Farel langsung terlonjak dari tidurnya begitu menyadari suara yang didengarnya adalah teriakan Ara dari lantai atas. Secepat kilat dia menaiki tangga lalu membuka pintu kamar Ara dengan tergesa. Gadis itu nampak terduduk di atas ranjang dengan lutut ditekuk dan kedua tangan menutup telinganya.


“Ara..”


“Bang Farel.. Ara takut.”


Ara langsung menghambur dalam pelukan Farel ketika pria itu sampai di dekatnya. Tubuh Ara nampak bergetar. Farel mengusap punggung Ara untuk menenangkannya. Suara dahan yang menyentuh kaca jendela kamar akibat hembusan angin menambah seram suasana di kamar ini. Pantas saja Ara berteriak ketakutan.


“Ara ngga mau tidur di sini.”


“Mau tidur di kamar abang?”


Ara mengangguk, Farel membopong tubuh Ara kemudian keluar dari kamar. Suara petir yang menggelegar membuat Ara menelusupkan kepalanya ke dada Farel. Sesampainya di kamar, Farel segera membaringkan Ara di kasur. Tangan Ara bergerak cepat menarik kaos Farel ketika suaminya itu hendak pergi.


“Bang Farel tidur di sini aja, aku takut tidur sendiri.”


“Iya, abang ambil minum dulu.”


Farel keluar dari kamar, tak lama dia kembali dengan segelas air putih di tangannya. Ara menerima gelas tersebut lalu meminumnya sampai habis setengah. Baru saja Farel meletakkan gelas di atas nakas, lampu di kamarnya padam. Seketika keadaan jadi gelap gulita.


“Abang..”


“Abang di sini.”


Farel naik ke atas kasur lalu membawa Ara dalam pelukannya. Gadis itu memeluk pinggang Farel erat.


“Abang jangan tinggalin Ara.”


“Ngga.. abang di sini. Ayo tidur.”


Farel merentangkan lengannya, Ara merebahkan kepalanya di sana. Wajahnya menyusup ke dada bidang Farel. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya itu cukup membuat perasaannya tenang.


Hanya dalam hitungan menit, Ara sudah terlelap. Farel memandangi wajah cantik istrinya. Jarinya bergerak menelusuri kening, pipi hingga bibir Ara. Jangan ditanya bagaimana degup jantungnya saat ini. Farel berharap hal seperti ini bisa terus terjadi tanpa harus menunggu hujan dan petir.


🍁🍁🍁


**Mamake bawaannya senyum terus kalau nulis part Farel sama Ara.


Mumpung mamake lagi baik, kalian mau tambah up lagi ngga tar sore?


Kalau mau... seperti biasa, komen yang banyak ya😘😘😘


Happy Sunday😎**

__ADS_1


__ADS_2