Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY RIP


__ADS_3

Pukul setengah tujuh pagi Elang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Hari ini akan ada pertemuan dengan Zidan. Berhubung keduanya mempunyai jadwal yang cukup padat, maka pertemuan dilakukan pagi-pagi sebelum jam kantor dimulai.


Azkia yang sedang menyiapkan sarapan menghampiri suaminya. Elang mengambil remote televisi lalu menyalakannya. Azkia mengambil dasi dari tangan Elang lalu memasangkannya. Elang memeluk pinggang istrinya seraya mengecup keningnya.


“Jasad laki-laki ditemukan tak bernyawa pagi ini di jalan Sunda, Bandung-Jawa Barat. Warga sekitar yang menemukannya segera melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib. Saat ini polisi masih mendalami kasus ini. Apakah yang melatarbelakangi kematian pria tersebut.”


Pandangan Elang sontak teralihkan ke layar televisi. Perasaannya tak tenang, pasalnya lokasi di temukannya mayat dekat dengan klub malam yang semalam dikunjunginya. Dia takut Deski nekad menyuruh anak buahnya memukuli Agus sampai mati. Azkia yang melihat suaminya fokus pada pemberitaan, mengalihkan perhatiannya pada layar televisi.


Di layar terlihat gambar lokasi kejadian. Dua petugas medis menggotong kantung mayat lalu memasukkannya ke dalam ambulans. Terlihat pula kerumunan warga yang menyaksikan liputan tersebut. Lalu gambar beralih pada wawancara petugas polisi yang berada di TKP.


“Korban adalah laki-laki berusia lima puluh tahunan. Dari KTP korban diketahui bernama Agus Sulaiman. Di tubuh korban ditemukan beberapa luka lebam, dan diperkirakan luka-luka tersebut yang menjadi penyebab kematiannya. Kami masih menyelidiki motif dibalik kasus ini. Saat ini tim kami sedang menyusuri lokasi dan mencari barang bukti serta saksi yang mendukung.”


Tubuh Azkia lemas mendengar nama yang disebutkan oleh petugas polisi tersebut. Dia melihat ke arah Elang yang juga tak kalah terkejut.


“Mas, jangan-jangan itu bapak.”


“Tenang dulu sayang.”


Elang mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi Virza. Setelah berbicara beberapa saat dia kembali pada Azkia.


“Mayatnya dibawa ke rumah sakit Permata Medika. Kamu mau ke sana untuk memastikan? ”


“I.. iya mas, ayo.”


Azkia bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap. Elang kembali melakukan panggilan, kali ini Zidan yang dihubunginya. Dengan terpaksa dia harus membatalkan pertemuan kali ini. Tak berapa lama Azkia siap, keduanya bergegas pergi.


Kediaman Adit


Hanin sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia menuju meja makan lalu mengambil sarapannya. Gara yang baru keluar dari kamarnya segera menghampiri.


“Dek, berangkat sekolah jam berapa?”


“Bentar lagi. Sekarang ada kunjungan dari chef terkenal buat kasih materi di kelas,” ucapnya bersemangat.


“Kamu ngapain sih ngambil jurusan tata boga?”


“Ya biar bisa masak lah. Aku kan pengen kaya om Dimas jadi chef terkenal.”


“Yaelah dek, kalau mau jadi encep mah gampang. Tinggal bilang sama papa.”


“Maksudnya?”


“Kalau pengen jadi encep, nanti biar papa bawa kamu ke disdukcapil buat ganti nama jadi Encep, beres.. ngga usah sekolah lama-lama hahaha..”


“Bang Gara!!”


Semenjak kehadiran Hanin, suasana rumah jadi lebih semarak. Gara juga lebih betah berada di rumah jika tidak ada pekerjaan. Debby dan Adit yang berada di ruang tengah hanya geleng-geleng saja melihat tingkah kedua anaknya. Keduanya sedang menyaksikan berita di televisi.


“Jasad laki-laki ditemukan tak bernyawa pagi ini di jalan Sunda, Bandung-Jawa Barat. Warga sekitar yang menemukannya segera melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib. Saat ini polisi masih mendalami kasus ini. Apakah yang melatarbelakangi kematian pria tersebut.”

__ADS_1


“Ya ampun zaman sekarang ya pa, nyawa orang kaya ngga ada harganya,” Debby mengomentari berita di televisi.


“Gara.. Hanin.. kalian harus lebih hati-hati ya. Banyak orang nekad melakukan tindakan kriminal karena hal sepele,” sambungnya lagi.


Gara dan Hanin yang berada di ruang makan menghampiri Debby. Mereka melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan lokasi kejadian disambung dengan wawancara dengan petugas polisi yang berada di TKP.


“Korban adalah laki-laki berusia lima puluh tahunan. Dari KTP korban diketahui bernama Agus Sulaiman. Di tubuh korban ditemukan beberapa luka lebam, dan diperkirakan luka-luka tersebut yang menjadi penyebab kematiannya. Kami masih menyelidiki motif dibalik kasus ini. Saat ini tim kami sedang menyusuri lokasi dan mencari barang bukti serta saksi yang mendukung.”


PRANG!!


Piring yang dipegang Hanin terjatuh. Gara yang berada di sampingnya tentu saja terkejut. Semua mata beralih pada gadis itu.


“Bapak...”


“Tenang Han, belum tentu itu bapak. Mungkin namanya aja yang sama.”


“Bagaimana kalau itu bapak hiks.. hiks..”


Tangis Hanin mulai pecah, Gara segera memeluk Hanin untuk menenangkan. Mendengar ucapan Hanin, Adit langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu tentang berita tersebut.


“Gimana pa?”


“Mayatnya dibawa ke Permata Medika. Tapi belum tentu itu bapakmu Han.”


“Aku mau ke sana pa, aku mau melihatnya sendiri.”


“Ya sudah ayo.”


🍁🍁🍁


Di rumah sakit nampak beberapa petugas polisi berlalu-lalang. Awak media pun ada ikut berbaur mencari informasi yang berkaitan dengan korban. Elang dan Azkia segera menghampiri Virza yang sudah lebih dulu tiba. Setelah berbicara dengan petugas polisi, Elang dan Azkia dipersilahkan menuju kamar jenazah. Di saat yang bersamaan Hanin beserta yang lain tiba.


Mereka segera diarahkan menuju kamar jenazah. Sesampainya di depan kamar jenazah, tidak semua di izinkan masuk. Akhirnya hanya Elang, Azkia, Hanin dan Gara saja. Dada Azkia dan Hanin berdebar ketika perawat yang mendampingi mereka membuka penutup tubuh jasad.


Seketika tangis Hanin pecah ketika penutup bagian kepala terbuka. Ternyata korban memang benar Agus. Tubuh Azkia limbung, Elang menangkap tubuh istrinya lalu memeluknya. Gara menenangkan Hanin yang masih tersedu. Walapun semasa hidup Agus tak pernah bersikap baiknya, namun ikatan darah itu masih ada. Tetap saja gadis menangis melihat ayahnya sudah terbujur kaku dengan wajah membengkak.


Setelah memastikan bahwa korban adalah Agus, semua keluar dari kamar mayat. Hanin langsung menghambur ke dalam pelukan Debby. Melihat reaksi Hanin, Adit sudah bisa menebak kalau korban tersebut adalah Agus. Debby segera membawa Hanin pulang. Masalah kepengurusan jenazah dia serahkan pada Gara.


“Biar gue yang urus ini El. Mending lo bawa pulang Kia.”


“Thanks bro, gue balik duluan.”


Gara hanya mengangguk. Elang membimbing Azkia keluar dari rumah sakit. Baru saja Elang menutup pintu mobil, Deski menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


“El, apa benar korban itu Agus?”


“Hmm.. apa kamu...”


“Bukan El. Aku langsung pulang kemarin. Lagi pula kamu benar, sekarang prioritasku mendapatkan maaf dari Kia bukan mengurusi bajingan itu. Tapi syukurlah, orang itu mati tanpa harus mengotori tanganku. Bagaimana dengan Kia?”

__ADS_1


“Dia sepertinya shock. Aku pulang dulu.”


Deski hanya mengangguk. Elang mengitari badan mobil lalu masuk ke dalamnya. Kendaraan roda empat itu mulai bergerak meninggalkan pelataran parkir rumah sakit Permata Medika.


Sepanjang jalan Azkia hanya mengatupkan bibirnya. pikirannya melanglang buana entah kemana. Kematian Agus yang tiba-tiba tentu saja mengejutkannya. Namun sejujurnya dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.


Tak terasa mereka sudah kembali ke rumah. Poppy yang mendengar kabar ini dari Debby segera menghampiri Azkia lalu memeluknya erat. Tak ada reaksi dari Azkia, pandangannya masih saja kosong. Poppy meminta Elang segera membawa istrinya ke kamar.


Elang mendudukkan Azkia di sisi ranjang sedang dia berjongkok di depannya. Digenggamnya tangan Azkia lalu mencium kedua punggung tangannya.


“Sayang...”


“Mas.. itu tadi benar bapak kan?”


“Iya sayang.”


Elang bangun lalu duduk di samping Azkia. Ditariknya sang istri dalam pelukannya. Azkia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh sang suami sedikit membuat perasaannya tenang.


“Mas.. sejujurnya aku ngga tahu apa yang kurasakan sekarang. Sedih atau bersyukur atas kematiannya, aku ngga tahu mas.”


“Tidak ada orang yang menghujatmu jika kamu bersyukur dan tidak ada yang menyuruhmu untuk bersedih. Sudah banyak penderitaan yang kamu alami karena orang itu. Dan apa yang terjadi padanya, itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Percayalah apapun yang terjadi memang sudah menjadi ketentuan Allah. Kita ambil hikmah dari peristiwa ini, dia tidak akan mengganggumu lagi.”


“Siapa yang melakukannya mas?”


“Polisi bilang ada kemungkinan itu karena kasus hutang piutang. Sepertinya itu ulah rentenir yang memberinya hutang.”


“Aku lelah mas.”


“Kamu istirahat ya,” Elang membaringkan Azkia di kasur.


“Mas ngga ke kantor?”


“Ngga, mas temenin kamu di sini. Urusan kantor biar di handle bang Farel sama Virza.”


Elang mengecup kening Azkia kemudian beranjak menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Elang mengenakan pakaian santainya lalu naik ke atas kasur, ikut berbaring di samping istrinya. Azkia merapatkan tubuhnya lalu menelusupkan kepala ke dada suaminya. Hati dan pikirannya lelah. Begitu banyak hal yang menghantamnya akhir-akhir ini.


Elang memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur lelap. Diusapnya pipi putih itu yang semakin terlihat chubby lalu mendaratkan ciuman di sana. Perlahan Elang bangun, dengan gerakan pelan dia membuka pintu kamar. Kakinya melangkah menuju ruang kerja. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


🍁🍁🍁


**Akhirnya Agus tamat juga. Mati di pinggir jalan tanpa ada keluarga yang menemani menjelang akhir hayatnya😬


Masalah Agus selesai, berarti tinggal si ular keket. Tenang, yang kangen sama Syifa bentar lagi nongol kok. Ada alasan kenapa dia belum muncul².


Sekarang tinggalin jejak dulu ya gaessss..


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote**..


__ADS_2