Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Forever and Always


__ADS_3

Kesibukan sudah mulai terlihat di gedung Humanity corp sejak pagi hari. Staf L’amour harus bolak-balik dari lantai 4 ke lantai 12 untuk memantau pengerjaan dekorasi. Pernikahan Elang akan dilakukan di dua tempat. Untuk akad akan dilaksanakan di rooftop, sedangkan resepsi di ballroom.


Selain itu, mereka juga menyiapkan tiga ruang kecil yang ada di ballroom sebagai ruang ganti bagi pengantin beserta keluarga. Di rooftop juga disiapkan ruangan bagi mempelai wanita menunggu saat proses akad berlangsung. Damar turun tangan langsung meninjau semua persiapan. Maklum saja, pernikahan kali ini disiapkan langsung oleh sang owner.


Akad akan dilangsungkan pukul empat sore. Selepas itu akan disambung dengan resepsi yang dimulai pukul tujuh malam. Resepsi akan dilangsungkan selama tiga jam. Dan diperkirakan undangan yang hadir mencapai 3000 orang karena Irzal menyebar 1500 undangan.


Jarum jam terus berputar. Tak terasa pelaksanaan akad akan dilangsungkan kurang dari setengah jam. Damar kembali berkeliling memeriksa kembali kalau-kalau ada yang tertinggal. Azkia sudah berada di ruangan yang ada di rooftop ditemani oleh Debby dan Alea. Sementara Poppy dan Sarah berada di luar, menunggu pelaksanaan akad.


Elang menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya. Irzal merangkul bahu anaknya, memberikan dukungan untuk anaknya itu. Dari arah lift terlihat petugas KUA berjalan menuju meja akad. Irzal segera menyambut kedatangan mereka.



Regan merangkul Elang lalu membawanya menuju meja akad. Penghulu yang merangkap sebagai wali nikah Azkia sudah duduk menunggu kedatangan mempelai pria. Regan dan Ega mengambil tempat duduk di bagian kanan dan kiri. Keduanya akan menjadi saksi dalam pernikahan ini.


Setelah menyelesaikan pemeriksaan administratif, penghulu memberi kode pada Elang untuk bersiap. Elang mengangguk mantap. Sang penghulu menggenggam tangan Elang. Setelah mengucapkan basmallah, dia memulai prosesi akad.


“Saudara Elang Diaulhaq Ramadhan saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Azkia Rakhsand binti Daniar Kumala Sari dengan mas kawin seperangkat alat shalat beserta surah Ar-Rahman dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Azkia Rakhsand binti Daniar Kumala Sari dengan mas kawin tersebut tunai.”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAAAAAHHHHH..”


Suara para sahabat Elang melebur bersama suara Regan dan Ega. Sang penghulu pun kembali menegaskan ke-sah-an janji suci tersebut. Elang mengusap wajahnya tanda syukur, demikian juga Irzal. Dipeluknya anak lelakinya itu. Tak lama kemudian, muncul Azkia didampingi oleh Debby juga Alea. mereka mendudukkan Azkia di sisi Elang.


Poppy menyerahkan kotak cincin pada Elang. Pemuda itu menyematkan cincin yang terbalut emas putih ke jari manis istrinya. Selanjutnya Azkia menyematkan cincin berbahan titanium di jari manis Elang. Azkia mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Selanjutnya Elang memegang bahu Azkia lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Tubuh keduanya seperti tersengat aliran listrik ketika bibir Elang bersentuhan dengan kulit Azkia.


“Silahkan mempelai pria membacakan surah Ar-Rahman.”


Damar menyerahkan mic pada Elang. Suasana yang tadi riuh mendadak menjadi senyap. Elang memejamkan matanya sejenak, tak lama kemudian terdengar suaranya mengucapkan taawudz, tanda dia akan segera membacakan surah yang menjadi bagian dalam maharnya.


Azkia memejamkan matanya saat suara merdu Elang melantunkan ayat demi ayat dalam surah Ar-Rahman. Tubuhnya meremang mendengarkan suaminya mengaji. Rasa haru, bahagia menyentak kalbunya. Matanya mulai membasah ketika lantunan ayat suci tersebut menerpa gendang telinganya kemudian masuk meresap ke relung hatinya.


Bukan hanya Azkia yang merasakan haru. Hampir semua yang hadir merasakan hal yang sama. Poppy mengusap airmatanya melihat anaknya begitu fasih melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Perjuangannya selama ini membesarkan dan mendidik Elang tidaklah sia-sia. Begitu pula dengan Irzal, dia mengusap sudut matanya yang basah. Rasa bahagia sekaligus bangga menghantam dirinya. Dalam hatinya terus bersyukur dipercaya memiliki anak sholeh seperti Elang.


“Fa bi’ayyi aalaaa’i robbikumaa tukazzibaan. Tabaarokasmu robbika zil-jalaali wal-ikrom. Shadaqallahul ‘adzim.”

__ADS_1


“Alhamdulillahirabbil ‘alaamiin,” seru semua yang hadir ketika Elang menyelesaikan bacaannya.


Elang meletakkan mic di atas meja kemudian merubah posisi duduknya menghadap Azkia, begitu pula dengan Azkia. Mereka duduk saling berhadapan dengan saling menatap.


“Terima kasih mas. Aku terima mahar darimu.”


Jari Elang bergerak mengusap airmata Azkia yang membasahi pipi. Dibingkainya wajah cantik sang istri dengan kedua tangannya.


“Aku mencintaimu Azkia Rakhsand, forever and always.”


“Aku juga mencintaimu mas, with all my heart.”


Elang mencium kening Azkia cukup lama. Gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang diberikan suaminya. Kemudian Elang menarik tubuh Azkia dalam pelukannya. Beberapa kali dia mengecup puncak kepala istrinya yang terbalut hijab.


“Anjaaayyy es kutub udah berubah jadi es doger!” celetuk Gara dengan suara cukup kencang membuat semua yang ada di sana tergelak.


Kedua pengantin baru tersebut menyelesaikan kelengkapan surat menyurat dengan menandatangi buku nikah mereka. Setelah itu mereka bersiap mendengar petuah dari para orang tua.


Elang menghampiri Poppy lalu bersimpuh di hadapannya. Diletakkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Poppy mengusap puncak kepala anaknya.


“Terima kasih bunda, sudah merawat dan mendidikku selama ini. Selamanya bunda adalah prioritas dalam hidupku. Doakan aku agar bisa menjadi suami yang baik.”


“Bunda akan selalu mendoakanmu nak.”


Poppy mengecup kening Elang kemudian memeluknya. Cukup lama keduanya berpelukan. Elang menghapus airmatanya sebelum mengurai pelukannya. Kemudian dia beralih pada Irzal. Elang mencium punggung tangan Irzal dengan takzim. Irzal merangkul anaknya lalu memeluknya.


“Maafin El yah kalau belum bisa menjadi anak seperti yang ayah inginkan,” tangis Elang pecah dalam pelukan sang ayah.


“Kamu adalah kebanggaan ayah dari dulu sampai sekarang dan selamanya. Ayah bahagia dan sangat bersyukur memiliki anak sepertimu. Jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istrimu. Kamu harus banyak bersabar dalam mendidik dan membimbing istrimu. Jadikan pengalaman buruk ayah dan bunda sebagai pelajaran untukmu agar kalian tidak melakukan kesalahan yang sama.”


Irzal mengurai pelukannya lalu menepuk pelan rahang Elang. Azkia menatap haru kebersamaan ayah dan anak itu. Poppy memeluk Azkia dari samping kemudian berkata dengan suara pelan.


“Bunda titip mas El. Kamu harus banyak bersabar. Dia mungkin keras tapi hatinya lembut seperti ayahnya.”


“Iya bunda. Terima kasih sudah melahirkan anak sehebat mas El. Tolong bimbing aku bunda agar bisa menjadi istri yang baik untuknya.”


Poppy mengangguk, Azkia memeluk Poppy. Kehadiran Poppy mampu menggantikan sosok Daniar yang telah pergi meninggalkannya. Poppy melepaskan pelukannya lalu meminta Azkia menghampiri Irzal. Azkia sedikit ragu, jujur saja dia masih trauma dengan sosok seorang ayah. Karena selama ini Agus hanya memberikan gambaran buruk padanya.

__ADS_1


Azkia mendekat pada Irzal lalu mencium punggung tangannya. Irzal mengusap puncak kepala Azkia dengan penuh kasih sayang.


“Ayah titip Elang padamu nak. Turutilah dia selama dia mengajakmu dalam kebenaran. Tegurlah dia jika melakukan kesalahan. Jika dia berani menyakitimu, maka ayah orang pertama yang akan memberinya pelajaran.”


“Terima kasih yah.”


“Ayah tahu selama ini kamu tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau perlindungan dari bapakmu. Jadi mulai sekarang ayah akan menjadi ayahmu. Selain suamimu, ayah juga akan menjaga dan melindungimu. Kamu adalah putri sekaligus menantu ayah. Jangan pernah sungkan untuk berbicara atau meminta apapun.”


“Iya yah, terima kasih sudah mau menerima Kia dan Hanin menjadi anakmu. Apa Kia boleh memeluk ayah?”


“Kemari nak.”


Irzal menarik Azkia dalam pelukannya. Tangis Azkia luruh seketika. Untuk pertama kalinya dia merasakan pelukan hangat seorang ayah. Tangan kokoh yang memeluk punggungnya terasa seperti benteng yang mampu melindunginya dari segala hal yang membahayakan atau membuatnya takut. Azkia mengurai pelukannya lalu menghapus airmatanya.


“Terima kasih yah.”


Irzal mengangguk seraya melemparkan senyum pada menantunya. Selanjutnya Azkia menuju Debby. Poppy menghampiri suaminya lalu memeluk pinggangnya dengan mesra. Irzal mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Elang mendekat pada sang ayah lalu berbisik di telinganya.


“Tadi itu pelukan pertama dan terakhir ya yah. Ke depannya jangan peluk-peluk Kia lagi.”


“Astaga El, masa kamu cemburu juga sama ayah.”


"Aku ngga rela laki-laki lain meluk Kia termasuk ayah."


"Ya ampun kamu posesif kaya gini nurun dari siapa sih?"


“Dari ayah!” seru Poppy dan Elang berbarengan membuat Irzal tergelak.


Satu per satu para orang tua mengeluarkan petuahnya pada pasangan pengantin ini. Begitu pula dengan para sahabat yang memberikan selamat sekaligus banyolan-banyolan yang mengocok perut. Sang fotografer memanggil pengantin untuk melakukan sesi foto di spot yang telah disiapkan. Semburat cahaya oranye di langit sore hari ini semakin menambah kesyahduan dalam sesi pemotretan pengantin baru ini.




**Selamat ya mas El dan neng Az udah sah sekarang. Tinggal resepsinya aja ya tar malem. Buat yang mau Dateng jangan lupa kado atau angpaunya ya.


Kalau buat mamake cukup kasih like, comment or vote-nya aja**.

__ADS_1


__ADS_2