
Tok.. tok.. tok..
Elang dan Azriel menoleh ketika terdengar ketukan di pintu. Tampak Irzal berdiri menyender di dekat daun pintu.
“Maaf kalau ayah mengganggu. Tapi pintu kamar terbuka jadi ngga sengaja ayah mendengar percakapan kalian. Ziel... need a hug?”
Irzal merentangkan kedua tangannya. Azriel berdiri kemudian menghambur ke arah Irzal. Tangis yang sedari ditahannya langsung pecah begitu saja. Irzal mengusap punggung Azriel yang bergetar.
“Ada apa dengan anak ayah yang hebat ini hmm?”
Azriel tak mampu menjawab, dia masih menangis dalam pelukan Irzal. Untung saja Yunda sedang tidak ada di rumah, kalau tidak mau ditaruh di mana mukanya sudah bersikap cengeng seperti ini.
Menurut Azriel, laki-laki yang menangis itu adalah laki-laki lemah. Makanya dia suka meledek drama Korea yang sering ditonton kakaknya karena selalu terdapat adegan pria menangis. Tapi kini dia justru melakukan hal yang selalu dihindarinya. Irzal membawa Azriel kembali ke sofa. Elang menggeser tubuhnya, memberi ruang sang ayah untuk duduk.
Irzal membiarkan Azriel menumpahkan kesedihannya. Cukup lama juga anak itu menangis. Elang berinisiatif mengambilkan minum, karena orang yang habis menangis biasanya akan merasa haus. Dia memberikan Azriel minum setelah tangisannya reda.
“Ayah sama mas El jangan bilang ke Yunda ya kalau Ziel nangis.”
“Emang kenapa?”
“Abis nanti Ziel diledekin sama Yunda. Kalau Yunda tahu, Nara pasti tahu. Bisa hancur reputasi Ziel,” Irzal dan Elang tergelak.
“Menurut ayah ngga ada yang salah kalau laki-laki menangis. Menangis itu bukan berarti cengeng atau lemah, tapi salah satu cara mengekspresikan apa yang kita rasakan. Selain itu menangis sesekali juga bagus untuk kesehatan mata kita. Ibaratnya mesin, airmata itu adalah oli yang membuat kelembaban mata kita terjaga. Mas El mu aja sering nangis,” Elang membelalakkan matanya, tak terima dengan pernyataan sang ayah.
“Yang bener yah?”
“Bener.”
“Ngga! Mana ada, ayah jangan ngarang deh,” sembur Elang.
“Ck.. masih ngga mau ngaku El? Kamu tuh sering nangis.... waktu masih bayi hahaha.”
Elang mendengus kesal, Azriel tergelak, senang sekali melihat wajah kesal Elang. Sedikit demi sedikit kesedihannya menghilang.
“O iya, kapan kejuaraan dunia junior dimulai?”
“Tiga bulan lagi yah. Tapi Ziel ngga akan ikut.”
“Kenapa? Bukannya itu impian kamu? Jadi atlit bulu tangkis profesional. Jangan sia-siakan perjuangan kamu selama ini Ziel. Apa kamu ngga ingin menjadi salah satu legenda bulu tangkis seperti Lim Swie King, Rudi Hartono, Taufik Hidayat, Lin Dan, Lee Chong Wei, Kento Momota atau Victor Axelsen? Ayah pengen loh lihat kamu naik podium dengan diiringi lagu kebangsaan kita. Jangan berhenti ya nak, terus raih mimpi kamu.”
“Tapi kalau Ziel teruskan, kak Ilan dan kak Ily yang akan jadi korbannya.”
“Ziel... selama ini Ilan belajar dengan tekun bukan karena tekanan mami kamu semata. Tapi juga untuk masa depannya. Dia sedang mempersiapkan dirinya untuk menggantikan papi kamu nantinya.
Dan soal Ily, pasangan Ily bukanlah ABG seperti kamu tapi om Dimas. Dia adalah pria dewasa yang penuh dengan perhitungan matang. Percayalah kalau om Dimasmu bisa menaklukkan hati mami dan papimu. Jalan mereka mungkin tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Sedang kamu, fokuslah dengan apa yang jadi impianmu selama ini. Kalau kamu tekun berlatih dan bisa menjadi kebanggaan orang tuamu, mereka akan bahagia. Jika mereka bahagia maka itu mempermudah jalan Ily dan om Dimas mendapatkan restu mereka.
__ADS_1
Soal mamimu, serahkan semua pada papi. Ayah yakin papi kamu bisa mengembalikan mami seperti dulu. Anggap saja mami adalah kereta yang anjlok, dan papi kamu sedang memperbaiki rel supaya bisa menempatkan kereta itu kembali ke jalur yang benar."
“Tapi papi kayanya ngga melakukan apa-apa.”
“Papimu bukan diam tapi sedang mencari cara bagaimana mengarahkan mami dengan cara yang baik. Mungkin saja papi sedang memberi kesempatan pada mami menyadari kesalahan dan memperbaikinya.”
“Kalau ternyata papi ngga melakukan apa-apa gimana?”
“Ayah dan papa Regan yang akan menjewer papimu. Ditambah papa Adit pasti akan senang hati untuk bergabung,” Azriel terkekeh.
“Jadi ayah minta kamu jangan berhenti ya. Kejuaraan tahun ini diadakan di mana?”
“Di Dubai.”
“Kalau kamu berhasil masuk semifinal, ayah, bunda, mas El, kak Farel dan Yunda akan menonton langsung di sana. Ayah juga akan ajak tante Rena dan om Dimas.”
“Bener yah?”
“Hmm..” senyum Azriel kembali terbit. Irzal mengusap puncak kepala Azriel dengan penuh kasih sayang. Sehabis menangis dan berbicara panjang lebar dengan Irzal, Azriel mulai mengantuk. Beberapa kali dia menguap, matanya mulai terasa berat.
“Kamu ngantuk Ziel, udah tidur dulu.”
Azriel naik ke ranjang king size milik Elang, ini bukan pertama kalinya dia tidur di kamar Elang. Tak butuh waktu lama, anak itu sudah masuk ke alam mimpi. Irzal dan Elang memilih untuk keluar.
“Kalau kamu mau berterima kasih, jangan ganggu waktu ayah dengan bunda.”
“Ck.. ayah kalau sama bunda suka ngga inget waktu dan tempat. El cuma takut Yunda punya adek lagi.”
PLETAK
“Aaaawww.. sakit yah,” Elang mengelus keningnya yang terkena sentil Irzal. Sambil bersungut-sungut dia mengikuti langkah ayahnya menuju ruang tengah di lantai bawah. Irzal menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu disusul oleh Elang.
“Ayah mengerti kekhawatiranmu El. Waktu bunda pendarahan setelah melahirkan Yunda, nyawa ayah seperti melayang. Ayah takut kalau bunda akan meninggalkan kita. Ayah bersyukur Allah masih memberikan kesempatan pada ayah bersama bunda. Sejak saat itu ayah memutuskan untuk tidak menambah anak lagi. Keberadaanmu, Yunda dan Farel itu sudah cukup bagi ayah. Setelah berdiskusi dengan bunda, ayah melakukan vasektomi. Kamu pasti tahu itu apa kan?”
“Ya ampun jadi selama ini El cuma khawatirin pepesan kosong doang,” Elang menepuk keningnya setelah mendengar penjelasan ayahnya. Irzal tergelak.
“Makanya mulai sekarang kamu jangan suka ganggu waktu ayah sama bunda.”
“Dih dasar bucin.”
“Kamu belum nikah. Nanti kalau udah nikah kamu bakal ngerasain hal sama,” Elang hanya berdecak, tak terlalu yakin dengan ucapan sang ayah.
Percakapan ayah dan anak terhenti saat mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Tak lama Poppy dan Yunda masuk, di belakangnya muncul Farel yang membawa banyak barang belanjaan. Wajahnya nampak kusut, hampir tiga jam menemani ibu dan anak berbelanja. Irzal dan Elang hanya mengulum senyum melihatnya.
“Ayah,” Yunda langsung bergelayut manja di lengan ayahnya. Anak ini memang manja sekali pada Irzal.
__ADS_1
“Manja banget lo dek,” ledek Elang.
“Biarin, sirik aja mas El.”
“Eh itu di depan kaya sendalnya si Ziel. Tuh anak di sini?” lanjut Yunda.
“Cih segitu apalnya kamu sama sendalnya si Ziel,” ledek Farel yang sudah bergabung.
“Si Ziel lagi tidur di kamar mas, abis begadang dia.”
Mendengar sahabatnya tengah tidur di kamar kakaknya, Yunda langsung berlari ke lantai atas menuju kamar sang kakak.
“Eh dek jangan digangguin, baru tidur tuh anak!” teriak Elang tapi tak digubris oleh Yunda.
"Gimana acaranya belanjanya Rel?"
"Ampun yah.. aku lebih baik disuruh lari keliling lapangan bola sepuluh kali dari pada nemenin emak-emak belanja aaaaaa!!"
Farel berteriak saat Poppy menjewer telinganya dengan kencang. Diusapnya telinganya yang memerah akibat jeweran sang bunda.
"Jadi kamu ngga ikhlas nganter bunda belanja hmmm?" Poppy mendaratkan bokongnya ke sofa sambil memegang tangan berisi ketoprak.
"Ngga bunda aku ikhlas kok. Masa buat bundaku yang cantik ini ngga ikhlas sih," rayu Farel. Mana berani dia membuat singa betina ngamuk. Irzal dan Elang terkekeh geli melihat tingkah Farel.
"Mau ketoprak ngga a?"
"Mau dong tapi suapin."
Putri menyendokkan ketoprak kemudian menyuapkannya ke mulut suaminya. Elang dan Farel melengos melihat pasangan bucin di hadapannya.
"Dasar bucin," ucap Elang dan Farel bersamaan kemudian menuju meja makan mengambil ketoprak bang Agi yang masih berjualan dan semakin terkenal saja bahkan sudah membuka cabang di beberapa tempat.
Sementara di lantai atas, Yunda masuk ke dalam kamar, didekatinya Azriel yang sedang tertidur pulas. Terdengar suara dengkurannya yang cukup keras. Yunda mengambil ponselnya kemudian merekam video Azriel yang sedang tertidur lengkap dengan suara ngoroknya. Setelah dirasa cukup dia keluar dari kamar. Senyum liciknya terurai begitu saja, entah apa yang sedang direncanakannya.
🍁🍁🍁
**Jadi pengen makan ketoprak nih mamake. Yo wiss mamake mau ngehalu makan ketoprak dulu ya. Jangan lupa loh
Like..
Comment..
Vote..
Danke😘😘😘**
__ADS_1