
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dimas melangkahkan kakinya memasuki kediaman sang kakak. Ara menyambut kedatangannya dengan senang. Seperti biasa dia langsung meloncat dalam gendongan papanya. Poppy menyambut kedatangan adiknya dengan perasaan tegang. Dia tahu kalau Dimas baru saja bertemu dengan Ega juga Alea.
Dimas mendudukkan dirinya di sofa tepat di samping Poppy. Ara duduk tenang di pangkuannya. Poppy memandangi Dimas, mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi padanya.
“Ara ngantuk sayang?”
Dimas membelai rambut Ara. Anak itu hanya mengangguk sambil menguap lebar kemudian menyandarkan kepalanya di dada papanya. Dimas membelai puncak kepala Ara. Memeluk dan membelai Ara sedikit banyak dapat mengurangi kesedihannya. Terbuai dengan belaian sang papa, Ara pun jatuh tertidur. Irzal yang baru keluar dari ruang kerja segera bergabung dengan istrinya. Dia juga cukup penasaran dengan hubungan Dimas dan Firly.
“Kamu sudah bicara dengan Ega dan Alea?”
“Sudah kak.”
“Gimana? Apa reaksi mereka?” Poppy bertanya tak sabar. Dimas mengulas senyum tipis.
“Kaget pastinya teh. Tapi aku meminta waktu untuk membuktikan keseriusanku.”
“Mereka ngga ngomong macem-macem kan?”
“Macem-macem gimana teh?” Dimas pura-pura tak mengerti walau dia tahu kemana arah pembicaraan kakaknya itu.
“Ya nyinggung soal umur dan status kamu.”
“Teteh yang suka ngomong itu,” Dimas terkekeh.
“Dim, teteh serius. Mereka ngga menghinamu kan?”
“Ya ampun teh pengen banget ya adiknya dihina hehehe.. ngga teh, mereka ngga seimpulsif itu kok. Mereka cuma butuh waktu menerima itu semua. Aku tahu ini semua mengejutkan dan ngga mudah buat mereka. Jadi ya, aku hanya perlu bersabar dan meyakinkan mereka aja.”
“Syukurlah,” Poppy menghembuskan nafas lega. Berbeda dengan Irzal yang menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata adik iparnya itu.
“Aku pulang ya teh, kasihan Ara.”
Dimas berdiri sambil terus menggendong Ara yang sudah tertidur pulas. Poppy dan Irzal mengikuti langkah Dimas. Irzal membukakan pintu, Dimas meletakkan Ara di kursi samping pengemudi. Saat akan naik ke mobil Irzal menepuk bahunya pelan.
“Sabar Dim. Kakak tahu apa yang kamu rasakan,” Dimas tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Makasih kak. Dari dulu kakak selalu tahu apa yang aku rasain tanpa harus bicara. Aku sungguh bersyukur teh Poppy memiliki dirimu.”
“Buktikan pada mereka kalau kamu layak mendapatkan Ily. Kakak akan selalu mendukung dan mendoakanmu.”
“Makasih kak, aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
__ADS_1
Dimas naik ke mobil dan tak berapa lama kendaraannya melaju. Irzal kembali ke rumahnya, Poppy masih berdiri di teras. Dirangkulnya lengan Irzal kemudian masuk ke dalam bersama-sama.
“Kalian ngobrol apa tadi?”
“Ngga ada, cuma masalah kerjaan aja.”
“Besok aku mau ketemu Alea.”
“Ngga usah, biarkan itu menjadi urusan Dimas. Kita ngga usah ikut campur, cukup mendukung dan mendoakan saja. Aa yakin Dimas bisa mengatasi itu semua.”
“Aa yakin?”
“Hmm.. kamu ngga percaya sama adikmu sendiri?”
“Aku ngga percaya mereka a. Aku takut mereka menyakiti Dimas.”
“In Sya Allah semuanya akan baik-baik aja,” Irzal mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali lalu mengajaknya masuk ke kamar.
🍁🍁🍁
Suasana di meja makan sedikit tegang ketika semua anggota keluarga sarapan bersama. Semalam Ega dan Alea bersitegang setelah kepulangan Dimas. Alea kesal pada Ega yang tidak mengatakan apapun perihal hubungan Firly dengan Dimas. Ketiga anak mereka menghabiskan sarapan tanpa bersuara sedikit pun. Gurat kekecewaan masih nampak pada wajah ketiganya.
“Kalian hari ini akan mendaftar ke kampus?” suara Ega memecah keheningan.
“Iya pi,” jawab Firlan.
“Ngga usah mi.”
“Kenapa? Apa kamu mau pergi dengan Dimas hah?”
“Ily pergi sama aku mi. Mami lupa kalau aku sama Ily daftar di kampus yang sama?”
“Mending mami nganter kak Ily aja, jadi aku punya alasan ngga latihan,” celetuk Azriel.
“Ngga bisa! Kamu harus latihan, ingat sebentar lagi kamu bakal ikut turnamen kejuaraan dunia junior. Biar Ily pergi sama Ilan.”
Azriel tersenyum tipis, sangat tipis hingga maminya tidak menyadarinya. Strateginya berhasil membatalkan maminya mengantar Firly. Selesai sarapan Firlan dan Firly berpamitan untuk pergi ke kampus.
“Ingat, habis dari kampus langsung pulang. Jangan berani-berani kamu ketemu sama Dimas. Mulai hari ini kamu ngga boleh ketemu Dimas atau Ara lagi.”
“Mami jahat!”
“Terserah kamu mau bilang apa, tapi ini keputusan mami. Kalau kamu berani melanggar mami ngga segan-segan menghukum kamu!”
Firlan menarik tangan Firly untuk pergi, jengah rasanya mendengar pertengkaran di pagi hari. Tanpa banyak bicara dia memacu kuda besinya menuju kampus. Setelah berkendara selama dua puluh menit mereka sampai di kampus. Suasana kampus Tunas Mandiri sangat ramai. Banyak calon mahasiswa baru yang datang untuk mendaftar.
Setelah memarkir motornya, Firlan dan Firly menuju bagian administrasi untuk mendaftar. Firly akan mendaftar di jurusan komunikasi sedangkan Firlan di jurusan teknik manajemen industri. Rain dan Gara yang mengetahui kedatangan mereka hari ini, sudah menunggu di dekat ruangan pendaftaran. Keduanya membantu si kembar mengisi formulir dan melengkapi persyaratan pendaftaran.
__ADS_1
“Abis dari sini lo mau kemana?” tanya Gara.
“Gue mau ke kantor om Dimas,” jawab Firly.
“Ngga bisa,” cegah Firlan.
“Lan, please.”
“Lo ngga lihat dua orang di sana? Mereka orang kiriman mami.”
Firly, Rain dan Gara spontan menengok ke arah dua orang yang ditunjuk Firlan. Nampak dua orang berpakaian santai sedang duduk di salah satu bangku sambil menatap ke arah mereka.
“Rain, seminar yang lo bilang udah mulai?” tanya Firlan. Rain melihat jam di pergelangan tangannya.
“Hmm.. udah.”
“Ya udah mending kita ikut seminar aja. Lo udah beli tiket masuknya kan?” Rain hanya mengangguk.
“Seminar apaan?”
“Seminar enterpreneurship.”
“Kok gue ngga tahu.”
“Ah elo tahunya cuma tebar pesona doang,” sindir Rain. Gara hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Keempatnya segera pergi menuju gedung fakultas ekonomi, tempat seminar diadakan. Dua pria yang ditunjuk Firlan tadi segera mengikuti dari belakang. Mereka terus naik ke lantai lima. Di depan pintu masuk aula, mereka berhenti untuk memperlihatkan tiket masuk. Panitia yang bertugas mempersilahkan mereka masuk, sedang dua pria suruhan Alea hanya bisa menunggu di luar. Mereka segera melaporkan pada Alea kalau kedua anaknya sedang mengikuti seminar bersama Rain dan Gara.
Seminar sudah berlangsung selama sepuluh menit saat mereka masuk. Nampak seorang pembicara sedang memberikan materinya. Firly tak bersemangat mengikuti jalannya seminar. Tanpa terasa sudah seminar berjalan sudah satu jam lamanya. Setelah sesi tanya jawab, pembicara pertama mengakhiri sesinya. Sang moderator maju ke depan dan memanggil pembicara kedua.
“Selanjutnya kita sambut pembicara kedua kita. Seorang wirausahawan yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Terbukti dengan usaha kulinernya yang tersebar tidak hanya di Indonesia tapi juga manca negara. Kita sambut CEO Artha Boga, Chef Dimas Saputra.”
Gemuruh tepuk tangan mengiringi kedatangan Dimas. Mata Firly membelalak tak percaya melihat lelaki yang dirindukannya berdiri di depan sana. Dia melihat pada Firlan yang hanya menyunggingkan senyum ke arahnya, begitu pula dengan Rain. Gara yang tidak tahu Dimas menjadi salah satu pembicara juga terkejut melihatnya.
🍁🍁🍁
**Selalu ada jalan menuju Roma ya Ily, jadi sabar aja. Banyak yang mendukung kamu kok. Buat yg udah baca CLBK pasti sebel banget deh sama Alea😂
Yuk ah jangan lupa ya
Like..
Comment..
Vote..
Love you😘**
__ADS_1