Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Lamaran


__ADS_3

Bada isya keluarga Nino sudah berkumpul di rumah Regan. Akhtar memutuskan untuk meneruskan pernikahannya dengan Rain sebagai calon mempelai wanitanya. Semua dia lakukan tentunya demi Nino. Demi pria yang sudah menyayangi dan merawatnya seperti anak sendiri. Benarkah hanya itu alasannya? Hanya Akhtar dan Tuhanlah yang tahu.


Suasana sedikit canggung. Rencana lamaran dadakan yang diajukan Regan cukup membuat atmosfir di ruangan ini menjadi sedikit kaku. Nino dan Akhtar duduk berhadapan dengan Regan. Tak lama Sarah datang menuntun Rain kemudian duduk di sisi Regan. Kepala Akhtar yang semula menunduk mulai terangkat. Untuk beberapa saat dia terpana melihat kecantikan Rain yang berbalut dress motif batik.


“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada mas Regan sekeluarga atas kebesaran hatinya menerima kami sekeluarga. Maksud kedatangan saya mewakili anak saya, untuk melamar ananda Rain menjadi istri Akhtar.”


“Saya tidak akan berbasa-basi. Akhtar, apa kamu benar menginginkan pernikahan ini? Tanpa unsur paksaan dari siapa pun?”


“Iya pa. Saya benar-benar menginginkannya.”


“Apa alasanmu ingin menikahi Rain?”


“Saya sudah mengenal Rain sejak kecil. Saya tahu Rain adalah gadis yang baik. Dan saya yakin dia akan menjadi istri yang baik nantinya.”


“Apa kamu mencintainya?”


Pertanyaan Regan sukses membungkam mulut Akhtar. Bohong kalau dia mengatakan kalau mencintai Rain, karena nyatanya hatinya masih dipenuhi sosok Chalissa. Tapi dia juga tidak mungkin mempermalukan gadis itu dengan mengatakan tidak.


“Saya menyayanginya. Dan seiring berjalannya waktu, saya yakin akan tumbuh cinta di antara kami.”


“Rain, apa kamu yakin akan menikah dengannya? Apa kamu sanggup menghabiskan hidupmu bersama laki-laki yang menyayangimu namun belum mencintaimu?”


“In Syaa Allah pa, Rain yakin. Karena aku tahu, kak Akhtar adalah lelaki yang baik, yang tahu dengan benar hukum pernikahan. Walau pun belum ada cinta di hatinya tapi dia ngga akan berbuat hal yang dilarang oleh agama.”


Akhtar menelan ludahnya kelat. Batinnya tertohok mendengar ucapan gadis itu. Terbayang kembali perbuatan laknatnya dengan Chalissa beberapa hari lalu. Walaupun mereka tidak melakukan hubungan badan, tapi dia sudah melihat bahkan menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.


“Baiklah, karena kedua anak kita sudah setuju dan yakin dengan keputusannya. Saya selaku orang tua hanya bisa mendukungnya. Saya menerima lamaran Akhtar untuk Rain.”


Semua yang ada di sana menghembuskan nafas lega, kecuali Akhtar. Bayang-bayang ketakutan kalau dirinya tidak mampu menepati janji yang diucapkannya tadi menari-nari di ingatannya.


“Kamu mau mahar apa nak?” suara Kalila sukses menarik kesadaran Akhtar kembali.


“Kita bisa memakai mahar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Apa kamu setuju Rain?” Akhtar menatap gadis itu.

__ADS_1


“Aku ngga mau! Cukup seperangkat alat shalat saja sebagai maharnya.”


“Baiklah kalau itu maumu. Tapi perhiasan yang sudah disiapkan untuk mahar akan menjadi hadiah pernikahan untukmu.”


“Tidak perlu. Perhiasan itu untuk kak Lissa berikut hantaran yang sudah disiapkan, aku tidak mau menerima semua itu. Cukup berikan seperangkat alat shalat sebagai maharnya, cincin sederhana sebagai bukti ikatan kita. Aku mohon jangan tersinggung, tapi aku ingin memulai pernikahanku tanpa bayang-bayang kak Lissa, walaupun hanya berupa barang yang belum menjadi miliknya. Bisa kak Akhtar mengabulkannya?”


“Tidak masalah.”


“Baiklah kalau begitu. Sisanya masih tetap sama sesuai yang telah direncanakan sebelumnya. Soal undangan, kami akan menggantinya secepat mungkin,” tutur Sarah.


Acara lamaran yang terbilang singkat, semua pembicaraan dilakukan tanpa basa-basi. Setelah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Nino beserta keluarga undur diri. Rain mengantar keluarga calon suaminya sampai ke teras. Akhtar menatap Rain beberapa saat.


“Rain, terima kasih.”


“Sama-sama kak.”


Ada banyak hal yang ingin Akhtar sampaikan tapi hanya kalimat itu yang mampu terucap. Dia menyusul yang lainnya masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan mereka melaju meninggalkan kediaman Regan.


🍁🍁🍁


“Rain, lo yakin dengan keputusan lo nikah sama kak Akhtar? Bisa-bisanya lo kepikiran jadi pengganti kak Lissa. Gimana kalau kak Akhtar ngga bisa move on dari mantannya? Lo bakalan sakit hati Rain,” sembur Firly yang cukup kesal dengan tindakan nekad sahabatnya.


“Ily bener Rain. Lo ngga lagi kesambet kan Rain? Perempuan yang dicintai bang Akhtar itu Lissa, bukan elo. Kenapa sih lo keras kepala banget? Kurang apa gue Rain? Gue tulus cinta sama elo dan gue ngga rela kalau sampai bang Akhtar nyakitin elo,” terdengar nada kecewa dari Gara.


“Kalian sahabat gue bukan sih? Kenapa kalian justru ngedoain yang buruk? Harusnya kalian mendoakan gue bahagia, bukan seperti ini,” kesal Rain.


“Kita bukan ngedoain yang buruk Rain. Tapi itu semua kemungkinan yang akan terjadi dalam pernikahan elo. Gue ngga mau sahabat gue menderita. Gue mau elo bahagia dengan pernikahan elo,” Firly menghampiri Rain lalu memeluknya.


“El udah tau Rain?”


Pertanyaan Firlan sukses membuat Rain bungkam seribu bahasa. Dia menarik diri dari pelukan Firly. Elang, sahabat sekaligus kakak baginya memang belum mengetahui rencana pernikahannya dengan Akhtar. Jujur, Rain takut dengan reaksi Elang nantinya. Dia takut kalau Elang akan membuatnya bimbang dengan keputusannya. Pemuda itu selalu sukses membuatnya berpikir rasional di tengah kekalutannya.


“Jangan sampai El tahu dari orang lain Rain. Dia pasti akan kecewa kalau harus tahu pernikahan lo dengan bang Akhtar dari orang lain.”

__ADS_1


Dada Rain bergemuruh mendengar penuturan Firlan. Seketika perasaan bersalah menyergapnya. Tapi perasaan takut lebih mendominasi hati gadis itu. Tanpa disadari tangannya meremas tangan Firly dengan kencang.


“Lo takut Rain? Takut dengan reaksi El?” terka Firly yang memang tahu kedekatan Rain dengan Elang.


“Biar gue yang bilang ke El,” celetuk Gara.


“Jangan! Nanti malem gue bakal telepon dia. Biar gue yang bilang. Seperti kata Ilan, dia pasti kecewa tahu kabar ini dari yang lain.”


Percakapan mereka terhenti ketika melihat Reyhan datang. Pemuda yang wajahnya mirip dengan Regan itu tak banyak bicara. Dia hanya memberi isyarat pada kakaknya untuk segera pulang.


“Gue pulang dulu ya. Gar... sorry.”


Rain berdiri kemudian mengikuti langkah Rey memasuki Audi ** Coupe miliknya. Deru halus kendaraan tersebut terdengar ketika mulai melaju. Rain melirik ke arah Rey. Dia tahu adiknya itu kecewa dengan keputusan yang diambilnya. Semenjak acara lamaran, Reyhan belum berbicara dengannya.


“Rey...”


“Lebih baik kakak cepet kasih tahu mas El. Semua orang sengaja menutup mulutnya karena menghargai kedekatan kalian. Cuma kakak yang berhak memberitahu mas El.”


“Iya, gue bakal telpon dia nanti malam.”


“Sebagai adik gue cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kakak. Papa dan mama mengambil keputusan berat dengan menyetujui keinginan kakak karena menyayangi kakak. Jadi please jangan kecewakan kami kak. Kakak harus bahagia. Kalau sampai bang Akhtar menyakiti kakak, maka gue orang pertama yang bakal ngehajarnya.”


“Makasih Rey,” lirih Rain.


Mata Rain berkaca-kaca mendengar semua ucapan sang adik. Dia menolehkan wajahnya ke jendela samping. Mengusap pelan air yang menggenang di sudut matanya.


🍁🍁🍁


**Maafkeun mamake ya readers tercintaku...


Love you all😘😘😘


Like..

__ADS_1


Comment..


Vote**..


__ADS_2