Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Dua Hati Satu Cinta


__ADS_3

Kantor Firlan


Firlan duduk termenung di depan meja kerjanya dengan kepala disangga tangan kirinya. Sedang tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan ballpoin. Pikirannya masih tertuju pada resepsi pernikahan Gara seminggu yang lalu. Nyanyian Reyhan, tangisan Ayunda semakin membuatnya curiga kalau ada sesuatu di antara mereka berdua.


Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Gara masuk dengan wajah kesal, berkali-kali dia mengetuk pintu, namun sang empu ruangan malah asik melamun. Diletakkannya dokumen di tangannya dengan cukup kencang membuat Firlan tersadar dari lamunannya.


“Bengong mulu udah kaya ayam abis nelen karet. Kenapa sih?”


Gara menarik kursi di depan meja kerja lalu mendaratkan bokongnya di sana. Asisten Firlan itu memang sudah mulai kembali bekerja setelah cuti nikah selama seminggu. Di hari pertamanya bekerja, sudah disuguhkan pemandangan menyedihkan sang sahabat.


“Eh.. kenapa lo?”


Firlan tak langsung menjawab, hanya terdengar helaan nafasnya berkali-kali. Dia menyandarkan punggung ke kursi seraya memijit pelipisnya.


“Soal Yunda.”


“Kenapa Yunda?”


“Apa dia sama Rey ada hubungan? Gue yakin waktu di resepsi, dia nyanyi buat Yunda. Habis dia nyanyi Yunda kabur terus nangis bombay gitu.”


“Rey emang suka sama Yunda.”


Firlan membuka kembali matanya yang baru saja terpejam ketika mendengar ucapan Gara. Dia menegakkan tubuhnya kemudian mencondongkan badannya ke arah Gara.


“Sejak kapan?”


“Udah lama, kalau kata Nara sih udah empat tahunan lah. Tapi ya gitu, dia ngga berani ngungkapin perasaannya. Kejadiannya persis kaya si El sama Rain. Tapi kata Nara, akhirnya si Rey ungkapin perasaannya juga ke Yunda.”


“Terus jawaban Yunda apa?”


“Kan Yunda terima lamaran elo pea! Ya berarti si Rey ditolak.”


Firlan kembali menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Dia masih sangsi dengan jawaban yang diberikan Gara.


“Kalau emang ditolak terus kenapa si Yunda nangis kejer gitu?”


“Hadeuh.. lo tuh harus paham perasaan cewek. Yunda tuh baper aja denger Rey nyanyi, dia merasa bersalah udah nolak Rey dan bikin sakit hati. Lo tahu sendiri si Yunda kan cengeng, lihat adegan drakor aja mewek apalagi ini siaran langsung. Tapi kalau lo penasaran, kenapa ngga tanya langsung aja ke Yunda. Inget tiga minggu lagi kalian bakal nikah, jangan sampai hal kaya gini jadi masalah ke depannya nanti. Jadi mending diselesaikan sekarang juga.”


“Gimana seandainya mereka saling cinta dan gue ternyata jadi penghalang mereka berdua?”


“Kaga usah seandai-andainya segala, udah kaya lagu yang Rey nyanyiin. Pastiin dulu, baru ambil keputusan. Mumpung janur kuning belum melengkung dan ijab kabul belum di sahkan.”


Gara meninggalkan Firlan dengan berjuta kegelisahannya. Mungkin benar kalau dia harus berbicara langsung dengan Ayunda. Namun di satu sisi, pria itu takut mendengar kenyataan kalau Ayunda sudah berpaling darinya di saat perasaannya pada gadis itu tumbuh semakin dalam.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Rumah Sakit


“Dokter Rey!”


Reyhan yang baru keluar dari ruang rawat pasien menoleh begitu terdengar seseorang memanggil namanya. Helga berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. Suster yang bersama Reyhan pamit kembali ke tempatnya, merasa tak enak hati berada di antara kedua dokter itu. Sejak kedatangan Helga ke rumah sakit, terdengar desas-desus kalau wanita itu adalah calon istri Reyhan.


“Apa aku mengganggu?”


“Aku baru selesai visit. Ada sesuatu yang penting?”


“Hmm.. sudah ada jawaban dari TUM univesity.”


“Secepat itu?”


“Iya. Bisa bicara di tempat lain?”


“Kita ke kantin saja.”


Helga mengangguk kemudian mengikuti langkah Reyhan menuju kantin yang terletak di lantai dasar. Beberapa orang yang berada di kantor sesekali melirik pada kedua orang itu. Maklum saja, Reyhan yang tampan bersanding dengan Helga yang cantik. Membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum sekaligus iri.


“Surat pengajuanmu sudah terima, hanya tinggal mengirimkan berkas pendukung saja. Perkuliahan akan dimulai tiga bulan lagi. Tapi kalau dokter berminat, dokter sudah bisa bergabung di Saint Peter Hospital. Ada posisi kosong yang sudah disiapkan untuk dokter di sana.”


“Terima kasih, aku merasa tersanjung. Percayalah, kemampuan saya belum sebaik yang kamu pikirkan.”


Helga tertawa kecil memperlihatkan giginya yang putih. Tangannya meraih cangkir cappucino lalu menyesapnya perlahan. Wanita itu semakin kagum saja pada sosok Reyhan.


Kini giliran Reyhan yang tertawa. Ingatannya seketika tertuju pada Ayunda. Sejak resepsi pernikahan Nara, mereka belum bertemu lagi atau sekedar bertukar kabar. Dirinya langsung disibukkan dengan serangkaian operasi yang sudah terjadwal. Sedang Ayunda, mungkin saja sibuk mempersiapkan pernikahannya.


“Apa dia cantik?”


“Siapa?”


“Gadis itu.”


“Hmm.. sangat,” Reyhan menyesap kopinya.


“Aku akan sangat bahagia jika aku ada di posisi gadis itu. Dicintai begitu besar oleh dokter.”


Tak ada tanggapan dari Reyhan, dia kembali menyesap kopinya sambil mencicipi camilan yang dipesannya tadi. Mata Helga terus tertuju pada pria di hadapannya, tak dipungkiri mulai tumbuh rasa suka di hatinya. Tapi sepertinya Reyhan masih menjaga jarak darinya.


“Maaf aku harus pergi.”


“Baiklah, jika ada informasi baru aku akan sampaikan secepatnya.”


“Terima kasih.”

__ADS_1


Reyhan berdiri lalu menuju meja kasir, membayar semua makanan dan minuman yang dipesannya tadi. Dia menganggukkan kepalanya pada Helga sebelum meninggalkan wanita itu.


Banyak pasang mata melihatnya dari rekan seprofesi atau juniornya ketika dia melintasi koridor rumah sakit. Kabar tentang dirinya adalah anak dari Regan, dokter bedah terkenal sekaligus pemilik saham terbesar Rakan Putra Group sudah santer terdengar. Reyhan yang dulu dianggap hanya mahasiswa kere yang berhasil menjadi dokter lewat jalur beasiswa ternyata adalah seorang putra mahkota.


Cara mereka memandang dan memperlakukan Reyhan jelas sekali perubahannya. Tapi pria itu tak peduli, dia tetap menjalani kesehariannya seperti biasa. Mungkin Aldi yang cukup berbangga di sini. Kastanya sedikit naik dengan embel-embel sahabat putra mahkota.


Reyhan tidak kembali ke ruangannya atau ruang istirahat dokter bedah. Dia memilih menuju rooftop untuk menikmati semilir angin sore sambil berbaring di salah satu bangku yang terbuat dari semen. Matanya menatap lurus ke arah langit, memandangi awan yang berarak tertiup angin.


Pikirannya kini hanya tertuju pada Ayunda. Apa yang dilakukan gadis itu sekarang. Reyhan merasakan kerinduan yang teramat dalam padanya. Jarak keduanya tidaklah terlalu jauh namun seperti ada dinding tebal yang menghalagi mereka untuk bisa bertemu.


Reyhan menghela nafas panjang. Kemudian tangannya merogoh saku celananya, mencari keberadaan ponsel yang setiap satu jam sekali diliriknya, berharap ada pesan dari Ayunda. Namun tak ada pesan dari gadis itu. Ponselnya hanya dipenuhi chat grup dari teman-teman seprofesinya. Akhirnya Reyhan mencoba menghubungi Ayunda lebih dulu.


To Ay..ang :


Ay...


Lagi apa?


Are you okay?


No news from you..


Jangan buatku khawatir.


Lima buah pesan langsung Reyhan kirimkan. Namun sayang hanya terdapat satu tanda centang, pertanda ponsel gadis itu tidak aktif. Hatinya mulai dilanda kecemasan, tapi tak ada yang bisa dihubunginya. Dia terlalu malu menanyakan kabar Ayunda pada keluarga atau sahabatnya. Menanyakan kabar dan mengkhawatirkan calon istri orang sungguh tidak etis rasanya.


🍁🍁🍁


**Dua²nya gaslau nih. Yunda juga pasti lagi gaslau, akhirnya mereka gaslau berjamaah🤭


Jadi gimana dong, pilih Ilan kasihan Rey. Pilih Rey, ngga tega sama Ilan. Bagusnya piye Iki🤔


Tinggalin jejak dulu deh, like, comment and vote-nya selagi mamake masih mencari wangsit buat cinta mereka yang rumit.


Bang Ilan, mulai bimbang dengan perasaan Yunda**



Kak Rey, berharap ada keajaiban bisa bersama dengan Yunda



**PENGUMUMAN!!!


BUAT PENGGEMAR WILD ROMANCE, UDAH UP YA SAMPAI 30 EPISODE😉**

__ADS_1


PS :


Berhubung di sana ngga ada kolom komentar, kalian boleh komen di sini atau PC aku aja, ok😘


__ADS_2