
Azkia membuka matanya lalu memandang sekeliling. Dia bingung melihat ruangan serba putih namun terlihat mewah. Awalnya gadis itu mengira berada di kamar hotel, tapi melihat jarum infus yang menancap di tangannya, Azkia sadar tengah berada di rumah sakit. Seorang suster yang sedang memeriksa keadaannya tersenyum padanya.
“Mba Azkia sudah bangun rupanya.”
“Apa yang terjadi dengan saya sus? Kenapa saya ada di sini?”
“Kemarin mba pingsan setelah mengalami penganiayaan.”
“Emang saya harus diinfus gini ya sus.”
“Iya, untuk penambah cairan. Tapi sekarang bisa dilepas, karena sudah habis. Sebentar ya.”
Suster tersebut dengan cekatan melepaskan jarum infus dari tangan Azkia. Gadis itu sedikit meringisn ketika jarum terlepas dari nadinya.
“Ibu sama adik saya di mana sus?”
Belum sempat menjawab, pintu ruangan terbuka. Hanin yang baru kembali dari ruang rawat Daniar langsung menghambur ke arah kakaknya.
“Kak Kia..”
“Hanin. Ibu mana?”
“Ibu ada di kamar sebelah.”
“Ibu sakit?”
“Iya kak. Kemarin sesak nafas ibu kambuh, ibu pingsan.”
“Kakak mau lihat ibu.”
Azkia turun dari bed, suster langsung melarangnya karena kondisi Azkia sendiri masih lemah. Namun Azkia ngotot ingin melihat ibunya. Akhirnya suster itu mengalah, dia membawakan kursi roda untuk gadis itu.
Hanin mendorong kursi roda menuju kamar Daniar yang letaknya tepat di sebelah ruangan Azkia. Dia bingung siapa yang telah membawanya ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan kelas VVIP seperti ini.
Pintu ruangan terbuka, nampak Daniar sedang terbaring lemah. Beberapa peralatan medis terpasang di badannya. Seorang suster berdiri di sampingnya untuk mengawasi keadaannya, karena wanita itu tadi sempat drop.
“Ibu,” panggil Azkia pelan, namun Daniar masih memejamkan matanya.
“Suster bagaimana keadaan ibu saya?”
“Ibu Daniar tadi sempat drop tapi sudah ditangani oleh dokter.”
Azkia meraih tangan Daniar kemudian mencium punggung tangannya. Airmatanya mengalir membasahi tangan Daniar yang mulai terlihat keriput. Perlahan Daniar membuka matanya.
__ADS_1
“Kia..”
“Ibu.. iya ini Kia bu.”
“Kamu baik-baik aja nak.”
“Kia baik bu. Ibu ngga usah cemaskan Kia.”
“Ada yang mau ibu bicarakan. Mendekatlah nak.”
Hanin mendorong kursi roda Azkia sampai di depat kepala sang ibu. Dengan suara pelan Daniar mulai menceritakan siapa yang membawa mereka ke sini. Namun Daniar tak menyebutkan kalau Poppy dan Irzal adalah orang tua dari Elang, sesuai permintaan Irzal padanya.
“Jadi ibu Poppy yang sudah membiayai semua biaya perawatan?”
“Iya nak. Selain itu, bu Poppy juga kemarin meminta pada ibu untuk menjadikanmu calon istri anaknya.”
“Apa bu? Calon istri anaknya? Tapi aku ngga tahu siapa anaknya bu.”
“Dengarkan ibu nak. Maafkan kalau ibu sudah memutuskan sepihak, tapi ibu sudah menerima lamarannya. Ibu harap kamu bersedia menikah dengan anaknya. Mereka orang baik nak, ibu percaya mereka akan menyayangimu sebagai anak sendiri. Bahkan mereka juga berjanji akan mengurus Hanin. Kamu mau kan menikah dengannya?”
“Tapi bu...”
“Hanya mereka yang bisa melindungmu dari bapakmu nak. Ibu takut tidak bisa mendampingi kalian lagi.”
“Kamu mau berjanji kan nak? Demi ibu, demi Hanin, demi kebaikanmu sendiri. Jadilah menantu di keluarga itu. Ibu mohon nak.”
Nafas Daniar kembali sesak, suster segera memasangkan masker oksigen. Mata Daniar terus memandang Azkia penuh pengharapan, tangannya menggenggam erat jari jemari anaknya.
“Ibu jangan khawatir, aku akan menerimanya bu. Aku akan menikah dengan anak bu Poppy. Aku janji bu, ibu harus kuat.”
Daniar mengedipkan kedua matanya, senyum samar tergambar di wajahnya. Suster menekan tombol darurat ketika melihat keadaan Daniar semakin memburuk. Tak lama dokter Ambar masuk, di belakangnya menyusul Irzal juga Poppy.
Dokter Ambar segera memeriksa Daniar. Dia memerintahkan suster mengambil beberapa peralatan. Dengan cepat suster itu keluar. Dokter Ambar meminta Azkia dan yang lainnya menjauh dari bed. Layar monitor yang menunjukkan tanda-tanda vital Daniar mulai berbunyi, perlahan angka yang tertera di layar mulai bergerak turun.
Regan yang baru tiba di lantai khusus ruangan VVIP terkejut mendengar kondisi Daniar yang memburuk. Dia bergegas masuk ke dalam ruangan. Layar monitor yang menunjukkan detak jantung mulai menunjukkan garis lurus. Regan segera melakukan CPR. Suster yang tadi bertugas datang dengan membawa defribilator. Dokter Ambar segera memberi kejutan.
Belum ada perubahan. Regan kembali naik ke atas bed untuk melakukan CPR. Setelah siap, dokter Ambar kembali meletakkan defribilator di dada Daniar. Azkia dan Hanin hanya bisa menangis melihat tubuh ibunya terlonjak ke atas setiap menerima kejutan. Setelah beberapa kali mencoba, dokter Ambar menggelengkan kepalanya. Regan pun berhenti melakukan CPR.
“Maaf pasien tidak dapat diselamatkan. Waktu kematian pukul 08.13,” ucap dokter Ambar.
Hanin dan Azkia berteriak mendengar ucapan dokter Ambar. Hanin berlari menuju bed dan memeluk tubuh Daniar yang telah kaku. Poppy mendorong kursi roda Azkia mendekat pada bed. Gadis itu menangis tersedu di samping jasad ibunya.
“Ibu jangan tinggalin Kia hiks.. hiks.. ibu.. hiks.. hiks..”
__ADS_1
Poppy mendekati Kia lalu memeluk gadis itu. Dia juga tak kuasa menahan tangisnya. Azkia terus menangis, tangannya terus menggenggam tangan Daniar yang sudah dingin. Tiba-tiba tubuh Azkia terkulai tak sadarkan diri. Regan segera mengangkat tubuh Azkia lalu membawa ke ruangannya.
🍁🍁🍁
Irzal memutuskan menguburkan Daniar di tempat makam keluarga yang letaknya tidak jauh dari kompleks perumahan tempatnya tinggal. Jenazah disemayamkan di masjid kompleks sebelum dimakamkan. Hanin juga telah mengabarkan pada pengurus RT di tempat tinggalnya. Banyak tetangga yang datang ingin mengantarkan Daniar ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Azkia masih berada di rumah sakit karena kondisinya yang masih lemah. Ayunda dan Nara yang menungguinya di sana. Azkia berbaring sambil memegang ponsel Ayunda. Airmatanya terus mengalir melihat ke arah layar ponsel. Hanin melakukan video call saat pemakaman Daniar berlangsung.
Tangis Azkia semakin pecah ketika melihat jasad ibunya dimasukkan ke liang lahat. Beberapa pria membaringkan tubuh Daniar di lubang sempit itu, salah satunya adalah Irzal. Hati Azkia menghangat melihat Irzal mau ikut langsung terjun memakamkan ibunya. Panggilan video berakhir ketika prosesi pemakaman telah selesai. Azkia mengembalikan ponsel Ayunda.
“Makasih Yunda.”
“Sama-sama kak. Kakak jangan sedih lagi ya. In Syaa Allah, ibu sudah tenang di sana. Sebagai anak kita hanya bisa mendoakan aja.”
“Tumben banget lo bijak gitu,” bisik Nara di telinga sahabat sekaligus sepupunya itu. Refleks Ayunda menoyor Nara.
“Hmm... Yunda... hmm... kakak kamu mana?”
“Lagi kerja, kenapa kak?”
Azkia hanya menggeleng, sebenarnya dia penasaran siapa anak Poppy. Sedari pagi belum melihatnya. Setidaknya dia ingin melihat wajah calon suaminya. Ayunda tidak bisa mengatakan tentang Elang pada Azkia, karena kedua orang tuanya sudah mewanti-wanti dirinya untuk tutup mulut.
Pintu kamar terbuka, Farel muncul membawa beberapa bungkus makanan pesanan adik-adiknya. Kedatangannya langsung disambut penuh sukacita oleh Ayunda dan Nara. Azkia terkejut melihat Farel, terlebih saat Ayunda memanggilnya dengan sebutan abang.
“Asik bang Farel dateng juga bawain pesenan kita. Lama banget sih bang, kita-kita udah salatri nih. Telat dikit aku sama Nara bisa masuk IGD.”
“Lebay.”
“Abang nemenin kita di sini kan?”
“Ngga bisa, abang harus balik ke kantor. Ayah kan ngga ke kantor, jadi banyak kerjaan yang harus dihandle.”
Azkia memandang Farel tanpa berkedip. Saat lelaki itu menyebut kata ayah, pasti dimaksudkan untuk Irzal.
Jadi anaknya bu Poppy itu pak Farel. Ya Allah orang yang dinikahin sama aku itu pak Farel. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur janji pada ibu menerima lamaran bu Poppy. Tapi aku ngga mencintai pak Farel.
🍁🍁🍁
**Turut berduka cita ya Kia, yang sabar ini ujian. Nah loh disangka Kia yang bakal dijodohin ma dia, Farel, waduh mamake ngga ikutan ya🏃🏃🏃
Jangan lupa like, comment n vote nya ya..
Awaass kalo males komen, mamake bakalan mogok up😜**
__ADS_1