
Semakin hari kedekatan Rain dan Akhtar semakin terjalin. Berawal dari mengurus proyek pernikahan temannya, hingga kini genap tiga bulan sudah kedekatan mereka. Perasaan yang dulu sempat layu kini tumbuh subur memenuhi relung hati Rain. Ditambah hubungan Akhtar dan Chalissa yang masih berstatus break. Kesibukan Chalissa sebagai desainer muda, membuat jarak keduanya semakin merenggang saja.
Sementara itu, intensitas pertemuan Akhtar dan Rain semakin meningkat. Tak jarang mereka makan siang bersama, terkadang Akhtar menjemputnya ke kampus. Perhatian-perhatian kecil juga kerap lelaki itu berikan kepada Rain, membuat gadis itu semakin membulatkan tekadnya membuka kembali hatinya untuk Akhtar.
Rain menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Di akhir pekan ini, Akhtar membawanya berjalan-jalan ke tempat wisata di daerah Lembang. Baru sebulan kemarin tempat wisata ini dibuka untuk umum. Rencananya Rain akan mengadakan sesi foto prewedding di sini untuk salah satu kliennya.
Senyum Rain mengembang ketika menyaksikan Akhtar yang sedang bermain giant swing. Beberapa kali dia mengarahkan kamera ponselnya ke arah pemuda itu.
Puas bermain giant swing, Akhtar menghampiri Rain. Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral pada Akhtar yang langsung diteguknya hingga habis.
“Kamu ngga mau coba Rain? Asik loh.”
“Ngga ah kak, ngga berani.”
“Kamu laper ngga? Makan yuk.”
“Ayo.”
Rain berdiri kemudian berjalan bersisian menuju cafe yang jaraknya sekitar dua ratus meter di depan mereka. Karena asik mengobrol, Rain tak memperhatikan jalan. Kakinya terperosok ke dalam legokan tanah. Refleks Akhtar memegang pinggang Rain yang hampir terjatuh. Untuk beberapa detik mata mereka saling memandang. Rain memutus pandangan itu ketika merasakan wajahnya mulai memanas.
Mereka pun tiba di cafe. Akhtar mengambil meja yang berada di bagian luar cafe agar bisa tetap menikmati keindahan alam. Dua tenderloin steak dan dua lemon tea tersaji di atas meja. Berhubung para cacing sudah berdemo sedari tadi, mereka segera menyantap makanan.
Ibu jari Akhtar bergerak mengusap sudut bibir Rain yang terkena saos. Sentuhan itu membuat hati Rain bergetar. Salahkah dia jika mengharapkan sesuatu yang lebih dari kedekatan ini. Bahkan di setiap akhir shalatnya, gadis ini selalu berdoa agar berjodoh dengan pria di hadapannya.
“Habis dari sini, kamu mau kemana?”
“Kemana ya?”
“Mau lihat apartemen baru kakak ngga?”
“Kakak beli apartemen?”
“Alhamdulillah, sebulan yang lalu. Gimana? Kamu mau ke sana?”
“Hmm.. boleh.”
Akhtar melambaikan tangannya, seorang pelayan datang membawakan billing. Setelah membayar, keduanya bergegas pergi. Tujuan mereka sekarang adalah apartemen Akhtar yang ada di daerah Setia Budi.
🍁🍁🍁
Rain memasuki ruangan yang ada di unit apartemen Akhtar. Hanya ada dua kamar di sana, satu digunakan untuk kamar tidur, satu lagi untuk ruang kerjanya. Pemandangan di balkon juga cukup indah. Kelap kelip lampu kota terlihat dari ketinggian. Unit Akhtar berada di lantai 15.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rain berkhayal kalau dirinya dan Akhtar menikah. Mereka pasti akan tinggal di sini. Menghabiskan malam bersama, menikmati semilir angin ditemani secangkir kopi hangat. Rain juga membayangkan Akhtar memeluknya dari belakang. Saling berbagi kehangatan di tengah dinginnya malam. Senyum Rain tersungging membayangkan itu semua. Tanpa disadari Akhtar sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu kenapa Rain, senyum-senyum sendiri.”
“Eh... ng.. ngga kok. Seneng aja lihat pemandangan di sini. kak Akhtar pinter cari lokasi apartemen, viewnya bagus.”
“Hmm.. aku emang udah lama mau beli apartemen di sini. Tapi waktu itu uangku belum cukup, jadi nabung dulu. Alhamdulillah masih ada unit yang tersisa.”
“Pasti harganya mahal ya kak.”
“Hmm.. lumayan,” Akhtar terkekeh mengingat dia harus merogoh kocek dalam demi bisa memiliki unit apartemen ini.
“Kak Akhtar kerja udah, punya apartemen udah, tinggal nikahnya aja yang belum.”
“Iya nih. Berhubung calon yang mau diajak tinggal di sini masih belum jelas, gimana kalau kamu aja Rain?”
“Hah?”
Untuk sesaat Rain membeku. Ucapan Akhtar barusan benar-benar membuat kinerja otak dan jantungnya berhenti sesaat. Akhtar memandangi wajah Rain lekat-lekat, lalu tak lama tawanya meledak.
“Hahahaha... bercanda Rain, ngga usah kaget gitu dong,” Akhtar mengusak puncak kepala Rain.
Kali ini giliran Akhtar yang membeku. Tak menyangka gadis di hadapannya akan berkata seperti itu. Sontak Akhtar menjadi kikuk, dia mengusap-ngusap tengkuknya.
“Maaf Rain, kakak cuma bercanda, maaf ya.”
“Mmmpphhh.. hahaha... ngga usah grogi gitu kali kak.”
Sadar dirinya telah dikerjai, Akhtar kembali mengusak rambut Rain hingga berantakan. Rain mencoba menghindari Akhtar, karena tatanan rambutnya sudah berantakan di sana sini. Namun Akhtar masih terus mengejarnya. Hingga Rain terpojok ke dinding dan Akhtar hanya beberapa senti di depannya.
Nafas keduanya memburu akibat aktivitas tadi. Mata mereka saling mengunci. Perlahan Akhtar mendekatkan wajahnya, dada Rain berdebar kencang. Tanpa dapat ditahan, dia memejakmkan matanya. Jarak keduanya semakin dekat, hanya tinggal sedikit lagi bibir Akhtar menyentuh bibir Rain, tiba-tiba ponsel Rain berdering. Dengan cepat Akhtar menarik tubuhnya menjauhi Rain. Rain bergegas mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
Setelah berbincang sebentar di ponselnya, Rain mencari keberadaan Akhtar. Pemuda itu tengah berada di dapur. Rain segera menghampiri.
“Kak, aku pulang dulu ya. Tadi mama telpon.”
“Aku antar.”
Akhtar menyambar kunci mobil, lalu keduanya keluar dari unit apartemen. Tak ada perbincangan selama di mobil, hanya ada suara musik yang mengiringi perjalanan mereka. Baik Akhtar maupun Rain masih belum lepas dari suasana canggung yang mereka ciptakan tadi.
Akhtar menghentikan roda kendaraan tepat di depan rumah Rain. Tanpa berkata-kata Rain segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Akhtar memandangi punggung gadis itu sambil hilang di balik pintu. Dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan diri. Entah apa yang merasukinya tadi, hampir saja dia mencium Rain. Perempuan yang sudah dianggapnya adik sendiri. Akhtar kembali menjalankan kendaraannya meninggalkan rumah yang sering dikunjunginya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Kepulangan Rain langsung mendapat cecaran dari Sarah. Tidak biasanya anak gadisnya sampai di rumah di atas jam sembilan malam.
“Maaf ma, tadi abis survey lokasi buat pre wed di Lembang. Ngga tahunya tadi jalanan macet banget. Lagian aku perginya juga diantar kak Akhtar.”
“Siapapun yang mengantarmu Rain, mama ngga suka kalau kamu pulang terlalu malam. Kalau besok-besok kamu masih pulang malam, kamu ngga boleh lagi handle pekerjaan di L’amour, mengerti?”
“Iya ma.”
“Ya sudah, masuk kamar.”
Rain menghembuskan nafas lega, ceramah panjang sang mama yang biasanya mencapai 3 SKS berakhir singkat. Dengan langkah lunglai Rain menapaki anak tangga. Dihempaskan tubuhnya di atas kasur begitu berada di kamarnya. Baru saja akan memejamkan matanya, Reyhan masuk ke dalam kamarnya. Adiknya itu berdiri meyender di tembok dengan tangan bersedekap di dadanya.
“Kakak sama bang Akhtar pacaran ya?”
“Ngga! Ngaco aja lo.”
“Bagus deh kalo ngga.”
Reyhan baru saja akan pergi tapi Rain menahannya karena penasaran dengan jawaban sang adik tadi. Dia menegakkan tubuhnya.
“Eh bentar, maksud lo apa tadi bilang bagus deh.”
“Ya bagus kalau ngga pacaran sama dia. Inget kak, bang Akhtar itu udah punya pacar.”
“Mereka lagi break kok.”
“Cuma break kan? Ngga benar-benar putus. Emang kakak yakin kalau bang Akhtar udah ngga ada rasa lagi sama Lissa? Gue ngga mau ya, kakak gue cuma dijadiin pelampiasan sementaranya. Apa kakak tahu alasan mereka break? Itu karena kesibukan Lissa yang harus bolak-balik Paris-Singapura-Indonesia. Dia lagi sibuk promo rancangan terbarunya, kakak tahu kan dia menang festival Youth Designer. Jadi please kak, sebelum perasaan kakak bertambah dalam, lebih baik berhenti.”
“Kok lo gitu sih? Harusnya lo dukung gue Rey.”
“Karena gue ngga yakin kak. Gue ngga yakin perasaan bang Akhtar sama kakak. Kalau dia harus memilih antara kakak atau Lissa, belum tentu dia bakal milih kakak. Inget pesan bang Elang, sebelum kakak yakin hubungan mereka benar-benar berakhir. Kakak harus tetap jaga jarak sama dia. Lagian emang kakak mau noh singa di London ngamuk? Saran gue pikirin lagi kak.”
Reyhan melangkahkan kakinya keluar kamar. Kali ini Rain tidak menahannya lagi. Dia merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap ke langit-langit kamar. Ingatannya kembali tertuju pada kejadian di apartemen Akhtar. Lalu telinganya kembali terngiang ucapan Elang saat keberangkatannya.
Jaga tubuh lo dari sentuhan laki-laki yang bukan muhrim.
🍁🍁🍁
**Ingat-ingat tuh pesan singa London. Jangan terlalu baper ya Rain.
Biarin aja mamake yang baper kalo dapet like, comment n vote dari para readers. Karena dukungan mereka bukan cuma bikin mamake baper tapi juga semangat buat up tiap hari😉**
__ADS_1