
Azkia memasukkan beberapa pakaian Elang ke dalam koper. Besok suaminya itu harus terbang ke Sinjay untuk membereskan masalah yang terjadi di sana. Azkia menghembuskan nafas panjang. Rasanya berat sekali melepas suaminya pergi keluar pulau di saat pernikahannya baru berumur sehari.
Azkia menutup koper lalu meletakkannya di dekat pintu. Dia melangkahkan kakinya menuju Elang yang masih berkutat dengan laptopnya. Melihat kedatangan istrinya, Elang meletakkan laptop di atas meja lalu menarik tubuh Azkia duduk di pangkuannya. Dia tahu kalau Azkia sedikit kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
“Maaf ya sayang. Mas mendadak harus pergi.”
“Ngga apa-apa mas.”
Azkia tak mau melihat ke arah suaminya. Dia menatap kancing piyama yang dimainkan oleh jarinya. Elang menyentuh dagu Azkia lalu mendongakkan ke arahnya. Nampak kekecewaan di matanya. Elang memberikan ciuman singkat di bibir istrinya.
“Ayah dan om Andri harus ke Singapura, bang Farel juga sibuk ngurus kerjasama dengan Mahameru Group. Mas ngga mungkin ngelepas Virza ke sana sendirian. Mas janji ngga akan lama di sana. Begitu urusan selesai, mas akan pulang.”
“Aku ngga bisa ikut mas?” Azkia memainkan jarinya di dada Elang.
“Bukannya mas ngga mau ajak kamu. Tapi takutnya kamu ngga nyaman. Seharian kita pasti ada di lapangan. Selain itu medan untuk sampai ke perkebunan dan peternakan cukup sulit. Jaraknya juga cukup jauh dari penginapan. Kalau kamu ikut, mas ngga tenang kalau harus ninggalin kamu di penginapa .”
Elang menyelipkan rambut ke belakang telinga istrinya, kemudian mencium telinga, leher hingga bahunya. Azkia memejamkan matanya, sentuhan Elang selalu memabukkan dan membuatnya candu.
Elang menyelipkan tangannya ke bawah paha Azkia lalu membopongnya menuju kasur. Perlahan dibaringkannya tubuh sang istri. Dia menautkan bibir mereka dan mulai memberikan pagutan-pagutan kecil. Azkia membalasnya, mengikuti permainan bibir sang suami mengikuti instingnya. Tangannya melingkar di leher kokoh Elang. Semakin lama ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut.
🍁🍁🍁
Azkia mengantar suaminya sampai ke depan mobil. Pak Tono yang bertugas mengantar Elang ke bandara, memasukkan koper ke dalam bagasi lalu duduk di belakang kemudi. Elang masih belum masuk ke mobil. Kedua tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri.
“Mas hati-hati ya di sana. Biar sibuk jangan lupa makan.”
“Iya sayang. Kamu juga jangan lupa makan. Kalau mau ke kampus minta antar jemput bang Farel atau Gara.”
“Ngga usah mas, takutnya mereka repot. Aku bisa sendiri.”
“Ngga ada bantahan. Nurut atau ngga usah ke kampus.”
“Iya mas. Mas juga di sana jangan lirik-lirik cewek. Awas kalau masih ngaku bujang.”
Elang tergelak, ternyata istrinya bisa juga bersikap posesif. Dibelainya pipi halus yang kerap merona saat mendengar gombalannya. Elang mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Azkia. Dia menahan tengkuk Azkia untuk memperdalam ciumannya.
“Ehem!!”
Azkia mendorong tubuh Elang begitu mendengar suara deheman dari arah belakang. Dia tak berani melihat siapa yang datang. Kepalanya menunduk seraya meremas kemeja suaminya.
“Ya Allah tabahkanlah hati hamba-Mu ini. Baru aja di dalam lihat adegan mesra ayah dan bunda. Sekarang hamba kembali harus melihat adegan mesum adik hamba ya Allah. Mata suci hamba ternoda ya Allah, ampunilah dosa hamba,” cerocos Farel sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang yang tengah berdoa.
“Lebay.... makanya nikah sono.”
“Sama siapa?”
“Endes hahaha...”
Elang mencium kening Azkia kemudian masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan tersebut melaju. Azkia bergegas pergi, kepalanya masih menunduk karena malu bersitatap dengan Farel. Namun langkahnya terhenti ketika Farel menghalanginya. Azkia menggeser ke sebelah tapi Farel ikut bergeser. Terus begitu beberapa kali hingga Azkia mengangkat kepalanya, menatap kesal ke arah kakak iparnya itu.
“Bang Farel!”
“Apa?”
“Minggir ih.”
“Bilang kek, jangan geser sana geser sini, kirain ngajak main gobak sodor,” Farel tergelak. Sepertinya mengganggu adik ipar adalah hobi barunya saat ini.
“Kamu ke kampus jam berapa?”
“Jam 9 bang.”
“Yo.. tar abang yang antar tapi pulangnya sama Gara.”
__ADS_1
“Iya bang,” Azkia segera masuk ke dalam rumah. Dia harus berganti pakaian karena akan ke kampus.
🍁🍁🍁
Perkuliahan terakhir baru saja usai. Azkia membereskan buku dan alat tulisnya lalu bergegas meninggalkan kelas. Gara baru saja mengiriminya pesan kalau terlambat menjemput karena masih ada meeting. Tapi kakak angkatnya itu mewanti-wanti untuk menunggunya. Azkia memilih menunggu di kantin.
Suasana kantin tidak begitu ramai, hanya ada beberapa mahasiswi yang sedang menikmati makanan sambil bergosip. Azkia mengambil meja tak jauh dari mereka. Melihat kedatangan Azkia, mulut nyinyir mereka mulai menjadikan nyonya Elang itu sebagai sasaran pembicaraan.
“Eh pengantin baru udah kuliah aja, kaga bulan madu?”
“Denger-denger mereka nikah karena dijodohin, kali aja kak Elang terpaksa nikah sama dia. Terus bikin perjanjian kontrak, setelah nikah jalani hidup masing-masing tanpa mengganggu privasi.”
“Udah kaya novel online aja,” mereka terkikik geli.
Azkia berusaha bersabar dengan nyinyiran mereka. Setelah memesan minuman, dia bermain game dengan ponselnya. Melihat Azkia yang nampak cuek, para mahasiswi itu kembali berbicara.
“Tapi bisa jadi bukan dia yang nikah sama kak Elang. Katanya pas resepsi pengantin perempuannya pakai niqab jadi ngga ada yang tahu wajahnya. Mungkin aja dia cuma disuruh bagiin undangan dan kebetulan namanya sama kaya pengantin perempuan.”
“Bisa jadi. Lagian mana mau kak Elang sama dia, bukan levelnya keles.”
Celotehan demi celotehan yang membuat telinga Azkia panas terus saja terdengar. Beberapa kali dia mengusap dadanya untuk menyabarkan diri. Tiba-tiba ponselnya berdering, nama suaminya tertera di sana. Senyum Azkia mengembang, dengan cepat dijawabnya panggilan itu.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Lagi di mana sayang?”
“Di kampus mas.”
“Ganti vc ya.”
Elang mengubah panggilan suara menjadi panggilan video. Jari Azkia mengusap layar ponsel, seketika wajah Elang memenuhi layar. Para mahasiswi yang sedari tadi sibuk menyindir Azkia, penasaran dengan panggilan videonya. Mereka melihat ke arah ponsel Azkia. Mata mereka membelalak ketika melihat wajah Elang.
“Lagi di mana?”
“Kuliahnya udah selesai?”
“Udah mas. Ini lagi nunggu bang Gara jemput. Mas lagi di mana?”
“Lagi di hotel, sebentar lagi mau ke lokasi. Doain ya mudah-mudahan masalahnya cepat selesai jadi mas bisa cepat pulang.”
“Iya mas, semoga masalahnya cepat selesai, aamiin.”
“Miss you.”
“I miss you too.”
“Udah dulu ya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan pun berakhir. Saat yang bersamaan seorang teman Azkia datang dan mengatakan kalau dirinya dipanggil pak Budi. Azkia mengambil tasnya lalu bergegas menuju ruang dekan.
Azkia masuk ke dalam ruangan sesaat setelah mengetuk pintu. Selain pak Budi, di dalam ruangan juga ada Deski. Deski tersenyum manis saat melihat kedatangan Azkia. Tanpa menghiraukan Deski, Azkia segera duduk di sofa single, berhadapan langsung dengan Budi.
“Maaf pak, ada apa ya?”
“Begini Kia. Kamu mungkin sudah dengar kasus yang menimpa orang tua Sandra. Demi menjaga nama baik kampus juga perusahaan, kami memutuskan untuk mengganti Sandra sebagai Duta Kampus program beasiswa dengan Mahameru Group. Pak Deski menginginkan kamu sebagai penggantinya.”
“Tapi pak..”
“Saya tahu kalau kamu masih terikat kontrak dengan pihak sponsor. Tapi kamu tenang aja, nanti pak Deski yang akan mengurus itu semua. Kamu ngga usah khawatir terkena penalty dari mereka. Bagaimana apa kamu mau?”
“Hmm.. boleh saya pikirkan dulu pak. Soalnya mendadak sekali.”
__ADS_1
“Silahkan tapi jangan terlalu lama. Saya harap besok kamu sudah memberikan jawabannya.”
“Baik pak. Masih ada lagi pak?”
“Tidak ada. Kamu boleh pergi.”
Azkia menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan. Melihat Azkia pergi, Deski pun bergegas undur diri. Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul Azkia.
“Kia sebentar.”
Azkia menghentikan langkahnya walau sebenarnya enggan. Tapi demi menjaga nama baik kampus, dia mencoba bersikap sopan. Deski menghampiri Azkia, matanya tak henti menatap wajahnya membuat Azkia menjadi jengah.
“Saya harap kamu mau menerima tawaran saya.”
“Saya pikirkan dulu pak.”
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Supaya kita bisa saling mengenal. Karena nantinya kita akan sering bertemu.”
Azkia mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa Deski bisa bersikap seperti itu, padahal lelaki itu datang ke resepsi pernikahannya. Tapi kemudian Azkia sadar kalau saat resepsi dia mengenakan niqab, pasti Deski tak mengenalinya.
“Jujur saja, sejak pertama bertemu saya sudah tertarik denganmu. Beberapa pertemuan tidak sengaja kita seperti sebuah isyarat kalau kita berjodoh.”
Dasar sinting, umpat Azkia dalam hati. Dia melihat cincin nikah di jari manisnya. Saat akan memperlihatkan cicin tersebut serta menyebutkan statusnya pada Deski, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Gara yang menandakan pemuda itu sudah ada di depan kampus. Azkia memilih untuk pergi.
“Maaf pak, saya sudah dijemput. Saya permisi.”
“Alasan klise untuk menolak ajakan hem?”
“Bukan alasan tapi memang saja sudah dijemput. Permisi.”
Tanpa menunggu jawaban Deski, Azkia segera berlari meninggalkan pria tersebut yang masih menatapnya dengan senyuman misterius.
“Cepat atau lambat kamu akan jadi milikku Kia. Tunggu aja, aku akan membuatmu merangkak datang padaku,” gumamnya.
Azkia masuk ke dalam mobil dengan nafas tersengal. Gara menatap wanita di sampingnya ini dengan bingung. Azkia segera memasang sabuk pengamannya.
“Kamu kenapa?”
“Ngga apa-apa bang. Abis ketemu setan.”
“Setan? Di mana? Masa siang-siang ada setan.”
“Itu laki-laki ngga jelas yang bikin kesel.”
“Yang mana orangnya? Cari mati nih.”
Gara hendak melepaskan sabuk pengamannya namun ditahan oleh Azkia. Gara membatalkan niatnya lalu mulai menjalankan kendaraannya. Azkia nampak termenung seperti memikirkan sesuatu.
“Ada apa Kia? Apa ada masalah?”
“Ngga bang. Cuma tadi pak Budi, dekan aku minta aku jadi duta kampus buat program beasiswa dari Mahameru Group. Aku bilang pikir-pikir dulu, aku kan harus minta ijin dulu sama mas El. Nah laki-laki yang bikin aku kesel tadi itu pak Deski, dia perwakilan dari Mahameru Group.”
“Kia dengerin aku. Jangan bertindak gegabah, kamu tahu sendiri suami kamu seperti apa. Yakin 100% dia ngga akan ngijinin kamu. Apalagi kalau dia tahu si Deski Deski itu suka sama kamu.”
“Pak Deski ngga suka sama aku bang.”
“Dia itu suka sama kamu. Menjadikan kamu duta kampus cuma alasan aja buat deketin kamu. Langsung tolak aja Kia, jangan membangunkan singa tidur. Kamu ngga tahu kalau El ngamuk itu ngga ada yang bisa nenangin dia kecuali bunda sama ayah.”
Azkia termenung, membayangkan ekspresi Elang marah membuatnya bergidik. Segera diambilnya ponsel lalu menekan nomor Budi. Walau kecewa akhirnya sang dekan menerima keputusan Azkia.
🍁🍁🍁
**Hmm.. ada bau² Pebinor nih. Kita lihat aksi Deski selanjutnya ya. Malam Pertama? Tenang aja, bentar lagi mas El bakal unboxing neng Az.
__ADS_1
Sebelum daring bikin otak miring, mamake up dulu buat kalian semua. Jadi jangan lupa juga sempatin buat like, comment and vote abis baca karya ini, oke😉**