Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY No More Rain


__ADS_3

Kamar rawat inap Firly langsung gaduh begitu para sahabat somplaknya berkumpul. Rain, Gara, Firlan, Farel juga Elang sudah berada di sana. Mereka memuji baby Gavin yang tak kalah tampan dari Gemma. Firly tampak tersenyum bangga karena baby Gavin mewarisi wajahnya 60%.


Suasana bertambah ramai setelah kehadiran trio ubur-ubur. Ayunda, Nara dan Azriel datang bergabung. Baby Gavin yang sedari tadi tertidur akhirnya terbangun juga karena tak tahan akan polusi suara yang berasal dari sahabat mamanya. Dimas menggendong baby Gavin lalu memberikannya pada Firly untuk disusui.


Para lelaki memilih keluar lalu duduk di kursi depan kamar. Elang duduk di pojokan. Dia terus berkomunikasi dengan Jayden untuk mencari keberadaan Azkia. Rain datang lalu duduk di samping Elang.


“El..”


“Hmm..”


“Kerjaan di Munich beres?”


“Hmm..”


“Lo ngga bawa oleh-oleh buat gue.”


“Hmm..”


Rain kesal mendengar jawaban Elang, terlebih sahabatnya itu hanya fokus pada ponselnya saja. Dengan cepat diambilnya ponsel tersebut. Elang terkejut lalu menoleh ke arah Rain. Tak ada debaran lagi ketika bersitatap dengan wanita itu. Hanya sesak yang dirasakannya. Melihat Rain mengingatkan akan kebodohannya tempo hari.


“Balikin Rain.”


“Ck.. ada apa sih sama hp lo? Serius amat dari tadi sampe-sampe gue dicuekin.”


“Balikin.”


“Nih gue balikin tapi lo dengerin gue. Gue mau curhat nih.”


Rain mengembalikan benda pipih tersebut. Elang memasukkannya ke saku celana lalu menyenderkan kepalanya ke dinding seraya memejamkan mata.


“El.. beberapa hari ini mas Akhtar tuh aneh. Dia banyak diam, kaya marah sama gue tapi gue ngga tahu kenapa. Gue mesti gimana?”


“Tinggal tanya apa susahnya sih,” jawab Elang masih dengan mata terpejam.


“Nah itu dia. Dia tuh kaya ngehindar setiap gue deketin. Kan BT gue. Gue mesti gimana dong. Berapa kali gue tanya tapi dia cuma diem aja, nyebelin kan.”


“Au ah Rain. Mikirin masalah sendiri aja gue pusing.”


Elang berdiri lalu beranjak pergi. Rain yang masih belum puas berbicara dengan Elang segera menyusulnya. Farel memperhatikan kedua orang itu dalam diam. Hatinya berdoa adiknya itu tidak melakukan kesalahan yang sama.


Elang masuk ke dalam lift, Rain segera menyusul masuk. Pemuda itu bersender ke dinding lift, dengan tangan bersidekap dan mata terpejam. Rain berdiri di sampingnya. Wanita itu terus saja bercerita tentang kekesalannya pada Akhtar. Begitu lift sampai di lantai dasar, Elang bergegas keluar.


“El tunggu...”


Di saat bersamaan Azkia juga baru memasuki lobi rumah sakit. Matanya menangkap sosok Elang sedang berjalan keluar. Ingin rasanya Azkia menghampiri Elang, namun niatnya surut ketika melihat Rain berlari menyusul pemuda itu. Azkia memilih bersembunyi di balik pilar.


Setelah Elang tak terlihat barulah gadis itu beranjak namun karena terburu-buru, dia menabrak seseorang di depannya. Kepalanya membentur dada seseorang, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dengan sigap orang itu menarik tangan Azkia agar tak terjatuh.


“Hey are you okay?”


Azkia mendongakkan kepalanya. Sejenak kedua mata mereka beradu, lalu dengan cepat Azkia menarik tangannya dan membuang pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


“Hey.. kita ketemu lagi. Masih ingat? Aku Deski, kita bertemu di kampus waktu itu.”


Deski mengulurkan tangannya tapi Azkia memilih langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu. Deski hanya tersenyum melihat kepergian Azkia. Sejak pertama bertemu, gadis itu sudah berhasil mencuri perhatiannya.


“Cantik dan menggemaskan,” gumamnya.


Sementara itu Rain terus saja mengikuti Elang yang berjalan menuju mobilnya. Akhtar yang baru sampai melihat pemandangan di depannya dengan hati geram. Teguran Irzal padanya beberapa hari lalu sempat mengusik pikirannya. Sebagai suami dia merasa tak mampu mendidik istrinya dengan baik. Oleh karenanya dia sempat menghindari Rain selama beberapa hari. Akhtar masih mencari cara bagaimana berbicara dengan Rain tanpa menimbulkan pertengkaran.


“El.. tunggu. Lo kenapa sih? Dari tadi lo tuh aneh. Ngga biasanya lo kaya gini.”


“Gue banyak urusan Rain.”


“Urusan apa sih? Kata bang Farel lo lagi cuti, jadi pasti bukan urusan kerjaan kan? Ayo dong bantu gue El. Siapa lagi yang bisa bantu gue selain elo.”


“Rain.. ngga baik ngomongin soal rumah tangga lo sama gue. Mending lo curhat sama mama Kalila atau mama Sarah.”


“Tapi kan gue udah biasa curhat sama elo El.”


“Hilangin kebiasaan elo itu. Udah gue mau pergi dulu.”


Hati Rain mencelos melihat sikap Elang padanya. Tak biasanya sahabatnya itu bersikap dingin padanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Melihat Elang yang terus mengabaikannya membuat buliran bening itu perlahan turun. Tangan Elang tertahan saat akan membuka pintu mobil begitu mendengar isakan di dekatnya. Elang menoleh, Rain yang berdiri di sampingnya sudah berderai airmata. Pemuda itu menghela nafasnya.


“Rain, sampai kapan lo kaya gini? Dewasalah Rain. Sekarang lo tuh udah jadi seorang ibu. Lo harus kasih contoh sama anak lo. Apa baik lo ngerengek sama laki-laki lain selain suami lo?”


“Tapi lo kan sahabat gue El. Lo juga janji bakal jadi pengganti bang Rakan buat gue hiks.. hiks.. lo sekarang jahat sama gue El.”


“Iya, gue emang sahabat lo dan selama ini gue juga berusaha jadi pengganti bang Rakan buat lo. Tapi tetap ada batasan untuk itu Rain. Apalagi lo tuh udah nikah. Apa lo ngga pikirin perasaan bang Akhtar kalau sedikit-sedikit lo ngeluh sama gue? Gue juga punya kehidupan pribadi yang harus gue urus. Sorry gue harus pergi.”


Elang bergegas masuk ke dalam mobilnya tanpa mempedulikan rengekan Rain. Tak lama kendaraannya melaju meninggalkan Rain yang masih terpaku melihat kepergiannya.


Rain menoleh begitu mendengar suara yang begitu dikenalnya. Akhtar berdiri di belakangnya. Sekuat tenaga Akhtar menahan emosinya dan bersikap biasa di depan istrinya walau hatinya panas mendengar percakapan keduanya tadi.


“Ayo pulang.”


Akhtar merangkul bahu Rain lalu membawanya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang ada di antara mereka. Sesekali Rain melirik ke arah suaminya yang masih betah mengatupkan mulutnya.


Sesampainya di rumah, Akhtar mengajak Rain berbicara di kamarnya. Dia sudah tidak bisa menundanya lagi. Rain duduk terdiam di sisi ranjang. Akhtar mendudukkan diri di samping Rain.


“Rain... seorang istri adalah pakaian untuk suaminya, begitu juga sebaliknya. Kita harus bisa menutup aib satu sama lain. Masalah yang terjadi dalam rumah tangga kita juga sebisa mungkin kita selesaikan berdua tanpa melibatkan orang lain. Lalu apa menurutmu pantas kalau setiap yang terjadi pada kita, kamu selalu mengadukannya pada El?”


“Terus aku harus bicara ke siapa mas? Mama? Papa? Ngga mungkin aku ngadu sama mereka, terutama papa karena aku takut dia kembali marah padamu. Mas sendiri selalu menghindar kalau aku ajak bicara, terus salahku di mana? El itu sahabatku sejak kecil, dia juga udah aku anggap seperti pengganti bang Rakan. Jadi ngga masalah kan kalau aku cerita ke dia. Toh selama ini dia selalu ngasih masukan yang baik.”


“El memang sahabat kamu, tapi tetap ada batasan untuk itu. dia juga bukan bang Rakan, dia ngga punya tanggung jawab apa pun padamu. Mas yang bertanggung jawab padamu, karena mas suamimu. Mas akui kalau beberapa hari menghindarimu karena mas ingin menenangkan diri terlebih dulu.


Jujur Rain, hati mas sakit melihat kamu lebih memilih berbicara dengan El dari pada mas. Setiap ada sesuatu selalu Elang yang pertama tahu. Apa mas ngga cukup baik untukmu? Apa mas ngga cukup membuatmu percaya? Apa mas belum bisa menjadi suami yang baik untukmu sampai kamu membutuhkan orang lain untuk berbagi?”


“Bukan begitu maksudku mas. Aku hanya terbiasa bercerita sama El.”


“Kalau begitu hilangkan kebiasaanmu itu. Apa kamu bisa?”


Rain terdiam, hari ini baik Akhtar maupun Elang mengatakan hal yang hampir sama padanya. hatinya pun bimbang, apa bisa dia tidak bergantung pada Elang lagi. Sedari kecil Rain sudah terbiasa bersama Elang, berbagi apa pun dari mulai hal kecil sampai besar.

__ADS_1


“Ayah dan bunda sudah menjodohkan Elang dengan Kia.”


“Kia? Kia.. Azkia maksudnya.”


“Iya. Sebelum dijodohkan pun ternyata Elang dan Azkia sudah dekat. Tapi kebersamaan mereka terganggu karena kamu.”


“Aku? Apa salahku?”


“Malam waktu kamu minta ditemani Elang di rumah. Malam itu malam yang paling menyakitkan untuk Kia. Dia disiksa habis-habisan oleh bapaknya, sampai harus dirawat di rumah sakit. Sehari sesudah itu ibunya meninggal. Dan orang yang paling dibutuhkannya saat itu ngga ada di sampingnya. Karena apa? Karena kamu.


Kamu yang manja minta ditemani Elang sampai ada kabar tentang mas. Apa kamu sadar kalau kamu sudah bersikap egois? Apa kamu tahu bagaimana susahnya Elang mencari Kia yang menghilang entah kemana sejak ibunya meninggal? Bahkan sampai hari ini dia masih belum bisa menemukannya.”


Rain terhenyak, tak menyangka tindakannya malam itu memberikan dampak yang luar biasa pada sahabatnya. Perasaan bersalah menghantam dirinya. Rain mulai terisak, Akhtar menarik Rain dalam pelukannya.


“Berhentilah mengganggu El. Sebentar lagi dia akan menikah. Ada seseorang yang akan menjadi tanggung jawabnya. Elang bukan bang Rakan dan dia ngga punya kewajiban apa-apa padamu. Lepaskan Elang dari janjinya, apa kamu mau sayang?”


Rain mengangguk dengan cepat. Dipeluknya pinggang Akhtar dengan erat. Betapa malunya Rain menyadari dirinya yang masih bersikap kekanakan dan tanpa sadar menyakiti hati suami juga sahabatnya.


“Maafin aku mas. Maaf.”


“Maafin mas juga kalau selama ini belum bisa menjadi suami yang baik untukmu.”


Akhtar mencium puncak kepala sang istri berkali-kali. Pelukan Rain di pinggang Akhtar semakin erat. Airmata masih terus mengalir dari kedua matanya, membasahi kemeja suaminya.


🍁🍁🍁


Azkia terpekur di atas sajadahnya. Lama tak bertemu dengan Elang, namun ketika bertemu kembali pemandangan menyakitkan yang dilihatnya. Kebersamaan Elang dan Rain benar-benar menghancurkan hatinya. Kali ini harapan gadis itu pada Elang benar-benar pupus. Terlebih Poppy mengatakan dua hari lagi akan diadakan pertemuan keluarga untuk membahas pernikahannya.


“Ya Allah hamba pasrah pada ketentuan-Mu. Kalau mas El bukan jodohku, hamba ikhlas. Tolong bantu hamba menghapus perasaan ini untuknya. Dan berikan hamba kekuatan untuk menjalani pernikahan hamba nantinya.”


Azkia membenamkan wajahnya di atas sajadah, tangisnya pecah seketika. Hanya kepada sang maha kuasa dia bisa mengadukan segala kegundahan hatinya. Walau berat dia harus melupakan Elang karena sebentar lagi dia akan menjadi istri seorang Farel.


“Kak Kia..”


Azkia mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Gemma memanggilnya. Selama Firly dan Dimas di rumah sakit, anak itu memang tidur bersamanya. Azkia buru-buru menghapus airmatanya lalu melipat mukena dan sajadahnya kemudian naik ke atas ranjang. Gemma duduk bersila di atas kasur sambil mengucek-ngucek matanya.


“Abang Gemma kenapa bangun? Kangen sama mama ya?”


Anak itu hanya mengangguk, tak lama kemudian dia menguap. Azkia mengusap puncak kepala Gemma.


“Besok mama pulang sama adek Gavin. Sekarang abang Gemma tidur ya. Besok kita bikin kue buat mama, abang mau?”


“Auuu..”


“Sekarang tidur lagi ya.”


Azkia membaringkan tubuh Gemma, lalu dia pun ikut berbaring di sampingnya. Tangan Azkia menepuk-nepuk pelan bokong bocah laki-laki itu. Tak lama mata Gemma kembali terpejam. Azkia mendaratkan ciuman di kening Gemma, kemudian dia ikut menyusul memejamkan matanya.


🍁🍁🍁


**Rain udah terlalu nyaman ya nganggap Elang seperti Rakan, hadeuh...

__ADS_1


Sebentar lagi mas El bakal ketemu neng Az. Kira² gimana ya reaksi keduanya?


Tinggalkan jejaknya dulu ya. Like, comment and vote. In Syaa Allah nanti sore mamake up lagi**.


__ADS_2