
Hari ini terjadi kehebohan di kantor Humanity Corp. Para karyawan terkaget-kaget menerima undangan pernikahan wakil CEO mereka. Elang yang kerap bersikap dingin tak pernah sekalipun terlihat jalan dengan seorang wanita. Kini tanpa terduga, lelaki tampan itu akan mengakhiri masa lajangnya dalam waktu dua hari lagi. Banyak yang penasaran dengan sosok wanita yang akan menjadi istri dari sang putra mahkota.
Karyawan yang pernah bekerja di lantai 11, sudah pasti tahu siapa calon istri Elang. Karena sebelumnya mereka pernah bekerja bersama Azkia saat magang dulu. Tak sedikit dari mereka yang menghubungkan hubungan keduanya dengan pertengkaran Sandra dan Azkia tempo hari. Desas-desus pun menyebar, mereka berspekulasi awal mula hubungan Elang dan Azkia terjadi.
Suasana di EDR penuh dengan pembicaraan para pegawai yang sedang menikmati makan siang. Sebagian besar pembicaraan tentang pernikahan Elang. Seorang pegawai laki-laki dengan langkah gemulai memasuki EDR. Setelah mengambil makanan, dia menuju ke salah satu meja yang dihuni oleh karyawan wanita.
“Hai Endes.. tumben makan di mari,” sambut salah satu rekannya ketika pria itu mendudukkan bokongnya di kursi yang kosong.
“Lagi missqueen gue cin.”
Endes alias Andi mulai menikmati makanannya. Telinganya terbuka lebar mendengar pembicaraan kaum hawa di mejanya. Pembahasan mereka tak lain dan tak bukan adalah tentang Elang dan Azkia. Menurut rumor yang beredar, Azkia menggoda Elang saat magang dahulu. Andi menggebrak meja, membuat semua yang di sana terkejut.
“Ceritanya bukan begitu keles.”
“Sok tau lo. Emang gimana ceritanya sampe pak Elang bisa kepincut sama Kia?”
“Mereka sudah saling kenal sejak lama. Pas Kia masih sekolah. Waktu pak Elang kuliah di London mereka lost contact dan begitu pulang ke mari tanpa sengaja mereka ketemu, so sweet banget kan.”
“Terus gimana?”
“Dari situ mereka mulai deket lagi. Hampir setiap hari pak Elang sempatin waktu buat anterin Kia pulang. Nah waktu Kia magang di sini, dia ngga tahu kalau pak Elang tuh wakil CEO. Pak Elang juga ngga tahu kalau Kia magang di sini. Pas mereka ketemu di lantai 11, BAAM... benih-benih cinta semakin bertambah subur.”
“Ya ampun pak Elang so sweet banget.”
“Jadi bukan Kia yang ngegoda pak Elang. Tapi doi dari awal emang tertarik sama Kia. Lagian siapa sih yang ngga tertarik sama Kia, doi kan cantik bingits. Sebenernya ekkeh cemburu sama dia, tapi ya gimana dong pak Elang lebih milih dia dari pada ekkeh.”
“Ya jelaslah pak Elang milih Kia, dia kan cowok normal. Nah elo, jadi cowok burem, didandanin cewek tambah burem. Mana mau pak Elang sama elo huahahaha...”
Gelak tawa para karyawan wanita itu langsung terdengar. Andi hanya melihat keki ke arah mereka. Pria gemulai itu bangun dari duduknya setelah menyelesaikan makannya lalu menyimpan nampan pada tempat yang disediakan. Andi berjalan keluar dari EDR, tujuannya kini adalah lantai 11.
Andi menghampiri Farel yang sedang berbicara dengan Virza di dekat meeting room. Melihat dua pria tampan di hadapannya, Andi langsung merapihkan penampilannya. Dengan senyum sumringah dia menghampiri keduanya.
“Gimana? Beres?”
“Beres pak. Kalau ekkeh sudah beraksi semua pasti beres.”
“Yakin?”
“Sure. Tadi ekkeh udah sebarin informasi yang bapak bilang. Cukup para biang gosipnya aja yang dikasih tau. Selanjutnya mereka pasti bakal nyebarin ke komunitasnya masing-masing. Percaya pak, Endes gitu loh.”
Andi memang ditugaskan oleh Farel untuk menyebarkan tentang hubungan Elang dan Azkia. Sebelumnya dia sudah memprediksi kalau banyak gosip yang akan beredar tentang pasangan pengantin tersebut. Insiden dengan Sandra sempat menjadi tontonan publik saat itu. Andi tersenyum ke arah Farel seraya mengedip-ngedipkan matanya.
“Kenapa kamu? Cacingan?”
“Iih pak Farel, itu kode... bonusnya mana?”
Farel mengeluarkan amplop dari saku jasnya lalu memberikannya pada Andi. Senyum pria itu mengembang saat menerima amplop tersebut.
“Alhamdulillah nyawa gue ada lagi. Makasih loh pak Farel. Ekkeh mau shoping buat datang di acara nikahan pak Elang. Yah walaupun ekkeh patah hati, satu cowok ganteng di kantor ini sudah punya label, tapi setidaknya masih ada pak Farel. Bapak ngga akan buru-buru nikah kan?”
“Saya mau nikah cepet atau ngga, ngga ada hubungannya sama kamu.”
“Emang bapak ngga tertarik sama saya?”
“Hahaha.. mau ngapain saya sama kamu? Main anggar? Tuh sama Virza aja, kali aja dia tertarik sama cacing kremi kaya kamu.”
“Pak Virza,” panggil Andi dengan suara manja seraya mengedipkan matanya. Virza menatap Andi tanpa ekspresi.
“Bapak kenapa liatin kaya gitu? Berasa mau dimakan ekkeh.”
“Ngga malu sama jakun, kamu?”
Farel terbahak mendengar kalimat singkat Virza namun menusuk kalbu. Dengan santai Virza beranjak pergi meninggalkan Andi yang dongkol sedongkol-dongkolnya mendengar ucapan sekretaris jutek tersebut.
🍁🍁🍁
“Kia.”
Azkia menoleh ketika sebuah suara memanggilnya. Senyumnya terbit ketika melihat Adi berjalan ke arahnya. Lelaki yang dulu sempat melamarnya itu semakin mendekat.
“Gimana kabarnya Kia?”
“Alhamdulillah baik kang. Makasih ya akang mau sempetin waktu datang ke kampus.”
“Kamu kaya ke siapa aja. Lagian aku juga mau setor skripsi yang udah direvisi. Kamu masih ada kuliah?”
“Udah beres kang.”
“Kita ngobrol di kantin aja gimana?”
“Boleh.”
Azkia dan Adi berjalan menuju kantin yang letaknya ada di bagian belakang gedung fakultasnya. Hari ini selain kuliah, Azkia juga membagikan undangan pernikahan untuk teman-teman dan beberapa dosennya. Mereka sampai di kantin lalu mengambil meja di bagian tengah. Keduanya duduk berhadapan.
“Akang gimana kabarnya? Katanya udah nikah ya?”
__ADS_1
“Alhamdulillah baik. Iya Kia, seminggu yang lalu.”
“Istrinya mana? Kok ngga dibawa? Aku kan pengen kenalan.”
“Dia lagi kuliah tapi bukan di sini, di kampus sebelah. Nanti kapan-kapan aku kenalin.”
Azkia mengangguk. Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih. Diletakkannya undangan tersebut di atas meja, tepat di hadapan Adi.
“Aku ngajak ketemu mau kasih ini kang.”
Adi memandangi kartu undangan di depannya. Dia mengulas senyum tipis saat tahu kalau itu adalah kartu undangan pernikahan Azkia dengan Elang. Tak dipungkiri masih tersisa rasa sakit ketika mengetahui akhirnya Azkia bersama dengan seniornya itu.
“Selamat ya Kia. Aku doakan kalian berbahagia selalu.”
“Makasih kang. Selain itu, aku juga mau kembalikan ini.”
Azkia mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Adi. Di dalamnya terdapat uang yang dulu dipinjamnya dari Adi.
“Aku udah bilang kalau uang itu tidak usah dikembalikan.”
“Itu hutang kang, dan harus dibayar. Mas Elang yang memintaku untuk mengembalikannya padamu. Lagi pula sekarang akang sudah menikah, pasti akang akan membutuhkan uang itu. Terima kasih kang, selama ini akang sudah banyak membantuku.”
“Sama-sama Kia.”
Adi memasukkan amplop dan kartu undangan ke dalam tasnya. Di saat yang bersamaan ponselnya berdering. Sang istri mengatakan kalau sudah selesai dengan kuliahnya. Adi menyampirkan tas ke bahunya.
“Aku duluan ya Kia, nyonya udah selesai kuliah.”
“Iya kang. Salam buat istrinya.”
“In Syaa Allah. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia memandangi punggung Adi yang semakin menjauh. Dia membereskan tasnya lalu bersiap pulang. Sebentar lagi Elang akan menjemputnya. Azkia berjalan melewati gedung fakultasnya. Langkahnya terhenti ketika Sandra menghalangi jalannya. Gadis itu bersama dua orang temannya berdiri tepat di depannya.
“Ck.. ck.. ck.. aku pikir setelah menjual diri pada Elang kamu ngga akan kuliah di sini lagi.”
Azkia berusaha mengabaikan perkataan Sandra. Dia meneruskan langkahnya, namun kedua teman Sandra menghalangi jalannya. Sandra menghampiri Azkia, mendorong pelan tubuhnya hingga punggungnya membentur pohon di belakangnya.
“Aku penasaran bagaimana reaksi Elang dan keluarganya kalau mereka tahu seperti apa masa lalu calon menantunya.”
Sandra mengeluarkan ponselnya lalu memutar video saat Fandy melecehkan Azkia. Dihadapkan ponsel tersebut ke arah Azkia. Mata gadis itu membulat.
“Ngga penting aku dapat dari mana. Yang pasti aku membayar mahal untuk video ini. Ternyata dibalik pakaian gombrangmu, body-mu boleh juga ya. Bagaimana kalau aku sebar videomu ini medsos. Kira-kira apa orang tua Elang masih mau menerimamu?”
Azkia maju untuk mengambil ponsel dari tangan Sandra. Namun kedua teman Sandra segera memegangi Azkia hingga gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. Sandra tersenyum licik pada Azkia.
“Hidupmu akan berakhir Kia. Hanya dengan sekali tekan, semua impianmu akan hancur. Kamu akan berakhir seperti sampah.”
Sandra mengalihkan pandangannya ke arah ponsel. Dia bersiap mengupload video Azkia. Saat jempolnya akan menekan tanda ‘send’, sebuah tangan merebut ponsel tersebut. Sandra terkesiap, dia menoleh ke arah orang yang mengambil ponselnya. Elang mengeluarkan kartu sim dan memory card dari ponsel. Dipatahkannya kedua benda tersebut lalu membuangnya ke rerumputan. Setelah itu membanting ponsel Sandra ke tanah, diinjaknya ponsel tersebut hingga hancur. Sandra terpekik melihat semua itu.
“Hp gue!!!”
Melihat kedatangan Elang, kedua teman Sandra segera melepaskan tangan mereka dari Azkia. Mereka beringsut menjauh, melihat tatapan Elang yang begitu tajam membuat nyali mereka menciut.
“Pak Elang keterlaluan!! Saya bisa melaporkan bapak atas perusakan barang pribadi!!”
“Laporkan saja, saya tidak takut. Kalau kamu berani mengganggu Kia lagi, saya tidak akan tinggal diam. Saya akan membuatmu menyesal.”
“Bapak pikir saya takut? Papa saya juga tidak akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi pada saya.”
“Oh ya? Dari pada kamu mengancam saya, lebih baik kamu pikirkan bagaimana menjalani hidupmu setelah hari ini.”
“Apa maksud bapak?”
Tiba-tiba datang seorang teman Sandra menginterupsi ketegangan di antara mereka.
“San, bokap lo ketangkep KPK.”
Sandra terkejut mendengarnya. Temannya itu segera mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah berita yang mengabarkan kalau ayah Sandra terkena OTT KPK di salah satu hotel bintang lima yang ada di Bandung. Sandra terhenyak melihat berita tersebut, serta merta tubuhnya luruh jatuh ke tanah.
“Ayo Az.”
Elang langsung mengajak Azkia untuk pulang. Azkia mengikuti langkah Elang, sesekali dia menengok ke belakang, melihat Sandra yang tengah menangis. Ada perasaan iba menyusup dalam hatinya namun tak bisa berbuat apa-apa.
“Papanya Sandra ketangkep KPK mas?” tanya Azkia begitu mereka berada di dalam mobil.
“Hmm.. dia pantas dihukum karena uang yang dikorupsi adalah bantuan sosial untuk masyarakat yang terkena musibah bencana alam.”
“Jahat banget.”
“Ya begitulah kalau orang ngga pernah puas. Segala cara dihalalkan biar bisa hidup senang. Lihat Sandra, karena diberi makan dari uang yang ngga halal, kelakuannya juga ngga baik.”
__ADS_1
“Makasih ya mas. Udah nolongin aku.”
“Kamu calon istriku. Sudah kewajibanku melindungimu.”
Elang mendekat ke arah Azkia lalu menarik tali seat belt. Mereka beradu pandang ketika Elang menautkan sabuk pengaman tersebut. Jari pemuda itu bergerak menyingkirkan daun kecil yang menyangkut di kerudung Azkia.
“Jangan menggodaku Az.”
“A.. apa? Aku ngga ngegoda mas.”
“Wajahmu itu menggoda, selalu meminta untuk kucium.”
Wajah Azkia memerah mendengarnya. Refleks dia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Elang selalu saja sukses membuatnya tersipu malu. Senyum tipis tersungging di bibir Elang. Dia kembali ke posisi semula lalu mulai menjalankan kendaraannya.
“Sabar El, dua hari lagi,” gumam Elang seraya mengusap dadanya.
🍁🍁🍁
Honda Civic milik Elang berhenti di dekat rumahnya. Elang dan Azkia turun dari mobil kemudian berjalan melewati kendaraan milik Nino dan Adit yang terparkir di depan rumah. Terdengar suara-suara dari dalam rumah ketika mereka masuk ke dalamnya. Di ruang tengah, nampak banyak orang berkumpul. Debby langsung menyambut kedatangan Azkia.
“Anak mama sudah pulang. Sini sayang.”
Debby merangkul Azkia lalu membawanya duduk di dekat Adit dan Hanin. Dia lalu mengeluarkan sebuah dokumen dan memperlihatkannya pada Azkia.
“Lihat sayang, surat pengajuan adopsi Hanin sudah diterima.”
Azkia membaca dokumen di tangannya. Semenjak bertemu dengan Azkia dan Hanin, Debby memang meminta izin Irzal untuk mengadopsi Hanin. Irzal menyerahkan keputusan pada Hanin juga Azkia. Lewat pertimbangan matang, Azkia menerima permintaan Debby.
Sebenarnya Debby juga ingin mengadopsi Azkia, namun usia gadis itu sudah tidak masuk dalam kategori adopsi. Selain itu Irzal juga tak mengijinkannya, dikhawatirkan jika suatu hari ayah kandung Azkia mencari keberadaannya.
“Selamat ya dek,” Azkia memberi selamat pada adiknya.
“Walaupun kamu tidak secara resmi menjadi anak mama. Namun dalam hati mama, kamu juga anak mama. Saat resepsi nanti, mama dan papa yang akan mendampingimu.”
Azkia tersenyum, rasa haru menyeruak dalam hatinya. Tak terasa airmatanya mengalir, Debby mengusap airmata Azkia lalu membawa gadis itu dalam pelukannya.
“Tapi ma, apa bapak setuju?”
“Bapakmu setuju tapi ada syarat yang diajukannya.”
“Apa ma?”
“Dia minta dibebaskan dari semua tuntutan.”
“A.. apa mama mengabulkannya?” ada ketakutan dalam nada suara Azkia.
“Kami terpaksa nak. Tapi kamu jangan khawatir, papa akan menjaga Hanin dari bapakmu itu. Begitu juga kamu,” tukas Adit.
“Kamu jangan takut Kia. Bukan cuma papa Adit, tapi kami semua akan menjagamu juga Hanin. Terutama mertuamu itu. Dia akan mengejar siapapun yang berani mengganggu keluarganya. Dan jangan lupakan calon suamimu. Dia juga tidak lebih menyeramkan dari ayahnya,” timpal Ega.
“Iya, makasih om.”
“No, jangan panggil om. Papi itu adiknya papa Adit, jadi panggil papi, jangan om.”
“Iya pi.”
Gara yang sedari tadi menyimak dari tempat duduknya mulai berdiri lalu berjalan menghampiri Hanin.
“Akhirnya aku punya adik juga.”
Gara melambaikan tangannya ke arah Hanin, memintanya untuk berdiri. Lalu dirangkulnya Hanin. Awalnya gadis itu terkejut tapi kemudian bisa sedikit rileks melihat sikap Gara yang hangat.
“Karena kamu adiknya Kia, jadi Kia juga adik aku. Nah gue bakal jadi abang ipar lo, El. Jadi panggil gue kakak ipar ya.”
“Najis,” desis Elang yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Kia sini, kita berpelukan seperti teletubbies.”
“Berani lo meluk Kia, gue bikin lo ngga bisa jalan!”
“Hahahaha... dasar buciiiinn!!” ledek Gara.
Elang hanya melengos mendengar ejekan Gara. Azkia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Dalam hatinya mengucap syukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik dan menyayangi dirinya juga Hanin.
🍁🍁🍁
**Gara udah bosen hidup kali mau peluk² Azkia😂
Gimana udh pada siap buat Dateng ke nikahannya mas El dan neng Az?
Acara akad nikah jam 4 sore tapi cuma keluarga dekat aja yang hadir. Kalian datang pas resepsi aja, jangan lupa dandan yang cetar😎
Sebelum dandan, tinggalin dulu jejaknya buat mamake..
Like..
__ADS_1
Comment..
Vote**..