Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : EGA & ALEA Selamat Jalan Kekasih


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tahun silih berganti mengiringi perjalanan hidup anak cucu Adam. Semenjak kelahiran Rakan, anggota keluarga besar Ramadhan terus bertambah. Tiga bulan setelah Rakan lahir, Nara melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Sama dengan Firly yang kembali melahirkan anak laki-laki.


Sesuai rencana, Azriel dan Yoshi menikah setelah Azriel menyelesaikan kejuaran piala Thomas. Harapan Yoshi terkabul, Azriel dan kawan-kawan berhasil memboyong pulang piala yang hanya bisa didapat empat tahun sekali ke tanah air. Azriel menikahi Yoshi di hadapan penghulu dengan mas kawin replika piala Thomas yang terbuat dari emas 24 karat.


Tak lama berselang Azkia melahirkan anak kedua. Elang sangat bahagia mendapatkan anak perempuan yang diberi nama Yumna Malika Ramadhan. Firlan dan Azriel sama-sama mendapatkan anak kembar. Firlan kembar sepasang, sedang Azriel kembar perempuan. Sepertinya mulut Ayunda benar-benar manjur. Azriel menyarankan sahabatnya itu alih profesi menjadi ‘orang pintar’.


Farel dan Ara juga sudah dikaruniai anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Wajahnya perpaduan ibu, bapaknya. Setelah Khayra lulus kuliah, Virzha langsung melamarnya. Demikian juga dengan Jayden yang menikahi Meta.


Namun kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Terkadang di tengah senyuman akan datang tangisan. Di tengah kebahagiaan Alea yang mendengar Firly tengah hamil anak keempat, musibah menimpa dirinya.


Mengetahui jenis kelamin anak yang dikandung Filry perempuan, Alea dengan semangat mengajak anaknya itu berbelanja pernak-pernik bayi. Padahal kandungan Firly baru lima bulan. Bersama Hanin dan Yoshi, Alea juga Firly berburu keperluan calon baby. Mereka memilih berbelanja di mall The Ocean.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Di tengah keramaian pengunjung mall, tiba-tiba seorang pria paruh baya mengamuk. Pengunjung dibuat panik karena pria tersebut membawa senjata api. Alea bergegas menghubungi Ega untuk segera mengirimkan anak buahnya untuk melumpuhkan laki-laki tersebut.


Seorang security mencoba menenangkan sang pria. Naas, pria itu bertambah beringas. Dia menembakkan pistol di tangannya dan mengenai paha petugas keamanan tersebut. Semua pengunjung yang ada di lantas dasar berteriak ketakutan. Mata pria itu menatap nyalang ke segala penjuru. Kemudian tanpa terkontrol dia mulai menembakkan senjata apinya ke segala arah.


Suasana kacau seketika. Para pengunjung lari pontang-panting serta bersembunyi dari terjangan peluru. Alea mengajak anak dan menantunya bersembunyi di tempat yang aman. Ternyata pria tersebut melihat pergerakan mereka. langsung saja dia menembakkan pelurunya ke arah empat wanita tersebut.


DOR!!


Firly berteriak ketika melihat tubuh Alea bersimbah darah. Alea menghalangi Firly dari terjangan peluru dengan tubuhnya. Ketika pria itu hendak mengarahkan senjatanya lagi ke pengunjung lain, anak buah Ega datang meringkusnya.


Ega, Adit, Firlan dan Adit berlari menghampiri Alea yang tergeletak di lantai. Firly menangis histeris sambil memangku kepala Alea.


“Mami!! Mami... mami...”


“Ily... ja..ngan me..nangis sa..yang.”


“Al... sayang... lihat aku sayang.”


Ega datang lalu mengambil alih tubuh Alea ke dalam pelukannya. Seketika kemeja yang dikenakannya sudah dibasahi darah Alea. Firlan melepas jasnya kemudian menaruhnya di atas perut Alea yang terkena tembakan. Adit segera menghubungi ambulans klinik mall untuk membawa Alea ke rumah sakit.


Dengan cepat petugas medis mengangkat tubuh Alea ke atas blankar. Ega dan Firlan ikut naik ke atas ambulans. Sedang Gara dan Adit membawa para wanita dengan mobilnya. Di dalam ambulans, petugas medis berusaha menghentikan pendarahan. Peluru mengenai organ vital Alea hingga terus saja mengeluarkan darah.


“Sayang kamu harus bertahan sayang. Kamu harus melihat cucu kita lahir,” Ega terus menyemangati sang istri di sela-sela tangisnya yang mulai pecah.


“Mami yang kuat... aku di sini mami... bertahanlah mam..”

__ADS_1


Firlan menggenggam erat tangan Alea. airmatanya juga sudah mulai jatuh bercucuran. Pandangan Alea semakin buram, dengan sisa-sisa tenaganya dia melepaskan masker oksigen dari hidungnya.


“Bi.. ma..afkan a..ku. I..lan.. maaf..kan ma..mi. Ma.. mi sayang ka..mu, Ily, Ziel, Hanin dan Yo..shi. Bi... a..ku juga sa..ngat men..cintai..mu. Maa..fkan a..ku per..gi le..bih du..lu. To..long bim..bing aa...ku...”


Ega menggelengkan kepalanya, tenggorokannya terasa tercekat. Hanya suara tangis yang keluar dari mulutnya. Demikian juga dengan Firlan, anak sulungnya itu hanya bisa memanggilnya sambil menangis. Salah seorang petugas medis berinisiatif membimbing Alea. Dengan suara terbata, wanita itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Tepat setelah itu tangannya terkulai lemas.


“Mami!!!”


“Al.. Alea!! Jangan tinggalkan aku Al!!”


“Innalillahi wa inna ilaihi rokiun. Maaf pak, ibu Alea sudah tiada.”


“Bohong!!! Kalian bohong!! Cepat berikan kejutan pada jantungnya, cepat!! Sebentar lagi akan sampai di rumah sakit”


Ega mencengkeram kemeja petugas media tersebut, namun pria itu hanya menundukkan kepalanya. Ega memeluk Alea yang telah terbujur kaku sambil tersedu.


Suara sirine ambulans terdengar memasuki area rumah sakit Ibnu Sina. Reyhan menunggu cemas di depan IGD. Setelah mendapat telepon dari Gara, dia langsung menyiapkan ruang operasi untuk Alea.


Ambulans berhenti tepat di depan pintu IGD. Dua orang petugas medis turun lalu menggotong blankar dengan tubuh Alea berada di atasnya. Reyhan terhenyak melihat tubuh Alea yang sudah kaku. Ega dan Firlan yang berjalan di belakangnya hanya bisa menangis. Reyhan segera memeriksa Alea. Tubuhnya terhuyung ke belakang ketika mendapati Alea sudah tak bernyawa.


“Pi.. bang...”


Reyhan memeluk Ega. Lelaki itu menangis tersedu dalam pelukan Reyhan. Namun kemudian tubuhnya merosot, dia tak sadarkan diri. Reyhan dibantu perawat laki-laki membawa Ega masuk ke IGD.


🍁🍁🍁


Suasana pemakaman Alea diiringi isak tangis anak, cucu, sahabat, teman dan para kerabatnya. Tombak beserta keluarga datang untuk memberikan dukungan moril. Andra yang tak percaya dengan kepergian adiknya secara mendadak hanya bisa terpekur di depan pusara Alea. Setelah Andika dan Angga meninggal dunia, hanya Alea yang dimilikinya. Kini adik bungsunya itu telah pergi mendahuluinya.


“Al.. kenapa kamu ninggalin abang sendiri? Kamu janji akan menemani abang sampai abang menutup mata. Sekarang abang harus gimana Al?”


Andra menangis tersedu sambil memegangi pusara sang adik. Nayla menghampiri suaminya lalu memeluknya erat. Kedua anaknya yang ikut juga memeluk sang ayah. Mereka tahu bagaimana rasa sayang ayahnya pada tantenya itu.


Firly yang masih shock datang ke pemakaman menggunakan kursi roda. Airmatanya tak berhenti mengalir. Bahkan ibu hamil itu sempat pingsan beberapa kali. Dimas dengan setia menemani sang istri. Demikian juga dengan Ara, Gemma, Gavin dan Gibran.


“Mami... maafin Ily... Ily sayang mami...”


Dimas berdiri di samping kursi roda Firly lalu memeluknya. Tangis Firly kembali pecah, bahunya bergetar hebat karena tangisnya yang semakin kencang. Dimas segera membawa pergi Firly karena takut istrinya kembali pingsan.

__ADS_1


Usai pemakaman, semua kembali ke rumah. Firlan yang mendapat telepon dari pihak kepolisian bergegas menuju kantor bareskrim tempat pelaku penembakan ditahan. Khawatir dengan keadaan sang sahabat, Elang, Farel dan Gara menemaninya.


Begitu melihat sang pelaku, Firlan langsung kalap. Dia memukuli pria berusia empat puluh lima tahun itu dengan membabi buta. Jika saja Elang, Gara dan Farel tak mencegahnya, mungkin lelaki itu akan mati di tangan Firlan. Petugas polisi segera membawa sang pelaku ke klinik terdekat untuk diobati.


“Tolong tenang pak Firlan. Kami akan pastikan untuk menghukum orang itu.”


“Apa motifnya? Apa motifnya melakukan itu? Apa salah ibuku?!!!”


“Pria itu mengalami gangguan jiwa pak. Tadi pagi pihak rumah sakit jiwa dan dokter yang merawatnya datang dan memberikan keterangan. Pak Jonas kabur saat akan dipindahkan ke rumah sakit lain. Dia stress karena anak dan istrinya meninggal dalam kasus penembakan di Singapura beberapa waktu lalu. Sejak saat itu dia kehilangan kewarasannya. Dia selalu mengamuk jika melintasi mall lalu masuk dan menyakiti para pengunjung yang ditemuinya.”


“Saya tidak peduli dengan kisah hidupnya. Bajingan itu sudah membunuh ibuku!!”


“Sabar pak. Seperti yang saya katakan tadi. Kami akan memberinya hukuman setimpal. Terlepas apakah dia waras atau tidak.”


“Mending kita pulang dulu Lan. Serahin semuanya sama pihak kepolisian,” bujuk Gara.


Awalnya Firlan menolak. Dia bersikeras menunggu Jonas kembali dan ingin menanyainya langsung. Namun Gara, Elang dan Farel terus menenangkan dan membujuknya. Akhirnya Firlan mengikuti saran sahabatnya untuk pulang.


Ega termenung di dalam kamarnya. Matanya memandangi pembaringan yang kerap ditiduri Alea. Dia mengusap ruang kosong di sebelahnya. Biasanya Alea tidur di sana, menemaninya, mengajaknya berbicara sambil memeluk pinggangnya. Airmata Ega mengalir lagi. Dia kembali menangis mengingat belahan jiwa yang telah menemaninya puluhan tahun berpulang secepat ini.


Baru kemarin dia dan Alea merencanakan liburan keluarga. Masih terdengar jelas suara tawa sang istri ketika mengenang perjalanan kisah cinta mereka. Ega mengusap airmata di pipinya. Tangannya meraih figura berisi gambar Alea dan dirinya. Diciumnya wajah Alea yang tengah tersenyum lalu mendekap bingkai foto itu erat.


Selamat jalan sayang, kekasihku, belahan jiwaku. Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku. Menemaniku hingga kita memiliki anak cucu yang cantik dan tampan. Aku akan selalu mendoakanmu, tunggu aku di sana. I love you Al...


🍁🍁🍁


Setelah melalui serangkaian persidangan, pelaku penembakan dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara. Dia di tempatkan di sel khusus penderita gangguan jiwa. Namun baru sebulan ditahan, pria itu didapati sudah mati gantung diri di toilet.


Empat bulan berlalu, perlahan Ega sudah mulai bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian Alea. Berkat bantuan anak, cucu dan para sahabatnya hidup Ega kini sudah mulai berjalan normal. Dia memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mengalihkan kesedihan dan rasa sepi semenjak ditinggal Alea.


Semangat Ega kembali bangkit ketika Firly melahirkan anak keempatnya yang diberi nama Ghea. Wajah Ghea mirip dengan Alea, tak heran Ega begitu menyayanginya. Hampir setiap hari dia meminta Firly membawa Ghea ke rumahnya.


Berkat kehadiran Ghea, hidup Ega kembali berwarna. Dia sudah mulai bisa tersenyum dan tertawa. Tentu saja hal ini membuat anak-anaknya gembira. Semenjak ditinggal Alea, Firlan memutuskan tinggal di rumah bersama Ega. Sedangkan Azriel membeli rumah di kompleks yang sama hanya berbeda blok saja. Kehidupan mereka terus berjalan walau tanpa kehadiran sang mami.


🍁🍁🍁


**Mamake beneran mewek nulis part ini😭

__ADS_1


Selamat jalan Alea.. maaf harus membuatmu pergi secepat ini🤧


Dukungannya ya gaaaeesss mamake mau cari lap dapur dulu, tisunya habis**.


__ADS_2