Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Menikahlah Denganku


__ADS_3

Mas El udah siap ketemu sama calon istrinya



Neng Az udah cantik mau ketemu calon suami



Dimas dan Firly muncul beserta Ara dan Gemma. Ara langsung duduk di samping Hanin. Di belakang mereka Poppy muncul dengan menggandeng seorang gadis. Elang masih menundukkan kepalanya namun tepukan Irzal membuatnya mengangkat kepala.


Elang menatap sang bunda lalu pandangannya beralih pada gadis di samping Poppy. Mata Elang membulat melihatnya. Begitu pula dengan Azkia. Jantung gadis itu serasa lepas dari tempatnya melihat Elang ada di sini. Tiba-tiba lututnya terasa lemas. Hampir saja dia terjatuh kalau Poppy tak segera membantunya.


Elang tak melepaskan pandangannya dari Azkia yang kini sudah duduk berhadapan dengannya. Dia lalu menoleh ke arah Irzal yang masih terlihat tenang. Lalu beralih menatap Farel yang langsung membuang pandangannya ke arah lain. Terjawab sudah kecurigaannya selama ini, mengapa Azkia tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi.


“Yah.. bisa bicara sebentar.”


Elang langsung berdiri dan berjalan menuju taman belakang. Perasaan kesal, marah sekaligus bahagia menghantamnya secara bersamaan. Tak lama Irzal datang menghampirinya.


“Yah.. apa maksud semua ini? Perempuan yang mau dijodohkan denganku itu Kia?”


“Hmm..”


“Jadi orang yang membawa Kia pergi itu ayah?”


“Hmm..”


“Tapi kenapa ayah diam saja waktu aku bilang wanita yang aku pilih adalah Kia.”


“Ayah sengaja melakukannya untuk membuat pikiranmu terbuka. Bagaimana El? Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu cintai? Apa kamu menyesal? Katakan siapa yang kamu cintai saat ini, Rain atau Kia? Kalau kamu belum bisa melepaskan Rain, ayah akan batalkan perjodohan ini.”


“Jangan yah. Aku mencintai Kia. Aku mencintainya yah.”


“Baguslah. Sekarang ayo masuk. Lamarlah gadis itu.”


Irzal merangkul Elang kembali ke ruang tengah. Mata Elang terus melihat ke arah Azkia yang masih saja menunduk. Perasaan gadis itu campur aduk mengetahui kalau ternyata Farel dan Elang bersaudara. Sampai saat ini Azkia masih menyangka Farel yang akan menjadi calon suaminya.


“Kia.. kenalkan ini Elang, anak bunda.”


Suara Poppy menyadarkan lamunan Azkia. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Poppy yang duduk di sampingnya.


“Baik.. karena semua sudah berkumpul, kita mulai saja acaranya,” seru Irzal. Azkia bertambah tegang, tanpa sadar dia meremas tangan Hanin.


“Kia.. seperti yang sudah ayah sampaikan pada almarhumah ibumu. Ayah dan bunda ingin menjadikanmu menantu di keluarga kami. Dan hari ini kami ingin melamarmu secara resmi.”


Dada Azkia berdebar semakin kencang. Rematan tangannya di jari Hanin semakin kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan. Azkia tak sanggup membayangkan reaksi Elang nantinya. Lelaki itu juga sedari tadi tak lepas menatapnya.


“Kia.. apa kamu bersedia menikah dengan anak ayah yang bernama Elang?”


Azkia memejamkan matanya, rasanya tak sanggup menjawab pertanyaan Irzal. Tapi kemudian dirinya tersadar kalau tadi Irzal menyebut nama Elang bukan Farel. Azkia mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Poppy dan Irzal bergantian.


“Kenapa Kia? Kenapa kamu kebingungan seperti itu?”

__ADS_1


Azkia masih terdiam. Dia masih cukup terkejut dengan ini semua. Kemudian dia melihat ke arah Hanin. Adiknya itu hanya tersenyum lalu berbisik di telinganya.


“Selamat ya kak. Impian kakak akan menjadi kenyataan.”


“Kia.. Sebelumnya bunda dan ayah minta maaf. Sebenarnya kami sudah mengetahui hubunganmu dengan Elang. Bukan maksud kami mempermainkanmu. Kami sengaja melakukan ini untuk menyadarkan anak bodoh itu akan perasaannya. Apa kamu mau menerimanya?”


“Tapi mas El tidak mencintaiku. Aku tidak mau hanya menjadi pelariannya saja. Aku ngga mau bunda,” Azkia membenamkan wajahnya di bahu Hanin, sebisa mungkin menahan airmatanya.


“Az.. aku minta maaf sudah menyakitimu waktu itu. Tapi aku mencintaimu Az.. kamu tahu aku sudah seperti orang gila mencarimu ke sana kemari. Aku harus bagaimana meyakinkanmu. Aku mencintaimu.. aku mungkin terlambat menyadari perasaanku tapi aku benar-benar mencintaimu.”


Semua yang berada di ruangan terdiam mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Elang. Firly sampai ternganga dibuatnya. Sahabatnya yang biasanya terlihat dingin dan sering melontarkan kata-kata yang membuat telinga sakit, kini mampu mengungkapkan kata cinta pada seorang gadis di depan semua orang.


“Az.. lihat aku Az..”


Perlahan Azkia mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Elang. Hati pemuda itu tak karuan melihat gadis yang dicintainya berlinang airmata. Ingin rasanya dia menghampirinya, memeluknya, menciumnya untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.


“Jangan menangis Az. Hati ini sakit melihatmu menangis. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Menikahlah denganku Az.”


Firly mencubit lengan Dimas untuk memastikan kalau apa yang dilihat dan didengarnya adalah kenyataan, bukan sekedar mimpi. Dimas meringis mendapat cubitan dari sang istri.


“Kia.. bagaimana nak? Apa kamu bersedia menerima anak bunda yang bodoh itu?”


Azkia memandangi Elang sejenak. Tatapan penuh harap terlihat di matanya. Lalu Azkia menoleh pada Poppy dan menganggukkan kepalanya. Semua yang ada di sana langsung mengucapkan syukur. Senyum mengembang di wajah Elang, Irzal merangkul anaknya. Elang memeluk sang ayah.


“Makasih yah.. terima kasih untuk semuanya.”


Irzal menepuk punggung anaknya pelan. Elang mengusap sudut matanya yang berair. Rasa haru karena Azkia menerima lamarannya menyeruak begitu saja. Farel menghampiri Elang lalu ikut memeluknya.


“Pernikahan kalian akan dilangsungkan seminggu lagi. Mama Sarah dan mama Debby langsung yang akan mengurus pernikahan kalian. Untuk baju pengantin, mami Alea yang akan mengurusnya.”


“Seminggu lagi bun?” tanya Elang.


“Iya, kenapa? Kecepatan? Ya udah kalau kamu belum siap, kita bisa mundurin..”


“Kelamaan bun bukan kecepatan,” sambar Elang.


Farel langsung menoyor kepala adiknya ini. Irzal hanya mengulum senyum saja. Firly menggeleng-gelengkan kepalanya, masih belum percaya kalau yang ada di ruangan ini adalah sahabatnya, Elang si manusia kutub. Ia berbisik di telinga suaminya.


“Mas, itu beneran si El? Dia kesambet setan apaan, kok bisa manis gitu ngomongnya sama Kia. Aku jadi ngiri.”


“Maksudnya mas kurang manis gitu? Mas kurang manis gimana coba? Itu udah kasih kamu dua jagoan. Nah si Elang belum tentu bisa bikin Kia masuk angin.”


Firly mencubit lengan suaminya yang kadang sering melontarkan kata-kata yang nyeleneh bin absurd.


“Kia, kamu mau mas kawin apa nak?”


“Hmm.. seperangkat alat shalat aja bunda.”


“Cuma itu aja?”


“Seperangkat alat shalat sama surat Ar-Rahman.”

__ADS_1


“Gimana mas El, kamu sanggup?”


“In Syaa Allah sanggup. Jangankan surat Ar-Rahman, surat Al-Baqarah juga aku sanggup kalau buat kamu Az.”


“Anjaaayy,” Farel.


“Cih gombal,” Firly.


“Co cweet,” Hanin.


“Dasar bucin,” Ayunda.


“Mas El gelay,” Ara.


Wajah Azkia merona mendengar jawaban Elang sekaligus celetukan yang lain. Irzal menepuk-nepuk punggung anaknya sambil tertawa kecil. Poppy hanya geleng-geleng saja, sikap Elang persis suaminya dulu.


“Ini udah kan acara lamarannya?”


“Emangnya kenapa?”


“Aku mau ajak calon istri jalan-jalan dulu yah.”


“Ya ampun El, kaga sabaran banget sih lo,” sembur Farel.


“Sirik aja lo bang. Makanya cari calon istri sana.”


“Bang Farel ngga bakalan laku mas El. Orang di IG sama FB aku udah di tag calon imam hahahaha,” seru Ara.


“Om, anaknya noh bikin masa depan aku suram aja.”


“Emang pada percaya Ra temen-temen kamu?” Ayunda penasaran juga.


“Iya, langsung pada heboh mereka. Padahal kan aku cuma nge-tag calon imam, bukan calon suami. Mereka ngga tahu aja kalau maksud aku bang Farel itu calon imam shalat berjamaah hahaha.”


“Ya ampun Dim, kenapa Ara jadi ngikutin somplaknya kamu ya,” Poppy menepuk keningnya. Keponakannya ini semakin besar semakin mewarisi sifat Dimas.


Elang menghampiri Azkia lalu mengajaknya pergi. Setelah mendapat izin dari Poppy juga Irzal, Azkia bersedia pergi dengan Elang. Kepergian mereka diiringi sorakan dari Ayunda juga Ara. Azkia malu bukan kepalang, dia menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Elang yang tampak cuek saja.


“El, awas jaga tangan kamu,” seru Irzal.


“Sama bibir juga,” celetuk Dimas.


Elang melihat ke arah om-nya dengan perasaan dongkol. Yang dilihat hanya cengar-cengir saja dengan wajah tanpa dosa. Dia mempercepat langkahnya sebelum kembali menjadi bulan-bulanan.


🍁🍁🍁


**Ya ampun mas El imut banget sih. Yakin mau baca Al-Baqarah buat mas kawin?😂


Gimana kalian suka ngga??


Next episode mulai ya bucinnya mas El.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, comment and vote😘**


__ADS_2