
Elang terus memegangi tangan istrinya. Kening Azkia sudah dipenuhi oleh keringat, kontraksi berulang yang mulai intens membuatnya hampir kehabisan tenaga. Untung saja Deski dan Farel datang cepat, jadi Azkia masih bisa menikmati lotek sebelum pembukaannya bertambah.
“Mas, aku minta maaf ya kalau selama ini ngerepotin mas. Aku minta maaf kalau belum bisa jadi istri yang baik untuk mas, hiks.. hiks..”
“Jangan nangis sayang. Buat mas, kamu adalah istri paling sempurna. Harusnya mas yang minta maaf belum bisa membahagiakanmu,” Elang mengecup punggung tangan istrinya.
“Mas masih ingat kan pembicaraan kita malam itu. Kalau sesuatu terjadi padaku dan mas harus memilih, tolong selamatkan anak kita mas.”
Elang menggeleng cepat. Direngkuhnya tubuh Azkia seraya mendaratkan kecupan bertubi-tubi ke puncak kepala juga kening. Matanya nampak berkaca-kaca, setiap Azkia membahas hal itu, hatinya tak tenang.
“Kamu dan bayi kita akan selamat, kalian berdua harus selamat. In Syaa Allah kalian akan baik-baik aja. Mas membutuhkan kalian berdua. Jangan bicara seperti itu.”
Airmata Elang mengalir, Azkia mengusap pipi suaminya. Kemudian Azkia kembali merasakan sakit di perutnya, tangannya mencengkeram erat tangan Elang. Dokter Cheryl beserta bidan dan dua orang suster menghampiri. Sang bidan memeriksa keadaan Azkia lalu mengangguk pada dokter Cheryl.
“Pembukaan sudah lengkap bu Azkia, kita bersiap ya. Pak Elang terus dampingi ibu.”
Elang mengangguk, diusapnya puncak kepala sang istri. Bibirnya merapalkan doa di dekat telinga Azkia, membuat hati wanita itu sedikit tenang. Dokter Cheryl beserta para asistennya segera bersiap di posisinya masing-masing.
Sementara itu di depan ruang tindakan, sudah banyak yang berkumpul. Poppy memeluk suaminya yang tampak tegang. Ingatan Irzal kembali saat Poppy melahirkan Ayunda dan mengalami pendarahan hebat. Poppy yang mengetahui kecemasan suaminya, mengusap punggungnya dengan lembut.
“In Syaa Allah Kia akan baik-baik aja a. Ada El di sana yang memberinya kekuatan. Kita berdoa saja.”
Irzal tak menjawab ucapan sang istri, hanya mengeratkan pelukannya saja. Ayunda memandangi sang ayah yang nampak cemas.
“Ayah tegang banget ya bang. Kalau aku yang melahirkan apa ayah akan setegang itu juga?”
“Ayah mungkin akan lebih tegang kalau kamu yang melahirkan dek. Makanya kamu harus menikah dengan laki-laki yang baik, yang bisa menjaga kamu dan menemani kamu di masa tersulit,” Farel mengusap puncak kepalanya adiknya penuh kasih sayang.
“Aku pengen punya suami kaya ayah sama mas El.”
“Abang doain dek, aamiin.”
Hanin yang juga nampak cemas hanya berjalan mondar-mandir saja. Gara mendekat lalu merangkulnya. Nara yang juga datang bersama dengan Khayra dan Rena mendelik kesal ke arah lelaki itu. Walaupun tahu Hanin sudah dianggap adik oleh Gara, namun tak menghilangkan rasa cemburu gadis itu melihat sikap Gara padanya.
Satu jam berlalu, akhirnya terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruang tindakan. Semua yang sedang menunggu mengucapkan rasa syukurnya. Elang bertubi-tubi mendaratkan ciuman di wajah istrinya yang nampak kelelahan. Setelah satu jam berjuang, akhirnya Azkia berhasil melahirkan bayi tampan yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih.
“Terima kasih sayang, terima kasih sudah melengkapi hidupku. I love you..”
Suster yang bertugas segera membersihkan tubuh sang bayi kemudian menimbang dan mengukurnya. Setelah selesai dia mendekat pada Elang.
“Berat bayi 3,2 kg dan panjangnya 52 cm. Sekarang diadzani dulu ya pak.”
Suster tersebut menyerahkan bayi mungil di tangannya pada Elang. Dengan tangan bergetar Elang menerima anaknya. Sejenak dipandangi wajah sang anak dalam dekapannya. Kemudian dia mulai melantunkan adzan di telinga kanan anaknya. Elang tak kuasa menahan airmatanya ketika lafadz adzan keluar dari bibirnya. Rasa haru sekaligus bahagia bercampur menjadi satu. Selesai diadzani, suster memberikan sang bayi pada ibunya untuk inisiasi dini.
Pintu ruang tindakan terbuka, muncul Elang dari dalamnya seraya menggendong sang buah hati. Poppy dan Irzal segera menghambur ke arahnya. Mata mereka langsung tertuju pada bayi mungil yang ada dalam gendongan anaknya.
“Ya Allah cucuku, gantengnya a.”
“Kia gimana El?”
__ADS_1
“Alhamdulillah baik yah.”
Seoarng suster keluar seraya mendorong kursi roda yang diduduki Azkia. Ibu muda itu akan dipindahkan ke ruang perawatan. Elang menyerahkan bayinya pada Poppy kemudian mengambil alih kursi roda dari sang suster. Mereka menuju lantai 10, tempat ruang perawatan VVIP berada.
Ruang perawatan VVIP sudah dipenuhi oleh sahabat Irzal maupun Elang yang ingin melihat anggota keluarga terbaru mereka. Rain mengagumi ketampanan anak sahabatnya ini. Dia mulai merengek pada Akhtar untuk bisa memiliki momongan lagi.
“Mas.. aku pengen punya anak lagi. Biar Nanaz punya adik.”
“Iya sayang. Hampir tiap malem kan kita juga usaha,” seloroh Akhtar yang dibalas pukulan sang istri.
“Nama anak lo siapa El?” tanya Gara yang memang selalu kepo urusan nama keponakannya.
“Aslan Virendra Ramadhan.”
“Set dah El. Lo Beneran mau menciptakan generasi ketiga raja hutan ya. Kaga tanggung-tanggung anak lo dikasih nama singa,” yang lain terbahak mendengar celetukan Gara.
“Protes aja lo. Buruan nikah sana!” sewot Elang.
“Ya gue sih mau aja asal calonnya udah siap,” Gara melirik ke arah Nara. Yang dilirik hanya mesem-mesem saja.
“Lo juga Lan, kapan nyusul?”
“Baru juga setengah jam jadi bapak, lo udah bawel aja. Noh Bang Farel aja dulu yang udah lapuk.”
“Sue lo! Mana ada lapuk, gue masih muda bin ganteng gini.”
“Tapi jomblo,” sambar Ara seraya menjulurkan lidahnya ke arah Farel.
“Najis tralala.”
Gelak tawa terdengar memenuhi seisi ruangan. Azkia yang sedari tadi hanya mendengarkan juga tak bisa menahan tawanya. Lalu dia melihat ke arah Deski yang memandangi wajah keponakannya dengan intens.
“Tau ngga? Kamu tuh selama dalam kandungan selalu nyusahin om. Om seneng kamu udah lahir, nanti kita main bola bareng ya,” Deski berbicara dengan bayi mungil yang matanya tengah terpejam itu.
“Nunggu Aslan bisa main bola masih lama Des. Mending kamu nikah dulu aja, kasih papa cucu kedua.”
“Belum ada calon,” jawab Deski enteng.
“Bohong pa. Orang tadi dia udah ketemu belahan jiwanya,” celetuk Farel.
“Oh ya siapa?”
“Itu tukang lotek yang umurnya udah 51 tahun tapi masih perawan huahahaha...”
Wajah Deski memerah, dengan kesal dia menatap ke arah Farel. Ingin rasanya dia menyumbat mulut ember Farel dengan kue balok satu loyang. Gara yang kepo mulai bertanya tentang tukang lotek fenomenal itu. Azkia terkikik geli, permintaan anehnya ternyata sudah membuat sang kakak kewalahan.
🍁🍁🍁
Firlan melintas di depan rumah Irzal ketika Ayunda sedang mengeluarkan motor matic yang biasa dipakai Neni untuk belanja ke pasar. Tanpa disadari kakinya melangkah mendekati gadis itu.
__ADS_1
“Mau kemana Yun?”
“Mau ke More & Most. Busui pengen makan yang manis-manis katanya. Biasa deh dapet tugas dari bapak negara beliin kue.”
“Padahal pengen yang manis-manis itu gampang loh. Ngga harus makan kue juga.”
“Gimana?”
“Makan kerupuk sambil lihatin kamu pasti kerasa manis.”
“Dih gombal,” Firlan dan Ayunda tergelak bersamaan.
“Ayo abang anter aja.”
“Beneran?”
“Iya, tunggu sini. Abang ambil mobil dulu.”
Firlan bergegas menuju rumahnya untuk mengambil mobil. Tak lama BMW sport miliknya sudah berhenti di depan rumah Irzal. Ayunda bergegas naik ke mobil. Kendaraannya melaju menuju cabang More & Most yang ada di daerah Dago.
Saat Ayunda sedang menunggu pesanan, beberapa lelaki yang ada di sana memandangnya tanpa berkedip. Wajah Ayunda yang memang cantik, ditambah dengan kulit putih dan tubuh langsingnya memang selalu mencuri perhatian para pria. Firlan yang menyadari tatapan lapar para lelaki itu, segera berbalik lalu menatap mereka dengan tajam. Menyadari ada herder yang menjaga gadis itu, para lelaki mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tiba-tiba ponsel Firlan berdering, tertera nama Salsa di sana. Cepat-cepat Firlan menjawab panggilan. Untuk beberapa saat Firlan nampak anteng berbicara dengan kekasihnya itu, sesekali senyumnya mengembang.
Ayunda memperhatikan gerak-gerik Firlan dengan seksama. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Rasa marah seketika menguasai hatinya, gadis itu cemburu. Terlebih ketika mendengar Firlan akan menjemputnya. Raut wajah Ayunda yang tadi ceria kini sudah tertekuk.
“Udah selesai Yun?” Firlan melihat bungkusan di tangan Ayunda.
“Iya bang.”
“Ayo kita pulang.”
“Abang mau jemput kak Salsa kan? Aku pulang sendiri aja.”
Ayunda bergegas keluar dari cafe. Mendadak dia kesal sekali pada Firlan. Bergegas Firlan menyusul gadis itu.
“Nanti jemputnya abis anterin kamu pulang. Atau kita bisa mampir ke rumah Salsa bentar. Kamu kan perginya sama abang, masa pulangnya sendiri.”
Oh tidak, mana tahan Ayunda melihat Firlan dan Salsa berduaan di depan matanya. Dia akan menjadi kambing congek nantinya. Saat otak Ayunda berputar untuk menolak usulan Firlan. Sudut matanya melihat Reyhan melintas dengan motornya. Dengan cepat dia memanggil Reyhan.
“Kak Rey!”
🍁🍁🍁
**Selamet ya mas El dan neng Az udah lahir anaknya. Bapaknya Elang, anaknya singa, hehehe..
Nah loh Yunda udah mulai ada rasa sama Ilan tuh, terus nasibnya mas Rey gimana ya?
Ternyata part mas El masih ada satu bab lagi gaaaeesss.. tapi mamake usahakan up lagi hari ini buat namatin season 3. Biar besok langsung lanjut season 4 ya.
__ADS_1
Tapi jangan lupa like, comment n vote nya. Jangan males tinggalin jejaknya, mamake sedih yang baca banyak tapi yang mau tinggalin jejak dikit banget. At least hargai kami² yang sudah bersusah payah nulis. Masa sih goyangin jempol buat kasih like susah banget. Buat yang selalu like, comment and vote, mamake ucapkan terima kasih buat dukungan kalian semua. Tanpa dukungan kalian, apalah artinya diriku ini😉**