Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Reuni


__ADS_3

Kesibukan terlihat di aula gedung fakultas ekonomi universitas Tunas Mandiri. Malam ini akan diadakan acara temu kangen alumni 5 angkatan. Semua panitia tampak sibuk mempersiapkan acara yang akan digelar setengah jam lagi. Azkia yang didapuk sebagai seksi acara mengecek semua persiapan. Adi, sang ketua panitia menghampiri Azkia.


“Kia, gimana semua persiapannya udah selesai.”


“Udah kang. Tapi tadi teh Windi bilang kalau sambutan dari perwakilan alumni diganti ya? Diganti sama siapa kang?”


“Diganti sama Elang Ramadhan. Dia alumni terbaik di fakultas kita, dia dapet dua gelar sekaligus, sarjana ekonomi sama sarjana teknik.”


“Elang? Mungkinkah?” gumam Azkia pelan.


“Kenapa Kia?”


“Ngga... ya udah aku kasih tau MC nya dulu kang.”


Azkia berjalan menuju sisi panggung. Seorang penyiar radio terkenal di kota Bandung ditunjuk sebagai MC acara ini. Azkia memberitahukan tentang perubahan orang yang akan memberikan sambutan. Pria yang gayanya lemah gemulai ini hanya mengangguk-angguk saja tanda mengerti.


Aula sudah mulai dipenuhi oleh para alumni. Hampir sepertiga kursi yang disediakan sudah terisi. Acara dibuka dengan sambutan dari pak Budi, Dekan Fakultas ekonomi. Tak banyak yang beliau sampaikan, hanya ucapan selamat pada para alumni yang kini telah berkecimpung di dunia nyata.


Setelah pak Budi turun dari mimbar, kini sang pembawa acara memanggil Elang untuk memberikan sambutan sebagai perwakilan dari para alumni. Semua mata langsung tertuju pada pemuda yang mengenakan kemeja lengan pendek hitam, dipadu dengan celana chino berwarna cream. Lekuk tubuh Elang terlihat jelas dari kemeja body fit yang dikenakannya. Dengan santai dia berjalan menuju mimbar.


Mata Azkia tak lepas memandang sosok di depan sana yang tengah mengucapkan sambutannya. Tak lupa dia menyelipkan kata-kata penyemangat untuk para juniornya yang masih berjuang di bangku. Hanya sambutan singkat yang diberikan Elang, karena tak ada persiapan sama sekali. Walau begitu Elang tetap mampu menghipnotis semua yang hadir, terutama kaum hawa.


Beberapa mahasiswi yang berdiri di dekat Azkia sedari tadi tak henti mengungkapkan kekagumannya akan sosok Elang. Azkia tersenyum samar, mendadak dia merasa kecil di hadapan Elang. Lelaki itu nampak begitu sempurna, sedang dirinya jauh dari kata sempurna bahkan noda hitam melekat dalam dirinya. Masa lalu memalukan nan menyakitkan masih tercetak jelas dalam ingatannya.


Lamunan Azkia terhenti ketika Adi menghampirinya. Adi adalah senior di jurusannya. Dia aktif di berbagai organisasi, bahkan kini dia menjabat sebagai ketua DKM fakultas ekonomi. Adi juga yang banyak membantu Azkia lepas dari traumanya. Memperkenalkannya pada teman-teman yang membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik. Azkia kerap mengikuti kajian keagamaan yang diikuti oleh Adi.


“Kia, ini acaranya sampe malem. Nanti kamu pulang sama siapa?”


“Bareng teh Windi kang. Teh Windi bawa kendaraan katanya.”


“Oh syukur deh. Selamet ya, acaranya sukses nih kayanya. Alhamdulillah banyak juga alumni yang ikutan donasi buat acara kemanusiaan kita nanti.”


“Iya alhamdulillah ya kang, ternyata mereka antusias sekali nyumbang.”


“Kamu tahu ngga siapa penyumbang terbesar?”


“Siapa?”


“Elang sama Firlan.”


“Oh ya?”


“Hmm... wajar sih, Elang kan anaknya pemilik...”

__ADS_1


Kata-kata Adi terputus ketika salah satu panitia memanggilnya untuk menemui pak Budi. Adi bergegas menghampiri dekan fakultasnya yang tampaknya akan segera meninggalkan acara. Azkia memilih untuk mengambil makanan, karena sedari siang perutnya belum terisi apapun.


Saat di tempat prasmanan dia berpapasan dengan Elang. Sejenak pemuda itu terpaku melihat Azkia ada di hadapannya. Begitu pula dengan Azkia, tanpa permisi jantungnya langsung bertalu-talu dengan tidak sopannya.


“Kak El.”


“Azkia.”


Mereka memanggil nama satu sama lain secara bersamaan, setelah itu senyum terpancar dari keduanya. Azkia mempersilahkan Elang untuk mengambil hidangan. Elang mengambil piring lalu memberikannya pada Azkia.


“Ladies first.”


Azkia mengambil piring dari tangan Elang namun pandangannya menunduk. Malu rasanya bersitatap dengan lelaki tampan itu. Terlebih dia merasakan pipinya mulai menghangat, bisa jadi wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Saat ini Azkia berada dalam kondisi geer tingkat tinggi.


Saat sedang mengambil makanan, seorang mahasiswi yang tingkatannya di bawah Azkia mendekat. Dengan santai dia menyela di antara Azkia dan Elang, membuat tubuh gadis itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


“Kak Elang foto bareng ya,” ucapnya dengan nada manja.


“Maaf, minta foto sama yang lain aja.”


Elang tak mempedulikan gadis itu, dia meneruskan kegiatannya menyendokkan lauk ke dalam piringnya. Tapi gadis itu tak menyerah, dia menoleh ke arah Azkia lalu menyerahkan ponselnya.


“Kak tolong fotoin aku sama kak Elang ya.”


“Kak, kasihan lo anak tadi. Kayanya dia pengen banget foto bareng kakak.”


“Aku bukan artis, ngapain juga ngajak foto bareng.”


Azkia tertawa pelan menampakkan deretan giginya yang putih. Elang berusaha menahan diri melihat wajah cantik itu. Matanya tertuju pada piring di tangannya namun sesekali sudut matanya melirik ke arah Azkia. Saat sedang tenang menikmati hidangan, datanglah sang pengacau.


“Woi kampret gue cariin dari tadi taunya mojok di mari,” sembur Gara. Elang tak mempedulikan sahabatnya itu, dia terus mengunyah makanannya.


“Eh ada cewek cantik. Kenalan dong.”


Azkia langsung terbatuk, Elang melotot ke arah Gara yang hanya dibalas dengan gendikan bahunya. Disodorkan air mineral kemasan pada gadis itu. Azkia meneguk air tersebut sampai habis setengah. Bukannya pergi, Gara malah duduk di samping Azkia. Seketika Azkia menjadi panik, refleks dia mengangkat tubuhnya dari kursi lalu pergi meninggalkan Elang dan Gara.


“Lo ngapain sih di sini.”


“Dih suka-suka gue mau nemplok di mana aja. Kan gue juga alumni yang dinantikan kehadirannya.”


Elang mendengus kesal. Sungguh saat ini ingin rasanya dia menendang bokong Gara hingga terbang ke planet Saturnus. Elang memperhatikan Azkia yang tak meneruskan makannya. Gadis itu tampak terdiam di dekat panggung.


Azkia mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Gara yang tiba-tiba duduk di dekatnya telah memicu serangan paniknya. Azkia memang tidak begitu nyaman berada dekat dengan laki-laki asing. Satu yang tak dimengertinya, mengapa setiap berdekatan dengan Elang ketakutan itu seolah hilang, berganti dengan perasaan aman dan nyaman.

__ADS_1


“Kia..”


Belum hilang debaran di jantungnya, kini panggilan Adi kembali mengejutkannya. Lelaki itu mendekati Azkia yang masih nampak terkejut.


“Kamu kenapa?”


“Ngga apa-apa kang, cuma kaget aja.”


Interaksi antara Azkia dan Adi tak luput dari pengamatan Elang. Tiba-tiba saja perasaan Elang jadi tak karuan melihat kedekatan Azkia dengan Adi. Tanpa sadar tangannya mengepal kencang hingga buku-bukunya terlihat memutih.


Azkia yang tak sadar tengah diperhatikan Elang, terus saja berbincang dengan Adi. Mereka membicarakan tentang pelaksanaan acara kemanusiaan yang rencananya akan diadakan setelah ujian akhir semester. Tiba-tiba ponsel Azkia berbunyi, tertera di layar ponselnya, sang adik yang menghubunginya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, kak,” nada suara Hanin terdengar panik.


“Ada apa Han?”


“Bapak kak. Bapak sudah keluar dari penjara dan sekarang ada di rumah.”


DEG


Jantung Azkia serasa diremas mendengar sang ayah yang telah kembali usai menjalani hukuman akibat penipuan yang dilakukannya. Wajahnya pucat, nafasnya mulai tak teratur. Bayangan sang ayah yang kerap bersikap kasar bahkan pernah beberapa kali mencoba menjualnya langsung terbayang di pelupuk mata.


“Kak.”


“I.. iya Han.”


“Ibu kak.”


“Ibu kenapa?”


“Ibu dipukuli bapak karena ngga mau kasih uang.”


Ponsel yang dipegang Azkia hampir saja terlepas. Pikirannya langsung berhamburan kemana-mana. Mendengar sang ibu yang sedang sakit mendapat perlakuan kasar dari ayahnya tak ayal membuatnya cemas. Dengan cepat Azkia berlari keluar ruangan. Adi yang sedari tadi memperhatikan langsung mengejarnya.


Elang langsung berdiri begitu melihat Azkia berlari keluar dengan wajah paniknya. Tanpa dikomando, kakinya bergerak mengikuti arah yang dituju oleh Azkia. Elang terus berlari keluar dari gedung fakultas. Tetapi sesampainya di luar dia kehilangan jejak Azkia juga Adi. Elang berputar-putar sebentar tapi tak juga menemukan dua makhluk itu. Dengan kesal ditendangnya batu kecil yang ada di dekatnya.


🍁🍁🍁


**Jiaaahhh mas El mulai jealous nih. Ayo buruan mas jangan sampe disambar orang lagi.


Pagi readers kecehku... kemarin mamake cuma bisa up 1 bab, mdh²an hari ini bisa up 2 bab. Tapi... mamake juga minta jangan pelit² buat tinggalin jejak kalian. Like, comment and vote nya kalau masih belum terpakai.

__ADS_1


Love you all😍**


__ADS_2