Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Perbincangan Hangat


__ADS_3

“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, kamu lagi di mana Han?”


“Di rumah kak.”


“Hmm.. kakak lagi di jalan mau pulang. Kira-kira ibu mau dibawain apa ya?”


“Kan kakak tau kalau dari kemarin ibu pengen makan anggur hijau sama triple chocolate cake yang dari More & Most Coffie itu. tumben banget ya kak, ibu pengen makan yang mahal-mahal. Lidahnya keset kali makan jajanan warung yang seribuan,” Hanin terkekeh. Azkia berdehem untuk mengusir rasa malunya. Rasanya ingin sekali dia melakban mulut adiknya yang tanpa filter.


“Ya udah ini kakak lagi di jalan.”


“Eh kak, aku ijin mau ke rumah Dinda ya.”


“Jangan lama-lama.”


“Iya, sebelum isya udah pulang kok. Dah kakak, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Azkia mengakhiri panggilannya. Sudut matanya melirik ke arah Elang yang terus saja menatap lurus ke depan. Elang mengarahkan kendaraannya menuju supermarket yang khusus menjual buah-buahan. Setelah memarkir mobil, dia mengajak Azkia turun.


Mata Azkia membulat melihat harga yang tertera. Maklum saja, kualitas buah yang dijual di supermarket ini adalah grade A. Elang langsung mengambil anggur hijau, memasukkannya ke dalam keranjang. Lalu mengambil jeruk, buah naga dan mangga. Di kasir Elang meminta semua buah-buahan dimasukkan dalam dua kantung. Satu untuk Azkia dan satu untuk dibawa pulang.


Selesai membeli buah, kini tujuannya adalah More & Most Coffie. Suasana cafe di malam ini cukup ramai. Bisnis yang dirintis sang ayah masih tetap eksis hingga saat ini. Elang berjalan menuju etalase yang memajang aneka cake.


“Malam kak, mau pesan apa?”


“Minta triple chocolate cake-nya ya.”


“Berapa slice kak?”


“Satu loyang ada?”


“Paling tunggu sekitar dua puluh menit, ngga apa-apa kak?”


“Ya. Sekalian saya pesan hot chocolate sama vanila latte satu.”


“Baik kak.”


Pelayan tersebut segera menyiapkan pesanan. Elang dan Azkia memutuskan untuk menunggu di meja yang tak jauh dari meja kasir. Tak lama pelayan datang membawakan minuman pesanannya.


“Kerjaan di Kuningan udah selesai mas?”


“Belum.”


“Berarti mas ke Kuningan lagi?”


“Ngga. Ada kakak yang beresin kerjaan di sana.”


“Kamu kapan mulai magang?”


“Senin depan mas.”


“Kerjaan di mini market gimana?”


“Cuma week end aja. Tapi aku tetap diminta ngurus masalah keuangan. Paling waktu sempetin mampir ke sana pulang magang.”


“Ngga usah tiap hari. Kan mereka bisa kirim laporan via e-mail. Jangan terlalu cape, nanti kamu sakit lagi.”


Azkia tersenyum, senang rasanya diperhatikan seperti itu. Pesanan cake sudah selesai. Mereka segera menghabiskan minuman lalu beranjak pergi.


Elang memarkirkan kendaraannya di lapangan yang dijadikan tempat penyimpanan mobil warga sekitar. Dia ingin mengunjungi ibu Azkia.


“Assalamu’alaikum.”


Azkia membuka pintu rumah yang tak terkunci. Suasana di dalam rumah tampak sepi. Tak lama Daniar keluar dari dalam kamar. Dia terkejut karena anaknya tidak pulang sendiri. Melainkan ada pemuda tampan yang menemaninya.


“Eh ada tamu.”


“Kenalin bu, ini mas Elang.”


Elang maju mendekat lalu meraih tangan Daniar dan mencium punggung tangannya. Daniar mempersilahkan Elang untuk duduk. Dari pandangan sekilas, wanita paruh baya itu tahu kalau anaknya menaruh hati pada pemuda di hadapannya.


“Nak Elang teman kuliahnya Kia?”


“Bukan bu. Mas Elang itu alumni di kampus Kia. Oh iya, ini oleh-oleh dari mas Elang.”

__ADS_1


Azkia mendorong plastik berisi buah dan dus kue ke dekat Daniar. Mata Daniar berbinar melihat kue yang sangat diinginkannya.


“Terima kasih ya nak Elang.”


“Sama-sama bu. Kata Azkia ibu sedang sakit. Ibu sakit apa?”


“Asma dan lambung. Ibu udah ngga boleh banyak gerak, karena kondisi lambung yang sudah kronis ngga memungkinkan ibu untuk bekerja. Semua pekerjaan rumah, Azkia dan adiknya yang mengerjakan.”


“Sudah berobat ke dokter bu?”


“Sudah sering nak. Tapi ibu bosan harus selalu minum obat kimia. Sekarang ibu rutin minum obat tradisional aja, kunyit sama madu. Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai membaik.”


“Syukurlah bu. Tapi tetap harus periksa ke dokter bu, supaya tahu perkembangan lambung ibu bagaimana.”


Daniar tersenyum getir, biaya untuk memeriksakan dirinya ke dokter tidaklah sedikit. Ada serangkaian tes yang harus dilakukannya. Tak mungkin dia membebani anaknya lagi.


Menjelang maghrib, Elang pamit pulang. Tubuhnya cukup letih setelah berkendara ratusan kilometer. Azkia mengantarnya sampai ke depan teras. Dia masuk ke dalam ketika tubuh Elang sudah tak terlihat lagi. Daniar memintanya duduk di sampingnya.


“Jadi karena dia kamu menolak lamaran Adi?”


“Ng.. ngga bu.”


Daniar tersenyum, sebagai seorang ibu yang merawat anaknya sejak kecil, dia tahu persis bagaimana Azkia. Cara gadis itu menatap Elang sudah menunjukkan perasaan yang dimilikinya. Dirangkulnya bahu Azkia.


“Kamu ngga bisa bohong Kia. Ibu tahu persis siapa kamu. Ibu doakan kamu akan mendapatkan jodoh yang baik, yang kamu cintai dan mencintaimu, yang bertanggung jawab serta mampu melindungimu. Sepertinya Elang anak yang baik dan bisa menjadi imam bagimu.”


“Tapi aku belum yakin dengan perasaannya bu. Bisa jadi dia baik padaku karena kasihan, bukan cinta.”


“Berdoa saja nak. Ibu percaya penderitaan yang kamu alami akan digantikan dengan kebahagiaan yang berlimpah karena Allah Maha Adil.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Percakapan Daniar dan Azkia terhenti ketika Hanin datang. Setelah mencium punggung tangan ibu dan kakaknya, gadis itu duduk di samping sang kakak.


“Wah kakak abis dapat bonus ya, belanjaannya banyak gini.”


“Bukan, itu mas Elang yang belikan.”


“Kak Elang? Tadi dia ke sini?”


“Yah padahal Hanin pengen ketemu juga sama si malaikat penyelamat itu. Gimana bu, ganteng ngga?”


“Banget.”


“Ah ciee bentar lagi Hanin bakalan punya kakak ipar nih. Kakak ngga punya fotonya apa? Aku kan penisirin.”


“Ngga usah kepo. Kepo itu ngga baik buat kesehatan.”


Hanin hanya mencebikkan bibirnya ke arah sang kakak. Azkia memilih masuk ke dalam kamar sebelum mulut comel adiknya kembali berkicau. Dia menyandarkan tubuhnya ke pintu setelah di dalam kamar. Dipegang kedua pipinya yang memanas, membayangkan sikap manis Elang membuat dadanya kembali berdebar tak karuan. Dalam sudut hatinya berharap ini semua bukanlah mimpi.


🍁🍁🍁


Selepas makan malam Irzal meminta Elang ke ruang kerjanya. Elang sudah bisa memprediksi apa yang akan sang ayah katakan padanya. Sekitar sepuluh menit pemuda itu masih duduk terdiam di ruang kerja Irzal. Ayahnya itu masih berkutat dengan beberapa dokumen yang harus dipelajarinya.


Selesai dengan pekerjaannya, Irzal beranjak dari kursi kerjanya lalu duduk berhadapan dengan Elang. Ditatapnya wajah Elang sejenak, dia cukup terkejut mendengar Elang pulang lebih cepat di saat pekerjaan di sana belum rampung sepenuhnya.


“El, ada yang ingin kamu jelaskan pada ayah?”


“Soal apa yah?”


“Kenapa kamu pulang lebih cepat? Bagaimana bisa kamu meninggalkan pekerjaan yang belum selesai begitu saja?”


“Maaf yah, aku memang ada sedikit urusan jadi aku minta bang Farel untuk menangani sisanya.”


“El, kamu adalah pemimpin proyek itu. Harusnya kamu memberikan contoh pada karyawan lain. Bagaimana tanggapan mereka jika melihat pemimpinnya pergi begitu saja di tengah pekerjaan? Hal apa yang begitu penting sampai kamu melupakan kewajibanmu?”


“Maaf yah, aku ngga akan mengulanginya lagi.”


“Ayah tahu kalau sudah membebanimu dengan tanggung jawab yang besar di saat usiamu masih muda. Ayah hanya ingin kamu mulai terbiasa dengan semua ini. Karena pada saatnya nanti, kamulah yang akan memikul semua tanggung jawab di perusahaan. Ada ratusan pegawai yang nasibnya bergantung padamu, dan itu bukan sesuatu yang mudah. Jangan sampai dirimu teralihkan oleh hal-hal yang tidak penting. Kamu harus bisa memilih apa yang menjadi prioritasmu.”


“Iya yah.”


“Ayah harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.”


Irzal menghentikan ceramahnya yang durasinya tidak lebih dari sepuluh menit. Elang pun cukup bernafas lega karena sang ayah tidak memperpanjang hal tersebut. Suasana hening sejenak, Irzal baru saja mendapatkan pesan dari Andri tentang hasil pertemuan asistennya tadi. Dia lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Rain?”


“Ada apa dengan Rain?”


“Apa kamu masih memikirkannya?”


Elang terdiam beberapa saat. Sejak bertemu lagi dengan Azkia dan mengenalnya lebih jauh, dirinya tak pernah lagi memikirkan tentang Rain. Hatinya jadi bertanya-tanya apakah dia sudah sepenuhnya melepas perasaan pada sahabatnya itu.


“El..”


“Ngga tahu juga yah. Yang pasti aku sudah tidak terlalu memikirkannya.”


“Syukurlah, ayah hanya tidak mau kamu terlau berlarut-larut dengan perasaanmu itu. Masih banyak perempuan lain di luar sana. Kamu hanya perlu membuka mata dan hatimu saja.”


“Ayah sendiri, bagaimana hubungan ayah dengan bunda dulu?”


“Ayah sudah cerita kalau ayah dan bunda dijodohkan.”


“Aku tahu, tapi bagaimana proses sampai akhirnya kalian saling menerima dan mencintai. Bukankah pada awalnya kalian menolak perjodohan?”


Irzal tak langsung menjawab. Otaknya berusaha memutar ulang kenangannya bersama sang istri saat pertama kali menikah. Senyum tipis mengembang ketika mengenang tingkah mereka yang cukup konyol saat itu.


“Ayah baru sadar kalau bundamu adalah bagian hidup ayah ketika dia marah dan tidur di rumah nenek Dewi. Saat itu ayah merasa kesepian, ayah yang terbiasa tidur dengannya tidak bisa tidur nyenyak. Ayah sendiri tidak tahu sejak kapan tepatnya perasaan itu hadir. Mungkin karena kita sama-sama egois dan gengsi hingga tak menyadari kalau sudah saling mencintai.”


“Waktu ayah sadar sudah jatuh cinta pada bunda, apa yang ayah rasakan?”


“Yang pasti ayah takut kehilangannya. Hati ayah sakit setiap melihat bundamu menangis, ayah hanya ingin melihatnya tersenyum bahagia. Memiliki bundamu adalah anugerah terindah dalam hidup ayah. Dia adalah wanita yang kuat dan mandiri, itulah awal mula kekaguman ayah pada bunda. Dia bekerja keras membiayai om Dimas dan nenek Dewi, baginya kebahagiaan mereka adalah yang terpenting.”


Mendengar cerita tentang Poppy mengingatkan Elang akan sosok Azkia. Gadis itu pun bekerja keras untuk ibu dan adiknya. Melihat anaknya tampak melamun, Irzal menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi dengannya.


“Apa kamu bertemu dengan seorang gadis yang menarik perhatianmu?”


“Iya yah.. tapi aku juga belum yakin dengan perasaanku. Apa bentuk perasaanku padanya, aku masih belum tahu. Apakah cinta atau kekaguman semata.”


“Tanyakan pada dirimu sendiri apakah kamu sanggup jika berjauhan dengannya? Apa kamu rela melihatnya bersama lelaki lain? Bagaimana perasaanmu ketika melihatnya bersedih atau menangis?”


Elang kembali termenung, saat ini dirinya masih belum bisa menjawab semua pertanyaan itu. Dia juga takut akan kembali goyah jika bertemu dengan Rain. Jujur saja, sahabatnya itu masih menempati sudut hatinya sampai saat ini.


“Lain kali ajak dia bertemu ayah.”


“Eh ehm.. apa yah?” ucapan Irzal membuyarkan lamunan Elang.


“Istirahatlah, sepertinya kamu lelah sekali.”


Irzal kembali menuju meja kerjanya. Elang beranjak dari duduknya. Tubuhnya memang minta untuk diistirahatkan. Saat akan menaiki tangga, sudut matanya menangkap sang bunda yang berjalan menuju ruang tengah. Elang pun memilih untuk menghampiri sang bunda.


“Bunda...”


Poppy terjengit ketika Elang datang dan langsung memeluknya. Namun tak ayal tangannya memeluk punggung sang anak. Untuk beberapa saat Elang masih bermanja di pelukan sang bunda. Poppy mengurai pelukannya lalu mengajak Elang duduk di sofa. Bukannya duduk, Elang malah tiduran dengan kepala berada di pangkuan Poppy.


“Kamu kenapa hmm? Tumben banget manja.”


“Bun.. waktu dulu bunda pernah ngerasa cape ngga pas jadi tulang punggung keluarga. Sebelum nikah sama ayah.”


“Bohong kalau bunda bilang ngga. Tapi karena waktu itu bunda melakukannya untuk orang yang bunda sayangi, setelah melihat senyum bahagia mereka, rasa lelah bunda menghilang. Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?”


“Ada seseorang yang mirip dengan bunda. Dia kuliah sambil bekerja untuk membiayai sekolah adiknya dan ibunya yang sakit.”


“Apa dia perempuan?”


Elang mengangguk. Poppy tersenyum, sepertinya pikiran sang anak sudah mulai teralihkan dari Rain. Diusapnya puncak kepala Elang.


“Berarti dia adalah perempuan yang luar biasa. Mengorbankan waktu mudanya demi memenuhi kebutuhan keluarga bukanlah hal yang mudah. Banyak perempuan jaman sekarang yang memilih jalan mudah untuk keluar dari kesulitan hidup, tapi tidak dengan temanmu itu. Bunda berharap kelak kamu akan memiliki pendamping seperti itu.”


“Kenapa bun?”


“Karena dibalik lelaki tangguh, ada perempuan kuat di belakangnya. Seperti bundamu ini.”


Suara Irzal menyela pembicaraan ibu dan anak itu. Dia duduk di sisi Poppy seraya mendaratkan kecupan di pipi. Elang memutar kedua bola matanya, dirinya hanya dianggap pengharum ruangan saja kalau sudah begini.


“Siapa perempuan itu El? Coba kenalin ke bunda.”


“Apa dia perempuan yang sama yang kita bicarakan tadi?” sambung Irzal.


Elang bergegas bangun, rentetan pertanyaan ayah bundanya sudah menjurus ke arah yang berbahaya. Dengan cepat dia melesat menaiki tangga, meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya tersenyum melihat kelakuannya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Hmm.. asik ya denger curhatan keluarga itu. Sayangnya mas El masih belum mau terbuka soal Azkia. Awas mas El, saingan di mana².


Malam² mamake bela²in up untuk kalian semua. Hampir 2000 kata, so jangan pelit² buat kasih like, comment and vote nya ya😘😘😘**


__ADS_2