
Ega baru saja pulang dari kantor ketika mendapati anak gadisnya tengah melamun di halaman belakang. Tanpa disadari Firly, papinya sudah duduk di sampingnya. Firly terlonjak ketika merasakan rangkulan di bahunya.
“Eh papi kapan pulang?”
“Baru aja. Kamu lagi mikirin apa sampai ngga ngeh papi datang.”
“Ngga mikirin apa-apa kok pi,” Firly mencium punggung tangan Ega.
“Hubungan kamu dengan Radja gimana?”
“Au ah.. papi mau ikut-ikutan mami jodohin Ily sama Radja? Papi tahu ngga julukan Ziel buat dia apa?”
“Apa?”
“Radja Setan hahaha,” Ega terkekeh sambil menatap mata sang anak. Tak dapat dipungkiri, walau wajahnya tersenyum namun matanya menyiratkan kesedihan.
“Ngga usah diteruskan kalau kamu ngga nyaman sama dia. Papi mau kamu fokus kuliah dulu, ngga usah mikirin perjodohan apalagi nikah. Jalan kamu masih panjang Ly. Nikmati masa muda kamu dengan melakukan hal yang bermanfaat. Kalau kamu menikah sekarang, ruang gerak kamu jadi terbatas. Sebagai istri, kemana pun kamu pergi harus seijin suami.”
“Tapi nikah itu ibadah pi. Ada teman sekelas Ily yang sudah nikah. Dia tetap kuliah dan suaminya mendukung dia asal itu positif. Asik aja Ily lihatnya. Udah ada seseorang yang bertanggung jawab sama hidupnya dunia akhirat dan dia bisa tetap mencapai cita-citanya tanpa terhalang status sebagai seorang istri.”
Ega tergugu, mencoba menyelami kata-kata anaknya barusan. Apakah hanya sekedar berbagi cerita atau ada maksud terselubung dibalik ceritanya itu.
“Papi ada kerjaan di London. Kamu mau ikut Ly?”
“Ngga ah pi, aku kan kuliah.”
“Ngga lama cuma tiga hari. Ya anggap aja refreshing.”
“Hmm.. boleh deh. Kapan berangkatnya pi?”
“Lusa. Mending kamu ikut ya, temenin papi.”
“Ok papi.”
Firly memamerkan senyum manisnya. Ega tersenyum seraya bangun dari duduknya. Sebelum pergi, dia mengusap puncak kepala anaknya itu baru kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Firly mendongakkan kepalanya ke atas ketika mendengar suara pesawat terbang yang melintas di atas sana. Pikirannya menerawang pada orang yang sedang berada di belahan dunia lain. Berharap orang yang dirindukannya saat ini merasakan hal yang sama.
Gimana keadaanmu om, Ara? Aku kangen sama kalian. Kalau aku boleh meminta pada Allah, berikan keajaiban supaya aku bisa bertemu dengan kalian di London nanti. Walaupun hanya melihat dari kejauhan itu sudah cukup. Is it a miracle for me?
🍁🍁🍁
Ega dan Firly menapakkan kakinya di bandara London Heathrow setelah menempuh perjalanan selama lebih dari enam belas jam. Mereka langsung menuju apartemen yang biasa Ega tempati jika sedang ada pekerjaan di London. Ega memang cukup sering berkunjung ke London, karena dia membuka bisnis hotel dan apartemen di sini dengan beberapa rekan bisnisnya.
Firly menghempaskan tubuhnya di kasur berukuran king size. Rasa lelah cukup menderanya. Mereka berangkat dari Bandung seusai kuliah menggunakan jet pribadi. Firly bangun dari tidurnya lalu menuju kamar mandi. Dia ingin berendam air hangat sebentar untuk merilekskan otot-otot tubuhnya. Siapa tahu setelah itu dia bisa tidur tanpa meminum obat tidur seperti kebiasaannya selama hampir dua bulan ini.
Puas berendam selama tiga puluh menit lamanya, Firly keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa lebih segar sekarang. Firly memutuskan untuk tidur. Dia merangkak naik ke atas kasur, menarik selimut hingga ke dada lalu mulai memejamkan matanya.
Ega selesai berpakaian. Hari ini dia langsung meninjau proyek hotel keduanya yang masih dalam tahap pembangunan. Dima juga sudah siap untuk pergi. Ega masuk ke kamar Firly untuk berpamitan. Namun ternyata anaknya itu sudah tertidur. Dia menutup pintu perlahan, kemudian bersama Dima beranjak meninggalkan unit apartemen.
Firly membuka matanya. Tangannya meraba-raba nakas yang ada di dekat ranjang, mencari keberadaan ponselnya. Dengan mata memicing dia melihat jam digital yang terpampang di layar ponsel. Tertera 01.17 pm, berarti dia tertidur hampir tiga jam lamanya. Dengan malas disibakkannya selimut kemudian turun dari ranjang.
Suasana unit apartemen terasa sepi. Firly tahu kalau papinya langsung bekerja. Dia membuka pintu kulkas lalu mengambil sebotol air dingin dari dalamnya. Firly mendudukkan bokongnya di kursi makan. Tangannya sibuk membuka aplikasi chat seraya meneguk minumannya.
Firly hampir saja tersedak ketika membuka pesan dari Rain yang dikirimkan setengah jam yang lalu. Dia mengirimkan sebuah foto Ara dan Dimas berada di restoran milik Dimas, dengan caption 2 jam yang lalu.
__ADS_1
Firly meletakkan gelas di meja kemudian bergegas masuk ke kamar. Dengan cepat dia berganti pakaian, tak lupa mengenakan jaket dan syal karena sudah masuk musim gugur. Dengan penuh semangat Firly bergegas pergi. Tujuannya tak lain restoran Dimas yang letaknya hanya dua puluh menit dari posisinya sekarang.
Setelah membayar ongkos taksi, Firly berlari menuju restoran. Tanpa mempedulikan sapaan pelayan, dia menerobos masuk ke dalam. Matanya langsung memindai semua pengunjung, namun sosok yang dicarinya sudah tak ada di sana.
“Can i help you miss?” tanya seorang pelayan.
“Table for one person please.”
Pelayan itu mengangguk kemudian memandu Firly menuju meja kosong yang terletak di ujung ruangan. Tanpa membaca menu, dia langsung memesan menu favoritnya di restoran ini. Sejak Dimas membuka restoran ini tiga tahun lalu. Firly dan keluarganya selalu menyempatkan makan di restoran ini jika sedang berada di London.
Tak berapa lama pesanannya datang. pelayan tersebut dengan cekatan menata pesanan di atas meja. Saat akan pergi, Firly menahannya.
“Excuse me, is Mr. Dimas here (Apa ada pak Dimas)?”
“He just left twenty five minutes ago. Do you have an appoinment with Mr. Dimas (Dia baru saja pergi 25 menit yang lalu. Apa anda punya janji dengannya)?”
“No, just asking. Thank you.”
“With my pleasure.”
Pelayan itu menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan meja Firly. Raut gadis itu menunjukkan kekecewaan. Kondisinya seperti lagu milik Michael Learns To Rock, Twenty Five Minutes Too Late yang sekarang sedang diputar di restoran ini.
Boy I’ve missed your kisses all the time
But this is twenty five minutes too late
Though you travelled so far
Boy I’m sorry you are twenty five minutes too late
Suara merdu sang vocalis terdengar memenuhi seisi ruangan. Firly memandangi hidangan di hadapannya. Chicken Cordon Bleu yang selalu membuat air liurnya menetes kini tak berpengaruh lagi. Rasa laparnya terbang terbawa kepergian Dimas. Dia merutuki dirinya, andai saja bangun lebih cepat. Andai saja dia tidak tertidur, andai saja dia membuka ponselnya lebih awal mungkin saja dia bisa bertemu Dimas juga Ara.
🍁🍁🍁
Firly berjalan menyusuri trotoar dengan kepala menunduk. Matanya hanya menatapi ujung sepatunya yang bergerak-gerak. Karena terlalu fokus menatap ke arah bawah, Firly tak melihat orang yang melintas di depannya dan
BRUK
Orang menabrak Firly terhuyung kemudian jatuh terduduk. Dengan cepat Firly membantunya. Dia berjongkok kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu orang itu berdiri. Untuk sesaat keduanya saling terdiam ketika mata mereka bertemu.
“Ara.”
“Kak Ily.”
Tubuh Firly hampir saya terhuyung ke belakang ketika Ara menghambur ke arahnya. Gadis itu langsung memeluknya erat. Firly pun membalas pelukannya. Untuk beberapa saat mereka saling memeluk. Tangisan juga terdengar dari keduanya. Beberapa orang yang melintasi mereka melihat dengan pandangan aneh. Firly mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata Ara juga airmatanya. Dia lalu membantu Ara berdiri.
“Ara ngga mimpi kan? Ini beneran kak Ily?”
“Iya sayang, ini kakak. Gimana kabar kamu? Kakak kangen.”
“Ara baik kak hiks.. Ara juga kangen sama kak Ily hiks.. hiks..”
Sekali lagi mereka berpelukan, saling melepaskan rindu yang tersimpan rapat dalam hati keduanya. Firly tak menyangka ternyata Tuhan mengabulkan doanya, bertemu dengan Ara di tempat yang tak terduga.
“Papa mana Ra?”
__ADS_1
“Papa di sana.”
Ara menunjuk salah satu toko yang menjual peralatan elektronik. Di saat yang bersamaan, Dimas keluar dari sana. Jantung Firly langsung berdebar kencang. Dimas masih tetap tampan seperti terakhir kali mereka bertemu namun tubuhnya sedikit kurus. Firly membalikkan badannya bermaksud untuk pergi. Dia belum siap bertemu dengan Dimas. Sikap Firly pada Dimas saat di rooftop dulu, membuatnya malu. Namun suara Ara menahannya.
“Kak Ily mau kemana? Kakak ngga mau ketemu papa?”
“Kakak takut papa masih marah sama kakak.”
“Kak Ily jangan pergi, Ara masih kangen.”
“Kakak ada di belakang Ara, ok.”
Anak itu mengangguk. Melihat Dimas yang semakin mendekat, Firly bergegas pergi kemudian bersembunyi dibalik sebuah tiang. Dia memandangi Dimas dan Ara yang sedang berbincang. Tak lama keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut. Firly bergegas mengikuti mereka. Dia melilitkan syal di lehernya hingga menutupi bagian bawah wajahnya.
Firly terus mengikuti dua orang di depannya sampai masuk ke Regent’s Park. Dimas dan Ara jalan sambil bergandengan tangan. Sesekali Ara mencuri pandang ke arah belakang. Memastikan kalau Firly masih mengikutinya. Kemudian Dimas mengajak Ara duduk di sebuah bangku yang menghadap ke danau. Firly memilih duduk di atas rerumputan dengan posisi tubuhnya membelakangi Dimas dan Ara.
“Ara seneng ngga?”
“Seneng banget pa. Selama di sini papa ngajak Ara jalan-jalan terus.”
“Kan papa udah janji.”
Dimas mengusap puncak kepala anaknya. Senyum tersungging di bibir Ara. Dia melirik ke arah belakang, melihat Firly yang duduk tak jauh dari mereka.
“Hmm.. papa marahan ya sama kak Ily?”
Dimas terkejut, setelah sekian lama baru kali ini Ara menanyakan tentang Firly. Dipandanginya wajah Ara.
“Kok kamu nanyanya gitu sayang.”
“Abisnya waktu kita pergi, Ara ngga boleh pamitan sama kak Ara.”
“Papa cuma takut kalau kak Ily nangis-nangis pengen ikut kita,” Dimas menjawab asal sambil terkekeh.
“Ara kangen sama kak Ily. Papa kangen ngga?”
“Iya, papa juga kangen sama kak Ily.”
“Kalau papa kangen kenapa papa ngga jemput kak Ily biar tinggal sama kita?”
“Hmm.. nanti kuliah kak Ily terganggu. Kak Ily harus menyelesaikan kuliahnya biar bisa mencapai cita-citanya.”
Ara manggut-manggut walau dia tidak sepenuhnya mengerti alasan sang papa. Firly yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka merasa terharu. Sudut hatinya merasa bahagia karena Dimas juga merindukannya. Firly bangun dari duduknya kemudian menuju sebuah pohon di depannya.
Angin berhembus cukup kencang. Dimas tiba-tiba saja mencium aroma yang dihafalnya. Aroma parfum Firly. Dengan cepat dia menoleh ke belakang, namun tak ada siapa-siapa di sana. Dimas berdiri kemudian matanya memindai semua orang yang ada di sana.
Seperti wangi parfum Ily. Atau ini cuma perasaanku saja yang terlalu merindukannya.
Sesekali lagi Dimas memandang berkeliling, mencari seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Namun usahanya sia-sia. Firly bersembunyi dengan baik di balik pohon besar. Dari balik pohon dia melihat Dimas mengajak Ara pergi. Firly menyandarkan tubuhnya ke pohon. Walau hanya sebentar, hatinya cukup puas bisa melihat dan mendengar suara Dimas. Setelah ayah dan anak itu menjauh, Firly keluar dari persembunyiannya lalu berjalan keluar dari taman.
Tanpa Firly sadari, sedari tadi Ega mengawasi gerak-geriknya. Dia memang menempatkan seseorang untuk mengawasi Firly selama di London. Ega langsung menyusul ketika anak buahnya mengatakan Firly berada di Regent’s Park. Hatinya mencelos melihat tingkah laku putrinya. Ternyata cinta itu masih ada di hati Firly dan selama ini dia sudah menyembunyikannya dengan baik. Melihat Firly pergi, Ega juga bergegas pergi.
🍁🍁🍁
**Cuma bisa melihat dari kejauhan😥
__ADS_1
Jangan lupa ya ritualnya sesudah baca, like and comment. Votenya kalau masih ada. Sama hadiahnya juga boleh kok😉
Happy Sunday😎**