Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Hukuman Nino


__ADS_3

“Temui Bilqis.. tenangkan gadis itu.”


Zahran segera mengikuti perintah ayahnya. Dia berjalan menuju halaman belakang. Bilqis masih berada di sana. Dia menghapus airmatanya ketika melihat kedatangan Zahran. Lelaki itu membimbing Bilqis duduk di kursi.


“Apa kamu baik-baik saja?”


“Tidak usah mempedulikanku.”


“Maunya sih tapi ngga bisa. Gimana dong? Habisnya kamu terlalu cantik dan menggemaskan untuk diabaikan.”


Zahran mengedipkan matanya pada Bilqis. Bilqis memalingkan wajahnya ke arah lain. Tanpa dikomando pipinya merona melihat sikap genit Zahran. Diam-diam dia mengulum senyum tipis.


“Aku ngerti perasaan kamu Qis.”


“Ngga usah sok ngerti, modus.”


“Beneran aku ngerti, suer deh no kaleng-kaleng.”


Bilqis memandangi Zahran. Dia cukup bingung melihat kelakuan Zahran. Sebenarnya pria ini mau menghiburnya atau membuatnya kesal. Belum lagi dengan sikap percaya dirinya yang tinggi. Padahal tadi malam pria itu tak mengatakan apa-apa.


“Aku pernah berada di posisimu. Mencintai perempuan yang tidak mencintaiku.”


“Tapi kamu tetap bisa bersamanya kan kalau dia membalas perasaanmu.”


“Hmm.. bisa ya bisa juga tidak.. karena yang aku cintai itu adik sepupuku sendiri. Anak dari om Farhan, adik ayahku.”


Bilqis menoleh ke arah Zahran. Dia mulai tertarik mendengar cerita lelaki di sampingnya. Zahran mendekatkan tubuhnya ke arah Bilqis lalu mulai menceritakan tentang perasaannya pada Aletha, anak kedua Farhan dan Luna.


“Sekarang bagaimana perasaanmu pada Etha?”


“Hmm.. biasa saja. Lagi pula dia sudah menikah. Aku ngga mungkin jadi pebinor kan.”


“Apa itu sulit? Untuk melupakannya.”


“Awalnya iya. Aku bahkan tidak sempat mengungkapkan perasaanku padanya karena dia hanya menganggapku kakak, tidak lebih. Rasanya sangat sesak di sini,” Zahran menunjuk dadanya.


“Tapi perlahan aku mencoba untuk menerima. Apalagi setelah dia menikah, dia terlihat begitu bahagia. Rasanya egois kalau aku harus menghancurkan kebahagiaannya. Rasa sayangnya padaku sebagai kakak itu sudah cukup. Walau sulit aku mencoba menjalaninya. Sampai akhirnya aku bisa melupakannya dan menemukan seorang gadis yang membuat hatiku berdebar lagi.”


“Siapa?”


“Kamu.”


Bilqis mengatupkan bibirnya rapat. Spontanitas Zahran serta keseriusan di sorot matanya membuat dada Bilqis sedikit berdesir. Dia memberanikan diri memperhatikan Zahran lebih lama. Wajah Zahran tak kalah tampan dari Reyhan. Pembawaannya juga ceria dan terkadang membuatnya terkaget-kaget. Tanpa malu pria itu kerap memperlihatkan rasa sukanya walau Bilqis tak pernah menanggapinya.


“Saat ini kamu tuh sedang terkena virus Reyhan. Dan aku mau menjadi anti virus buat kamu. Kasih aku waktu satu bulan. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”


“Kalau gagal?”


“Maka kasih tambahan waktu. Aku akan tambah dosisnya biar kamu bisa cepat jatuh cinta padaku.”


“Kalau masih gagal?”


“Terus perpanjangan waktu. Tapi aku yakin kalau bisa bikin kamu bucin sama aku. Karena kamu ngga akan bisa menolak pesonaku.”


“Narsis.. pede gila..”


“Kamu boleh bilang narsis, pede atau apapun itu. Tapi beri aku kesempatan untuk mencobanya.”


“Kalau aku ngga mau?”


“Berarti kamu takut.”


“Takut apa?”


“Takut jatuh cinta padaku.”


Bilqis membelakakkan matanya. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan makhluk yang memiliki tingkat kepedean di atas rata-rata. Zahran mengulum senyum melihat gadis pujaannya terbengong-bengong dengan sikapnya. Dengan santainya dia mengedipkan mata pada Bilqis disambung dengan mengerucutkan bibir seperti sedang mengecup. Tak ayal wajah Bilqis langsung memerah.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Putri menghampiri mereka. Bilqis menghembuskan nafas lega, dia bisa terlepas dari situasi tidak jelas yang diciptakan Zahran.


“Bilqis, itu ada kakakmu.”

__ADS_1


“Kakak?”


Bilqis tak langsung berdiri melainkan terdiam sejenak. Apa mungkin yang datang adalah Akhtar. Rasanya tidak mungkin, mengingat pertengkaran mereka semalam. Tapi akhirnya Bilqis bangun lalu berjalan menuju ruang tamu ditemani Zahran.


Di ruang tamu nampak Akhtar sedang duduk berbincang dengan Fahri. Mendadak Bilqis menjadi gugup. Sebenarnya dia belum siap bertemu dengan Akhtar secepat ini. Dia sadar betul tadi malam sudah menyakiti hati kakaknya ini. Akhtar mengalihkan pandangannya ke arah Bilqis yang terpaku di tempatnya.


“Qis, ayo pulang. Papa menanyakanmu.”


Suara Akhtar terdengar biasa saja, tak ada kemarahan di dalamnya. Hal ini semakin membuat gadis itu semakin dilanda perasaan bersalah.


“Sorry Tar, biar gue aja yang antar Bilqis. Kayanya dia ngarep dianter sama aku.”


“Mana ada! Om.. tante.. aku pulang dulu. Terima kasih buat semuanya dan maaf kalau aku sudah merepotkan.”


“Ngga apa-apa. Kapan-kapan main ke sini ya.”


“Tenang aja bun. Tiap weekend aku bakal ajak dia ke sini. Ya kan baby?”


Bilqis melotot ke arah Zahran tapi mana peduli lelaki itu. Dia malah senyum-senyum ngga jelas. Fahri hanya menggelengkan kepalanya, Putri sampai tepok jidat melihat kelakuan sang anak.


Bilqis cepat-cepat pamit. Dia mencium punggung tangan Fahri dan Putri bergantian. Tak disangka Zahran menyodorkan punggung tangannya, minta dicium juga. Dengan kesal Bilqis menepis tangan Zahran yang hanya dibalas cengiran olehnya.


“Tar, baik-baik ya nyetirnya. Jagain bebeb alias yayang alias calon makmum gue.”


Fahri menepak belakang kepala anaknya. Bilqis buru-buru naik ke dalam mobil. Zahran sudah membuatnya senewen berkali-kali dengan ucapan frontalnya. Akhtar menganggukkan kepalanya ke arah Fahri dan Putri kemudian masuk ke dalam mobil.


Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan. Mata Akhtar hanya menatap lurus ke depan. Bilqis pun hanya menundukkan kepalanya. Namun sekali-kali dia melirik ke arah Akhtar. Kakaknya itu sama sekali tidak terganggu, dia tetap mengemudikan kendaraan dengan tenang.


Sesampainya di rumah, Kalila langsung menyambutnya dengan hangat. Pelukan dan ciuman di puncak kepala diberikan pada putri semata wayangnya ini. Nino juga berusaha meredam kemarahannya. Biar bagaimana pun juga permasalahan Bilqis harus bisa disikapi dengan bijak. Nino mengajak Bilqis ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Rain juga Fikry. Nanaz terpaksa dititipkan pada Sarah karena mereka harus membahas masalah penting.


Semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Bilqis menundukkan kepalanya. Dia sudah seperti terdakwa yang menunggu tuntutan. Baru saja Nino akan memulai, Akhtar tiba-tiba berdiri.


“Maaf pa, aku sama Rain pamit.”


“Mau kemana? Duduklah,” titah Nino.


“Tugasku menjemput Bilqis sudah selesai. Silahkan kalian bicarakan masalah ini tanpa kehadiranku. Aku pulang dulu.”


“Maaf pa. Aku hanya mau menepati janji pada Bilqis. Aku tidak akan mencampuri kehidupannya lagi. Karena aku tidak punya hak sama sekali atas hidupnya.”


“Akhtar...” suara Kalila terdengar bergetar menahan tangis.


“Mas..”


“Ayo pergi sayang.”


Akhtar memeluk pinggang Rain lalu membawanya pergi. Bohong kalau hatinya tak merasa sakit mendengar ucapan Bilqis semalam. Karena itu dia memilih untuk pergi. Bilqis berhasil meluluh lantakkan kepercayaan dirinya dan menorehkan luka cukup dalam di hatinya.


“Kak..”


Akhtar berhenti sejenak ketika mendengar Bilqis memanggilnya tapi kemudian kembali meneruskan langkahnya. Bilqis segera berlari mengejar lalu memegang lengan Akhtar, mencoba menahan langkah kakaknya itu.


“Kak.. maafin aku.. aku khilaf kak. Maafin aku hiks.. hiks..”


“Ada apa ini?” Nino dibuat bingung oleh sikap kedua anaknya.


Akhtar mengalah, dia kembali ke tempatnya. Bukan karena tangisan Bilqis tapi karena tak ingin menambah beban Nino.


“Ada apa dengan kalian?”


“Ngga ada apa-apa pa. Kami hanya bertengkar saja semalam. Silahkan pa.”


“Bilqis, jujur papa kecewa sama kamu. Papa ngga nyangka kamu bisa berbuat seperti itu. Papa minta kamu meminta maaf pada ayah Irzal sekeluarga terutama pada Yunda. Kamu juga harus minta maaf pada Ilan. Minggu depan kamu berangkat ke Australia, lanjutkan S2 mu di sana. Jangan dulu kembali sebelum kamu bisa mengendalikan perasaanmu pada Rey.”


“Ngga.. aku ngga mau pa. Aku mau minta maaf tapi jangan kirim aku ke Aussie. Aku ingin tetap di sini. Aku janji ngga akan mengusik Yunda atau Rey lagi, tapi ijinin aku tetap di sini.”


“Kamu ngga sendirian sayang. Mama akan menemanimu di sana. Turutilah, ini semua demi kebaikanmu. Dengan berada jauh dari Rey, kamu bisa lebih cepat melupakan perasaanmu.”


“Aku ngga mau. Aku mohon biarkan aku tetap di sini.”


“Baik kalau kamu tidak mau pergi. Kamu bisa tetap di sini tapi menikahlah. Papa akan menikahkanmu dengan Zahran.”

__ADS_1


“Aku ngga mau. Aku ngga cinta sama dia.”


“Cinta bisa datang karena terbiasa. Dia pria yang baik, papa percaya dia bisa membimbingmu.”


“Aku ngga mau!”


“Pilihanmu hanya dua, pergi ke Australia atau menikah dengan Zahran. Kalau kamu tidak mau melakukannya, keluar dari rumah ini. Papa sudah gagal mendidikmu, mulai hari ini papa melepaskanmu. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, tapi kalau kamu sampai berusaha mencelakai Ayunda lagi, papa tidak akan segan memasukkanmu ke dalam penjara.”


Nino bangun dari duduknya kemudian melangkah pergi. Bilqis segera menyusul ayahnya. Dia menghalangi langkah Nino kemudian bersimpuh di hadapannya.


“Maafin Bilqis pa. Maaf kalau aku sudah mengecewakan papa. Tapi tolong jangan buang aku dan jangan paksa aku menikah. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan aku juga akan melupakan Rey. Aku janji pa.”


“Kalau kamu benar-benar menyesali perbuatanmu, kamu pasti akan memilih salah satu dari pilihan papa sebagai bukti keseriusanmu. Jadi, apa jawabanmu?”


Bilqis masih bungkam, hanya tangisan yang keluar dari mulutnya. Nino menghela nafas panjang. Dia mengeraskan hati kemudian kembali melangkah pergi. Tekadnya sudah bulat untuk memberi anaknya pelajaran. Dia ingin Bilqis benar-benar menyesali perbuatannya.


“Aku akan menikah dengan Zahran.”


Nino menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya. Bilqis bangun lalu mendekati Nino.


“Apa kamu serius?”


“Iya pa. Kalau itu bisa membuktikan penyesalan dan keseriusanku aku bersedia menikah dengannya.”


“Baik.. kalau begitu minggu depan kalian akan menikah.”


“Aku akan menikah dengannya tapi tolong berikan aku waktu satu bulan untuk mengenalnya. Bukankah aku harus mengenal calon suamiku? Beri aku waktu satu bulan. Setelah itu aku akan menikah dengannya seperti keinginan papa.”


Nino terdiam sebentar, dia melihat ke arah Kalila yang menganggukkan kepalanya. Akhirnya Nino juga menganggukkan kepalanya. Ada kelegaan tergambar di wajah Bilqis.


“Aku pulang pa.”


Bilqis menoleh ke arah Akhtar yang telah bersiap untuk pergi. Dia bergegas menuju Akhtar. Satu lagi masalah yang harus diselesaikan, meminta maaf kepada kakaknya itu.


“Kak.. maafin aku.”


“Tenanglah, aku sudah memaafkanmu. Ayo sayang.”


“Kak.. maaf kalau aku sudah menyakitimu. Saat itu aku emosi, maaf kak. Aku benar-benar menyesal. Aku harus bagaimana agar kakak mau memaafkanku? Apa tidak ada kesempatan untukku? Apa kakak sudah tidak menyayangiku lagi?”


Bilqis kembali menangis sambil memegang lengan Akhtar. Rain mengusap punggung suaminya. Perlahan Akhtar melepaskan tangan Bilqis.


“Peluk kakak.”


Bilqis menghambur memeluk Akhtar, tangisnya kembali pecah. Tangis yang penuh penyesalan. Akhtar mengusap punggung Bilqis lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala adiknya.


“Maafin aku kak. Maafin aku juga kak Rain. Maafin aku..”


Rain ikut memeluk Bilqis. Ketiganya berpelukan penuh kehangatan. Kalila mengusap buliran bening yang jatuh dari matanya. Nino menghampirinya lalu memeluk sang istri. Fikry hanya melihat pemandangan haru di depannya sambil menghela nafas.


“Nasib jomblo ngga ada yang meluk,” gumamnya pelan.


Nino tertawa kemudian menggerakkan tangannya. Dengan enggan Fikry menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluknya.


“Makanya cepetan cari pasangan.”


“Belum ada.”


“Belum ada atau bingung milih?”


“Hehehe.. mama tau aja.”


“Dasar playboy,” Kalila menepuk belakang kepala anaknya yang hanya dibalas kekehan Fikry saja. Sepertinya jejak masa muda Nino sebagai playboy menurun pada Fikry.


🍁🍁🍁


**Ya ampun bang Za pede nya tingkat tinggi ya. BTW tuh kelakuan bang Za nurun dari siapa ya, ngga mungkin dari Fahri kan😁


Penasaran sama nasib Kak Rey selanjutnya?


Silahkan jempolnya digoyang dulu, like, comment and vote-nya.

__ADS_1


Kelanjutan nasib kak Rey besok ya😘😘😘**


__ADS_2