
Dua gadis cantik baru saja menjejakkan kakinya di bandara internasional Incheon. Keduanya segera menghampiri seorang pria paruh baya yang membawa kertas bertuliskan nama mereka.
“Ayunda ssi geuligu Nara ssi?”
Kedua gadis mengangguk. Pria paruh baya itu segera mengajak mereka menuju mobil yang akan membawa mereka ke hotel. Ayunda dan Nara sengaja datang ke Seoul demi memberikan dukungan pada sahabat mereka, Azriel yang tengah mengikuti turnamen Korea Open.
Gara sebenarnya melarang Nara untuk ikut karena pernikahan mereka akan dilangsungkan seminggu lagi. Namun bukan Nara namanya kalau tidak memaksa calon suaminya itu mengijinkannya pergi. Mulai dari bujuk rayu, aksi ngambek sampai ancaman dikeluarkan gadis itu. Akhirnya Gara menyetujui dengan syarat hanya dua hari saja.
Di sinilah mereka sekarang, berada di negara yang terkenal dengan ginseng dan K-Pop-nya. Mata Ayunda dan Nara tak henti memandangi gedung-gedung tinggi yang dilewatinya. Walaupun ini bukan kunjungan pertama mereka. Namun tetap saja mereka antusias. Karena ini pertama kalinya mereka pergi ke luar negeri berdua saja tanpa didampingi orang tua mereka.
Ayunda dan Nara langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur sesampainya di hotel. Perjalanan selama tujuh jam cukup membuat mereka kelelahan. Sebelumnya mereka melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta menggunakan kereta cepat. Sebenarnya mereka bisa menggunakan jet pribadi milik Irzal. Tapi kedua gadis itu tak berminat. Mereka ingin merasakan liburan seperti orang-orang pada umumnya. Hitung-hitung sebagai petualangan bagi keduanya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya.
Ayunda dan Nara memilih beristirahat di dalam hotel. Karena besok pertandingan final baru akan diselenggarakan. Setelah mandi dan makan, mereka berbincang membicarakan pasangan masing-masing dan rencana mereka ke depannya. Sesekali mata mereka melihat adegan drama Korea di televisi. Namun mereka tak terlalu menyimak, karena tidak ada terjemahan bahasa Indonesia.
“Abis nikah lo mau tinggal di mana?”
“Ya di rumah mama Debby lah. Bang Gara ngga boleh kemana-mana sama mama Debby. Soalnya nanti kalau Hanin nikah, dia pasti ikut sama suaminya. Lo sendiri rencananya tinggal di mana?”
“Ngga tau, gue ngga pernah bahas soal itu sama bang Ilan.”
“Lo ada rencana bulan madu kemana? Kalau gue sih pengen ke Macau.”
“Ngga tau, gue juga ngga pernah bahas soal itu.”
“Terus kalau kalian berdua ketemu, ngebahas apaan? Atau jangan-jangan kerjaan kalian ci**kan doang jadi komunikasi non verbal mulu.”
“Mana ada!!”
Ayunda melotot pada Nara yang hanya dibalas cekikikan dari sepupu sekaligus sahabatnya itu.
“Hmm.. gue curiga elo sama bang Gara udah sering ci**kan ya.”
“Ngga... ngga salah maksudnya hahaha...”
Nara menutup wajahnya dengan bantal, menyembunyikan wajah merahnya karena malu. Ayunda menarik bantal dari wajah Nara kemudian menarik tangan gadis itu hingga duduk.
“Gila lo! Berapa kali lo ci**kan, ceritain!”
“Dih ngebet banget sih lo. Gue cuma tiga kali doang Yun, suer.”
“Gimana rasanya,” Ayunda penasaran jadinya.
“Lo serius belum pernah ci**kan ama bang Ilan?”
“Iyalah, ngapain juga gue bohong.”
“Serius? Wah gue ngga nyangka bang Ilan kuat iman juga ya. Doi kan dulu sering ci**kan sama Salsa. Gue pernah sekali lihat mereka, beeuuhh hot banget. Asli bang Ilan jago banget kissingnya.”
“Masa sih?”
“Nanti aja lo buktiin sendiri. Nah kaya gitu tuh ci**kannya.”
Nara menunjuk layar datar yang terpajang di dinding. Di sana terlihat adegan sepasang kekasih sedang berciuman mesra. Mata Ayunda tak berkedip melihat adegan di depannya. Namun pikirannya mulai traveling, membayangkan dirinya yang berciuman dengan Reyhan. Wait... gadis itu tersadar, kenapa justru dia membayangkan dirinya berciuman dengan Reyhan.
“Napa lo geleng-geleng kaya gitu. Curiga nih lo lagi ngelamun jorok ya. Lo lagi ngebayangin adu bibir kan sama bang Ilan?”
“Ngga!! Otak lo aja yang ngeres.”
Ayunda tidak berbohong. Dia memang tidak membayangkan berciuman dengan Ilan, melainkan dengan Reyhan. Ayunda beranjak dari kasur lalu berjalan menuju balkon seraya membawa ponselnya. Saat membuka galeri, matanya menatap foto dirinya saat bersama Reyhan. Seketika kerinduan menerpa hatinya. Tanpa sadar Ayunda membuka aplikasi whats app lalu mengirimkan pesan pada Reyhan.
To Kak Rey :
Kak...
From Kak Rey :
Ya Ay..
Ayunda terkejut saat mendapat pesan balasan dari Reyhan begitu cepat. Dia merutuki dirinya kenapa sampai kelepasan mengirim pesan pada pria itu. Karena tak ada jawaban dari Ayunda, Reyhan kembali mengirimkan pesan.
From Kak Rey :
__ADS_1
Ada apa?
Kamu di mana?
Ay...
To Kak Rey :
Aku lagi di Seoul, mau nonton finalnya Ziel.
Doain Ziel ya kak.
From Kak Rey :
Iya, aku doain semoga Ziel menang.
Kamu sama siapa ke sana?
To Kak Rey :
Nara
From Kak Rey :
Hati-hati di sana.
To Kak Rey :
Iya. Kak Rey mau dibawain oleh-oleh apa?
From Kak Rey :
Aku cuma mau kamu selamat pulang ke rumah. Itu udah cukup.
Udah dulu ya Ay, aku mau visit pasien dulu.
Bye.. take care..
“Yun.. lo udah kasih kabar ke bang Ilan kalau udah sampe?”
“Belum.”
“Astaga Yun, gue pikir lo senyum-senyum sendiri tadi lagi chat-an ama bang Ilan. Buruan kasih kabar ke bang Ilan. Kata bang Gara dari tadi bang Ilan uring-uringan nungguin kabar dari elo.”
“Iye.. iye.. bawel lo.”
Ayunda kembali membuka aplikasi whats app kemudian mengirimkan pesan pada Firlan. Mengabarkan kalau dirinya sudah sampai di Seoul. Lalu dia membaringkan tubuhnya ke kasur, dan tak lama tertidur. Ayunda tidak tahu kalau Firlan mengirimkan pesan balasan bertubi-tubi ke ponselnya.
🍁🍁🍁
Ayunda dan Nara tiba di Jamsil Indoor Stadium, tempat dilangsungkannya final turnamen Korea Open. Pertandingan sudah dimulai pukul sepuluh pagi waktu setempat. Tapi kedua gadis itu memilih datang agak siang karena pertandingan Azriel berada pada urutan ketiga.
Keduanya segera memasuki stadium. Penonton sudah memadati arena olahraga tersebut. Ayunda dan Nara duduk di bagian barat. Kebetulan sekali tempat yang mereka duduki begitu strategis. Mereka duduk tidak terlalu jauh dari lapangan pertandingan, sehingga bisa melihat Azriel dengan jelas nantinya.
Sorak sorai terdengar menyemangati dua tim yang sedang bertanding. Saat ini sedang berlangsung pertandingan ganda putri, antara ganda China dengan ganda Jepang. Kedudukan mereka seimbang dan sama-sama kuat. Beberapa kali penonton harus menahan nafas ketika kedua tim bermain reli panjang.
Setelah bermain selama tiga set, akhirnya pertandingan dimenangkan oleh ganda putri asal Jepang. Acara dilanjutkan dengan penyerahan medali sekaligus hadiah uang secara simbolis. Kini jadwal pertandingan yang ditunggu Ayunda dan Nara tiba. Teriakan penonton terdengar ketika Azriel memasuki lapangan. Maklum saja, dengan wajah tampannya, sudah pasti pemuda itu mempunyai banyak deretan penggemar.
Ayunda dan Nara ikut-ikutan memanggil sahabatnya. Sayang, karena riuhnya suara penonton dan banyaknya pasang mata yang melihat pertandingan, Azriel tak bisa mengetahui keberadaan sahabatnya. Azriel nampak bersiap di pinggir lapangan. Sang pelatih terus saja memberikan arahan kepada anak didiknya itu.
Azriel maju ke lapangan lalu mulai melakukan pemanasan dengan lawan mainnya. Pemain tunggal putra asal Korea yang saat ini menduduki peringkat tiga dunia. Hanya satu peringkat di bawah Azriel. Jalannya pertandingan kali ini pun digadang-gadang akan berlangsung sengit.
Setelah wasit melakukan pengundian, pertandingan pun dimulai. Sorak sorai pendukung mulai terdengar membahana. Tunggal putra Korea tentu saja mendapat dukungan lebih banyak sebagai tuan rumah. Tapi pendukung Azriel pun tak kalah sengitnya. Mereka terus memberikan semangat pada pemain favoritnya itu.
Sesuai prediksi, pertandingan berlangsung sengit. Keduanya saling jual beli pukulan. Pertandingan sudah berlangsung dua set. Set pertama dimenangkan oleh tunggal putra Korea dan set kedua dimenangkan oleh Azriel. Kini tiba waktunya set penentuan. Ayunda dan Nara sedari tadi tak henti-hentinya memberikan semangat. Jika Azriel berhasil menjadi juara, maka bisa dipastikan predikat tunggal putra nomor satu dunia akan jatuh ke tangannya.
Di sela-sela pertandingan, tiba-tiba mata Ayunda menangkap sosok yang menjadi idolanya. Dia menyenggol lengan Nara kemudian menunjuk seorang pemuda yang sedang duduk menikmati jalannya pertandingan. Dia adalah Lee Hyun Woo, aktor sekaligus salah satu anggota boyband K-Pop yang tengah naik daun saat ini.
“Itu beneran Hyun Woo?” Ayunda memastikan.
“Iya bener.”
__ADS_1
Kedua gadis itu tambah bersemangat ketika melihat idolanya juga berada di tempat yang sama dengan mereka. Maka teriakan-teriakan yang mereka tujukan pada Azriel mulai berubah haluan.
“Hyun Woo oppa!!!” teriak Nara.
“Hyun Woo oppa sarange!!” teriak Ayunda.
“Nado sarange.”
Ayunda terkejut mendengar suara di sebelahnya. Spontan dia menoleh dan ternyata Firlan sudah berada di sampingnya. Di sebelah kanan Nara juga sudah ada Gara.
“Bang Ilan kapan datengnya?”
“Baru aja. Kita langsung ke sini dari bandara.”
“Oooh..”
Perhatian Ayunda kembali ke lapangan. Kini kedudukan 18-18, angka kedua pebulutangkis itu seimbang. Ketegangan seketika meliputi seluruh stadion. Apalagi pertandingan harus dilanjutkan dengan deuce atau perpanjangan waktu. Saat angka mencapai 22-21 untuk keunggulan Azriel, pertandingan semakin sengit. Mereka saling menyerang dan bertahan. Hingga akhirnya Azriel berhasil memberikan netting cantik hingga lawan harus mengembalikan kok dengan posisi tanggung dan langsung dihajar oleh Azriel dengan jump smash.
Ayunda dan Nara bersorak kegirangan melihat Azriel berhasil memenangkan pertandingan. Terlihat pemuda itu melakukan sujud syukur di lapangan kemudian menyalami lawan dan wasit yang bertugas. Azriel membuka kaosnya yang telah basah oleh keringat. Karuan saja para wanita yang ada di sana berteriak histeris melihat tubuh tegap Azriel lengkap dengan roti sobeknya.
“Cih.. pamer banget tuh anak,” cibir Nara.
“Dasar narsis.. biar apa coba buka kaos segala,” timpal Ayunda.
Firlan dan Gara hanya geleng-geleng kepala saja mendengar kedua gadis itu meledek Azriel, padahal baru saja mereka berteriak memberikan semangat. Berbeda dengan para gadis lain yang terlihat histeris dan mengelu-elukan atlit tampan itu.
🍁🍁🍁
Usai menonton pertandingan, Firlan mengajak Ayunda berjalan-jalan. Udara Seoul saat ini bisa dikatakan cukup dingin karena sudah memasuki musim gugur. Keduanya berjalan melintasi deretan penjual kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan. Firlan menghentikan langkahnya di depan pedagang yang menjual sarung tangan. Setelah membayar dua pasang sarung tangan, Firlan menghampiri Ayunda.
Firlan memasangkan sarung tangan ke tangan Ayunda, setelah itu memasang untuk dirinya sendiri dibantu oleh Ayunda. Keduanya melanjutkan perjalanan. Tangan Firlan menggenggam tangan Ayunda. Sesekali dia memasukkan tangan Ayunda ke saku mantelnya.
“Kita pulang malam ini ya kak?”
“Iya. Kenapa? Kamu masih mau di sini?”
“Ngga.. kita pulang aja sesuai jadwal.”
"Gimana kalau besok pagi aja?"
Ayunda mengangguk senang, artinya dia bisa menghabiskan waktu lebih lama di kota ini. Perjalanan mereka terus berlanjut. Menjelang sore hari, sudah semakin banyak muda mudi yang berdatangan ke tempat ini.
Firlan dan Ayunda berhenti di depan kedai yang menjual camilan khas Korea. Tentu saja sebelumnya mereka telah memastikan kehalalan makanan tersebut. Ayunda dan Firlan mengambil kursi yang berada di bagian sudut kemudian menikmati makanan mereka sambil berbincang.
“Kamu mau bulan madu kemana Yun?”
“Ngga tau.. belum kepikiran. Terserah bang Ilan aja.”
“Kok terserah abang sih. Kamu maunya kemana? Keliling Eropa?”
“Nanti aja aku pikirin. Sekarang aku lagi males mikir,” jawab Ayunda sekenanya.
Firlan terkekeh lalu mengusap puncak kepala Ayunda. Sebenarnya Firlan ingin sekali memeluk atau mencium Ayunda. Namun mengingat janjinya pada Elang. Firlan selalu berusaha menahan diri.
Puas berjalan-jalan dan menikmati camilan. Kini saatnya Ayunda berburu oleh-oleh. Gadis itu seperti tak ada lelahnya keluar masuk toko, mencari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-temannya. Firlan dengan sabar mengikuti langkah Ayunda, walaupun sebenarnya tubuhnya lelah. Tapi demi rasa cintanya pada gadis itu, Firlan menyingkirkan rasa lelahnya.
Beberapa paper bag sudah berada dalam genggaman tangan Ayunda dan Firlan. Mereka bergegas menuju mobil yang disewa selama berada di Korea. Seorang supir dengan sigap membantu memasukkan tas belanjaan ke bagasi lalu membukakan pintu penumpang.
“Langsung ke hotel pak.”
“Baik pak.”
Supir itu mulai melajukan kendaraannya. Ayunda yang kelelahan duduk menyender ke jok. Matanya mulai memberat lalu jatuh tertidur. Di tengah tidurnya kepala Ayunda jatuh ke pundak Firlan, mengagetkan pria itu yang tengah sibuk dengan ponselnya. Firlan mengubah posisi Ayunda menjadi berbaring dengan kepala gadis itu berada di pangkuannya. Kemudian dia kembali fokus dengan ponselnya, memeriksa laporan yang masuk ke e-mail.
🍁🍁🍁
**Yunda Ama Nara ke Korea ngga ajak² mamake, padahal mamake pengen ikut😁
Seandainya aja tokoh Ziel nyata, mamake seneng banget deh punya pemain bulu tangkis no 1 dunia plus ganteng (ngarep🤭).
Yuk ah tinggalin jejak dulu, like, comment and vote. Seperti biasa, nanti sore mamake up lagi ya😘**
__ADS_1