
Pintu kamar terbuka, Farel muncul membawa beberapa bungkus makanan pesanan adik-adiknya. Kedatangannya langsung disambut penuh sukacita oleh Ayunda dan Nara. Azkia terkejut melihat Farel, terlebih saat Ayunda memanggilnya dengan sebutan abang.
“Asik bang Farel dateng juga bawain pesenan kita. Lama banget sih bang, kita-kita udah salatri nih. Telat dikit aku sama Nara bisa masuk IGD.”
“Lebay.”
“Abang nemenin kita di sini kan?”
“Ngga bisa, abang harus balik ke kantor. Ayah kan ngga ke kantor, jadi banyak kerjaan yang harus dihandle.”
Azkia memandang Farel tanpa berkedip. Saat lelaki itu menyebut kata ayah, pasti dimaksudkan untuk Irzal.
Jadi anaknya bu Poppy itu pak Farel. Ya Allah orang yang dinikahin sama aku itu pak Farel. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur janji pada ibu menerima lamaran bu Poppy. Tapi aku ngga mencintai pak Farel.
“Kia..”
Lamunan Azkia buyar ketika mendengar suara Farel. Lelaki itu sudah berada dekat bed-nya. Seketika kegugupan melanda dirinya.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?”
“Ba.. baik pak.”
“Jangan panggil bapak. Panggil aja abang kaya si kutil itu,” Farel menunjuk pada Ayunda, adiknya itu langsung mencebikkan bibirnya ke arah sang kakak.
“I.. iya pak.. eh bang.”
“Kamu jangan banyak pikiran. Fokus sama kesehatan kamu aja.”
“Mas.. mas El gimana kabarnya bang?”
“Elang baik. Dia sekarang ditugasin ke Munich, ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sana.”
“Ka.. kapan kembalinya bang?”
“Ngga tau juga, tergantung bos besar aja.”
Azkia mengangguk pelan. Harapannya pada Elang semakin pupus saja. Di saat terberatnya, lelaki yang dicintainya itu tak ada di sisinya. Belum lagi mengingat interaksi Elang dan Rain membuat dirinya harus berhenti berharap. Tetapi Farel, Azkia ragu bisa memberikan hatinya di saat perasaannya masih tertuju pada Elang.
“Kamu istirahat lagi aja. Aku mau balik ke kantor.”
“Kapan aku bisa pulang?”
“Aku ngga tahu, nanti coba aku tanya dokter Ambar. Sepulang dari sini bunda rencananya mau ajak kamu ke vila untuk istirahat. Jadi jangan banyak pikiran, ok. Dan soal kerjaan kamu di mini market, aku udah ajuin surat pengunduran diri kamu dan bang Akhtar sudah menerimanya.”
__ADS_1
“Ke.. kenapa aku harus ngundurin diri bang?”
“Sebentar lagi kamu bakal jadi seorang istri. Tugas kamu itu ngurusin suami nantinya. Lagi pula sudah ada orang yang akan bertanggung jawab untuk hidupmu, jadi tidak usah bekerja lagi. Dan yang pasti fokus sama kuliah kamu biar cepat lulus.”
Farel mengakhiri kalimatnya dengan senyuman setelah itu beranjak pergi. Hati Azkia bertambah kacau. Kata sebentar yang diucapkan Farel menyiratkan kalau pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam waktu dekat.
🍁🍁🍁
Poppy membimbing Hanin masuk ke dalam rumah, setelah acara pemakaman dia membawa Hanin pulang. Gadis itu duduk diam di ruang tamu dengan perasaan canggung. Dia sungguh malu dengan perlakuan seluruh keluarga Poppy yang begitu baik padanya juga Azkia.
Sambil menunggu Poppy berganti pakaian, matanya memandang sekeliling. Perabotan mewah mengisi ruang tamu tersebut. Bahkan sofa yang didudukinya sudah seperti spring bed saja, empuk. Tidak seperti di rumahnya yang hanya ada kursi bambu. Itu pun milik yang punya kontrakan. Lalu matanya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto Poppy, Irzal, Ayunda dan dua orang pemuda, yang salah satunya dia tahu bernama Farel, sedang yang satunya lagi tidak tahu.
Yang bakal dijodohin sama kak Kia yang mana ya? Dua-duanya ganteng sih, tapi gantengan yang mukanya mirip pak Irzal. Kalau kak Yunda mirip bu Poppy, lah bang Farel mirip siapa ya? Masa iya mirip tetangga.
Hanin terkikik dalam hati. Tapi kemudian hatinya kembali bersedih. Andai saja Agus seorang bapak yang baik, mungkin mereka akan menjadi keluarga yang harmonis. Mata Hanin memanas dan dia kembali menangis. Poppy yang telah selesai berganti pakaian segera menghampiri Hanin. Dia terkejut mendapati gadis itu tengah menangis.
“Loh Hanin kenapa sayang?” Poppy mendudukkan diri di sisi Hanin lalu merangkulnya.
“Ngga apa-apa bu. Hanin cuma kangen ibu.”
Poppy melepaskan rangkulannya, dipegangnya bahu Hanin lalu menghadapkan gadis itu ke arahnya. Tangannya bergerak menghapus airmata di pipi Hanin.
“Ibu sudah tenang di sana. Kalau kamu bersedih seperti ini, hanya akan memberatkan ibu, sayang. Ikhlaskan kepergian ibu, ini sudah menjadi kehendak Allah.”
“Iya bu. Hanin sedih, sekarang Hanin cuma punya kak Kia. Kakak juga masih sakit.”
“Bu.. bunda..”
“Iya, panggil bunda sayang. Bunda memang bukan ibu kandungmu dan tidak akan pernah bisa menggantikan ibumu. Tapi bunda akan menyayangimu seperti anak bunda sendiri. Mulai sekarang kamu adalah adik Ayunda, anak bungsu bunda.”
Poppy menarik Hanin dalam pelukannya. Gadis itu tak bisa melukiskan bagaimana perasaannya saat ini. Di satu sisi dia bersedih kehilangan sang ibu tercinta namun di saat bersamaan, dia mendapat kasih sayang Poppy. Poppy mengurai pelukannya lalu menghapus airmata Hanin. Segurat senyum tercetak di wajah gadis itu.
Senyum Hanin hilang ketika melihat Irzal masuk. Pria itu melintas di depan mereka tanpa menoleh sama sekali karena sibuk dengan ponselnya. Hanin masih segan dengan sosok Irzal yang tak banyak bicara dan terkesan dingin. Poppy mengajak Hanin menuju meja makan karena tahu sejak pagi gadis itu belum makan apapun.
Irzal keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia menghampiri Poppy dan Hanin yang sedang berada di meja makan. Irzal menarik kursi di samping istrinya. Poppy mengambilkan makanan untuk Irzal. Hanin menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah Irzal.
“Kamu mau ikut ke rumah sakit? Ayah dan bunda mau menengok kakakmu.”
“I.. iya bun,” suara Hanin terdengar begitu pelan.
“Hanin, kamu sekolah di mana?” suara bariton Irzal mengejutkan gadis itu.
“Di.. di SMK Harapan Jaya, pak,” Hanin buru-buru menundukkan pandangannya kembali setelah menjawab pertanyaan Irzal.
__ADS_1
“Eh kok pak lagi. Kan bunda udah bilang, panggil ayah. Ayo coba panggil ayah.”
Hanin mengangkat kepalanya melihat ke arah Irzal yang wajahnya terlihat dingin dan tanpa ekspresi. Poppy melihat ke arah suaminya dan langsung menepuk keningnya.
“Ya ampun pantesan nih anak takut. Itu coba muka dilemesin dikit,” bisik Poppy di telinga Irzal.
Irzal menatap bingung pada istrinya lalu mengangkat bahunya. Poppy memberi isyarat dengan matanya ke arah Hanin. Irzal menatap Hanin yang terlihat takut padanya. Tak ada reaksi darinya, dengan tenang pria itu meneruskan makannya. Poppy mengajak Hanin ke ruang tengah, kalau terus berada dekat suaminya, dia khawatir Hanin akan kejang-kejang.
Selesai makan Irzal bergabung dengan Poppy di ruang tengah. Dia mendudukkan diri tepat di samping Hanin, membuat gadis itu kembali dilanda ketakutan. Terlebih Irzal memandangi dirinya, seperti mencari-cari sesuatu di tubuhnya. Mata Irzal memicing ketika melihat warna kebiruan di tangan Hanin, tepatnya di dekat siku. Dia menarik tangan Hanin pelan untuk melihat lebih jelas.
“Apa bapakmu yang melakukan ini?”
“I.. iya...”
“Apa dia sering memukulimu?”
“Ngga.. kecuali kalau Hanin coba nolong ibu atau kak Kia baru bapak mukul Hanin. Kak Kia yang sering dipukul oleh bapak,” Hanin menjawab pertanyaan Irzal dengan kepala tertunduk.
“Apa ayah semenakutkan itu sampai kamu tidak mau melihat ketika sedang berbicara?”
Mendengar kata ayah keluar dari mulut Irzal cukup mengagetkannya. Hanin mengangkat kepalanya dan mendapati Irzal tengah tersenyum ke arahnya. Untuk sesaat Hanin terpaku melihatnya. Agus sendiri tidak pernah menampakkan senyum jika bertemu. Bapaknya itu hanya menunjukkan wajah masamnya saja.
“Kenapa Han? Ayah ganteng ya kalau lagi senyum? Cuma sayang dia agak pelit buat senyum,” goda Poppy.
“Eh ng.. ng... Hanin cuma ngga percaya aja bun. Ternyata pak Irzal bisa senyum juga.”
Hanin spontan menutup mulutnya. Dalam hati merutuki dirinya yang tak bisa mengerem mulutnya yang terkadang bocor tidak pada tempatnya. Di luar dugaan, Irzal justru terbahak mendengarnya. Dia mengusak kepala Hanin.
“Mulai sekarang panggil ayah, bisa?”
“Bi.. bisa pak eh ayah.”
“Bagus.. sekarang siap-siap kita ke rumah sakit.”
Irzal berdiri disusul oleh Poppy dan Hanin. Mereka bertiga melangkah keluar rumah. Hanin sedikit tersentak ketika Irzal merangkulnya, namun hatinya begitu bahagia. Baru kali ini dia merasakan kehangatan seorang ayah. Dalam hatinya tak henti mengucapkan syukur telah dipertemukan dengan keluarga yang begitu baik.
🍁🍁🍁
**Mamake ngga bisa bilang apa² soal Irzal, dari dulu lope nya mamake dia😘😘😘
Maaf kemarin cuma up 1 episode karena dari malam up br brs review sore, jadi mamake keburu bt.
Buat yg merasa up nya terlalu sedikit, coba kita berpikir dari sudut pandang yg berbeda. 1000 kata untuk kalian yg baca itu sebentar sekali tp buat kami para penulis, menulis 1000 kata itu butuh perjuangan. Kita harus konsen dengan alur cerita, harus jaga mood biar cerita tetap bernyawa. Jadi please jangan bilang up nya sedikit, tolong hargai berapa banyak kata yg ada dalam setiap episodenya.
__ADS_1
Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian. Senin waktunya vote nih, kirimkan vote kalian ya kalau berkenan😘 juga like and comment-nya.
Happy Monday😎**