Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Be Strong


__ADS_3

Bi Surti keluar dari kamar, Azriel mengantar asisten rumah tangga sekaligus pengasuhnya itu sampai ke depan rumah. Bi Surti terus berjalan keluar kompleks. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan anak-anak yang sudah dirawatnya sejak kecil. Tapi dia juga tidak ingin hidup dalam penyesalan.


Bi Surti termenung di depan pintu masuk kompleks. Dia bingung harus pergi kemana. Tiba-tiba sebuah Honda Civic hitam berhenti di dekatnya. Elang turun dari dalam mobil lalu menghampirinya.


“Bi Surti mau kemana?”


“Eh den Elang. I.. ini den bi.. bibi mau pergi.”


“Pergi kemana? Ini kenapa bawa tas segala? Bibi berhenti kerja di rumah Ily?”


“Iya den.”


“Sekarang bibi mau kemana? Mau pulang ke Pemalang apa mau kemana?”


“Sebetulnya bibi juga ngga tau den. Bibi belum dapet kerjaan baru soalnya.”


“Ya udah bibi masuk dulu.”


Elang mengambil tas pakaian bi Surti lalu memasukkannya ke kursi belakang. Kemudian dia membukakan pintu depan untuk bi Surti. Walaupun ragu tapi bi Surti mengikutinya, karena tahu Elang bukan tipe orang yang suka dibantah. Elang mengitari badan mobil lalu duduk di kursi pengemudi. Setelah itu melajukan kendaraannya kembali masuk ke dalam kompleks.


Elang menghentikan kendaraannya di depan rumah Dimas. Bi Surti mengikuti Elang turun dari mobil. Elang mengambil kunci rumah dari saku celananya lalu memberikannya pada bi Surti.


“Mulai hari ini bi Surti kerja di rumah om Dimas aja ya. Bibi cuma menjaga, merawat dan memastikan rumah dalam keadaan bersih. Tiap bulannya saya akan menggaji bibi seperti gaji yang selama ini bibi terima. Gimana bibi mau?”


“Ma.. mau den.”


Elang mengambil dompetnya lalu mengeluarkan tiga lembaran merah jambu kemudian memberikannya kepada bi Surti.


“Ini buat belanja kebutuhan bi Surti karena di dalem ngga ada yang bisa dimakan. Kalau uangnya sudah habis, bibi bilang lagi ke saya.”


“Ya ampun den ngga usah. Barusan pak Ega kasih bibi uang pesangon,” bi Surti hendak mengembalikan uang yang diberikan Elang tapi pemuda itu menolaknya.


“Uang itu lebih baik bibi pakai buat pengobatan cucu bibi. Soal biaya makan bibi biar jadi tanggungan saya.”


“Ya Allah den, makasih banyak. Bibi doakan rejekinya lancar dan cepet dapet jodoh ya.”


“Ck.. saya masih muda bi, belum mau nikah.”


“Ya nda pa pa toh, ketemu jodohnya sekarang. Nikahnya bisa nanti.”


“Ya terserah bibi deh. Orang berdoa mah bebas mau doa apa aja. Saya pulang dulu, bibi berani kan tinggal sendiri di sini?”


“Berani lah den. Wong bibi ketua semua dedemit di kompleks ini.”


“Hahahaha.. bibi bisa aja. Saya pulang ya bi, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”

__ADS_1


Sepeninggal Elang, bi Surti segera masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah sedikit berdebu karena sudah hampir tiga minggu ditinggal pemiliknya. Bi Surti segera memasuki kamar yang dulu ditempati bi Parmi. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya, karena besok harus membersihkan rumah.


🍁🍁🍁


Sehabis mengantar bi Surti, Elang memacu kendaraannya menuju rumah Rena. Dia ditugaskan Irzal untuk menjemput bunda dan Ayunda di sana. Irzal sendiri sedang menghadiri pertemuan di Jakarta ditemani Farel. Dia mulai menyiapkan Farel sebagai pendamping Elang nantinya.


Ega berjalan mondar-mandir di depan rumahnya seperti menunggu seseorang. Dari kejauhan nampak sorot lampu mobil yang dikendarai Elang. Mobil tersebut melambatkan lajunya hingga berhenti di depan rumahnya. Poppy bersama Ayunda turun dari mobil, disusul Elang tak lama setelahnya. Melihat kedatangan Poppy, Ega bergegas mendekatinya. Dia memang sedang menunggu perempuan yang dipanggil bunda oleh anak-anaknya.


“Kak,” panggil Ega. Poppy menghentikan langkahnya. Elang memberi isyarat pada Ayunda untuk masuk ke rumah. Dia sendiri menemani sang bunda.


“Kak aku minta maaf atas semua yang Alea lakukan.”


“Permintaan maafmu salah alamat. Harusnya kamu mengatakannya pada Dimas. Orang yang sudah kalian sakiti adalah dia bukan aku. Apa kamu sudah meminta maaf padanya?”


Ega tak mampu menjawab, karena memang baik dirinya maupun Alea belum meminta maaf pada Dimas. Poppy tersenyum kecut melihat Ega yang hanya diam membisu. Sekali lagi hatinya tercubit. Di mata mereka, adiknya tidak berharga sama sekali. Bahkan satu kata maaf pun tidak terlontar dari bibir mereka.


“Kalian benar-benar menganggap Dimas sampah. Sepertinya dia tak layak menerima permintaan maaf kalian.”


“Kak.”


“Sudahlah Ga, tidak usah dibahas. Aku yakin Dimas yang bodoh itu tidak akan mempermasalahkan kalian meminta maaf atau tidak. Dan aku berterima kasih padamu, karena sekali lagi kamu memisahkanku dengannya. Untuk beberapa waktu ke depan lebih baik kita tidak bertemu dulu.”


“Kak, sebentar kak. Maksud kakak apa?”


Poppy tak mengindahkan pertanyaan Ega. Dia terus melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah. Ega berusaha mengejarnya namun Elang menahannya.


Hati Ega mencelos ketika mendengar Elang memanggilnya dengan sebutan ‘om’. Sepertinya Elang tengah memberi jarak dengan dirinya. Salahkah Elang? Rasa sayang Elang pada Dimas yang membuatnya bersikap seperti itu. Sepertinya Ega dan Alea tak menyadari, luka yang mereka goreskan pada Dimas menancap lebih dalam pada anggota keluarganya.


🍁🍁🍁


Pemandangan langit kota Bandung siang hari ini nampak tak bersahabat. Awan hitam tampak menggelayut menyelimuti hampir semua di kawasan kota kembang ini. Suara guntur dan kilat yang menyambar menandakan sebentar lagi bumi akan menerima derasnya guyuran air dari atas sana.


Di saat orang lain bergegas menuju tempatnya masing-masing atau mencari tempat berteduh sebelum derasnya hujan menghantam bumi, Firly berjalan dengan santainya menyusuri troatoar. Tak dipedulikaannya hembusan angin yang bertiup kencang, menyapu benda-benda ringan di sekitarnya.


TES


Setetes air mengenai keningnya, yang disusul oleh tetesan-tetesan berikutnya. Namun Firly bergeming, tak ada niatnya untuk berlari menghindari rintik hujan atau berteduh. Semakin lama air yang terjatuh semakin deras saja. Namun tetap tak menyurutkan langkah Firly. Dengan tatapan kosong gadis itu terus berjalan di tengah guyuran hujan.


TIN


TIN


Terdengar suara klakson beberapa kali dari arah sampingnya. Tak ada respon dari gadis itu. Pemilik mobil tersebut memilih menghentikan mobilnya. Sambil membawa payung dia menghampiri Firly.


“Ly.”


“Ngapain lo di sini El?”

__ADS_1


“Masuk ke mobil Ly.”


“Ngga usah peduliin gue.”


“Lo masuk sendiri ke mobil atau gue paksa!”


Firly tak mempunyai pilihan selain menuruti perintah Elang. Pemuda itu sudah mengeluarkan aura menakutkan. Elang memberikan tisu untuk Firly menyeka wajah dan tangannya yang basah ketika sudah berada di mobil. Kemudian dia melajukan mobil menembus derasnya air hujan.


“Om Dimas di mana El?”


“Di mana pun dia berada, yang penting dia baik-baik aja. Lo ngga usah khawatir. Om Dimas dan Ara In Syaa Allah dalam keadaan baik. Dan elo juga harus bangkit Ly, jangan terus seperti ini.”


“Gue kecewa ternyata om Dimas lebih sayang mami dan papi dibanding gue. Dia lebih milih ninggalin gue dari pada menepati janjinya berjuang bersama gue hiks.. hiks..”


Elang menghentikan kendaraan tepat di depan rumahnya. Hujan di luar sana sudah mulai mereda, hanya menyisakan gerimis kecil saja. Tak ada niatan darinya untuk turun. Sengaja menunggu Firly menuntaskan tangisannya.


“Ly, keputusan om Dimas untuk pergi bukan hanya memenuhi permintaan mami dan papi elo. Tapi demi kebaikan semuanya. Lo lihat sendiri gimana tegangnya kondisi keluarga kita akhir-akhir ini. Lo pikir mudah buat dia ngelakuin semua ini?


Dia bukan cuma ngorbanin perasaannya tapi juga kebahagiaan Ara. Terus apa lo tega buat semua pengorbanan om Dimas sia-sia dengan sikap lo yang seperti ini? Bukan ini yang dia harapkan Ly. Lo juga harus kuat, jalani hidup lo seperti biasa. Dia pengen lo jadi Ily yang dulu, yang ceria, yang bisa membahagiakan semua orang dengan celotehan elo. Please Ly, jadilah gadis yang kuat. Kalau emang lo berjodoh sama om Dimas, takdir akan membawa kalian bersatu. For right now, just be strong.”


“Makasih ya El. Makasih karena elo tetap jadi sahabat gue setelah apa yang terjadi dengan keluarga kita. Maafin mami dan papi gue udah buat kalian marah dan bersedih.”


“Itu kesalahan mereka Ly dan ngga ada hubungannya sama elo. Lo, Ilan dan Ziel tetap sahabat gue dan rumah gue akan selalu terbuka buat kalian.”


“Sekali lagi makasih ya El. Kalau cewek-cewek di luaran sana tau lo bijak kaya gini. Gue yakin makin banyak yang klepek-klepek sama elo,” Firly terkekeh.


“BTW lo ngga suka ama Rain kan?”


“Maksudnya?”


“Ya kalo lo suka sama Rain, siap-siap aja patah hati soalnya Rain naksir cowok lain. Dan gue tahu rasanya patah hati tuh nyesek banget El.”


“Bawel lo ya, sana turun!”


Firly kembali terkekeh, dia membuka pintu mobil lalu keluar. Setengah berlari dia menuju rumahnya. Elang tersenyum melihat sahabatnya sudah lebih baik suasana hatinya.


🍁🍁🍁


**Duh mas El, mamake meleleh sama perhatianmu😍😍😍


Maaf baru bisa up karena mamake lagi sok sibuk di dunyat😅


Doakan aja ya urusan mamake cepat kelar jadi bisa crazy up lagi😎


Jan lupa like and comment-nya ya, vote kalo masih belum dipake and hadiah juga😉


Love you all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2