
Berkali-kali Chalissa menatap wajahnya di cermin kecil untuk memastikan kalau semua sudah sempurna. Kali ini dia akan memastikan Akhtar kembali ke pelukannya. Sebuah private room lengkap dengan hidangan yang dipesannya sudah tersaji di mejanya. Lemon squash favorit Akhtar juga sudah tersedia, tentunya dengan sentuhan bubuk obat perangsang di dalamnya. Senyum Chalissa mengembang membayangkan desahan demi desahan yang akan memenuhi ruangan ini.
Pintu ruangan terbuka saat seorang pelayan mengantarkan seseorang untuk masuk. Senyum manis tersungging di bibir Chalissa. Namun seketika senyuman itu hilang ketika melihat Rain yang berada di belakang pelayan tersebut. Dengan tenang wanita itu duduk berhadapan dengan Chalissa.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” sinis Chalissa.
“Aku hanya memenuhi permintaan suamiku untuk menemuimu di sini.”
“Bohong! Pasti kamu yang membaca dan membalas pesanku. Akhtar tidak mungkin mengutusmu, dasar pembohong!”
“Hubungi saja dia kalau kamu tidak percaya.”
Chalissa mendengus kesal seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hancur sudah rencana yang dibuatnya kali ini. Rain menatapi hidangan yang tersaji di atas meja. Dia tersenyum tipis, berkat bantuan Jayden meretas cctv di dapur resto terlihat kalau salah seorang pelayan membubuhkan sesuatu ke dalam minuman yang awalnya diperuntukkan untuk suaminya.
Suasana hening sejenak, Chalissa berpikir cepat merubah situasi kembali menguntungkan baginya. Kemudian pandangannya tertuju pada gelas minuman yang sudah dibubuhi obat perangsang. Chalissa tersenyum licik.
Hmm.. kalau bukan Akhtar, lebih baik kamu saja yang meminumnya. Aku akan memberikanmu pada laki-laki lain dan membuat Akhtar membencimu.
“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?” Chalissa menyeruput minuman di depannya.
“Berhenti mengganggu suamiku. Hubungan kalian sudah berakhir, sekarang dia adalah suamiku. Kamu sudah tidak berhak lagi atas dirinya,” tegas Rain.
Dada Chalissa bergemuruh mendengar itu semua. Tapi dia mencoba untuk menahannya, demi melancarkan rencananya menjebak Rain.
“Apa kamu tidak ingin mendengar bagaimana hubunganku dengan Akhtar selama berpacaran? Apa saja yang sudah kita lakukan bersama, apa kamu tidak penasaran? Minum dan makanlah dulu, karena pembicaraan ini akan panjang. Lagi pula mubazir bukan kalau semua makanan dan minuman ini sampai terbuang cuma-cuma.”
“Kenapa? Kamu kecewa karena rencanamu gagal hingga mengganti target sasaran?”
“Apa maksudmu?”
“Aku yakin dalam makanan atau minuman ini sudah kamu tambahkan sesuatu, obat tidur atau obat perangsang, aku tidak tahu. Tapi yang jelas sepertinya kamu ingin menjebak mas Akhtar lewat makan siang ini. Karena dia tidak datang maka target selanjutnya adalah aku, benar?”
Walau terkejut, namun Chalissa tak ingin kalah gertak. Dia bertepuk tangan cukup kencang diiringi tawa sumbang. Matanya menatap Rain dengan tajam, tampak kemarahan tersirat di dalamnya.
“Ternyata untuk gadis lugu sepertimu kamu cukup pintar juga. Dengar Rain, kamu jangan berbangga hati dulu. Kamu itu ngga lebih hanya pengantin pengganti bagi Akhtar. Mungkin dia menidurimu tapi bukan karena cinta tapi hanya nafsu, nafsu! Karena cinta Akhtar hanya untukku. Apa kamu tahu kalau kami pernah menghabiskan malam bersama? Dia sudah melihat apa yang ada di tubuhku bahkan menyentuhnya dengan penuh cinta.”
“Ah ya.. mas Akhtar sudah menceritakan malam laknat itu padaku. Bahkan dia menyesalinya, sangat menyesalinya. Kamu berhasil menjebaknya untuk menuntaskan hasratmu. Tapi sayang dia hanya memberikan jarinya untukmu,” cibir Rain.
“Bangsaaaaattt!!!”
Chalissa mengambil gelas di depannya, saat hendak menyiramkan ke arah Rain, dengan cepat Rain menepis gelas tersebut hingga jatuh ke lantai.
PRANG
Pecahan gelas berserakan di lantai. Chalissa berdiri kemudian menghampiri Rain. Tangannya terangkat hendak menampar namun lagi-lagi dirinya kalah cepat. Rain menekuk tangan Chalissa ke belakang punggungnya kemudian mendorong tubuh wanita itu ke meja.
“Berhenti mengganggu suamiku! Berhentilah selagi aku masih bersikap baik padamu. Aku tidak selugu, sepolos atau sebaik yang kamu bayangkan. Aku bisa menjadi topan yang meratakan duniamu dalam sekejap!”
Rain melepaskan tangan Chalissa dengan kasar. Wajah Chalissa tampak meringis menahan sakit di tangannya. Rain mengambil beberapa lembar foto dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke meja. Mata Chalissa membelalak melihat foto dirinya tengah bercinta dengan Jordy.
“Apa kamu tahu kalau Jordy punya kebiasaan aneh mendokumentasikan dirinya sedang bercinta? Itu hanya sebagian saja. Kalau kamu masih berani mengganggu suamiku, aku pastikan foto-foto tersebut beserta video mesum kalian tersebar ke media sosial. Jika itu terjadi, ucapkan selamat tinggal pada karir yang sangat kamu banggakan itu. Dan berhentilah menjadi wanita murahan.”
Rain melenggang pergi begitu selesai dengan ancamannya. Chalissa berteriak kesal. Dirobeknya lembaran foto yang berserakan di meja. Tubuhnya luruh ke lantai seiring dengan tangisnya yang meledak.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Rain sedang dalam perjalanan pulang ketika Regan mengiriminya pesan untuk makan siang bersama. Dengan cepat dia mengubah haluan menuju gedung Humanity Corp. Sang papa mengajaknya makan siang di Premium restoran. Kendaraannya sampai bersamaan di parkiran dengan mobil Regan. Dengan wajah sumringah dia menghampiri Regan, mencium punggung tangan dan pipi papanya.
“Sendirian? Papa kira kamu sama Akhtar.”
“Ngga pa, mas Akhtar lagi banyak kerjaan. Dia makan siang di kantor sama papa Nino.”
“Mas?” Regan mengernyitkan keningnya.
“Kenapa? Emang ngga boleh manggil mas sama suami sendiri? Kaya mama ke papa,” Rain memeluk lengan papanya begitu mereka memasuki gedung Humanity Corp. Regan tersenyum, lega rasanya melihat anaknya sudah terlihat bahagia.
Sesampainya di Premium, keduanya disambut oleh pelayan dan mengantarkannya ke meja yang sudah dipesan sebelumnya. Di jam makan siang seperti ini suasana Premium cukup ramai, jangan harap mendapatkan meja sebelum melakukan reservasi.
Regan menarik kursi untuk Rain dan dirinya. Meja mereka berdekatan dengan meja beberapa wanita pekerja kantoran. Keempat wanita itu langsung menolehkan pandanganya ke arah Regan juga Rain. Mata mereka menelisik ayah dan anak tersebut. Wajah Rain yang tidak terlalu mirip dengan Regan membuat mereka berpikiran negatif.
Banyak hal yang ayah dan anak itu bicarakan sepanjang makan siang. Regan lebih banyak bertanya soal kuliah Rain yang sedang menyusun tugas akhir.
“Alhamdulillah lancar pa. Kan dibantuin mas Akhtar juga.”
“Syukurlah.”
“Mama kemana pa? Kok ngga ikutan makan siang?”
“Mama lagi sibuk bantuin bunda Poppy di yayasan. Makanya papa ajak kamu makan siang bareng. Kalau ngajak Rey, kamu tahu sendiri adek kamu kaya gimana.”
“Aah si Rey mah lebay. Sok-sok an ngga mau orang tahu kalau dia anaknya papa. Padahal muka papa sama Rey kan udah kaya pinang dibelah kampak.”
“Hahaha... bisa aja kamu.”
Acara makan siang berakhir sudah. Regan lebih memilih mendatangi kasir untuk membayar tagihan mereka. Di saat yang bersamaan keempat wanita itu juga berada di kasir. Dengan tatapan sengit mereka melihat ke arah Rain.
Rain menangkap pembicaraan wanita-wanita itu yang dia tahu pasti ditujukan pada dirinya. Seketika otak jahilnya bekerja. Dengan gaya manja Rain memeluk lengan Regan, merebahkan kepalanya di lengan papanya.
“Om... beliin aku hp baru dong. Hp aku yang lama udah rusak, boleh ya.”
Keempat wanita itu melihat Rain dengan tatapan menjijikkan. Regan mengernyitkan keningnya melihat kelakuan sang anak. Sang kasir yang tahu hubungan mereka tak kuasa menahan senyum.
“Iih.. kok diem aja sih om. Mau ya beliin aku hp sama ada tas baru yang aku lagi incer. Limited edition loh om. Tenang aja om, nanti aku kasih double deh jatah tar malem,” Rain mengedipkan matanya ke arah Regan.
PLETAK
“Aaww!! Sakit papa!” Rain mengelus keningnya yang terkena sentilan Regan.
“Hukuman buat anak nakal kaya kamu.”
“Abisnya aku kesel disangka sugar daddy-nya papa sama tuh cewek-cewek,” Rain menunjuk keempat wanita itu dengan memonyongkan bibirnya.
“Ngga usah didengerin, ayo pulang,” Regan menarik telinga Rain seraya keluar dari restoran.
“Aaaaa... sakit pa, ampun..”
Tawa sang kasir langsung meledak melihat Regan keluar dari restoran seraya menarik telinga anaknya. Keempat wanita yang akan membayar segera bertanya karena penasaran.
“Mba.. kenal sama pasangan tadi?”
“Kenal bu, kan mereka langganan di sini.”
__ADS_1
“Tuh ceweknya ngga tau malu banget ya.”
“Itu anaknya bu, bukan sugar baby seperti yang kalian kira.”
“Oooh..”
Kompak keempatnya. Dengan cepat mereka membayar tagihan kemudian segera berlalu. Malu rasanya sudah berprasangka buruk pada seseorang. Mereka menuding Rain sebagai simpanan om-om, padahal dalam hati mereka mengagumi ketampanan Regan dan berharap ada di posisi Rain.
Rain mengusap telinganya yang merah akibat jeweran Regan. Bibirnya maju lima senti memperlihatkan kekesalan pada sang papa. Regan hanya tersenyum melihatnya.
“Rain, kamu pulang sama papa ya. Nginep di rumah, mama kangen sama kamu katanya.”
“Rain ijin dulu sama mas Akhtar pa.”
“Ijinnya di mobil aja, ayo,” Regan menarik tangan Rain ke mobilnya.
“Terus mobil Rain gimana?”
“Biar diantar pak Jalal ke apartemen kamu.”
“Ok boss.”
Rain masuk ke dalam mobil. Tangannya langsung mengambil ponsel lalu mengirim pesan pada suaminya.
To Mas Akhtar-ku :
Mas, papa minta aku nginep di rumah. Nanti pulang kerja mas langsung ke rumah papa ya.
From Mas Akhtar-ku :
Ok honey, tapi jangan lupa janji kamu tadi😉
To Mas Akhtar-ku :
Janji apa ya mas? Aku amnesia kayanya.
From Mas Akhtar-ku :
Awas aja kamu. Mas bikin ngga bisa jalan.
Rain tertawa membaca pesan terakhir dari Akhtar. Regan melirik pada anaknya. Walaupun hatinya belum sepenuhnya percaya Akhtar sudah mencintai anaknya, namun dia cukup bahagia melihat senyum Rain. Tangannya terulur mengusap puncak kepala anaknya.
🍁🍁🍁
**Hai readers tercinta, mamake balik lagi nih. It's Monday! Jangan lupa ya buat kasih vote satu2nya buat mamake😘😘
In Syaa Allah ke depannya mamake akan berusaha up tiap hari, semoga kondisi mamake sudah benar2 pulih ya.
Terima kasih buat doa kalian semua dan kesabaran kalian menunggu cerita ini up tiap harinya.
Love you all😍😍😍
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote**..