
Dua buah mobil berhenti bersamaan di depan butik milik Alea. Dari mobil pertama, turun Poppy dan Azkia. Tak lama Elang turun dari mobil satunya. Dia langsung menghampiri dua orang wanita yang dicintainya. Ketiganya segera memasuki butik dengan Poppy berada di tengah. Kedua tangannya menggamit tangan anak dan calon menantunya. Salah seorang pegawai yang menyambut kedatangan mereka segera mengantar ke lantai atas.
Di atas, Debby, Sarah dan Alea sudah menunggunya. Tanpa membuang waktu Alea meminta Azkia dan Elang untuk mencoba pakaian pengantin mereka. Untuk acara akad nikah dan resepsi, mereka memilih pakaian berwarna putih. Busana pertama yang mereka kenakan adalah busana akad nikah.
Berturut-turut mereka mencoba pakaian yang akan mereka kenakan di akhir pekan ini. Alea berdecak kagum melihat pasangan di depannya. Keduanya tampak serasi, tampan dan cantik. Dia tak menyangka perancang muda yang baru direkrutnya mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sangat baik.
Elang terpana saat melihat Azkia mengenakan gaun yang akan dikenakan nanti saat acara resepsi. Sebuah gaun berwarna putih dengan sentuhan bulu di bawahnya ditambah dengan kain berbahan tipis transparan yang menjuntai ke bawah. Senyum gadis itu semakin menyempurnakan penampilannya. Membuat hati Elang bertambah cenat-cenut.
Selesai mencoba, keduanya kembali berganti pakaian. Kemudian Alea mengajak mereka ke selasar yang masih berada di lantai ini untuk mencicipi camilan dan minuman. Elang duduk di samping Azkia. Tangannya merentang di atas sofa seolah-olah sedang merangkul calon istrinya.
“Kia, mulai malam ini kamu nginep di rumah mama aja ya. Nanti biar gampang mama bantu kamu perawatan,” ucap Debby.
“Ngga bisa ma,” sahut Elang.
“Kenapa?”
“Di rumah mama tuh ada Gara. Kia ngga boleh tinggal di rumah mama.”
“Ya ampun El, masa kamu cemburu sama Gara. Mama jamin dia ngga bakalan gangguin Kia. Lagian mana berani dia ganggu calon kamu.”
“Pokoknya ngga. Enak aja dia bisa tinggal serumah sama calonku.”
“Ya udah di rumah mama Sarah aja atau mami Alea.”
“Ngga boleh. Di rumah mama Sarah ada Rey. Apalagi di rumah mami, ada Ilan sama Ziel. Pokoknya Kia tetap tinggal di rumah om Dimas. Kalau mama mau bantuin Kia perawatan tinggal ke rumah om Dimas aja, deket ini.”
“Ya ampun El, kamu kalau bucin nakutin ya,” ledek Debby.
Elang cuek saja dengan ledekan Debby. Azkia menoleh pada Elang, mencoba protes dengan tatapan matanya tapi pemuda itu hanya menggendikkan bahunya.
“Terus mi, buat gaun di resepsi ada yang perlu ditambah.”
“Apa El?”
“Tambahin niqab.”
“Niqab? Kia mau pake niqab pas resepsi?”
“Iya.”
“Ya ampun El, kamu jangan aneh-aneh deh,” protes Poppy yang gemas dengan tingkah anaknya.
__ADS_1
“Sekarang bunda pikir. Di acara resepsi nanti berapa undangan yang akan datang? Ada temen-temenku, temen Kia, karyawan kantor, kolega ayah sama bunda. Lalu keluarga besar. Semua keluarga dekat dan jauh ayah undang. Belum lagi kalau mereka datang bawa pasangan masing-masing. Nantinya ada ribuan pasang mata yang bakal lihat Kia. Kalau tamunya perempuan semua ngga masalah, tapi ngga mungkin kan, pasti banyak laki-laki di sana. Aku ngga mau wajah Kia jadi konsumsi publik selama resepsi. Cukup orang-orang terdekat aja yang tahu wajah Kia.”
“Astaga!”
Ketiga wanita paruh baya itu kompak menepuk kening mereka mendengar penuturan Elang. Azkia pun tak kalah terkejutnya. Ternyata Elang benar-benar posesif terhadapnya. Elang berdiri, dengan gerakan kepala dia mengajak Azkia pergi.
“Mau kemana El?”
“Pulang mi, kan udah selesai fitting bajunya.”
“Kamu kalau mau pulang ya pulang aja. Biar nanti Kia sama bunda.”
“Ck.. bahaya bun lama-lama di sini. Bunda ngga lihat apa, dari tadi pegawai mami tuh bolak-balik ke sini.”
“Dia kan cuma mau kasih laporan El,” gemas Alea.
“Tapi matanya lihatin Kia terus dari tadi. Ayo Az.”
Lagi, ketiga wanita itu dibuat menepuk kening oleh sikap posesif Elang. Azkia jadi salah tingkah sendiri. Poppy memberi tanda pada Azkia untuk menuruti Elang. Mau tak mau Azkia mengikuti Elang pulang walau sebenarnya dia masih ingin berkumpul dengan para mama.
Azkia masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut. Elang mengubah posisi duduknya menghadap Azkia.
“Kenapa cemberut gitu?”
“Mas iihh.. aku kan malu sama bunda, mama sama mami. Emangnya aku harus ya pakai niqab pas resepsi nanti?”
“Mas iihhh...”
Karena kesal tanpa sadar Azkia mencubit lengan Elang. Pemuda itu meringis kesakitan, diusapnya lengan yang terkena cubitan. Azkia tertawa kecil melihat Elang kesakitan. Tiba-tiba Elang memajukan tubuhnya ke arah Azkia. Sontak gadis itu mundur hingga bahunya menempel ke pintu mobil. Wajah mereka semakin dekat, Azkia menutup matanya. Perlahan tangan Elang menarik sabuk pengaman seraya berbisik di telinga Azkia.
“Jangan mengujiku Az. Setiap berdekatan denganmu, aku selalu hampir kehilangan kendali.”
Elang memasangkan sabuk pengaman lalu kembali ke posisi semula. Tak lama kereta besinya meluncur. Azkia memegangi dadanya yang berdetak kencang. Wajahnya pun memanas akibat ulah Elang tadi. Dari sudut matanya, Azkia melihat pemuda di sebelahnya. Elang menatap lurus ke depan, bibirnya terkatup rapat. Azkia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mas El, bibir kamu kok seksi banget sih, astaghfirullah. Ya ampun Kia sadar, kalian belum halal.
“Kita ke rumah dulu ya. Kamu kan belum lihat lantai tiga.”
Azkia mengangguk saja, memangnya dia bisa menolak kalau Elang sudah berkehendak. Elang menghentikan kendaraannya di depan rumah. Keduanya turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah nampak sepi. Irzal dan Farel masih di kantor pastinya, sedangkan Ayunda belum pulang dari kampus. Elang mengajak Azkia ke lantai tiga menggunakan lift yang berada di dekat tangga.
Tak sampai satu menit mereka sampai di lantai tiga. Mereka harus melewati pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruangan. Irzal sengaja memberi jarak setelah tangga dan lift serta diberi sekat agar tidak sembarang orang bisa masuk ke lantai tiga.
Mata Azkia memindai keseluruhan ruangan beserta interiornya. Elang mengajak gadis itu berkeliling. Dibuka pintu yang ada di lantai tiga ini. Elang menerangkan ruangan apa saja yang ada di sini.
__ADS_1
Terakhir Elang mengajak Azkia ke kamar utama. Sebuah kasus berukuran king size, meja rias, nakas kecil, sofa tertata rapih di sana. Di bagian sebelah kiri ada pintu lain yang merupakan kamar mandi. Sedang walk in closet berada di bagian kanan.
Azkia kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon. Dibukanya pintu geser yang terbuat dari kaca tersebut. Pemandangan kota Bandung yang berlatar gunung Tangkuban Parahu terpampang di hadapannya. Hembusan semilir angin menerpanya, membuat hijab yang dikenakannya melambai-lambai.
Azkia mengeluarkan ponselnya lalu berbalik. Dia berdiri dengan punggung menyender pada pagar balkon. Tangan kanannya terangkat, mengarahkan kamera ponsel padanya. Bunyi shuter kamera ponsel terdengar begitu dia berhasil mengambil gambar dirinya. Azkia tersenyum puas melihat hasil jepretannya.
Elang datang menghampiri. Dia mengurung tubuh Azkia dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pagar balkon di kedua sisi gadis itu. Untuk sesaat keduanya saling berpandangan.
“Kamu ngga keberatan kita tinggal di sini?”
“Ngga mas, aku suka. Aku bisa menikmati pemandangan indah ini setiap hari.”
“Aku juga suka pemandangan indah di sini, apalagi kalau ditemani istri cantik sepertimu,” Azkia mengulum senyum, semakin hari Elang semakin pintar menggombal tapi dia menyukainya.
“Az.. apa kamu yakin mau menikah denganku? Seperti yang kamu tahu, aku ini emosional, mudah marah, tidak sabaran dan posesif. Apa kamu bisa menerimanya?”
“Lalu apa mas bisa menerimaku yang penuh kekurangan? Belum lagi masa laluku. Aku...”
“Sssttt... aku tidak peduli soal masa lalumu. Itu bukan kesalahanmu. Aku mencintai semua yang ada di dirimu, termasuk masa lalumu. Aku juga bukan manusia sempurna, aku pun punya banyak kekurangan.”
“Aku harap kita bisa saling melengkapi kekurangan kita mas.”
Elang menatap dalam wajah Azkia. Sesekali tenggorokannya terlihat bergerak saat menelan salivanya. Berada berdua dengan Azkia dengan posisi sedekat ini sungguh menggoda imannya. Setan dalam dirinya terus saja berbisik untuk menyentuh gadis di hadapannya.
“Kamu tahu Az.. aku sangat ingin menciummu di sini, sini, sini, sini, sini dan sini.”
Elang menunjuk kening, kedua mata, kedua pipi, hidung, dagu dan bibir Azkia dengan jarak jarinya yang hanya terpaut beberapa mili saja dari wajah Azkia. Gadis itu hanya tergugu menatap Elang dengan debaran di dadanya. Elang memejamkan matanya sejenak lalu membalikkan tubuhnya.
“Ayo aku antar pulang.”
🍁🍁🍁
**Bukan cuma mas El, neng Az juga udah mulai oleng lihat bibir mas El yang cipokable😁
__ADS_1
Siap² yang mau ke acara nikahannya mas El dan neng Az. Besok sore acara akadnya digelar terus sambung resepsi. Siapin kado spesial buat mereka ya😍
Cuss ah abis baca siap² tekan like, kasih komen and lempar vote kalau masih ada😉**