Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Az & El


__ADS_3

Sebelum jam tiga sore Elang sudah berada di mini market. Nampak Azkia sedang menghitung penghasilan untuk diserahkan pada penggantinya. Elang mendekat lalu meminta lima bungkus rokok kretek. Setelah membayar belanjaannya dia tak langsung pergi.


“Nanti selesai bekerja, bisa bicara sebentar?”


“Bisa kak, tapi aku shalat ashar dulu.”


“Ok, aku tunggu di depan sana.”


Elang menunjuk ke arah meja-meja yang ada di depan mini market. Azkia hanya mengangguk. Elang melangkah keluar lalu menuju mobilnya. Ditaruhnya rokok yang tadi dibelinya di dalam dashboard. Kemudian dia menuju masjid yang letaknya tak jauh dari sana.


Seusai shalat ashar berjamaah, Elang duduk menunggu Azkia. Tak berapa lama gadis itu keluar. Elang memperhatikan Azkia yang terlihat pucat. Azkia menarik kursi di depan Elang lalu mendudukkan dirinya.


“Kamu baik-baik aja? Muka kamu pucat.”


“Masa?” Azkia menyentuh pipinya. Sebenarnya dia sedikit tak enak badan, tapi demi mendapatkan uang lebih, dipaksakan dirinya untuk lembur.


“Az...”


“Az? Aku maksudnya?”


“Iya, nama kamu kan Azkia. Jadi ngga salah kalau aku panggil Az.”


“Iya juga sih. Cuma aneh aja, biasanya orang-orang panggil aku Kia.”


“Itu kan orang lain. Kalau aku mau panggil Az aja biar beda dari yang lain.”


BLUSH


Wajah Azkia merona mendengarnya, dia menundukkan kepalanya. Elang mengarahkan pandangan ke arah lain. Dalam hati dia merutuki dirinya yang keceplosan berkata seperti itu.


Dih alay banget sih gue.


“Kakak mau ngomong apa?”


“Hmm.. itu, acara kemanusiaan rencananya kapan bakal diadain?”


“Rencananya abis ujian akhir kak. Kenapa ya?”


“Kalau dananya masih kurang, nanti aku bisa cariin donatur lain.”


“Makasih kak. Ya kalau kita sih semakin banyak yang nyumbang semakin bagus. Jadi akan lebih banyak orang yang nerima manfaatnya.”


Seketika percakapan di antara mereka langsung mengalir. Sepertinya Elang pintar memilih topik untuk berbicara dengan gadis itu. Di tengah keasikan mereka, seseorang datang mendekat.


“Kia..”


“Kang Adi. Ada apa ke sini?”


“Hmm.. aku disuruh ibu jemput kamu.”


“Ibu?”


“Iya. Ibu khawatir soalnya kamu kurang sehat katanya.”


Elang berdehem menginterupsi pembicaraan dua orang di depannya. Adi yang mengenali Elang langsung menyalaminya kemudian duduk bersisian dengan pemuda itu. Suasana menjadi canggung, Adi sedikit tak enak hati mendapat tatapan tajam dari seniornya itu. Di tengah-tengah kecanggungan terdengar suara Arul memanggil Azkia. Gadis itu segera menghampiri rekan kerjanya tersebut. Meninggalkan Elang dan Adi dalam keheningan.


“Aku yang akan mengantar Azkia pulang,” suara Elang memecah keheningan di antara mereka.


“Maaf kak, aku sudah janji sama ibunya akan mengantarnya pulang.”

__ADS_1


“Dengan motor? Apa kamu tidak lihat wajah pucatnya. Dia akan bertambah sakit jika terkena angin sore.”


“Kakak ngga usah khawatir, aku akan menjaganya dengan baik.”


“KIA!”


Perdebatan Elang dan Adi terhenti ketika mendengar teriakan Arul. Keduanya terkesiap melihat tubuh Azkia ambruk di dekat Arul. Elang segera berlari mendekat. Diambilnya kunci mobil dari saku celana lalu melemparkannya ke arah Arul.


“Bukakan pintu mobil, cepat!”


Arul segera berlari menuju mobil. Elang segera meraup tubuh Azkia, membopongnya menuju mobil. Dia tak memberi kesempatan pada Adi untuk menyentuh tubuh gadis itu. Elang membaringkan Azkia di jok belakang lalu sgeera menaiki mobil. Tak lama roda kendaraannya bergerak.


Sesampainya di rumah sakit, Elang membopong tubuh Azkia masuk ke dalam UGD. Reyhan yang sedang bertugas segera menghampiri.


“Mas.”


“Tolong Rey, dia tiba-tiba pingsan.”


Elang membaringkan Azkia di atas blankar. Reyhan segera memeriksanya. Adi yang baru saja tiba segera menuju blankar Azkia. Elang memperhatikan Reyhan yang sedang memeriksa kondisi Azkia. Seorang suster datang untuk membantu.


“Dia kenapa Rey?”


“Ngga apa-apa mas, dia cuma kelelahan. Sepertinya dia memforsir tubuhnya secara berlebihan. Sebentar lagi juga dia siuman.”


“Apa harus dirawat?”


“Tidak perlu, dia hanya perlu banyak istirahat dan minum vitamin. Dan yang terpenting jangan banyak pikiran.”


“Berikan vitamin yang terbaik untuknya. Aku yang akan mengurus semuanya.”


“Iya mas.”


“Kia..”


“Aku di mana kang?”


“Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan.”


“Aku harus pulang.”


Azkia hendak bangun tapi seorang suster yang baru datang melarangnya dan memintanya kembali berbaring. Dia menyuntikkan cairan ke tubuh Azkia, membuat gadis itu sedikit meringis.


“Kia, kenapa kamu mengambil banyak pekerjaan tambahan? Kamu sudah lelah dengan pekerjaan di mini market dan juga kuliah. Tolong jangan siksa tubuh kamu dengan melakukan pekerjaan lain.”


“Dari mana akang tahu?”


“Hanin yang bilang kalau seminggu ini kamu pergi shubuh dan pulang malam. mencari uang memang penting tapi kesehatan kamu lebih penting. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus ibu?”


Azkia menunduk mendengar penuturan Adi. Jika bisa memilih, dia ingin seperti teman sebayanya, menjalani hidup tanpa terbebani oleh hal-hal yang belum menjadi tanggung jawabnya. Tapi ini jalan hidup yang harus dilaluinya. Sebisa mungkin Azkia bersabar dan mencoba ikhlas.


“Apa kamu memikirkan soal uang itu? Aku sudah bilang kamu tidak usah pikirkan. Aku tidak minta uang itu dikembalikan.”


“Aku harus mengembalikannya agar tidak menjadi beban untukku. Aku malu kang, sudah banyak akang membantuku.”


Adi menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Gadis di hadapannya benar-benar keras kepala. Tapi itu yang membuatnya jatuh semakin dalam padanya. Azkia begitu mandiri, kuat dan tegar di tengah cobaan hidupnya yang tak mudah.


“Ok, kamu boleh kembaliin uang itu tapi ngga sekaligus. Kamu boleh mencicilnya. Aku ngga akan kasih batas waktu. Cicillah sesuai kemampuanmu tapi please berhenti melakukan pekerjaan tambahan.”


“Iya kang, makasih.”

__ADS_1


“Dan soal lamaranku waktu itu, jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Pikirkanlah baik-baik dan jangan dijadikan beban. Aku akan menerima apapun keputusanmu.”


“Ehem!” Elang mendekati blankar dan menginterupsi perbincangan keduanya.


“Azkia harus istirahat, dia baru saja disuntik obat. Kamu sebaiknya pulang, aku yang akan menungguinya.”


Sebenarnya Adi enggan untuk meninggalkan Azkia, namun ucapan Elang yang penuh penekanan serta tatapannya yang meingintimidasi membuat Adi tak berdaya. Dengan berat hati pemuda itu berpamitan.


“Dan kamu, tidur! Jangan pikirkan apapun.”


“Tapi aku belum ngabarin ibu. Takutnya ibu cemas.”


“Kemarikan ponselmu.”


Elang menyodorkan tas pada Azkia. Diambilnya ponsel dari dalam tas lalu memberikannya pada Elang.


“Siapa nama adikmu?”


“Hanin.”


Elang mencari nama Hanin lalu mengirimkan pesan padanya. mengatakan kalau Azkia ada keperluan mendadak dan pulang sedikit terlambat. Kemudian dia memasukkan nomornya ke dalam kontak gadis itu. Ditekannya tombol panggilan, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Elang tersenyum tipis, dia berhasil mendapatkan nomor gadis itu. Dia mengembalikan ponsel itu pada empunya.


“Oh iya, aku sudah save nomerku. Supaya kamu bisa menghubungiku soal acara kemanusiaan itu. Dan nomer kamu juga sudah aku save.”


Azkia membuka daftar panggilan. Keningnya berkerut ketika melihat sebuah nama baru tertera di sana ‘Mas El’. Azkia melayangkan pandangannya ke arah Elang.


“Mas El?”


“Hmm... jangan panggil aku kakak. Aku seperti pembina pramuka aja dipanggil kakak,” Elang terkekeh.


“Mas El..”


“Iya Az..”


BLUSH


Wajah Azkia merona, jantungnya bertalu-talu tak karuan. Dia merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Sungguh Azkia tak sanggup untuk melihat ke arah Elang. Sudah dua kali lelaki ini membuat wajahnya merona. Salahkah jika Azkia mulai berharap padanya?


Melihat Azkia sudah tertidur, Elang memilih untuk pergi. Berada di dekat Azkia, membuatnya semakin tak terkendali. Beberapa kali dia mengucapkan kata-kata konyol di depan gadis itu. Elang memutuskan untuk menunggu di kantin. Reyhan mengatakan obat yang disuntikkan mungkin akan membuat Azkia tertidur sekitar dua atau tiga jam.


Setelah dua jam, Azkia terbangun. Tubuhnya sudah lebih segar sekarang. Elang masih setia menungguinya. Sesudah menunaikan shalat maghrib, dia mengantarkan Azkia pulang. Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Mobil Elang berhenti tepat di depan gang. Azkia melepaskan seat belt namun entah mengapa, sulit sekali untuk terlepas. Elang membantu melepaskan sabuk pengaman. Nafas Azkia tertahan saat posisi keduanya begitu dekat. Akhirnya tali sabuk dapat terlepas juga.


“Makasih kak.. eh mas..”


“Sama-sama. Ingat harus banyak istirahat dan vitaminnya diminum.”


“Iya kak. Sekali lagi terima kasih. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Azkia turun dari mobil. Elang terus mengawasi gadis itu sampai tak terlihat lagi barulah kemudian menjalankan kendaraannya lagi. Selama dalam perjalanan pulang Elang terlihat bahagia. Sesekali dia bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya.


🍁🍁🍁


**Ah cieee... mas El kayanya lagi fallin' in love nih. Gercep juga ya mas El, ngga mau ditikung buat yang kedua kali.


Readers juga harus gercep ya, habis baca jempolnya digoyang buat like, comment and vote. In Syaa Allah mamake up lagi nanti malam😉**

__ADS_1


__ADS_2