Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Janji Suci


__ADS_3

Di tengah persiapan pernikahan Farel dan Ara, keluarga Ramadhan dikejutkan dengan kabar rencana pernikahan Firlan dan Hanin. Azkia tentu saja terkejut mendengarnya sekaligus kecewa. Bukan karena mendengar pernikahan sang adik dari orang lain, tapi karena Hanin tidak membicarakan masalah ini lebih dulu dengannya.


Hanin duduk di hadapan Azkia yang masih membungkam mulutnya. Saat ini keduanya tengah berada di lantai tiga, kediaman Azkia dan Elang. Hanin memandang sendu ke arah Azkia, dia tahu kalau kakaknya sedang marah padanya.


“Kak...”


“Apa kamu sudah tidak menganggapku kakak lagi Han?”


“Maaf kak, bukan begitu?”


“Lalu apa? Kamu mengambil keputusan menikah tanpa membicarakannya dulu dengan kakak. Pernikahan itu bukan hal yang main-main de. Apalagi yang akan kamu nikahi itu bang Ilan. Kamu tahu kan kisah segitiga Yunda, Rey dan bang Ilan? Apa kamu pikir bang Ilan akan semudah itu melupakan Yunda?”


“Kak...”


“Kakak hanya mengkhawatirkanmu Han. Kakak ngga mau kamu sakit hati karena menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaimu. Kakak kecewa sama kamu, benar-benar kecewa. Sepertinya setelah mendapatkan keluarga baru, kamu benar-benar melupakan kakak, kamu sudah tidak membutuhkan kakak lagi.”


Hanin menundukkan kepalanya, bahunya bergetar menahan isak tangis. Kata-kata Azkia begitu menohoknya. Bukan.. bukan karena dia sudah memiliki keluarga baru alasannya tak memberitahukan keputusannya menikah. Karena dia tahu pasti Azkia akan melarangnya. Kakaknya itu selalu peka dengan perasaannya, hanya dengan melihatnya saja Azkia bisa mengetahui apa yang dirasakannya.


Dari ruang tengah Elang memperhatikan kakak beradik yang tengah berbicara di ruang makan. Melihat Hanin yang terus dicecar oleh istrinya, dia merasa iba juga. Akhirnya Elang memilih mendekat untuk menenangkan Azkia.


“Sayang... mas yakin ada alasan lain kenapa Hanin ngga memberitahumu soal rencana pernikahannya. Bagi Hanin, kamu tetap kakaknya. Harusnya kamu mendukungnya, memberinya kekuatan, bukan memarahinya seperti ini.”


Azkia menghela nafasnya. Benar juga apa yang dikatakan suaminya. Dipandanginya Hanin yang masih menangis dengan kepala tertunduk. Azkia bangun dari duduknya lalu menghampiri Hanin.


“Hanin lihat kakak.”


Perlahan Hanin mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah bersimbah airmata. Ada penyesalan dalam hati Azkia telah membuat adiknya menangis seperti ini. Azkia memegang bahu Hanin seraya menatap dalam netranya.


“Apa kamu yakin akan menikahi bang Ilan?”


“Iya kak,” jawab Hanin di sela isaknya.


“Kakak merestuimu. Kakak akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Tapi berjanjilah kalau semuanya terlalu sulit untukmu, berhentilah. Jangan menyiksa dirimu lebih lama.”


Hanin hanya mengangguk, airmatanya masih terus bercucuran. Azkia merengkuh Hanin ke dalam pelukannya. Matanya juga berkaca-kaca. Tanpa gadis itu katakan, Azkia tahu kalau keadaan adiknya tidak baik-baik saja. Ada perjuangan berat yang akan dihadapinya nanti.


Elang merengkuh bahu Azkia kemudian mendaratkan kecupan di puncak kepalanya. Terpikir olehnya berbicara dengan Firlan untuk menitipkan Hanin padanya. Firlan adalah laki-laki yang baik, dia yakin sahabatnya itu akan menjaga Hanin dengan baik.


🍁🍁🍁


Dengan tergesa Ara keluar dari kelas begitu bel tanda akhir pelajaran terdengar. Guru yang mengajar sudah lebih dulu meninggalkan ruangan beberapa detik sebelum bel berbunyi. Yama segera menyusul Ara. sudah seminggu ini, gadis itu mengabaikannya. Batas waktu taruhan dirinya dengan teman-temannya akan berakhir dua hari lagi. Bukannya berhasil meniduri Ara, gadis itu malah menjauh darinya.


“Ra.. Ara! Tunggu Ra!”


Ara terus melangkah, dia menulikan telinganya mendengar panggilan Yama. Semenjak Elang memperdengarkan rekaman Yama yang menjadikannya bahan taruhan, perasaan Ara langsung seratus delapan puluh derajat berubah. Dia muak bahkan jijik melihat mantan pacarnya itu. Yama mempercepat langkahnya lalu segera menghadang Ara.


“Ra.. tunggu Ra.. lo kenapa sih?”


“Minggir!”


“Gue salah apa Ra?”


“Banyak! Lo banyak salah sama gue. Lo ternyata cuma laki-laki brengsek yang jadiin gue bahan taruhan. Bukan itu aja, lo juga playboy cap kaki tiga yang ngumbar pesona kemana-mana. Belum puas lo jalan sama Rachel, terus lo jadiin gue bahan taruhan, iya?!”


Yama terhenyak, untuk sesaat lidahnya menjadi kelu. Bagaimana gadis di depannya ini tahu soal taruhannya? Tapi Yama yang sudah kadung gembar-gembor akan mendapatkan Ara tak menyerah. Dia terus berusaha menyangkal kebenaran yang sudah diketahui oleh Ara.


“Ngga gitu Ra. Gue beneran sayang sama elo. Soal Rachel, emang dia aja yang ngejar-ngejar gue. Gue udah berapa kali nolak tapi dia terus aja ngejar gue.”

__ADS_1


Muak dengan semua penjelasan Yama yang dipastikan kalau isinya hanyalah kebohongan belaka. Ara mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu melemparkan ke arah Yama. Seketika lembaran foto kebersamaan Yama dengan beberapa gadis, termasuk Rachel berhamburan di lantai.


“Lihat baik-baik foto lo sama Rachel. Asik banget lo nyosor dia. Itu yang namanya nolak? Cih dasar kadal buluk, minggir lo!”


Ara mendorong bahu Yama, setelah itu berlalu meninggalkan pemuda itu. Mulai tedengar bisikan di antara para murid yang menyaksikan pertengkaran mantan pasangan kekasih itu. Ditambah dengan foto yang berserakan di lantai, kasak-kusuk soal Yama semakin santer terdengar. Dengan kesal dipungutinya lembaran foto di lantai lalu pemuda itu bergegas pergi.


Ara masuk ke dalam mobil Dimas yang telah menunggunya di depan gerbang sekolah sejak lima menit yang lalu. Menjelang hari pernikahannya, Dimas menyempatkan diri mengantar dan menjemput Ara sekolah.


“Kenapa lama?”


“Maaf pa, tadi ada kecoa pas Ara keluar kelas.”


Dimas tak bertanya lebih lanjut. Dia sudah tahu kecoa yang dimaksud Ara. Tadi Dimas sempat turun dan melihat pertengkaran Ara dengan Yama. Dia bisa bernafas lega karena putrinya sudah bisa lepas dari anak begajulan itu. Dimas menekan tombol start kemudian mulai melajukan kendaraannya.


🍁🍁🍁


Menjelang hari pernikahannya, Farel menghindari bertemu dengan Ara. Bukan untuk memenuhi tradisi pingitan tapi tak ingin hatinya tergores lagi dengan kata-kata atau sikap gadis itu. Farel manusia biasa, dia takut tak akan mampu menahan perasaan dan berakibat pada pembatalan pernikahan.


Dibantu Poppy dan Azkia, Farel mempersiapkan cincin pernikahan, mas kawin hingga hantaran pernikahan. Sedang untuk kelengkapan administrasi pernikahan, Elang yang mengurusnya. Di waktu yang sangat mepet ini, mereka berusaha menyiapkan pernikahan sesempurna mungkin walau hanya akad nikah saja.


Waktu berlalu, kini tibalah hari pernikahan Farel dan Ara. Acara akad nikah hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat dan teman dekat saja. Berhubung Ara masih sekolah, mereka terpaksa menutupi pernikahan, khawatir akan berdampak pada kelangsungan pendidikan gadis tersebut.


Akad nikah dilangsungkan tertutup di kediaman Irzal, tepatnya di lantai tiga. Elang merelakan kediamannya dijadikan tempat pernikahan Farel dan Ara. Semua yang berkepentingan sudah hadir. Penghulu yang akan menikahkan juga sudah hadir. Hanya keluarga Regan, Ega, Adit, Nino, Fahri, Rena, Ringgo dan Arini yang hadir. Mereka sengaja tak mengundang tetangga, nanti saja saat resepsi. Beruntung penghuni kompleks perumahan ini bukanlah manusia berjenis kepo, jadi mereka tidak terlalu peduli yang dilakukan penghuni kompleks lainnya.


Ara menunggu cemas di dalam kamar bersama dengan Firly dan Hanin. Dalam hati dia berharap ada keajaiban yang membuat pernikahan batal. Jemari tangannya saling meremas. Ara masih tak percaya dirinya akan menikah dengan Farel, laki-laki yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Apalagi hubungan mereka merenggang dan memburuk pasca dirinya berpacaran dengan Yama.


Dari dalam kamar, Ara mendengar penghulu menanyakan kelengkapan administrasi calon pengantin. Jantungnya semakin berdegup kencang. Hatinya tak berhenti berdoa, berharap Farel tiba-tiba kehilangan suaranya atau berubah pikiran hingga pernikahan ini batal dilaksanakan.


Ara mencoba menajamkan telinganya, berusaha mendengar suara-suara di luar sana yang tidak terlalu jelas. Untuk beberapa saat suasana seperti hening. Ara memejamkan matanya berusaha berkonsentarsi lebih keras untuk menguping pembicaraan. Tiba-tiba dia mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.


“Ananda Muhammad Farel Ramadhan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Zahra Nafsha Saputra binti Dimas Saputra dengan mas kawin emas 25 gram dibayar tunai!”


“Bagaimana saksi? Sah?”


“SAH!” tegas Fahri dan Ringgo yang didaulat sebagai saksi.


Ara memejamkan matanya begitu mendengar kata sah. Berarti sah sudah dirinya menjadi istri Farel. Firly dan Hanin membantu Ara berdiri kemudian membimbingnya keluar kamar. Semua mata langsung tertuju padanya ketika pintu kamar terbuka. Farel terpaku beberapa saat melihat wajah cantik Ara yang kini sudah sah menjadi istrinya. Jantungnya berdegup lebih kencang ketika kaki Ara semakin mendekat padanya.


Firly mendudukkan Ara di sisi Farel. Jantung Ara pun tak kalah hebat berdetak. Dia hanya menunduk saja, tak berani menatap wajah Farel. Penghulu mempersilahkan pengantin memasangkan cincin pernikahan. Dengan tangan sedikit bergetar Farel memasangkan cincin ke jari manis Ara.


Untuk beberapa saat Ara hanya tercenung melihat cincin lain yang berukuran lebih besar masih berada dalam kotak beludru. Firly berbisik di telinga Ara, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Dengan gerakan lambat, Ara mengambil cincin lalu menyematkannya di jari manis Farel.


Selesai menyematkan cincin di jari suaminya, Ara kembali terdiam. Waktu seakan berhenti untuknya. Otaknya mengabur tentang apa yang harus dilakukannya sekarang. Firly kembali mendekatkan diri ke anak sambungnya itu kemudian berbisik pelan di telinga sang anak.


“Cium tangan suamimu sayang.”


Ara tersentak, kesadarannya kembali. Dengan ragu Ara meraih tangan Farel kemudian mencium punggung tangannya. Farel merengkuh bahu Ara lalu mendaratkan ciuman di kening gadis itu.


Ara seperti tersetrum aliran listrik ketika bibir Farel menyentuh keningnya. Dadanya berdesir pelan, sungguh ciuman singkat itu mampu memberikan efek luar biasa pada tubuh dan hatinya. Tak jauh berbeda dengan Ara, Farel pun merasakan hal yang sama.


Akad nikah sederhana yang menyatukan kedua insan dalam ikatan suci diakhiri dengan penandatangan dokumen pernikahan. Setelah semua urusan administrasi selesai, para petugas KUA undur diri. Mereka masih harus menghadiri pernikahan lain.


Farel dan Ara menghampiri Dimas. Dengan mata berkaca-kaca Dimas memeluk Ara. Tangis Ara pecah dalam pelukan sang papa.


“Anak papa sekarang sudah menjadi seorang istri. Jadilah istri yang baik nak. Berbaktilah pada suamimu. Mulai saat ini dia yang akan bertanggung jawab atas hidupmu, dunia akhirat. Jangan pernah membantah suamimu selama dia mengajakmu dalam kebenaran.”


Ara tak sanggup menjawab dengan kata-kata. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Isak tangis masih terdengar bibirnya. Dimas menguraikan pelukannya lalu menghapus airmata Ara dan mengakhiri dengan ciuman di keningnya.

__ADS_1


Kini giliran Farel yang menghampiri ayah mertuanya. Dimas menepuk rahang Farel kemudian memeluknya sebentar.


“Om..”


“Papa.. panggil om, papa mulai sekarang.”


“Papa..”


“Papa titip Ara padamu. Dia masih muda dan membutuhkan banyak bimbingan darimu. Kamu juga harus banyak bersabar padanya. Tidak ada pria lain yang lebih baik mendampingi Ara selain dirimu. Papa doakan pernikahan kalian diberkahi Allah dan kalian diberikan kebahagiaan.”


“Aamiin.. makasih pa.”


Dimas tersenyum ke arah Farel seraya mengusak puncak kepala keponakan yang kini resmi menjadi menantunya. Sejak Dimas menyadari Farel mencintai Ara, pria itu senantiasa berdoa semoga Allah berkenan menjadikan Farel sebagai pendamping hidup anaknya.


Kini pasangan pengantin menuju Irzal dan Poppy untuk menerima wejangan. Farel memeluk Poppy erat seakan meminta kekuatan untuk menjalani biduk rumah tangga yang mungkin akan sulit di awalnya.


“Anak bunda, kamu yang paling tua tapi yang terakhir nikah,” Farel terkekeh.


“Bunda akan selalu mendoakanmu. Jadilah suami yang baik, bunda percaya padamu.”


“Terima kasih bunda.”


Poppy mencium kening Farel. Kini giliran Irzal yang akan memberikan wejangannya. Dipeluknya anak yang sudah dianggapnya darah daging sendiri. Seperti biasa, pelukan Irzal selalu memberikan kehangatan untuk Farel.


“Jadilah suami yang baik, suami yang bertanggung jawab dan memberikan contoh yang baik untuk istrimu. Ingatlah tulang rusuk itu bengkok, jika kamu mau meluruskan jangan terlalu keras karena akan patah juga jangan terlalu lemah karena tidak akan berubah. Bersikaplah fleksibel dalam menghadapi istrimu nanti. Dan jangan sekali-kali mengeluarkan kata talak dalam keadaan emosi.”


“Iya yah.”


“Ara.. sekarang suamimu yang akan bertanggung jawab atas dirimu , bersikaplah baik pada suamimu, jangan pernah meninggikan suaramu, jangan pergi tanpa seijinnya dan jangan membantahnya selama itu dalam kebenaran. Baktimu pada suami yang nanti akan menyelamatkan orang tuamu di akhirat.”


“Iya yah.”


Poppy mengahampiri Ara lalu memeluknya erat. Bagaimana pun kenakalan Ara saat ini, baginya gadis ini tetaplah anaknya. Poppy mengurai pelukannya lalu mencium kening Ara.


Suasana haru masih tetap menyelimuti semua yang hadir. Farel memeluk Elang erat, adik tanpa ikatan darah itu akan selalu berada di garda terdepan untuk membela dan mendukungnya. Mereka senantiasa saling mengingatkan dan menguatkan. Seperti saat ini, Elang berusaha untuk menguatkan sang kakak yang dia tahu sedikit rapuh belakangan ini.


Kemudian Farel menuju Ayunda. Wajah adik cengengnya ini sedari tadi sudah bersimbah airmata. Reyhan terus berada di sisi sang istri untuk menenangkannya. Ayunda memeluk Farel masih dengan tangisnya. Farel terkekeh, adiknya itu seperti akan melepasnya ke medan perang saja.


“Udah de, kamu kalo nangis kaya gini kaya cewek yang ditinggal nikah sama pacarnya,” Farel kembali terkekeh. Ayunda mendaratkan cubitan di pinggang sang kakak.


“Rey.. beli permen gih biar nih anak berhenti nangis.”


“Bang Farel!!”


Farel tergelak, dia menguraikan pelukannya melihat Reyhan yang sudah memasang wajah masam melihat sang istri berada dalam dekapannya cukup lama. Ayunda beralih ke pelukan suaminya, melanjutkan tangisnya di dada bidang favoritnya. Reyhan mengusap punggung Ayunda seraya mengecup puncak kepalanya berkali-kali.


Kemesraan Reyhan dan Ayunda tertangkap sudut mata Firlan. Hatinya berdenyut nyeri. Tak bisa dipungkiri, sisa-sisa cinta itu masih ada dan meninggalkan jejak luka yang masih terasa sakitnya ketika dirinya bertemu dengan Ayunda. Tak jauh dari Firlan, Hanin menatap dengan sendu. Hatinya pun terluka melihat laki-laki yang dicintainya melihat ke arah lain.


🍁🍁🍁


**Selamat ya Farel dan Ara, akhirnya kalian sah juga jadi suami istri. Baik² ya Ra, sekarang bang Farel udah punya hak loh atas dirimu.


Hanin.. yang sabar, perjuanganmu baru dimulai, Ganbate💪


Season 4 cuma tinggal 2 episode lagi ya gaessss.. Siap² ya say sayonara buat pasangan Rey dan Ay.


Maaf ya hari ini kesiangan buat up. Maklum week end gini, mamake lagi quality time bareng keluarga. Happy Sunday buat kalian semua😎

__ADS_1


Salam puanas poll dari Pasir Gibug**.


__ADS_2