
Selepas shalat shubuh Rain langsung berkutat di dapur menyiapkan bahan untuk sarapan nanti. Sarah dan Regan sudah berjanji akan sarapan bersama pagi ini, bahkan Rey juga akan ikut bersama mereka. Rain ingin sekali makan nasi uduk buatan sang mama. Dia mulai menyiapkan bahan untuk lauknya.
TING
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Chalissa kembali mengirimi pesan pada suaminya. Dengan dada berdebar Rain membuka pesan tersebut. Dia membaca rentetan pesan yang dikirimkan Chalissa namun hanya dibaca saja oleh Akhtar.
From Lissa :
Akhtar jangan lupa janji kita, sarapan bersama.
Akhtar... balas pesanku sayang.
Baby aku merindukanmu. Ayo kita sarapan bersama.
Akhtar, apa kamu mengabaikanku?
Senyum mengembang di bibir Rain, suaminya tidak menanggapi pesan dari Chalissa. Namun sepertinya wanita itu tidak menyerah, dia terus saja mengirimkan pesannya.
From Lissa :
Akhtar, kenapa kamu seperti ini? Ayo kita bertemu. Aku merindukanmu sayang. Mari habiskan waktu kita bersama hari ini.
To Lissa :
Maaf Lissa, tolong jangan ganggu aku lagi. Mulai hari ini aku hanya akan makan bersama istriku. Terimalah kenyataannya kalau kita ngga berjodoh.
From Lissa :
C’mon Akhtar, ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Kalau kamu ngga datang aku akan mogok makan.
To Lissa :
Kemarin-kemarin kamu juga bilang seperti itu. Terserah padamu Lis, kamu mau mogok makan atau apapun. Aku ngga peduli.
From Lissa :
Kalau kamu tidak mau bertemu, maka aku akan menceritakan apa yang terjadi malam itu pada istrimu.
To Lissa :
Jangan gila kamu!
From Lissa :
Kalau begitu ayo bertemu.
To Lissa :
Jam 7 di tempat biasa.
Rain mengepalkan tangannya membaca pesan terakhir. Pikirannya langsung menerka-nerka apa yang sudah mereka lakukan malam itu sampai Akhtar menyerah dan memilih menemui Chalissa. Karena melamun, tak sadar Rain mengiris jari tangannya.
“Aauww!!”
Rain mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa nyeri akibat teriris. Dia menaruh jarinya di bawah kran air untuk membersihkan lukanya. Tanpa disadari Akhtar sudah berada di belakangnya. Ditariknya dengan lembut jari Rain yang teriris lalu memasukkannya ke mulut untuk menghisap darahnya dan menghentikan pendarahan.
“Hati-hati sayang.”
Akhtar membawa Rain duduk di kursi. Dia mengambil kotak P3K lalu mulai mengobati luka istrinya. Setelah memasangkan band aid pada luka, Akhtar mengecup jari itu dengan lembut membuat hati Rain bergetar.
“Kamu masak apa sayang?”
__ADS_1
“Aku lagi pengen makan nasi uduk.”
“Maaf, tapi aku ngga bisa sarapan bersama. Aku harus bertemu klien penting pagi ini. Kamu ngga apa-apa?”
Rain tersenyum miris, Akhtar membohonginya. Berarti benar ada sesuatu yang terjadi pada mereka malam itu. Sebuah kecupan di bibir Rain membuyarkan lamunannya. Akhtar mengusap puncak kepalanya pelan kemudian kembali ke kamar.
Akhtar terdiam di depan cermin melihat penampilannya yang sudah rapih. Di saat dia akan memulai hubungan yang baru dengan isrinya. Chalissa kembali mengganggunya. Satu-satunya alasan dia mau menemui mantan kekasihnya itu karena takut Chalissa akan menceritakan tentang dirinya yang membantu Chalissa making out.
Dengan berat hati dia melangkahkan kakinya keluar kamar. Betapa terkejutnya Akhtar melihat di meja makan sudah duduk Regan dan Reyhan. Di dapur Sarah sedang membantu Rain memasak. Akhtar menghampiri Regan dan Sarah lalu mencium punggung tangannya.
“Kamu mau kemana sepagi ini sudah rapih?” tegur Regan.
“Hmm.. aku harus ketemu klien pa.”
“Sepagi ini? Sekarang baru jam setengah tujuh,” Regan melihat jam di pergelangan tangannya.
“Kamu ngga lihat istri kamu sedang membuatkan sarapan. Apa ngga bisa memundurkan waktu meeting satu atau dua jam? Bahkan papa, mama dan Rey datang ke sini pagi-pagi demi bisa sarapan bersama kalian. Apa jangan-jangan kamu ngga pernah sarapan di rumah?” cecar Regan.
“Pa,” tegur Rain.
“Ngga apa-apa kalau kakak mau pergi sekarang,” sambung Rain meski dadanya bergemuruh.
“Ngga apa-apa Rain. Biar aku hubungi mereka dulu untuk menunda pertemuan.”
Akhtar meletakkan tas kerjanya di kursi lalu mengambil ponselnya. Diketiknya pesan untuk Chalissa.
To Lissa :
Maaf, aku ngga bisa menemanimu sarapan.
From Lissa :
To Lissa :
Terserah.
From Lissa :
Aku beri satu kesempatan terakhir. Makan siang bersamaku di restoran biasa. Aku tunggu jam 12 siang di sana. Kalau kamu tidak datang aku akan mengatakan semuanya pada Rain.
To Lissa :
Fine.
Akhtar meletakkan ponselnya di meja ruang tamu kemudian bergabung dengan yang lainnya di meja makan. Semua hidangan sudah siap. Mereka pun mulai sarapan bersama. Sesekali Regan memandangi menantunya dengan tatapan yang cukup mengintimidasi. Akhtar berusaha bersikap biasa walau terasa sulit menelan makanannya.
Selesai sarapan, Regan beserta yang lain pamit. Mereka harus mulai menjalankan aktivitasnya masing-masing. Begitu pula dengan Akhtar yang harus pergi ke kantor. Saat Rain sedang memakaikan dasinya, Nino menelpon dan meminta Akhtar untuk libur hari ini. Semua pekerjaannya sudah ditangani oleh Halbi.
Akhtar memegang tangan Rain yang sedang menyimpul dasi. Kemudian melepaskan kembali dasi yang sudah tersimpul. Rain menatap bingung ke arahnya.
“Kenapa kak?”
“Mas,” Akhtar menarik pinggang Rain hingga tubuh mereka tak berjarak.
“I.. iya mas.. kenapa dasinya dilepas lagi?”
“Hari ini aku disuruh cuti sama papa.”
“Kenapa?” Akhtar hanya mengangkat bahunya.
“Mungkin papa minta kita buatin cucu,” goda Akhtar yang sukses membuat pipi Rain merona.
__ADS_1
Akhtar memegang dagu Rain lalu mencium bibirnya lembut. Tanpa melepas pagutannya, dia menggendong Rain kemudian membawanya ke ranjang. Perlahan Akhtar membaringkan Rain di kasur. Kini posisinya sudah berada di atas tubuh sang istri.
“Kamu ke kampus hari ini?”
“Ngga.”
“Kalau gitu kita bercocok tanam saja, gimana?”
Wajah Rain kembali memerah, dia membuang pandangannya ke samping. Dengan gemas Akhtar mencium kembali bibir ranum itu, mencecapnya tanpa henti sambil membuka pakaian mereka satu per satu. Di pagi yang cerah ini, pasangan pengantin baru itu kembali meleburkan diri untuk mencapai puncak nirwana.
Akhtar terus menciumi wajah istrinya tanpa ada yang tertinggal sedikit pun setelah percintaan mereka. Seakan ingin mengungkapkan perasaan cintanya lewat ciumannya. Tak ada yang tahu bagaimana hati manusia bekerja. Jika Tuhan menghendaki, maka tak ada yang mustahil di dunia ini. Akhtar yang tadinya berpikir tak mencintai Rain, namun begitu mudah hatinya berubah. Sejak menyentuh istrinya untuk pertama kali, perasaan itu mulai tumbuh dan terus berkembang. Dia memang belum sepenuhnya bisa menyingkirkan sosok Chalissa dari benaknya. Namun seluruh hatinya kini hanya tertuju pada istrinya.
Keduanya berbaring sambil berhadapan. Tangan Akhtar tak henti mengusap pipi mulus istrinya. Tatapan matanya penuh dengan cinta saat menatap wanita cantik di depannya. Ternyata tidak sulit jatuh cinta pada Rain. Selain cantik, istrinya ini juga memiliki hati yang baik. Benar yang dikatakan Nino, kalau dirinya mendapatkan berlian sebagai pendamping hidupnya.
“Rain, sejak kapan kamu suka sama mas?”
Pipi Rain merona mendengar pertanyaan tak terduga dari suaminya. Dia menyurukkan wajahnya ke dada Akhtar. Akhtar mengangkat dagu istrinya hingga bersitatap dengannya kemudian mengecup lembut bibirnya.
“Kok malu?”
“Malu lah kan aku yang duluan suka mas.”
“Tapi bukan berarti cintaku ngga bisa lebih besar dibanding kamu.”
“Sebagai seorang perempuan kamu memiliki semuanya. Wajah yang cantik, hati yang baik, otak yang pintar. Ngga sulit untuk seorang laki-laki jatuh cinta padamu.”
“Tapi mas ngga tuh. Mas lebih memilih kak Lissa, sampai sekarang.”
“Kamu mau tahu kenapa mas bisa jatuh cinta sama Lissa? Selama dua tahun dia ngikutin mas di kampus. Dari pagi sampai malem setor muka terus. Sampai mas terbiasa dengan kehadirannya dan akhirnya kita pacaran. Tapi denganmu, ngga butuh lama buat hati ini mencintaimu.”
“Gombal, buktinya waktu habis malam pertama, mas...”
Akhtar langsung membungkam bibir Rain dengan bibirnya. Tak sanggup harus mendengar lagi pernyataan cinta yang salah alamat itu. Akhtar terus ******* dan memagut bibir istrinya sampai Rain memukul dadanya karena hampir kehabisan nafas.
“Mas minta maaf soal malam itu. Mas janji akan mengganti semua hal yang membuatmu sakit dengan kebahagiaan. Tolong kasih mas kesempatan.”
“Mas, boleh aku tanya satu hal?”
“Apa?”
“Sejauh apa mas berpacaran dengan kak Lissa? Apa sampai....”
“Ngga sayang, kalau maksudmu sampai tidur bersama ngga pernah. Cuma mas memang pernah melakukan kesalahan yang sampai saat ini mas sesali.”
Akhtar menjeda ucapannya. Dia sudah memantapkan hati untuk menceritakan semuanya pada Rain. Karena tak ingin terus menerus berada dalam ancaman Chalissa. Bukankah sebuah hubungan akan lebih baik diawali dengan kejujuran, walaupun pahit. Akhtar menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum mengakui perbuatannya.
“Aku pernah membantu Lissa pelepasan.”
🍁🍁🍁
**Hmm.. kayanya Akhtar beneran serius nih memulai hubungan dengan Rain. Ayo semangat Akhtar kamu pasti bisa.
Mamake gabut, istirahat gulang guling di kasur akhirnya milih up aja deh. Mudah2an kalian suka ya..
Jangan lupa ya
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1