
Tiga hari berselang setelah kematian Agus. Gara memakamkan lelaki itu di pemakaman umum yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kediamannya. Hanin juga sudah beraktivitas seperti biasanya. Berkat Gara, gadis itu sudah kembali ceria. Kematian Agus memang tidak terlalu berpengaruh pada gadis itu.
Demikian halnya Azkia yang sudah bersikap biasa lagi. Elang dan anggota keluarga yang lain terus memberikan support padanya. Dia sudah kembali fokus pada tugas akhirnya. Elang akhirnya bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Hari beranjak malam, Azkia memutuskan makan malam di bawah bersama yang lainnya. Elang masih lembur di kantor, karena urusan Agus, ada beberapa pekerjaannya yang terbengkalai. Di meja makan hanya ada Poppy, Irzal dan Ayunda saja. Farel juga masih berada di kantor.
Seusai makan malam mereka berbincang di ruang tengah. Tak lama Azkia pamit kembali ke kamarnya karena harus mengerjakan skripsinya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika bel rumah berbunyi. Tergopoh bi Diah membukakan pintu. Nampak seorang wanita cantik berdiri di depan teras.
“Pak Irzalnya ada bi?”
“Ada non, mari silahkan masuk.”
Wanita itu melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di sofa menunggu sang empu rumah keluar. Tak lama Irzal beserta Poppy datang. Mereka cukup terkejut melihat kedatangan Syifa di jam seperti ini.
“Syifa.”
“Malam om, tante. Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik. Ada apa nih malam-malam kemari?” Poppy langsung berbicara to the point.
“Begini om, tante... saya ke sini meminta pertanggung jawaban Elang.”
“Soal apa?”
Syifa membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop. Diberikannya amplop tersebut pada Irzal. Dengan cepat Irzal membuka amplop tersebut. Keningnya mengernyit setelah membaca surat di dalamnya.
“Apa maksudnya?”
Poppy yang penasaran segera merebut kertas tersebut. Matanya membulat saat membaca tulisan yang tertera lalu melihat ke arah Syifa.
“Aku hamil anaknya Elang tan. Usia kehamilanku 1 bulan.”
Poppy memegangi keningnya. Baru saja satu masalah berlalu, kini masalah baru datang. Dan kenapa semua hal selalu berkaitan dengan anak dan menantunya. Irzal segera menghubungi Elang untuk segera pulang.
“Kita tunggu Elang. Maaf om tidak bisa hanya mempercayai berita dari satu sumber saja.”
“Silahkan om. Aku juga membawa bukti kongkrit.”
Neni datang membawakan minuman untuk sang tamu. Syifa langsung menutup mulut dan hidungnya ketika Neni berada dekat dengannya. Rasa mual seketika menyergapnya.
“Kamu pake parfum apa sih?”
“Maaf non. Saya lagi coba parfum dari teman saya yang kerja di Arab.”
“Maaf om.. tante, toilet di mana?”
Poppy menunjuk pintu yang berada di dekat ruang tengah. Syifa segera berlari ke kamar mandi. Syifa terduduk di lantai memuntahkan semua isi perutnya. Poppy meremas tangan suaminya mendengar suara dari arah kamar mandi. Tak lama kemudian Syifa keluar dari kamar mandi, wajahnya nampak pucat.
Baru saja dia mendudukkan diri, Elang dan Farel sudah sampai ke rumah. Di belakangnya menyusul Jayden. Mereka memang sedang dalam perjalanan pulang ketika Irzal menelponnya. Azkia yang sedang berdiri di balkon bergegas turun ke bawah begitu melihat mobil suaminya sudah ada di halaman rumah.
“Ada apa Fa malam-malam ke sini?” tanya Elang tanpa basa-basi.
“Aku hamil El.”
“So?”
“Ini anakmu.”
“Kamu ngigo ya? Gimana bisa itu anakku? Kita ngga pernah tidur bareng.”
“Apa kamu lupa kejadian di Barcelona El? Kita tidur bersama saat itu.”
“Maaf Syifa, tapi tante tahu seperti apa El. Dia tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis apalagi sampai tidur bersama terlebih dia juga sudah menikah.”
“Aku juga ngga percaya El melakukan itu. Waktu itu aku hanya menolongnya yang tengah tidak sadarkan diri. Entah mengapa, dia menyangka aku adalah Kia dan melakukannya padaku.”
Syifa menangis tersedu. Jayden memutar bola matanya, jengah dengan kelakukan wanita di hadapannya. Melihat tak ada satu pun yang percaya dengan ucapannya, Syifa mengeluarkan beberapa lembar foto lalu memberikannya pada Poppy juga Irzal.
Poppy menutup mulut dengan tangannya ketika melihat foto tersebut. Irzal tak sedikit pun meliriknya. Foto tersebut memperlihatkan Syifa yang hanya terbalut selimut tengah berbaring di samping Elang yang bertelanjang dada.
“Saya terpaksa mengambil foto itu untuk dijadikan bukti.”
“Bukti apa?”
Semua yang ada di ruangan terkejut mendengar suara Azkia. Tanpa disadari Azkia sudah berada di tengah-tengah mereka. Syifa bersorak dalam hati. Sejak tadi dia memang menunggu kedatangan Azkia. Dia bangun dari duduknya lalu menghampiri Azkia.
“Aku hamil anak Elang.”
Azkia terkejut mendengar penuturan wanita itu. Seketika dia teringat mimpinya dulu. Elang memandangnya seraya menggelengkan kepala. Azkia sebisa mungkin menahan dirinya, walau tak dipungkiri hatinya sakit.
“Apa kamu yakin itu anak mas El?”
“Tentu saja. Kami melakukannya saat di Barcelona. Dia mengigau menyangka aku adalah dirimu dan melakukannya padaku. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja foto-foto itu.”
Azkia mengambil foto dari tangan Poppy. Irzal dan Poppy memandang cemas ke arahnya. Azkia memperhatikan dengan seksama foto di tangannya.
__ADS_1
“Lihat baik-baik Kia, siapa yang sedang bersamaku saat itu!”
“Sayang...”
Azkia mengangkat tangannya ketika Elang akan berbicara. Dia mendekat ke arah Syifa. Dipandanginya wanita itu sejenak lalu...
PLAK!!!
Semua orang yang ada di ruangan terhenyak ketika Azkia melayangkan tamparan ke pipi Syifa. Dengan penuh amarah Syifa melihat ke arah Azkia.
“Apa kamu sudah gila!!” teriak Syifa.
“Berhenti mengganggu suamiku atau aku akan melakukan lebih dari ini!”
“Bahkan dengan bukti di tanganmu, kamu masih tidak percaya kalau ini anak suamimu!”
“Aku tahu benar suamiku. Aku hafal dengan jelas semua bagian tubuhnya! Lelaki di foto ini bukan mas El-ku!!”
Azkia melemparkan foto-foto tersebut ke arah Syifa. Elang tersenyum melihatnya. Kini giliran Syifa yang terkejut mendengarnya. Dalam kebingungannya terdengar tepukan tangan Jayden. Dia mengeluarkan laptopnya lalu memutar sebuah rekaman video.
“Syifa lihat ini baik-baik.”
Syifa yang penasaran segera menghampiri Jayden. Matanya membulat melihat adegan yang terpampang di layar laptop.
Flashback On
Saat Elang akan meninggalkan club, Josh menahannya sebentar. Dia kembali mengajak Elang duduk.
“El, Syifa sedang merencanakan sesuatu padamu. Berhati-hatilah, dia ingin menjebakmu. Mungkin saja dia akan memberimu obat, anak buahku yang menyusup padanya masih belum mengetahui obat apa dan bagaimana dia akan menjebakmu. Tapi sepertinya malam ini dia akan melakukannya.”
Elang hanya mengangguk, bersama dengan Jayden dia meninggalkan ruangan VIP tersebut. Saat melintas di lantai bawah, Elang merasakan sesuatu menusuk lengannya. Dia mendesis pelan seraya memegangi lengannya.
Sekeluarnya dari club, Jayden memisahkan diri. Elang bergegas masuk ke dalam taksi lalu menghubungi Josh.
“Halo Josh, sepertinya ada yang menyuntikku tadi saat di klub.”
“Iya aku baru dapet laporan El. Itu obat bius dosis rendah yang dicampur dengan narkoba jenis baru. Awalnya kamu akan merasa pusing dan tidak sadarkan diri tapi sekitar lima belas menit kamu akan sadar lagi dan mulai berhalusinasi. Aku akan bawa obat penawarnya sekarang.”
“Berapa lama waktu yang aku punya sampai obatnya bereaksi.”
“Sekitar 30 menit”
“Ok.”
Saat berada di lift, obat yang tadi disuntikkan mulai bereaksi. Kepalanya mulai terasa pusing. Elang berjalan sambil tangannya bertumpu pada dinding sekeluarnya dari lift. Syifa yang mengikutinya bermaksud membantu, tetapi ditolaknya. Dia tak sudi tubuhnya disentuh wanita itu.
Elang bergegas menuju kamarnya lalu masuk ke kamar mandi. Dibasuhnya muka dan kepala beberapa kali agar dirinya tetap tersadar. Tangannya bertumpu pada sisi wastafel. Kepalanya semakin bertambah berat, tak lama dia ambruk tak sadarkan diri.
Syifa dan dua orang anak buahnya masuk ke dalam kamar mandi. Kedua lelaki itu menggotong tubuh Elang lalu membaringkannya di kasur. Syifa menyeringai melihat lelaki yang diincarnya sudah tak berdaya. Terdengar ketukan di pintu, seorang pelayan mengantarkan minuman padanya. Setelah meneguk habis minuman tersebut, dia masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
Jayden, Josh dan Chad masuk ke dalam kamar. Jayden dengan cepat menaruh kamera mini dengan posisi menghadap ranjang. Kemudian bersama Josh, dia memapah Elang keluar kamar. Mereka membawa Elang ke kamar Jayden. Sementara itu Chad naik ke atas kasur menggantikan Elang.
Syifa keluar dari kamar mandi. Minuman yang tadi diminumnya sudah dibubuhi obat. Dia menyangka kalau itu adalah obat perangsang. Tapi josh menggantinya dengan narkoba yang diberikan pada Elang.
Syifa berjalan menghampiri Chad. Dalam pandangannya Chad adalah Elang. Diusapnya wajah Chad dengan lembut. Mata Chad terbuka, lalu melayangkan senyum pada Syifa.
“Kia.. sayang..”
“Ya El.. ini aku.. Kia..”
Chad menyambar bibir Syifa yang langsung dibalas oleh wanita itu. Cumbuan panas langsung terjadi di antara keduanya.
Flashback Off
Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya tak percaya jebakan yang disiapkan untuk Elang berbalik menyerang dirinya sendiri.
“Ngga.. ini ngga benar.. itu kamu El, bukan Chad.”
“Itu aku sayang,” Chad bersama Josh masuk ke dalam rumah. Di belakangnya tiga orang polisi tak berseragam ikut masuk.
“Saudari Syifa, anda ditangkap atas kasus penipuan dan sabotase usaha.”
“Menipu siapa? Sabotase apa?”
“Tuan August Miller melaporkan anda atas kasus penipuan. Dan tuan Zidan Lazuardi melaporkan anda atas tuduhan sabotase usaha. Silahkan ikut kami ke kantor, dan jelaskan semuanya di sana.”
“Ngga.. itu fitnah, saya tidak bersalah. Josh.. dasar pengkhianat!”
“Aku pengkhianat? Sejak awal aku memang ingin menjebakmu dasar wanita murahan, wanita licik. Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan pada adikku hah?? Bawa saja dia pak, saya juga akan mengajukan tuntutan padanya.”
“Chad.. Chad.. aku beneran hamil. Ini anakmu!”
“Ck.. malam itu aku memakai ****** sweetheart, apa kamu lupa?”
“Brengsek!! Dia benar anakmu!!”
__ADS_1
“Ok kalau begitu buktikan dengan tes DNA. Kalau terbukti itu anakku, maka aku akan merawatnya. Aku tidak sudi anakku dirawat oleh wanita licik sepertimu.”
Dua orang petugas polisi segera membawa Syifa pergi. Seorang lagi yang merupakan atasannya menyusul setelah berpamitan dengan tuan rumah.
Poppy menghembuskan nafas lega, semua masalah bisa diselesaikan dengan baik.
Farel yang penasaran mengambil foto yang berserakan di lantai. Diamatinya lekat-lekat foto tersebut.
“Kia.. kamu tahu dari mana kalau ini bukan badannya El? Perasaan ngga ada bedanya,” Elang sontak melotot pada Farel tapi hanya dibalas kekehan saja.
“Mas El kan punya tahi lalat tiga yang posisinya seperti segitiga di dadanya.”
“Emang kelihatan ada ngga nya? Tahi lalat dia kan kecil cuma titik aja, ngga mungkin kelihatan di foto. Kalau tompel baru kelihatan.”
Elang menoyor kepala Farel, kesal karena terus membahas masalah foto. Azkia memilih diam tak menjawab. Jayden mengambil foto tersebut dengan wajah polos dan lugunya dia menjawab pertanyaan Farel.
“Ya jelaslah Kia tahu ini bukan badan bang El. Orang pas ke Barcelona banyak stempel merah di dadanya bang El.”
Wajah Azkia memerah lalu secepat kilat dia berlari menuju lift. Elang mengeplak kepala Jayden.
“Lah dikeplak, gue bener kan bang.”
“Sudah-sudah ribut terus. Kalian teruskan saja ngobrolnya, ayah mau ke kamar dulu. Pusing masalah kamu ngga ada habisnya El, drama banget hidup kamu. Ayo sayang kita ke kamar, aku juga mau buat stempel kaya El.”
Cubitan Poppy langsung mendarat di pinggang suaminya. yang lain hanya mesem-mesem melihat pasangan setengah abad yang tidak mau kalah romantis dari pasangan muda.
“Josh, Chad, thanks bro.”
“Santai.”
“Jay.. balik sono.”
“Dih tega lo bang, habis manis sepah dibuang.”
“Bodo amat.”
Elang berlalu meninggalkan yang lainnya menuju lantai tiga. Perlahan dibukanya pintu kamar. Terlihat Azkia sedang berbaring dengan posisi membelakanginya. Mengetahui Elang datang, Azkia bangun.
“Sayang...”
“Kenapa sih mas, tuh ular keket ngga ada matinya deketin mas terus.”
“Ya kan sekarang udah beres sayang.”
“Tetep aja aku kesel. Mana pake ada foto bareng lagi.”
“Ya ampun Yang, itu bukan mas. Itu kan cuma croping-an aja. Jayden yang buat.”
“Ya tetap aja aku ngga suka!”
“Ya ampun masa cemburu sama croping-an.”
“Bodo amat! Sana mas tidur di kamar sebelah aja. Sebel aku sama mas!”
Elang menghela nafasnya. Dengan sangat terpaksa akhirnya dia mengalah. Setelah membersihkan diri, Elang menuju kamar sebelah lalu membaringkan dirinya di kasur. Baru saja sepuluh menit dia memejamkan mata, tiba-tiba sebuah bantal menimpa kepalanya. Elang membuka mata, terlihat Azkia berdiri di dekat pintu sambil bertolak pinggang dan mata menatap nyalang ke arahnya.
“Kenapa lagi Yang?”
“Mas beneran ya ngga mau tidur lagi bareng aku!”
“Astaga. Kan tadi kamu yang nyuruh aku tidur di sini.”
“Terus mas nurut aja gitu? Kalau aku nyuruh mas nyebur ke empang, mas mau juga? Dasar jadi laki ngga peka!!”
Azkia menghentakkan kakinya dengan keras lalu keluar dari kamar. Elang menepuk keningnya. Sepertinya sang istri salah minum obat. Dengan mata setengah terkantuk, dia kembali ke kamarnya kemudian berbaring di kasur di samping Azkia yang memunggunginya.
Elang merapatkan tubuhnya lalu memeluk sang istri dari belakang. Tak ada penolakan dari Azkia. Elang menyurukkan kepalanya ke ceruk leher istrinya lalu mengecupnya.
“I love you...”
Azkia membalikkan tubuhnya, menatap netra sang suami cukup lama. Lalu tangannya bergerak mengusap rahang tegasnya.
“Jangan tinggalin aku mas.”
“Aku sudah gila kalau meninggalkan wanita sebaik dirimu.”
Elang mencium kening Azkia cukup lama kemudian menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Tangan Azkia melingkar di pinggang Elang. Tak lama keduanya terlelap dengan posisi saling memeluk.
🍁🍁🍁
**Siap² aja ya Syifa menghadapi pasal berlapis. Ternyata eh ternyata raja hutan takut juga sama macan betina😂
Ngga kerasa ya udah weekend lagi. Kalau weekend biasanya liburan or happy² bareng keluarga, tapi mamake dikejar deadline😅 maaf untuk hari ini dan mungkin besok cuma bisa up satu bab. Jangan lupa like, comment and vote nya ya😘😘
Happy weekend😎**
__ADS_1