Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON : YOU ARE MY DESTINY Positif


__ADS_3

Dua insan yang dimabuk gairah masih bergumul di atas sofa. Udara panas menguar di ruangan berukuran 8x6 ini. Lenguhan Azkia kembali terdengar saat kembali merasakan pelepasan. Dicengkeramnya punggung Elang yang telah lembab oleh keringat. Elang masih mengejar kepuasannya, dia belum sampai ke puncaknya.


Elang kembali ******* bibir Azkia, lidahnya masuk dan bermain-main di rongga mulut istrinya. Lidah keduanya saling menaut dan melilit. Tangannya sibuk memainkan bukit kembar favoritnya. Gairah Azkia kembali naik, ditekannya tengkuk Elang hingga ciuman keduanya semakin dalam.


Elang mempercepat gerakannya, jika di awal-awal dia bermain lembut dan sedikit santai, tidak dengan sekarang. Gerakannya bertambah kuat dan kencang. Terdengar suara Azkia memekik pelan memanggil nama suaminya. Nafas Elang memburu seiring dengan pergerakannya yang semakin kencang.


Azkia semakin tak karuan, antara nyeri dan nikmat berbaur menjadi satu. Maklum saja sudah satu jam lebih mereka bermain namun Elang masih belum sampai ke ujungnya, membuat area bawahnya sedikit perih.


Elang mengangkat pinggul Azkia dengan sebelah tangan, sedang tangan satunya bertumpu pada sofa. Pergerakannya semakin cepat. Merasa sudah akan sampai ke ujungnya, ritme pergerakan Elang semakin bertambah kencang. Dia menghentak semakin dalam hingga akhirnya berhasil sampai ke puncaknya. Semburan lahar panasnya menerobos masuk ke dalam rahim istrinya bersamaan dengan milik Azkia yang ikut keluar.


Untuk beberapa saat keduanya masih terdiam, mencoba mengatur irama nafas yang masih tersengal. Elang mengusap wajah sang istri yang dibasahi peluh, lalu menghujani ciuman di sana.


“Love you,” bisiknya.


Tak ada jawaban dari Azkia, hanya matanya yang menyiratkan hal sama. Perlahan Elang bangun lalu membopong tubuh istrinya keluar dari ruang kerja. Dengan tubuh sama-sama polos, Elang masuk ke dalam kamar lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Suara gemericik air terdengar tak lama setelah keduanya masuk ke dalamnya.


Beberapa saat kemudian suara gemericik air sudah berganti dengan decapan-decapan dari bibir mereka. Pintu kamar mandi terbuka. Azkia masih dalam gendongan Elang hanya posisinya sudah berubah. Elang menggendong istrinya seperti koala menggendong anaknya dengan bibir keduanya saling menaut.


Elang membaringkan Azkia di atas ranjang, dengan cepat wanita itu membalikkan posisinya. Azkia duduk di atas perut Elang. Tangannya meraba dada yang telah dipenuhi beberapa bercak merah.


“Kamu ngga cape Yang?”


“Kenapa? Mas cape?”


Bukannya menjawab, Azkia malah memberikan pertanyaan yang menantang. Seringai muncul di wajah suaminya. Disambarnya bulatan yang menggelantung di dekat wajahnya, membuat sang empu mendesah. Sekali lagi mereka mengulang kegiatan panas di sore hari ini.


🍁🍁🍁


Elang duduk di belakang Azkia dengan hairdryer di tangannya. dengan telaten dikeringkannya rambut panjang Azkia. Setelah servis memuaskan dari sang istri, tentu saja dia juga harus melayani balik. Azkia melihat wajah suaminya dari pantulan cermin. Wajahnya terlihat segar padahal mereka baru saja habis bertempur selama hampir dua jam.


“Mas, aku laper.”


“Kamu tunggu di sini aja ya aku ambilin makanan di bawah.”


Azkia hanya mengangguk. Setelah mengeringkan rambut, Elang bergegas turun ke bawah. Azkia bangun dari duduknya namun tak lama kembali duduk. Dia meringis seraya memegang perutnya yang terasa kram. Untuk beberapa saat Azkia terdiam, seraya mengatur nafas. Perlahan rasa sakit itu mulai berkurang.


Pintu kamar terbuka, Elang membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih. Ditariknya kursi mendekat ke ranjang lalu mendudukkan diri di sana. Dia mulai menyuapi istrinya.


Baru satu suap masuk ke dalam mulut Azkia, tiba-tiba dia merasakan perutnya bergejolak. Azkia menutup mulutnya lalu berlari ke kamar mandi. Azkia berjongkok di depan kloset dan memuntahkan semua isi perutnya. Elang yang cemas bergegas menghampiri. Dipijatnya tengkuk Azkia pelan.


HOEK..


HOEK..


Dengan dibantu suaminya, Azkia bangun lalu menyeka mulutnya. Matanya berair, efek dari muntahnya. Elang membimbing Azkia keluar lalu membawanya ke kasur.


“Kamu kenapa sayang?”


“Ngga tau mas. Aku mual aja pas nelen makanan.”


“Makanannya ngga enak?”


Azkia hanya menggeleng, selain mual kini kepalanya terasa pusing. Belum lagi rasa nyeri di perutnya kembali terasa. Wajahnya memucat, Elang dibuat panik. Buru-buru diambilnya ponsel dan mencari nomor Regan, namun panggilannya terhubung pada kotak suara. Elang mencoba menghubungi Reyhan, tapi dokter muda itu tak menjawab panggilannya. Akhirnya Elang memutuskan turun ke bawah, mencari sang bunda.


“Bun..” panggil Elang begitu keluar dari lift.


“Ada apa mas?”


“Bun.. Kia sakit. Dia muntah-muntah, padahal tadi laper katanya.”


“Masa?”


Elang sedikit kesal karena Poppy menanggapinya dengan tenang. Dipanggilnya Ayunda yang sedang menonton televisi.


“Ada apa bun?”


“Kamu ke apotik gih, beli test pack.”


“Kok beli test pack sih bun. Kia sakit.”


“Iya, kalau perempuan mual terus muntah-muntah mungkin aja dia hamil El.”


“Yang bener bun?” mata Elang nampak berbinar. Dia bergegas kembali ke kamarnya.


“Cepetan sana beliin test pack.”


“Iya bun.”


Ayunda mengambil dompet dan kunci motor. Sebenarnya dia malu harus membeli alat tes kehamilan, tapi apa daya, dia tak berani melawan titah kanjeng ratu. Saat akan mengeluarkan motor, mobil Firlan melintas di depannya. Firlan menghentikan mobilnya di depan Ayunda.


“Mau kemana Yun?”


“Mau ke apotik yang di depan bang.”


“Ayo abang anter.”


“Asik.”


Ayunda segera masuk ke dalam mobil, tak lama kendaraan roda empat itu kembali melaju. Firlan menghentikan mobilnya di depan apotik 24 jam, bersama Ayunda dia masuk ke dalam.


“Hmm.. mba aku mau beli test pack.”


“Yang merk apa mba?”

__ADS_1


“Adanya merk apa?”


Penjaga apotik mengeluarkan beberapa test pack dengan merk berbeda. Karena bingung, dia akhirnya membeli semua. Sang penjaga melirik ke arah Firlan yang sedang asik mengutak-atik ponselnya. Lalu dia mulai menerangkan cara penggunaan test pack pada Ayunda. Gadis itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Berapa mba?”


“Semuanya jadi 283 ribu.”


Ayunda hendak mengeluarkan dompetnya tapi didahului oleh Firlan yang menyerahkan kartu atm-nya. Wanita itu mengambil kartu Firlan lalu memulai proses transaksi. Tak lama dia kembali mengembalikan kartu dan memberikan kantong berisikan beberapa alat tes kehamilan.


“Kalau nanti hasilnya positif, langsung cek ke dokter kandungan ya dek. Mas, dijaga ya istrinya, soalnya kalau hamil muda itu rentan sekali.”


“Iya mba.. eh apa?”


“Ini kalau hasilnya positif, istrinya langsung bawa ke dokter kandungan dan dijaga kehamilannya, karena kalau usia kandungan masih muda itu rentan sekali mas.”


Wajah Ayunda memerah mendengar ucapan penjaga apotik tersebut. Firlan yang belum sepenuhnya mengerti hanya bengong saja, lalu pandangannya tertuju pada plastik yang dipegang oleh Ayunda.


“Emang kamu beli apa?”


“Test pack bang, buat kak Kia,” jawab Ayunda pelan.


“Makasih ya mba.”


Ayunda buru-buru ngacir keluar sebelum wanita itu kembali mengeluarkan wejangannya yang salah alamat.


“Ya ampun aku emang udah keliatan tuir ya sampe disangka udah nikah.”


Ayunda memegangi wajahnya sambil menatap dirinya di kaca spion. Firlan hanya tertawa melihatnya.


“Ish bang Ilan malah ketawa. Lagian kenapa bukan mas El aja sih yang beli beginian. Kan aku jadi malu.”


“Sekali-kali berbakti sama kakak, Yun.”


“Emang bang Ilan ngga malu apa? Kita tadi disangka pasutri tau.”


“Kenapa harus malu kalau disangka punya istri cantik kaya kamu.”


BLUSH


Wajah Ayunda tanpa permisi merona mendengar pujian Firlan. Sedang yang memuji tampak santai saja menjalankan kendaraannya. Lima menit kemudian mereka sampai di kediaman Irzal.


“Makasih ya bang Ilan udah nganterin plus bayarin. Semoga amal ibadah bang Ilan diterima yang Maha Kuasa, aamiin.”


“Kamu kaya lagi doain orang yang udah almarhum aja.”


Ayunda tergelak seraya membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, dia kembali berbicara pada Firlan.


“Bang Ilan ngga mau turun dulu, ngopi atau ngeteh dulu gitu.”


“Hehehe... bang Ilan mau pergi apa pulang nih?”


“Mau pulang.”


“Ok deh. Hati-hati di jalan ya bang. Jalannya jangan ngebut, kalau ngantuk mending istirahat aja dulu.”


“Lebay.”


Ayunda kembali tergelak. dia membuka pintu mobil lalu turun. Setengah berlari dia masuk ke dalam rumah. Firlan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah absurd Ayunda. Kelakuan Ayunda, Azriel dan Nara persis seperti kembar siam.


Ayunda bergegas naik ke lantai tiga. Di sana Poppy, Irzal, Farel menunggu di ruang tengah. Ayunda menyodorkan bungkusan berisi alat tes kehamilan. Poppy terkejut melihat jumlah test pack yang dibeli anaknya itu.


“Ya ampun Yunda, kamu ngapain beli test pack sampai setengah lusin gini.”


“Abis aku ngga tahu yang mana yang bagus bunda. Ya udah aku beli aja, mana tadi aku disangka istrinya bang Ilan lagi,” Ayunda memanyunkan bibirnya. terdengar gelak tawa dari Farel.


“Kamu pergi sama Ilan?”


“Iya tadi dianterin bang Ilan. Eh tuh yang jaga apotik sok you know banget nyangka Yunda istrinya bang Ilan, sampai ngejelasin pake test pack-nya segala.”


“Kode alam tuh yah,” sahut Farel.


Irzal hanya senyum-senyum saja. Poppy segera masuk ke dalam kamar. Tampak Elang sedang membalur tubuh istrinya dengan minyak kayu putih.


“Kia, coba kamu pakai ini dulu. Katanya kamu udah telat seminggu kan? Mungkin aja kamu hamil.”


“Iya bun.”


Elang membantu Azkia berdiri lalu mengantarkannya ke kamar mandi. Tadinya Elang bersikukuh hendak menemani istrinya, tapi Azkia menolak. Akhirnya Elang keluar dan menunggu di kamar bersama Poppy.


Sepuluh menit berlalu, Azkia masih belum keluar dari kamar mandi. Elang tampak cemas, dia berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi.


“El, duduk kenapa sih. Bunda pusing lihat kamu.”


“Ini Kia lama banget sih. Sayang, kamu ngga apa-apa kan?”


Pintu kamar mandi terbuka. Mata Azkia nampak memerah seperti habis menangis. Elang semakin cemas. Buru-buru dihampirinya sang istri.


“Sayang, kamu kenapa?”


“Mas.. ini ha.. hasilnya mas.”


Azkia menyodorkan test pack di tangannya. Poppy bergegas mendekat lalu mengambil alat tes kehamilan tersebut. Senyumnya merekah melihat tulisan YES tertera di alat tersebut. Elang melihat bingung ke arah benda tersebut.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” pekik Poppy senang.


“Kenapa sih bun?”


“Istri kamu hamil El.”


“Masa? Tapi ngga ada garis dua gitu, cuma ada tulisan YES doang.”


“Iya itu artinya positif.”


Poppy dengan kesal menjitak kepala anaknya yang mendadak seperti orang bodoh saja. Elang menatap Azkia. Istrinya ini mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Elang bahagia bukan kepalang, dihampirinya Azkia lalu menghujani wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.


“Ehem! El, inget masih ada bunda di sini. Ayo keluar, yang lain udah pada nunggu kabar baik ini.”


Poppy berjalan keluar kamar diikuti Elang yang merangkul mesra Azkia. Semua orang yang ada di ruang tengah sudah bisa menebak hasil dari tes tersebut melihat wajah sumringah ketiganya.


“Yuuhhuu.. bentar lagi gue punya ponakan,” teriak Farel senang.


“Yeaaay.. aku bentar lagi punya baby yang bisa diunyel-unyel.”


TOK


Elang menjitak kepala adiknya ini. Ayunda memanyunkan bibirnya ke arah Elang. Irzal dan Poppy tersenyum bahagia.


“Alhamdulillah, sebentar lagi kita bakal punya cucu sayang,” ujar Irzal.


“Iya a. Rumah kita bakal tambah ramai.”


“Sebentar lagi ayah bakal jadi kakek, jadi kurangin ya ganjennya sama bunda,” celetuk Elang.


“Ya ampun anak ini kalau ngomong suka bikin gedeg,” kelutus Irzal.


“Sama kaya aa.”


Gelak tawa terdengar memenuhi seluruh ruangan. Semua orang tampak berbahagia, akan bertambah anggota keluarga baru di tengah-tengah mereka.


🍁🍁🍁


Sehabis makan malam, Azkia kembali merasakan sakit di bagian perutnya. Dia berbaring dengan posisi meringkuk. Elang masuk lalu menghampiri sang istri.


“Kamu kenapa sayang?”


“Perut aku sakit mas, kaya kram gitu.”


Azkia mendesis menahan rasa sakit di perutnya. Elang mengambil ponsel lalu mulai menelpon Regan. Tak lupa dia mengirim pesan pada Ayunda untuk memberitahu Poppy perihal sakitnya Azkia. Dia duduk di sisi ranjang lalu mengusap perut istrinya pelan.


Regan beserta yang lain, dia langsung memeriksa kondisi Azkia. Elang terus berada di sisi istrinya, wajahnya terlihat sedikit cemas.


“Yunda, ambilin air hangat buat Kia,” titah Poppy.


Ayunda membalikkan tubuhnya namun tak disangka Reyhan tepat berdiri di belakangnya. Hampir saja dia menabrak tubuh Reyhan. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu. Ayunda memutuskan pandangannya sedang Reyhan bergeser sambil berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


“Kia ngga apa-apa kan pa?”


“In Syaa Allah ngga apa-apa. Besok kamu bawa ke dokter kandungan buat diperiksa.”


“Iya pa. Tapi itu perutnya ngga apa-apa? Dia ngeluh sakit kaya kram gitu.”


“Itu karena kamu.”


“Aku? Emangnya aku ngapain pa?”


“Pasti kamu habis hubungan kan? Kamu mainnya terlalu semangat kali tadi. Kandungan istrimu masih muda, harus hati-hati kalau berhubungan. Jangan keluarin tenaga kamu pol-polan.”


Wajah Azkia dan Elang memerah mendengar ucapan tanpa saringan dokter bedah yang masih terlihat tampan walau sudah berumur. Elang mengusap tengkuknya untuk menutupi rasa malunya.


“Sekarang kamu istirahat aja ya Kia. Jangan banyak pikiran, rileks aja.”


“Iya pa, makasih.”


Semua orang segera meninggalkan pasangan muda itu. elang berjongkok di depan Azkia mengangkat piyama yang membalut tubuhnya lalu mendaratkan kecupan di perut yang masih rata itu.


CUP


“Anak ayah yang kuat ya. Jangan menyusahkan bunda.”


Mata Azkia berkaca-kaca melihat interaksi suaminya dengan janin yang bentuknya mungkin masih sebesar kacang polong. Elang beralih melihat Azkia, jarinya bergerak menghapus airmata yang baru saja keluar dari kedua netranya.


“Jangan menangis sayang.”


“Aku bahagia mas, sangat bahagia.”


“Aku juga. Terima kasih sayang, terima kasih,” Elang mengecup punggung tangan Azkia.


“Mas, aku ngantuk. Pengen tidur dipeluk mas.”


Elang naik ke atas kasur lalu merengkuh tubuh mungil istrinya. Azkia menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya. Tak lama matanya mulai memberat.


🍁🍁🍁


**Yeeaaay akhirnya neng Az hamil juga. Ngga sia² ya mas El kerja keras siang malam🤭


Nah udah ada bocorannya dikit² tuh buat season 4. Kisah cinta segitiga antara Ayunda, Firlan dan Reyhan. Siapa yang bakal jadi jodoh Ayunda? Tunggu di season 4 ya, masih coming soon karena part mas El masih ada beberapa episode lagi.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya, like, comment and vote**.


__ADS_2