
Sudah seminggu lamanya Azkia magang di Humanity Corp. Namun baik Azkia maupun Elang masih belum mengetahui kalau keduanya bekerja di kantor yang sama. Elang tak pernah menanyakan di mana gadis itu magang. Demikian juga dengan Azkia yang tak bertanya di mana Elang bekerja. Jika bertemu keduanya hanya membahas hal lain di luar pekerjaan. Mereka lebih banyak berbicara tentang diri sendiri, isu yang sedang hangat di masyarakat atau tentang agama.
Walaupun hubungan keduanya makin dekat, sejauh ini Elang masih belum yakin dengan perasaannya. Pemuda itu masih ingin mengenal lebih jauh sosok Azkia. Elang tak mau terburu-buru dengan perasaannya. Karena yang ingin dicarinya adalah wanita yang bisa mendampinginya sampai akhir hayatnya. Terlebih rasa cintanya pada Rain belum sepenuhnya hilang.
Hari ini Elang datang ke kantor dengan perasaan kesal. Tadi pagi dia bermaksud menjemput Azkia ke rumahnya, sekaligus ingin mengetahui di mana gadis itu magang. Namun justru pemandangan tak mengenakkan yang tersaji. Di jalan dekat gang masuk kediaman Azkia, dia melihat gadis tersebut berjalan dengan Adi. Keduanya menuju mobil Adi yang terparkir di dekat tempat parkir. Dia terlambat satu langkah kali ini.
Tak ada senyum di raut wajah Elang. Hanya wajah datar dan tatapan sedingin es yang ditampilkannya. Anggota tim yang terlibat dalam proyek kerjasama dengan perusahaan Korea dibuat bergidik saat melihatnya.
BRAK!!
Elang menggebrak meja di ruang meeting saat membaca proposal penawaran yang baru saja selesai. Dilemparkannya lembaran berkas tersebut hingga berserakan di atas meja.
“Apa ini yang kalian sebut sebagai proposal?!! Kalau hanya itu yang kalian tawarkan lalu apa bedanya perusahaan kita dengan perusahaan lain? Mana nilai jual dari proposal ini? Apa ini pertama kalinya kalian membuat proposal penawaran?! Hasil meeting dua hari yang lalu sudah saya jelaskan poin-poin apa saja yang harus ada dalam proposal, tapi mana?!!”
Suasana dalam meeting room seketika hening. Tak sada satu pun yang berani mengeluarkan suaranya. Kalau sudah emosi seperti ini, Farel pun tak dapat berbuat apa-apa untuk menenangkannya. Jika Elang sudah mengamuk, hanya dua orang pawang yang bisa membuatnya melunak yakni Irzal dan Poppy.
“Mengapa poin yang kita bicarakan kemarin tidak masuk dalam proposal?”
Suara Farel yang tanpa emosi ibarat air es ditengah teriknya matahari. Seorang karyawan memberanikan diri untuk menjawabnya walaupun dengan resiko terkena bentakan Elang lagi. Tapi mau tidak mau mereka harus memberikan jawaban.
“Ma.. maaf pak. Tapi hasil notulensi yang kami terima hanya itu.”
“Siapa yang membuat notulensinya?”
“Sandra pak.”
“Fit, cari Sandra. Suruh dia ke sini.”
Fitria baru saja akan beranjak ketika pintu meeting terbuka. Sandra masuk dengan membawa troli berisi minuman dan camilan. Tadi Virza memang menugaskannya menyiapkan itu semua untuk anggota tim yang bekerja.
“Sandra, apa kamu yang membuat notulensi meeting kita dua hari yang lalu?”
“Iya pak.”
“Mana hasil notulensinya?”
Sandra menuju meja tempatnya bertugas lalu mengambil sebuah map dan memberikannya pada Farel. Diperiksanya satu per satu lembaran dalam map tersebut. Elang hanya duduk mengawasi sambil jarinya mengetuk-ngetuk meja.
“Sandra, apa kamu menyimak rapat kita waktu itu?”
“Iya pak.”
“Apa kamu yakin sudah mencatat semuanya dengan benar?”
“Iya pak.”
“Lalu kenapa masukan dari pak Elang tidak ada di sini?”
Sandra termenung sejenak mengingat kejadian saat rapat. Di awal rapat dia memang mencatat semuanya. Tapi ketika Elang berbicara menambahkan hal-hal yang harus ada dalam proposal, tanpa sadar Sandra melamun. Hanya sebagian kecil yang diingatnya. Sialnya saat membuat hasil notulensi, Pras mengajaknya kencan seusai jam kerja membuat gadis itu tak konsentrasi hingga melupakan hal penting yang harus dia masukkan ke dalam laporannya.
“Ma.. maaf pak. Sepertinya saya lupa memasukkannya dalam laporan.”
“Lupa? Memang berapa usiamu sampai kamu terkena penyakit pikun hah?!!”
Emosi Elang yang belum reda kembali tersulut mendengar jawaban Sandra. Gadis itu terkejut mendengar bentakan Elang. Seketika wajahnya memucat.
“Saya mengijinkanmu bergabung di tim ini karena latar belakangmu yang katanya mahasiswi pintar, teladan dan pengalaman organisasi yang baik. Tapi mana??!! Membuat hasil notulensi saja ngga becus! Kamu tahu keteledoranmu itu sudah menghambat kinerja tim! Panggil pak Gani kemari!! Dan kamu! Kembali ke divisimu, di sini tidak butuh orang sepertimu!”
Sandra bergegas keluar ruangan. Airmatanya langsung jatuh berderai. Baru kali ini dia dibentak di depan banyak orang.
Vira, Rita dan Azkia terkejut melihat Sandra datang sambil terisak. Azkia menghampiri temannya itu lalu mengajaknya duduk. Rita mengambilkan segelas air untuknya.
“Kamu kenapa San?”
Sandra tidak menjawab, dia masih saja menangis. Vira melihat pada Rita, namun rekannya itu hanya mengangkat bahunya saja. Tak lama Gani masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tak kalah kusut.
“Kia, kamu sekarang naik ke lantai sebelas untuk menggantikan Sandra. Dan tolong bekerjalah dengan baik. Jangan melakukan kesalahan seperti Sandra. Ayo cepat!”
__ADS_1
Walaupun masih bingung dengan situasi yang terjadi, Azkia bangun lalu membereskan barang-barangnya. Dia pergi menuju lantai sebelas meninggalkan Sandra yang masih menangis. Dada Azkia berdegup kencang ketika lift bergerak naik. Melihat Sandra, hatinya jadi ciut sendiri. Entah makhluk seperti apa yang akan ditemuinya nanti di sana.
Azkia mengetuk pintu ruangan meeting sebelum masuk ke dalamnya. Tampak beberapa anggota tim sedang serius bekerja dengan laptopnya. Farel yang masih di sana segera menghampiri Azkia.
“Siapa namamu?”
“Azkia pak.”
"Kamu anak magang juga?"
"Iya pak."
Farel menepuk keningnya. Dia segera menelpon Gani. Setelah mendengar penjelasan Gani, Farel mengakhiri panggilannya.
“Itu mejamu. Letakkan barangmu di sana lalu ikut saya, jangan lupa bawa alat tulismu.”
Azkia bergegas melakukan apa yang dikatakan Farel. Setelah mengambil notes dan ballpoint, dia segera menyusul Farel yang sudah lebih dulu keluar ruangan. Azkia mempercepat jalannya menyusul langkah Farel di depannya. Mereka berhenti di depan pintu besar bercat cokelat. Setelah mengetuk pintu, Farel masuk ke dalamnya disusul oleh Azkia. Terlihat Elang sedang berdiri membelakangi mereka dengan ponsel di telinganya.
“Apa saja kerjamu sampai tidak bisa mendapat tanda tangannya hah?!!”
“...”
“Lalu kamu akan diam saja? Pikirkan sesuatu!! Cari tahu apa yang membuatnya berubah pikiran! Apa hal seperti itu harus saya yang mengerjakan??!! Lakukan sesuatu, gunakan otakmu kalau perlu kamu menginap di depan rumahnya sampai kamu mendapatkan tanda tangannya!!”
Jantung Azkia seperti hendak menloncat mendengar teriakan marah Elang. Farel menghela nafas panjang. Dihampirinya Elang yang masih belum menyadari kedatangannya.
“El, penggantinya Sandra udah ada.”
“Siapa? Anak magang lagi?”
“Hmm..”
“Apa divisi perencanaan ngga punya staf lain yang dikirim ke sini selain anak magang?!” Dengan kesal Elang membalikkan tubuhnya dan
NYESS
Seketika emosinya mereda melihat Azkia yang berdiri di hadapannya. Dia melihat ke arah Farel yang bingung melihat Elang sudah seperti api unggun yang disiram air.
“Iya, anak magang juga. Divisi perencanaan sedang sibuk kejar target proyek bulan depan. Jadi mereka cuma bisa ngirim anak magang ke sini. Tapi kalau kamu keberatan, aku akan meminta yang lain.”
“Jangan.. ngga usah.”
“Ok, jangan marah-marah lagi. Lo ngga lihat mukanya pucet denger suara lo yang udah kaya raja hutan,” Farel berbisik di telinga Elang.
“Kia, kenalkan ini pak Elang. Dia wakil CEO Humanity Corp. Kamu di sini dulu, catat apa yang pak Elang sampaikan. Jangan ada yang tertinggal sedikit pun, termasuk titik dan komanya. Nanti berikan pada tim yang ada di ruang meeting. Saya tinggal dulu ya, selamat bekerja dan jangan takut, dia ngga akan makan kamu kok.”
Azkia tersenyum canggung pada Farel. Pemuda itu segera keluar dari ruangan karena harus menghadiri meeting dengan divisi keuangan. Elang berjalan menghampiri Azkia. Dengan gerakan tangan dia mempersilahkan gadis itu duduk.
“Jadi ternyata kamu magang di sini.”
“I.. iya mas eh pak.”
“Hmm.. maaf kalau tadi kamu terkejut. Aku cuma sedang kesal karena semua pekerjaan hari ini berantakan. Kamu sudah siap?”
“I.. iya pak.”
Azkia membuka notesnya, dia bersiap mencatat apa saja yang dikatakan Elang. Tanpa membuang waktu Elang segera menjelaskan hal-hal yang harus mereka masukkan ke dalam proposal penawaran. Dengan cepat Azkia mencatat semuanya. Dia tak berani menatap Elang. Pemuda di hadapannya ini sedang dalam mode serius. Sebisa mungkin dia tak melakukan kesalahan yang akan memicu amarahnya lagi.
Azkia menghempaskan tubuhnya di kursi seraya menghembuskan nafas panjang. Satu jam lamanya dia berada di ruangan Elang. Mencatat semua yang diucapkan lelaki itu. Suasana yang terjadi di sana juga begitu canggung. Elang yang ditemuinya hari ini berbeda dengan Elang yang dikenalnya selama ini.
Beberapa kali terdengar helaan nafas Azkia. Mengetahui kenyataan kalau Elang adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya magang sungguh mengejutkannya. Seketika nyalinya menciut, hanya kegelapan yang tampak akan hubungannya dengan Elang.
Mas El ternyata anak orang kaya.. ralat konglomerat. Sedangkan aku? Aku seperti pungguk yang merindukan bulan aja kalau begini. Pasti orang tuanya sudah punya kriteria tertentu untuk jadi calon menantunya. Bangun Kia, jangan mimpi di siang bolong, jangan terbang terlalu tinggi karena kalau jatuh terhempas pasti sakit banget nantinya.
“Kia, kamu ngga mau pulang?” suara Tina membuyarkan lamunannya.
“Emang sekarang jam berapa bu?”
__ADS_1
“Yang pasti udah waktunya pulang. Emangnya kamu mau nginep di sini.”
Azkia memamerkan cengiran kudanya. Dengan cepat dibereskan barang-barangnya lalu berjalan keluar berbarengan dengan Tina. Sesampainya di lobi, sudah banyak karyawan yang hendak pulang. Ditambah dengan beberapa tamu yang mengunjungi fasilitas yang ada di gedung ini membuat suasana lobi bertambah ramai.
“Aku duluan ya Kia, udah dijemput pacarku. Istirahat yang cukup biar besok kamu kuat. Kuat menghadapi wakil CEO kita yang galaknya kaya raja hutan.”
Tina terkikik geli dengan ucapannya sendiri. Kemudian dia berlari keluar gedung begitu melihat kekasihnya sudah menunggu di atas motor antiknya. Azkia berjalan pelan keluar dari gedung. Banyak peristiwa mengejutkan yang terjadi hari ini. Tangannya merogoh tas kerjanya ketika mendengar notifikasi pesan masuk.
From Mas El :
Aku tunggu di dekat toko buku Global
To Mas El :
Iya mas.
Azkia berjalan sekitar seratus meter ke arah kanan dari gedung Humanity. Dari kejauhan nampak mobil Elang berhenti di dekat tanda parkir. Azkia mempercepat langkahnya lalu masuk ke dalam mobil.
“Lama nunggu mas?”
“Ngga.”
Elang menghidupkan kendaraannya lalu mulai melaju. Dia sengaja menunggu di tempat yang sedikit jauh agar Azkia tidak menjadi bahan gosip di kantor.
“Kita makan dulu ya.”
“Ngga bisa mas. Aku harus masak makan malam.”
“Ngga usah masak, nanti kita beli buat ibu sama Hanin. Lagi pula kamu pasti cape hari ini.”
“Tapi mas...”
“Ngga ada tapi-tapi. Aku ngga nerima penolakan.”
“Ish mas El tukang maksa.”
“Emang,” Elang tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Azkia menatap lelaki itu sejenak. Elang sudah kembali menjadi sosok yang dikenalnya.
“Maaf ya, hari ini pasti kamu kaget lihat aku. Hari ini benar-benar kacau, ngga ada kerjaan yang beres.”
“Iya mas aku ngerti kok. Tapi beneran ya, mas tuh kalau lagi marah serem banget persis kaya raja hutan lagi ngamuk.”
Elang tergelak mendengar ucapan Azkia. Ingin rasanya dia mengusap puncak kepala gadis itu tapi tak bisa dilakukannya. Setelah lima belas menit berkendara mereka berhenti di sebuah warung tenda yang menjual hidangan ayam bakar.
Selesai makan Azkia langsung mengajak pulang. Tak lupa Elang membelikan ayam bakar untuk Daniar juga Hanin. Sebelum pulang mereka mampir dulu ke sebuah masjid untuk menunaikan ibadah shalat maghrib baru kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Elang menghentikan kendaraannya tepat di depan gang.
“Besok pagi aku jemput.”
“Iya mas.”
“Tumben langsung nurut.”
“Emang aku bisa nolak?”
“Ngga,” Elang terkekeh.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia turun dari mobil. Dipandanginya mobil Elang yang melaju sampai hilang di pertigaan. Baru kemudian gadis itu berjalan memasuki gang. Pikirannya terus saja tertuju pada Elang.
Bagaimana aku bisa melupakan perasaanku mas, kalau kamu selalu bersikap baik padaku. Tapi aku juga takut terlalu berharap padamu. Aku takut kecewa dan sakit hati.
🍁🍁🍁
**Sabar mas El jangan marah² nanti cepet tua loh. Untung ada neng Az ya jadi unyu lagi mas El nya😂
__ADS_1
Udah pada tidur belum? Maaf ya rencana mau up jam 9 ternyata harus mundur karena mamake sibuk jadi mandor anak yang ngerjain tugas sekolah😁
Jangan lupa loh ritualnya, like, comment and vote nya ya gaaaeesss😎**