
BRAK!!
Irzal menggebrak meja kerjanya dengan keras. Amarahnya seketika membuncah begitu mendapat informasi siapa pelaku yang telah berusaha mencelakakan anak perempuan satu-satunya. Kulit wajahnya yang putih sudah berubah menjadi merah, buku-buku tangannya pun memutih karena kepalan tangannya yang begitu kuat.
Poppy yang juga terkejut berusaha menenangkan suaminya. Untuk sesaat suasana di ruang kerja suaminya menjadi panas. Ketiga laki-laki di ruangan itu tengah terbakar amarah. Azkia juga tak henti mengusap punggung suaminya yang masih terlihat emosi. Hanya Farel yang berusaha meredam amarahnya seorang diri, derita seorang jomblo.
“Aa mau kemana?”
“Aku harus menemuinya sekarang. Anak itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya.”
“Jangan sekarang a. Sekarang aa lagi emosi, aku ngga mau terjadi keributan di sana.”
“Dia harus tahu bagaimana kelakukan anaknya! Dia sudah berusaha mencelakakan Yunda! Anak kita! Bayangkan apa yang terjadi seandainya Ilan tidak datang menolongnya. Mungkin saat ini Yunda yang terbaring koma di rumah sakit. Kamu tidak lihat? Bahkan dia menambah kecepatan mobilnya!!”
Semua yang ada di ruangan terdiam. Suasana semakin terlihat mencekam. Azkia memeluk erat lengan suaminya. Baru kali ini dia melihat ayah mertuanya semarah ini. Di tengah-tengah ketegangan, pintu ruangan terbuka. Rain beserta Akhtar masuk ke dalamnya.
“Ayah.."
"Di mana Bilqis?"
"Aku belum bertemu dengannya yah. Atas nama Bilqis, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Tolong biarkan aku yang menegur dan menghukumnya,” tutur Akhtar.
Irzal menghampiri Akhtar. Rain sedikit takut melihat wajah Irzal yang terlihat menyeramkan. Sepertinya adik iparnya itu telah membangunkan singa jantan dari tidur panjangnya.
“Di mana papamu?”
“Tolong yah.. jangan libatkan papa dulu. Saat ini kesehatannya sedang menurun.”
“Apa kamu tahu apa yang sudah adikmu lakukan?!!”
“Iya yah.. aku benar-benar minta maaf. Sebagai kakak aku tidak becus mendidiknya. Biarkan aku yang akan menghukumnya yah. Juga tolong jangan beritahu papa dulu. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku tahu ayah pasti sangat marah, silahkan lampiaskan kemarahan ayah padaku.”
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Akhtar hingga sudut bibirnya terluka. Rain berteriak melihat tubuh suaminya sampai terhuyung ke belakang akibat tamparan keras Irzal. Poppy memeluk suaminya dari belakang.
“A.. sudah a.. istighfar.. dia keponakanmu.. sudah.”
Poppy terus memeluk suaminya, airmatanya sudah mengalir membasahi punggung Irzal yang terbalut kemeja. Emosi Irzal meredup begitu mengetahui istrinya tengah menangis.
“Pulanglah... ayah percayakan Bilqis padamu. Pastikan dia tidak berbuat macam-macam lagi, atau ayah tidak akan segan-segan menghukumnya.”
“Terima kasih yah.. sekali lagi aku minta maaf.”
Akhtar meninggalkan ruangan bersama dengan Rain. Wajahnya mengeras menahan amarah. Bukan karena Irzal telah menamparnya, tapi karena kesal dengan tindakan sang adik. Dia bersyukur Irzal hanya menamparnya, mengingat amarah pria itu tadi. Jika itu orang lain, mungkin sudah dibuat patah semua tulang di tubuhnya.
🍁🍁🍁
Bilqis keluar dari mobilnya setelah memarkirkan kendaraannya di garasi. Kakinya memasuki rumahnya yang sudah terlihat sepi. Nino dan Kalila masih belum kembali dari liburannya di puncak. Dia langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Bilqis terkejut mendapati Akhtar yang sedang duduk di kursi sesaat setelah menyalakan lampu kamarnya. Pandangan kakaknya itu seperti anak panah yang menghujam ke jantung, begitu tajam dan menusuk.
__ADS_1
“Kakak.. kakak ngapain di sini?”
“Menurutmu kenapa kakak ada di sini?”
“Ngga tau..” jawab Bilqis tak acuh. Dia melemparkan tas selempangnya ke ranjang.
Akhtar menghirup oksigen sedalam-dalamnya untuk meredakan gemuruh di dadanya. Perlahan dia bangun dari duduknya kemudian menghampiri Bilqis.
“Apa kamu berusaha mencelakai Yunda?”
Nampak keterkejutan di wajah Bilqis. Dia merasa sudah melakukan semuanya serapih mungkin tapi ternyata Akhtar sudah mengetahui hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sepertinya gadis itu lupa siapa orang yang sudah berusaha dicelakainya.
“Kenapa Qis? Kenapa?!”
“Aku benci Yunda!! Karena dia, Rey menjauhiku! Karena dia, Rey menolak cintaku!!”
“Sadar Qis! Rey itu saudaramu, saudaramu!!”
“Aku ngga peduli!!!”
Bilqis menangis histeris. Rain yang berada di kamar bawah bergegas naik ke atas. Dia takut suaminya kehilangan kendali. Fikry yang sedang berada di kamarnya ikut keluar begitu mendengar tangisan kakaknya.
“Ada apa bang?” tanya Fikry.
Akhtar tak menjawab, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Rain yang sudah berada di sana berusaha untuk menenangkannya.
“Sabar mas.. sabar..”
“Mak.. maksud bang Akhtar apa?”
“Kakak bodohmu ini berusaha menabrak Ayunda dengan mobilnya. Beruntung Ilan bisa menyelamatkannya. Jika tidak, ayah Irzal pasti sudah membunuhnya jika sesuatu terjadi pada Yunda.”
“Apa??!!!”
Semua yang ada di kamar Bilqis terkejut melihat Kalila sudah berada di tengah-tengah mereka.
“Ma.. kenapa mama sudah pulang? Papa di mana?” tanya Akhtar cemas.
“Papa di bawah sedang memasukkan mobil.”
“Fik.. kamu ke bawah, cegah supaya papa jangan ke atas.”
Fikry mengangguk, dia bergegas turun ke bawah. Kalila semakin dibuat bingung. Niatnya pulang cepat untuk memberikan kejutan pada anak-anaknya justru dia yang dibuat terkejut dengan pertengkaran Akhtar dan Bilqis.
“Apa yang sudah terjadi? Ada apa ini? Siapa yang sudah berusaha mencelakai Yunda?”
Akhtar membimbing ibu sambungnya itu duduk di sisi ranjang. Dengan perlahan dia menceritakan semua yang sudah terjadi. Dia tak punya pilihan selain mengatakan yang sebenarnya. Hal akan bertambah kacau kalau Kalila mengetahuinya dari yang lain.
“Apa itu benar Qis? Tapi kenapa Qis? Kenapa kamu melakukannya? Dia itu sepupumu.”
__ADS_1
“Aku benci dia ma! Dia sudah merebut Rey dariku!!!”
PLAK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bilqis. Kekecewaan begitu mendera wanita yang usianya sudah mencapai setengah abad itu. Bilqis pun tak kalah terkejut. Mamanya yang kerap bersikap lembut kini menamparnya hanya demi Ayunda.
“Sudah berapa kali mama katakan kalau Rey adalah saudaramu, saudaramu!!”
“Aku tidak ingin menjadi saudaranya!! Aku mencintainya ma!! Ini semua salah mama!! Kenapa mama harus menjadi ibu susunya, kenapa?!! Aku benci mama!!”
“BILQIS!!!”
Amarah Akhtar sudah sampai ke puncaknya. Dia hendak merangsek maju tapi Rain segera menahannya. Rain berdiri menghalangi suaminya seraya menggelengkan kepala. Kalila hampir saja terjatuh mendengar ucapan putrinya. Fikry yang sudah kembali segera menangkap tubuh ibunya. Rain memintanya untuk membawa Kalila ke kamarnya.
“Kenapa kamu menyalahkan mama? Sejak awal mama dan papa sudah memberitahukan hubunganmu dengan Rey. Bahkan aku sudah berulang kali mengingatkanmu, tapi kamu keras kepala! Kamu egois! Demi perasaan bodohmu, kamu sudah menyakiti banyak orang, dan orang paling kamu sakiti adalah mama!!”
“Kakak tidak usah sok mengaturku. Kamu bukan kakakku!! Kakak bahkan tidak memiliki ikatan darah apapun dengan keluarga ini!!”
“Bilqis!!!” seru Rain.
“Aku mungkin tak memiliki ikatan darah dengan keluarga ini. Tapi aku menyayangi kalian setulus hatiku. Dan mama, walaupun dia bukan ibu kandungku, tapi aku menyayanginya. Kamu boleh menghinaku atau membenciku tapi aku tidak rela kalau kamu berbuat kasar pada mama. Maafkan kalau aku sudah lancang ikut campur dengan urusanmu. Terima kasih sudah mengingatkan di mana tempatku berada. Mulai sekarang aku tidak akan mencampuri lagi urusanmu.”
Akhtar berlalu meninggalkan Bilqis. Amarah yang tadi menguasai hatinya berganti dengan kepedihan begitu dalam mendengar ucapan frontal sang adik. Rain yang sedari tadi hanya diam, tak bisa menahan dirinya melihat suaminya terluka akibat ucapan adik iparnya ini.
“Mas Akhtar memang bukan kakak kandungmu tapi dia sangat menyayangimu. Bahkan dia bersedia menerima amukan ayah Irzal demi melindungimu juga papa. Dan satu lagi, kalau pun Rey bukan saudara sesusumu, belum tentu dia akan memiliki perasaan padamu. Karena dari dulu sampai sekarang hanya Yunda yang ada dalam hatinya. Sadarlah Qis, akibat tindakan bodohmu, kamu bisa membuat dua keluarga terlibat pertikaian.”
Rain pergi meninggalkan Bilqis. Sebenarnya dia masih belum puas melampiaskan kekesalannya tapi yang terpenting saat ini adalah menenangkan suaminya yang sedang terluka perasaannya.
Tubuh Bilqis luruh jatuh ke lantai, tangisnya kembali pecah. Berbagai macam berkecamuk di dalam hatinya. Dia marah pada semua orang, kecewa karena tak ada yang membelanya dan menyesal telah menyakiti keluarganya.
Bilqis mengusap airmatanya dengan kasar. Merasa tak ada yang mempedulikannya, Bilqis memutuskan untuk pergi.
Tanpa sepengetahuan yang lain, dia keluar dari rumah. Rintik hujan mengiringi langkahnya menyusuri jalanan yang telah basah oleh air hujan.
Bilqis menutupi matanya dari sorot lampu mobil yang mengarah padanya dengan kedua tangan. Mobil tersebut berhenti di depan Bilqis. Tak lama seorang laki-laki keluar dari dalamnya kemudian menghampiri gadis itu.
“Bilqis kamu kenapa?”
“Bang Za...”
Tubuh Bilqis jatuh terkulai, dengan sigap Zahran menangkap Bilqis sebelum tubuhnya menyentuh aspal. Bergegas dia memasukkan Bilqis ke dalam mobil kemudian menjalankan kendaraannya.
🍁🍁🍁
**Tetot! Kalian salah, ternyata bukan Salsa pelakunya hahaha...🤭
Jadi gimana nih kelanjutan hubungan Rey dan Ay, gimana juga dengan Ilan yang sudah berkorban?
Like, comment n vote dulu ya...
__ADS_1
Biar mamake semangat nulis kelanjutannya😘**