Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Restu


__ADS_3

Perlahan Firly membuka matanya, bau obat-obatan langsung menerpa indra penciumannya. Dia menoleh ke arah tangannya yang seperti digenggam seseorang. Firly memperhatikan seorang pria yang tengah tidur di kursi dengan kepala berada di bed dan tangannya menggenggam tangan Firly.


“Om Dimas,” panggil Firly dengan suara lirih.


Samar-samar Dimas menangkap sebuah suara memanggilnya. Dia membuka matanya, lalu terlihat netra Firly sedang menatap ke arahnya. Dimas mengangkat kepalanya.


“Kamu udah bangun sayang?”


“Ini beneran om Dimas? Ily ngga mimpi kan?”


“Iya sayang, ini om. Kamu ngga mimpi sayang,” Dimas membawa tangan Firly ke bibirnya kemudian mengecupnya.


“Om hiks.. hiks.. Ily kangen hiks.. hiks..”


Dimas berdiri lalu memeluk Firly. Tangisan gadis itu pecah dalam dekapan Dimas. Diusapnya punggung Firly lalu dikecupnya puncak kepala Firly beberapa kali. Ega yang baru kembali setelah menemui dokter langsung menghampiri bed Firly. Dimas mengurai pelukannya seraya menghapus airmata yang masih mengalir deras.


“Ily maafkan papi nak. Maaf karena papi belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu.”


“Papi ngga salah hiks.. Ily yang salah. Semua salah Ily hiks.. hiks..”


“Kamu ngga salah sayang, ngga...”


Ega memeluk Firly, hatinya benar-benar hancur melihat anak gadisnya serapuh ini. Berbanding terbalik dengan keceriaan yang selalu dia tampilkan di hadapannya.


“Maafkan om, Ily... ini semua salah om. Harusnya om ngga menyerah dan terus berjuang bersamamu. Maaf sudah membuatmu begini,” Dimas menggenggam tangan Firly. Rasa bersalah menderanya melihat wanita yang dicintainya terluka begitu dalam.


“Sudah jangan menangis lagi. Dokter bilang kamu ngga boleh banyak pikiran. Sekarang ada om Dimas di sini, papi juga akan menjagamu. Papi merestui hubungan kalian.”


“Bang...”


“Iya Dim, aku sadar sudah melakukan kesalahan. Ngga ada yang lebih penting dari kebahagiaan anak-anakku. Dan kebahagiaan Ily ada padamu. Aku minta maaf kalau ucapan dan sikapku menyinggung atau melukai hatimu. Apa kamu mau memaafkanku Dim?”


“Aku sudah memaafkannya bang. Tolong jangan ungkit lagi masalah itu. Bukankah kita saudara? Atau abang sudah tidak menganggapku adik lagi?”


“Kamu memang bukan adikku lagi. Sekarang kamu calon menantuku,” Ega merangkul Dimas lalu memeluknya. Firly terharu melihat dua lelaki yang sangat disayanginya berpelukan.


“Aku percayakan Ily padamu Dim. Sayangi, lindungi dan bimbinglah dia dengan baik.”


“In Syaa Allah bang. Terima kasih atas kepercayaan abang padaku.”


“Kok aku ngga dipeluk?”


Celetukan Firly sontak membuat kedua pria ini terkekeh. Keduanya menghampiri kemudian memeluk gadis itu, mirip sekali dengan teletubbies ketika sedang berpelukan.


🍁🍁🍁


Sisil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Berkutat hampir empat jam lamanya di depan laptop membuat urat leher kepalanya sedikit tegang. Dia mematikan laptop lalu membereskan buku-buku yang dijadikan bahan referensi tugas kuliahnya. Setelah beres Sisil bersiap untuk tidur. Baru saja akan mematikan lampu, terdengar ketukan di pintu.


“Sisil.. boleh mama masuk?”


“Masuk aja ma.”


Pintu terbuka, muncul Arini dari baliknya. Dia menghampiri Sisil kemudian duduk di sisi ranjang. Sejenak dipandanginya wajah anaknya yang kini sudah berusia 18 tahun. Rasanya baru kemarin dia mengandung, melahirkan dan mengurusnya. Masih terbayang jelas wajah Sisil di awal kelahirannya. Bayi kecil yang lahir ke dunia tanpa didampingi kehadiran sang ayah. Bahkan kakeknya-lah yang menggantikan sang ayah untuk mengadzaninya.


“Sil, apa selama hidup dengan mama kamu bahagia?”


“Kok mama nanyanya kaya gitu sih? Ya udah jelas aku bahagia. Bagiku tuh mama seorang wonder woman. Mama membesarkanku seorang diri, bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanku. Dan mama juga sahabat yang baik untukku. Maaf kalau sampai saat ini Sisil belum bisa membalas semua kasih sayang dan pengorbanan mama.”


“Mama ngga memerlukan balasan nak. Mama ikhlas melakukan itu semua, karena kamu anak mama, darah daging mama dan kebanggaan mama.”


Sisil memeluk Arini dari samping lalu merebahkan kepalanya di bahu sang mama. Nyaman, itulah yang selalu dirasakannya saat dekat dengan mama rasa sahabat itu.

__ADS_1


“Aku sayang mama. Dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan mama.”


“Termasuk melupakan laki-laki yang kamu cintai?”


Sisil terkejut, refleks dia mengangkat kepalanya dan mengurai pelukannya. Dipandanginya wajah Arini lekat-lekat. Arini membingkai wajah Sisil dengan kedua tangannya.


“Kamu mencintai om Ringgo?”


“Ng.. ngga ma. Itu cuma kekaguman sesaat aja kok. Mama kan tahu aku sekarang lagi deket sama kak Nolan, kakak tingkat aku di kampus.”


“Dekat bukan berarti cinta kan? Kamu mencintai om Ringgo?”


“Ngga ma.”


Sisil menundukkan pandangannya, tak ingin mamanya menangkap kebohongan dan kesedihan di matanya. Arini melepaskan kedua tangannya, kemudian merengkuh Sisil dalam pelukannya.


“Sayang, maafkan mama ya kalau mama sudah bersikap egois. Mama hanya tidak mau kamu mengalami apa yang mama alami. Mama ingin kamu menikah sekali seumur hidup dengan lelaki yang baik, yang mencintaimu dan bertanggung jawab.”


“Sebenarnya mama punya calon untukmu kalau kamu bersedia. Mama sudah kenal dia. Dia orang yang baik, setia dan bertanggung jawab. Dia juga sudah mapan, jadi kalau mama menitipkanmu padanya mama tidak akan khawatir kamu akan hidup kesusahan. Apa kamu mau bertemu dengannya?”


Tenggorokan Sisil seperti tercekat. Jauh di lubuk hatinya dia ingin menolak permintaan mamanya karena di hatinya masih terukir nama Ringgo. Tapi Sisil juga tidak ingin mengecewakan mamanya.


“Sil, gimana? Kamu mau bertemu dengannya?”


“I.. iya ma, aku mau.”


“Besok jam makan siang kita ketemu di cafe tempat kamu part time.”


“Iya ma.”


“Ya udah. Sekarang tidur gih. Mimpi indah sayang.”


Maafin Sisil om. Sisil sayang sama om Ringgo. Tapi kalau Sisil harus memilih mama atau om, Sisil pasti pilih mama. Sisil akan menikah dengan laki-laki pilihan mama. Semoga om Ringgo juga cepat menemukan jodoh om.


Sisil memejamkan matanya, mencoba untuk tidur disela-sela airmatanya yang tak berhenti mengalir.


🍁🍁🍁


Suasana cafe milik Dimas cukup ramai siang ini. Arini dan Sisil memasuki cafe lalu menuju sebuah meja yang terletak di paling ujung. Nampak seorang pria tengah duduk dengan posisi membelakangi mereka. Arini dan Sisil menarik kursi lalu berhadapan dengan pria tersebut. Sisil terkejut, ternyata orang yang hendak mereka temui adalah pria yang mati-matian dia hindari belakangan ini.


“Om Ringgo.”


“Sisil.”


“Udah pesen makan belum?” suara Arini menginterupsi.


“Belum.”


“Lo bener-bener ya. Mau bikin gue ama anak gue kelaperan apa? Buruan pesen!”


“Ya Allah dasar emak tere!!”


Ringgo melambaikan tangan pada pelayan. Sang pelayan menghampiri lalu langsung mencatat pesanan mereka kemudian kembali ke tempatnya untuk menyiapkan pesanan. Ringgo memandangi Sisil yang terlihat semakin cantik saja.


“Ehem!!”


Ringgo langsung mengalihkan pandangannya begitu mendengar deheman Arini alias calon mertua gagal alias emak tere. Sedang Sisil hanya menundukkan pandangannya.


“Lo mau ngomong apa ngajak ketemuan di sini? Buruan, gue banyak kerjaan nih.”


“Ck.. kaga sabaran banget sih. Nggo.. lo beneran suka sama anak gue?”

__ADS_1


Uhuk.. uhuk..


Ringgo yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak. Begitu pula Sisil yang mengangkat wajahnya ketika mendengar pertanyaan sang mama.


“Yee malah bengong, jawab! Lo beneran suka anak gue? Lo serius mau nikahin dia? Bukan dijadiin peliharaan doang?”


“Astaghfirullah itu lambe lemes bener. Woi.. elo tuh emaknya jangan ngomong sembarangan. Lagian emang gue ada tampang apa buat jadi om-om senang yang sukanya melihara cewek?”


“Kaga, tampang lo kan tampang korban perselingkuhan huahahaha...”


“Dasar sahabat durjana.”


Sisil yang masih diam, memperhatikan interaksi mamanya dengan Ringgo. Hatinya geli sendiri kalau dia menikah dengan Ringgo entah apa yang akan terjadi dengan mereka. Membayangkan Ringgo memanggil mama pada Arini saja sudah membuat Sisil tertawa geli. Ringgo dan Arini melihat heran pada Sisil yang sedang terkikik sendiri.


“Kamu kenapa Sil?”


“Eh ngga ma.”


“Ehem! Lo belum jawab pertanyaan gue Nggo. Lo beneran serius sama anak gue?” kini nada bicara Sisil terdengar lebih serius.


“Lo tahu gue Rin. Kapan sih gue ngga pernah serius dengan orang yang gue sukai. Gue beneran jatuh cinta sama Sisil dan mau menikahinya itupun kalau elo merestui. Tapi kalau lo ngga setuju, gue ngga akan maksa. Mungkin Sisil bukan jodoh gue.”


“Sil, mama tanya sekali lagi. Apa kamu suka sama Ringgo? Kamu cinta sama dia?”


“Ng.. ngga ma,” jawabnya sambil menunduk.


“Sisil lihat mama. Tolong jujur nak, apa kamu juga perasaan yang sama seperti Ringgo?”


Sisil menatap mata mamanya, dengan sedikit takut dia mengangguk. Takut kalau jawabannya melukai hati sang mama.


“Kapan lo mau nikahin anak gue?”


Uhuk.. uhuk..


Lagi-lagi Ringgo terbatuk mendengar ucapan frontal sahabatnya. Sisil pun tak kalah terkejutnya. Matanya membulat menatap sang mama.


“Lo ngga kesambet kan Rin? Ngga lagi sakit panas kan?”


“Gue serius Nggo! Kalau emang lo serius ama anak gue, cepat lamar dia.”


“Mama...”


“Maafin mama kalau akhir-akhir ini ngga mengerti perasaan kamu. Mama merestui kalian. Mama tahu Ringgo seperti apa, dia lelaki yang baik dan mama percaya dia bisa menyayangi juga bertanggung jawab padamu. Mama takut kalau kamu bersama laki-laki lain, kamu mengalami hal yang sama dengan mama.”


“Mama...”


Sisil menghambur ke pelukan Arini, tangis bahagianya pecah. Arini pun tak kalah terharunya. Baginya, jika Sisil bahagia maka dia pun akan merasa bahagia.


“Makasih ya Rin. Gue ngga akan mengecewakan elo. Sebisa mungkin gue akan berusaha menjadi imam yang baik buat Sisil.”


“Iya Nggo, gue percaya sama elo. Gue titip Sisil ya.”


Suasana mendadak menjadi mengharu biru. Sisil masih belum percaya kalau mamanya telah merestui hubungannya dengan Ringgo. Lelaki itu tampak tersenyum bahagia. Dia menggenggam tangan Sisil erat. Kesabarannya akhirnya membuahkan hasil.


🍁🍁🍁


**Restu Ega udah didapat tinggal Alea nih. Kira2 Alea bakal ngerestuin ngga?


Dukung terus mamake ya dengan like, comment n vote nya. Kalau berkenan, kasih juga hadiahnya😉


Jum'at barokah**..

__ADS_1


__ADS_2