Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Kidnapping


__ADS_3

Elang dan Jayden memasuki salah satu klub yang ada di Barcelona. Kalau bukan karena urusan bisnis, Elang tidak akan mau menginjakkan kakinya di tempat terkutuk ini. Dentuman musik langsung menyapa indra pendengarannya. Di atas panggung, seorang DJ wanita dengan pakaian minim sedang asik memainkan peralatannya.


Beberapa kali terdengar siulan Jayden ketika melintasi para wanita seksi berpakaian kekurangan bahan. Elang hanya geleng-geleng saja melihat tingkah sahabatnya ini. Keduanya lalu menuju lantai dua. Mereka segera memasuki VIP room yang telah disiapkan oleh temannya.


Josh dan seorang temannya sudah menunggu mereka di dalam. Pria berkebangsaan Inggris itu segera menyambut Elang dan Jayden. Jayden memandang berkeliling. Ruangan ini dilengkapi sebuah sofa melingkar beserta meja di tengahnya, televisi LED berukuran besar menempel di dinding ruangan dilengkapi dengan sound system. Di bagian kanan terdapat jendela besar menghadap ke arah lantai bawah. Dari sini dapat terlihat jelas aktivitas di bawah sana, namun tidak dapat terlihat oleh mereka yang ada di bawah.


“Apa kabar El?” Josh menjabat tangan Elang.


“Alhamdulillah baik. Kenalkan ini Jayden,” Jayden menjabat tangan Josh.


“Ini Chad, dia yang akan membantu proyek kalian.”


Lelaki yang dipanggil Chad itu segera berdiri lalu berkenalan dengan Elang juga Jayden. Perawakan Chad hampir mirip dengan Elang. Hanya model rambut mereka yang berbeda. Keempatnya duduk lalu mulai membicarakan tentang proyek yang akan mereka garap.


Hampir satu jam lamanya mereka berbincang hingga akhirnya memperoleh kata sepakat. Jayden menyandarkan punggungnya di sofa, matanya terus menatap ke arah bawah. Tiba-tiba dia melihat seorang wanita mengenakan strapless dress berwarna merah menyala. Rambutnya yang berwarna pirang dibiarkan tergerai sampai ke bahu. Jayden menelan ludahnya melihat bahu putih nan mulus itu.


“Lo lihat apaan sih sampe ileran gitu,” ledek Elang.


Jayden menyeka sudut bibirnya yang kering, Elang terkekeh melihatnya. Lelaki blasteran itu menunjuk pada seseorang yang menarik perhatiannya. Semua mata langsung menoleh ke arahnya. Elang cukup terkejut melihatnya, berbeda dengan Josh dan Chad yang terlihat santai.


“Itu beneran Syifa kan? Mata gue ngga salah lihat kan?” tanya Jayden.


“Itu emang Syifa, teman kamu El eh ralat, penggemar beratmu,” Josh terkekeh.


“Lah bukannya dia pake kerudung ya,” Jayden menggaruk kepalanya yang tak gatal. Otaknya langsung berfantasi liar melihat penampilan Syifa.


“Sehari-hari dia emang berpenampilan seperti itu. Cuma di depan El doang dia pake kerudung. Minuman beralkohol, free *** itu udah ngga aneh buat dia. Kalian aja yang ketipu sama penampilannya hahahaha,” Josh terbahak melihat ekspresi terkejut Elang juga Jayden.


“Kamu tahu hubungan dia dengan Mr. Miller?”


“Dua tahun lalu dia pernah nyelamatin Mr. Miller yang alergi kepiting. Mr. Miller makan hidangan yang ada kandungan kepiting di dalamnya. Syifa bergerak cepat menyelamatkan Mr. Miller. Tapi sebenarnya peristiwa itu sudah direncanakannya. Dia sengaja mendekati Mr. Miller dengan cara itu.”


“Itu info valid?”


“Tentu aja, yang bantu dia waktu itu kan si Chad.”


Elang menoleh pada Chad, pria bule itu hanya menganggukkan kepalanya. Elang menghempaskan punggung ke sandaran sofa. Tak percaya kalau sosok Syifa yang kerap terlihat anggun ternyata menyimpan sejuta kelicikan di otaknya.


Hari semakin malam, Elang memutuskan untuk kembali ke hotel. Dengan berat hati Jayden mengikuti langkah sahabatnya itu disusul oleh Josh juga Chad. Di lantai bawah dari meja sudut Syifa memperhatikan Elang. Lalu memberi isyarat pada seorang temannya. Elang mendesis pelan ketika merasakan lengannya seperti tertusuk sesuatu. Dia melihat sekeliling seraya meraba lengannya. Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Syifa tersenyum miring menyaksikan itu semua.


Sekeluarnya dari klub Josh dan Chad langsung memisahkan diri. Jayden juga tak langsung kembali ke hotel, dia ingin berkeliling menikmati suasana malam di Barcelona. Elang memilih kembali ke hotel sendiri. Tanpa disadari, Syifa diam-diam mengikutinya. Elang mampir ke suatu tempat lebih dulu untuk membeli oleh-oleh baru kemudian kembali ke hotel.


Begitu sampai di hotel Elang merasakan sesuatu tak beres dengan tubuhnya. Dia masuk ke dalam lift dengan sempoyongan. Syifa bergegas ikut masuk ke lift lalu berdiri menyender di dinding lift memperhatikan Elang di depannya. Begitu pintu lift terbuka Elang langsung keluar tubuhnya semakin limbung. Syifa bergegas mendekati Elang.


“El, kamu kenapa? Aku bantu.”


Syifa baru saja akan memegangi Elang, tapi lelaki itu segera mengangkat tangannya, tanda tak ingin disentuh. Dia terus berjalan dengan tangan bertumpu pada dinding. Elang mengeluarkan key cardnya lalu menempelkan pada panel pintu. Elang bergegas masuk lalu segera menuju kamar mandi. Syifa ikut masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Elang membasuh wajahnya dengan air beberapa kali. Digeleng-gelengkan kepalanya untuk menghalau rasa pusing yang menderanya. Tangannya bertumpu pada sisi wastafel. Tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuhnya ambruk ke lantai.


Pintu kamar mandi terbuka, Syifa dengan dua orang pria masuk ke dalam. Kedua pria itu segera mengangkat tubuh Elang lalu merebahkannya di kasur. Dengan isyarat Syifa menyuruh dua orang itu keluar kamar. Syifa tersenyum senang melihat Elang yang tak berdaya di ranjang.


Tak lama bel pintu terdengar, seorang pelayan mengantarkan minuman untuknya. Syifa langsung menghabiskan minuman tersebut lalu memberikan gelas kembali pada pelayan tersebut. Dia menutup pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi untu bersiap. Lima menit kemudian dia keluar, tubuhnya sudah terbalut lingerie berbahan tipis.


Syifa berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang. Minuman yang tadi diteguknya mulai bereaksi. Dia merasakan efek panas pada tubuhnya. Syifa sengaja meminta sang pelayan untuk menambahkan sedikit bubuk perangsang pada minumannya. Dia ingin bercinta semalam penuh dengan lelaki pujaannya ini. Syifa membelai wajah Elang yang masih tertidur pulas. Perlahan dia mendaratkan bibirnya di bibir lelaki itu.


🍁🍁🍁


Azkia baru saja kembali dari kampus. Suasana rumah tampak sepi, hanya ada bi Diah dan Neni. Irzal masih berada di Belitung, Poppy sibuk mengurus masalah yayasan, Farel belum kembali dari kantor, Ayunda yang baru pulang dari kampus langsung mengurung diri di kamar mengerjakan tugas kuliahnya.


Azkia memilih ke dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Saat Azkia dan bi Diah sedang berkutat dengan peralatan dapur tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah luar. Sayup-sayup Azkia mendengar suara seseorang berteriak. Bergegas Azkia keluar. Betapa terkejutnya dia melihat Agus sudah berada di halaman rumah.


“Kia!!! Ini bapakmu!!! Bapak ingin bertemu!!!”


Dua orang pengawal yang ditugaskan berjaga di rumah segera meringkus Agus. Tapi pria itu berontak sekuat tenaga. Dia terus merangsek maju mendekati Azkia, perlahan Azkia berjalan mundur. Belum sempat Agus mencapai Azkia, tubuhnya sudah diseret pergi oleh kedua pengawal itu.


Azkia memegangi dadanya yang berdebar kencang. Tak menyangka Agus mempunyai keberanian datang ke rumah. Azkia masuk kembali ke dalam rumah, namun saat akan menutup pintu, gerakannya tertahan oleh tangan seseorang. Meta dan seorang temannya secara paksa masuk ke dalam rumah.


“Siapa kalian?”


“Ikut kami secara baik-baik kalau kamu mau semua penghuni rumah ini selamat.”


Meta memberi isyarat, temannya itu segera meringkus bi Diah dan Neni. Kedua wanita itu diikat tangan dan kakinya, mulutnya ditutup oleh lakban. Setelah meringkus bi Diah dan Neni, lelaki muda itu segera keluar untuk menyiapkan mobil.


“Ayo ikut saya sekarang.”


Azkia meraih apapun di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Meta. Dengan santai Meta menghindari semua lemparan Azkia. Dia terus melangkah mendekati wanita itu. Ayunda yang mendengar suara gaduh dari bawah segera keluar dari kamarnya. Dia terkejut melihat seorang wanita asing berada di rumahnya.


“Siapa kamu?” Ayunda berdiri menghalangi Meta yang hampir mendapatkan Azkia.


“Jangan ikut campur kalau tidak mau terluka.”


“Maju kalau berani.”


Diburu waktu, Meta langsung merangsek maju menyerang Ayunda. Dengan cepat gadis itu berkelit. Perkelahian pun tak bisa dihindarkan. Ayunda yang memang memiliki kemampuan bela diri dapat mengimbangi Meta. Beberapa kali keduanya terlibat adu pukulan dan tendangan. Ternyata Ayunda bukan lawan yang mudah dikalahkan, Meta cukup kerepotan menghadapi gadis ini. Tak sia-sia Irzal dan Elang melatihnya setiap minggu.


Meta semakin terdesak, Ayunda mampu memberikan perlawanan sengit. Pemegang sabuk merah taekwondo itu terus memborbardir Meta dengan tendangan dan pukulan. Merasa terdesak Meta mengeluarkan pistol yang terselip di belakang tubuhnya lalu menodongkannya ke arah Ayunda.


“Ikut saya atau saya pecahkan kepalanya,” ancam Meta.


Ayunda menggelengkan kepalanya tapi Azkia terpaksa mengikuti kemauan Meta karena tak ingin adik iparnya terluka. Meta menarik tangan Azkia lalu memukul tengkuk Ayunda hingga jatuh pingsan. Dia menodongkan pistol ke pinggang Azkia.


“Berjalanlah dengan tenang ke mobil yang ada di depan. Kalau membuat gerakan mencurigakan, saya ngga segan-segan melukaimu.”


Azkia menuruti semua perintah Meta. Keduanya keluar dari rumah, Azkia hanya menundukkan kepalanya. Meta yang berjalan di depannya melihat ke arah balkon rumah Ega. Di sana Azriel berdiri mengawasinya juga Azkia.

__ADS_1


Melihat gelagat yang mencurigakan dari Azkia dan perempuan di belakangnya, Azriel bergegas turun lalu berlari keluar menuju rumah Irzal. Namun terlambat, Azkia telah naik ke dalam mobil dan melesat pergi.


Azriel masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya dia melihat Ayunda yang tergeletak di lantai serta bi Diah dan Neni yang terikat di dapur. Azriel kembali keluar rumah untuk mencari pertolongan. Saat yang bersamaan Reyhan melintas dengan motornya.


“Bang Rey!! Tolong Yunda!!”


Reyhan langsung mengerem motornya, bergegas dia turun dari motor. Helmnya dilemparkan begitu saja. Reyhan membopong tubuh Ayunda lalu membawanya ke sofa. Azriel membebaskan bi Diah dan Neni.


“Bi, minta minyak kayu putih,” pinta Reyhan.


Bi Diah masuk ke kamarnya. Tak lama dia keluar dengan membawa sebotol minyak kayu putih. Reyhan mengoles jarinya dengan minyak kayu putih lalu mendekatkan ke hidung Ayunda. Beberapa saat kemudian gadis itu mulai tersadar.


“Ay.. kamu ngga apa-apa? Kamu kenapa bisa pingsan?” cecar Reyhan.


“Kak Kia... diculik.”


“Apa???!!!” teriak Reyhan dan Azriel berbarengan.


“Telepon bunda sama bang Farel, ayah sama mas El juga kasih tau,” titah Azriel.


Bi Diah segera menelpon Poppy, Reyhan menghubungi Farel, Ayunda menghubungi ayahnya. Setelah menghubungi Irzal, Ayunda segera menghubungi Elang namun panggilannya terhubung pada kotak suara. Lalu dia mencoba menghubungi Jayden.


Mendengar berita penculikan Azkia, Adit, Ega, Regan dan Nino bergegas mendatangi kediaman Irzal. Poppy juga membatalkan semua janji hari ini. Farel pontang-panting pulang ke rumah, meninggalkan meeting penting dengan kliennya. Dimas juga langsung membatalkan perjalanan bisnisnya. Begitu pula dengan Gara, mendengar sang adik menghilang dia segera melesat menuju rumah Irzal.


Regan dan Ega segera mengerahkan semua anak buahnya untuk melacak keberadaan Azkia. Bimo tak kalah sibuk, dia mengecek semua rekaman cctv dari mulai rumah Irzal sampai jalan yang kemungkinan dilalui kendaraan yang membawa Azkia. Irzal sendiri langsung mengambil penerbangan untuk pulang ke Bandung menggunakan pesawat komersil karena jet pribadinya masih berada di Barcelona. Bara juga langsung memanggil Virza pulang ke Bandung.


Hanin tak berhenti menangis mendengar berita hilangnya sang kakak. Terlebih sebelumnya Agus dikatakan sempat datang ke rumah dan membuat keributan. Dia takut kalau bapaknya akan kembali menjual Azkia. Debby terus berusaha menenangkan Hanin, walau hatinya tak kalah cemas. Farel memeluk sang bunda yang hanya diam terpaku. Di saat suami dan anaknya tak di rumah, terjadi peristiwa seperti ini.


“Ay, kamu kenapa?” Reyhan menghampiri Ayunda yang duduk sendirian di sudut ruangan. Tangannya tak henti menghapus airmata yang terus keluar.


“Andai aku tadi bisa kalahin perempuan itu, mungkin kak Kia ngga akan diculik hiks.. hiks..”


“Kamu sudah berusaha semampumu. Jangan bersedih, In Syaa Allah Kia akan baik-baik aja. Ayah dan mas El pasti ngga akan tinggal diam. Mereka pasti bisa menemukan Kia. Kamu jangan nangis lagi, lihat mata kamu sampai bengkak begini.”


Reyhan mengusap airmata di pipi Ayunda dengan jemarinya. Dadanya berdesir ketika bersentuhan dengan kulit mulus itu. Ingin rasanya membawa gadis itu ke dalam dekapannya, membiarkannya menangis di dadanya. Namun Reyhan tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu semua.


🍁🍁🍁


Pelakor dan Pebinor mulai beraksi.


Part mas **El dan Syifa bukan mimpi ya gaaeess...


Azkia diculik, mas El dijebak. Hayo gimana nih, siapa yang mau nolongin mereka???


Tinggalin jejak dulu ya. Kalau komen kalian banyak mungkin aja mamake up 2x hari ini.


Like..

__ADS_1


Comment..


Vote**..


__ADS_2