
Ara keluar dari kamarnya yang ditempati bersama Ayunda kemudian menuju kamar pengantin. Kini dia sudah berdiri di depan pintu kamar, saat akan memencet bel, Elang menahannya.
“Ara ngapain?”
“Mau bangunin papa mas El, mau ajak sarapan bareng.”
“Hmm.. Ara sarapan bareng mas El, kak Farel ama kak Yunda aja ya. Papa sama kak Ily kayanya masih tidur.”
“Kenapa?”
“Kayanya mereka kecapean, kan pestanya sampe malem. Mending ikut mas El aja yuk. Abis sarapan kita jalan-jalan ke mall, mau ngga?”
“Mau.. mau..”
Ara tidak jadi mengajak papanya untuk sarapan. Dia memilih pergi bersama Elang. Sepertinya pasangan pengantin baru itu harus berterima kasih pada Elang. Karena pergulatan panas mereka, keduanya baru bisa tidur jam enam pagi.
Ara tersenyum senang, Elang menepati janjinya sehabis sarapan mengajak dirinya jalan-jalan. Tapi mereka tidak hanya berdua, ada Rain yang menemani. Tujuan pertama ketika mereka menginjakkan kaki di mall adalah tempat bermain. Hampir semua jenis permainan dicobanya. Ara juga memaksa Rain dan Elang ikut bermain. Rain sih enjoy saja mengikuti keinginan Ara. Lain halnya dengan Elang yang ogah-ogahan.
Puas menghabiskan waktu di tempat bermain, Elang mengajak Rain dan Ara beristirahat di food court. Mereka memesan minuman untuk menghilangkan dahaga mereka. Sesekali Rain menyeka keringat yang membasahi kening Ara. Anak itu begitu aktif bermain trampolin hingga bajunya hampir basah oleh keringat.
“Habis dari sini Ara mau apa?”
“Nonton yuk mas El. Ada film baru, sequelnya Incredible Inc. Lihat iklannya di tv kayanya seru deh. Boleh ya?”
“Iya.. habisin minumnya terus abis ini kita nonton.”
“Yeaaaay...”
Ara berteriak senang. Dengan semangat dia menghabiskan milo floatnya. Elang tersenyum melihat adik sepupunya terlihat begitu bahagia. Setelah minumannya tandas, dengan tak sabar Ara menarik tangan Elang dan Rain. Ketiga segera naik ke lantai sepuluh tempat bioskop berada.
Baru saja mereka sampai di lantai sepuluh, Rain melihat sosok lelaki yang disukainya. Akhtar ternyata juga berada di bioskop, tapi dia tak sendiri. Di sampingnya berdiri Lissa yang memeluk lengannya dengan mesra. Hati Rain terasa teriris melihat kemesraan mereka. Tanpa sadar dia meremas tangan Ara.
“Aaaww.. sakit kak Rain.”
Mendengar teriakan Ara, Rain tersadar kemudian langsung melepaskan tangan Ara. gadis itu meringis memegangi tangannya yang barusan diremas oleh Rain.
“Ara maafin kakak ya. Kakak ngga sengaja,” sesal Rain.
“Iya ngga apa-apa kak.”
Elang curiga dengan perubahan sikap Rain. Matanya langsung berkeliling lobi bioskop. Lalu dia menangkap Akhtar dan Lissa sedang duduk berdua. Keduanya tampak bahagia, tangan mereka menaut satu sama lain.
“Rain, mending lo pulang. Biar gue aja yang nemenin Ara nonton.”
“Gue ngga apa-apa El.”
“Pulang Rain, lihat tuh muka lo pucet gitu. Pasti lo kecapean kan kemarin ngurusin acara resepsi. Udah sana pulang, bentar gue telpon bang Farel dulu buat jemput elo.”
“Ngga usah El.”
“Rain! Nurut kenapa sih!”
Rain langsung bungkam begitu mendengar nada suara Elang yang meninggi. Dia tahu kalau sahabatnya sudah bersikap seperti ini pasti tidak ingin dibantah. Elang mengambil ponselnya lalu menelpon Farel. Tak lama dia mengakhiri panggilannya.
“Bang Farel nunggu di lobi, udah sana pulang.”
“Ara, kak Rain pulang dulu ya.”
“Iya kak, dadah...”
Rain melambaikan tangannya kemudian bergegas meninggalkan bioskop. Dia tak sanggup harus berlama-lama melihat kemesraan Akhtar dengan Lissa. Ternyata apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Kisah cintanya usai sebelum sempat dimulai.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Elang memarkirkan kendaraan di depan rumahnya. Sehabis nonton dia langsung mengajak Ara pulang. Dimas menelponnya untuk langsung membawa Ara ke rumahnya karena Dimas dan Firly akan check out dari hotel. Ara langsung berlari masuk ke rumah saat melihat mobil sang papa sudah terparkir di rumah bundanya.
Elang baru saja mengunci mobilnya ketika melihat Sarah sedikit tergesa keluar dari rumahnya. Dia pun menghampiri wanita yang kerap dipanggilnya dengan sebutan mama.
“Ma, mau kemana?”
“Rain, El. Udah jam segini Rain belum pulang aja. Hp nya ngga bisa dihubungi, mama udah telpon anak-anak L’amour. Kata Farel dia tadi nganterin Rain pulang tapi sekarang dia ngga ada El,” ada kepanikan dalam nada bicara Sarah.
“Mama tenang dulu, biar El yang cari Rain. Papa mana ma?”
“Papa dapet telepon dari rumah sakit, ada korban kecelakaan yang harus dioperasi. Rey juga lagi cari Rain, tapi belum ada kabar dari anak itu.”
“Mama tenang ya. Biar El yang cari, mama diam aja di rumah.”
Sarah mengangguk dan menyerahkan pencarian Rain pada Elang. Dia tahu kalau anak Irzal itu bisa diandalkan. Elang bergegas masuk ke mobil, sejenak dia berpikir sebelum menjalankan kendaraannya. Dia menstarter mobilnya kemudian melajukan kendaraannya keluar dari kompleks perumahan menuju tempat pemakaman keluarga.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di sana. Elang memarkirkan kendaraannya di dekat pintu masuk lalu turun dari mobil. Dari arah pintu masuk dia melihat Rain sedang duduk di depan makam seseorang.
Semenjak Rain diberitahu oleh orang tuanya kalau dulu memiliki seorang kakak laki-laki bernama Rakan, gadis itu selalu pergi ke makam sang kakak jika sedang bersedih. Elang sendiri baru mengetahui hal ini dua tahun lalu. Saat itu semua keluarga sedang panik mencari keberadaan Rain yang tiba-tiba menghilang. Elang secara tidak sengaja menemukan sahabatnya di sini.
Flashback On
Elang melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman keluarga kemudian duduk di samping Rain yang sedang menangis di depan makam Rakan.
“Lo kenapa Rain?”
“Ngga apa-apa. Gue cuma lagi ngadu sama kak Rakan aja.”
“Lo mah aneh, kalau lagi ada masalah curhatan sama orang bukan sama kuburan.”
“Hmm.. belum tentu juga sih. Kalau dia masih hidup pasti dia sekarang udah nikah dan punya anak. Kayanya males juga ngeladenin curhatan ABG labil kaya elo,” Elang terkekeh. Rain sebenarnya kesal sekali mendengar ucapan sahabatnya tapi tak ayal dia ikut tersenyum juga.
“Rain, kalau lo punya masalah cerita aja sama gue. Kalau pun gue ngga bisa bantu, gue bisa jadi pendengar yang baik buat elo. Lo boleh cerita sama gue sampe perasaan elo plong. Jangan bebani bang Rakan yang udah tenang di alam sana dengan tangisan elo.”
“Gue pengen cuma ngerasain punya kakak El. Apa salah kalau gue ke sini dan aduin semua kegundahan gue?”
“Biar gue jadi kakak elo Rain. Gue bakal gantiin bang Rakan buat elo, ok?”
“Beneran? Lo ngga bakalan ngomel kalau gue curhat?”
“Ngga, lo boleh curhat apa aja ke gue. Udah sekarang pulang yuk, kasihan mama dan papa nyariin elo.”
Rain mengangguk kemudian mengikuti langkah Elang keluar dari makam. Sejak hari itu, Elang terikat dengan janjinya pada Rain. Bukan hanya mendengarkan curhatan gadis itu tapi juga menjaganya dari orang-orang yang menyakitinya. Makanya mereka sering pergi dan pulang kampus berdua. Namun perjanjian ini hanya diketahui oleh mereka berdua saja. Tak heran banyak yang salah paham dengan kedekatan mereka.
Flashback Off
“Rain.”
Rain terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya berada dekat dengannya. Dia mendongakkan kepalanya. Tampak Elang berdiri di dekatnya dengan kedua tangan terselip di saku celananya.
“Lo tau dari mana gue di sini?”
“Kan kebiasaan elo kalau lagi sedih pasti ke sini kan? Lo lupa apa yang pernah gue bilang?”
“Sorry El. Gue ngga mau bebanin elo dengan masalah gue. Kemarin-kemarin kan keluarga kalian lagi ada masalah. Kayanya ngga enak aja kalau gue kasih beban lagi ke elo saat masalah kalian baru selesai.”
“Pulang Rain, sebentar lagi hujan. Kita ngobrol di mobil aja.”
Elang tak akan berkata dua kali, dia langsung melangkah menuju mobilnya. Tak lama Rain berdiri dan menyusulnya. Kini keduanya sudah duduk di dalam mobil. Suasana masih hening, Rain masih belum mau membuka mulutnya.
__ADS_1
“Lo suka sama bang Akhtar?”
Tebakan Elang langsung tepat sasaran. Rain menolehkan wajahnya pada Elang. Raut wajahnya tetap tenang seperti biasanya. Tatapannya hanya lurus ke depan melihat pepohonan yang tumbuh subur di sekitar area pemakaman.
“Ngga penting juga El, toh perasaan ini udah harus berakhir sebelum sempat dimulai.”
“Apa bang Akhtar selama ini kasih harapan sama elo?”
“Harapan apa. Dia kan emang selalu baik sama semua orang. Sama gue, Ily, Yunda, Nara. Guenya aja yang baper ama sikapnya.”
Mata Rain mulai memanas, rasa sakit mengetahui kalau lelaki yang disukainya sudah memiliki perempuan lain itu nyata. Selama setahun Rain mencintai Akhtar diam-diam dan kini semua itu harus berakhir. Perlahan airmatanya mulai luruh. Elang membiarkan Rain menangis sepuasnya. Dia menyandarkan kepalanya ke jok mobil.
“Gue cengeng banget ya El,” ucap Rain di sela-sela tangisnya.
“Lo boleh nangis sepuasnya kalau itu buat hati lo lega. Sorry ya Rain, sebagai kakak gue cuma bisa sediakan telinga gue buat denger keluhan elo dan tisu buat ngehapus airmata dan ingus elo,” Elang menyodorkan tisu pada Rain.
“Ingusnya jangan disebut napa,” Rain mengambil tisu dari tangan Elang. Dihapusnya airmata berikut cairan yang keluar dari hidungnya. Elang hanya terkekeh melihat tingkah Rain.
Elang yang memang mendapatkan ajaran agama yang kuat dari sang ayah kerap membatasi pergaulan dengan lawan jenis. Dia tak pernah menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya. Walaupun dia dan Rain juga Firly bersahabat dekat, namun tak pernah ada kontak fisik di antara mereka. Baik Rain maupun Firly sudah tahu prinsip dari Elang dan tak mempermasalahkannya.
“Kak Lissa emang cantik ya El. Pantes aja kak Akhtar suka sama dia.”
“Cantik fisik aja percuma kalau ngga diimbangi dengan kecantikan hati. Jangan hanya menilai sesuatu dari luarnya aja Rain. Sebagai cowok gue ngga munafik terkadang mengagumi kecantikan cewek tapi itu aja ngga cukup untuk menjalin hubungan. Mungkin ada hal lain yang bang Akhtar suka dari Lissa. Karena kalau soal cantik, lo juga ngga kalah cantik dari dia. Bahkan menurut gue lebih cantik elo dari pada dia. Wajah lo tuh udah cantik walau ngga tersentuh make up, beda ama Lissa.”
Untuk orang yang baru mengenal Elang pasti heran melihat pemuda yang irit bicara ini bicara panjang lebar. Tapi tidak dengan Rain. Rentetan kalimat nasehat kerap dia dengar dari mulut sahabat merangkap kakaknya ini.
“Jadi menurut lo gimana El? Gue harus bertahan apa mundur?”
“Itu terserah elo Rain. Hati itu ngga bisa diatur seenak kita. Kadang kita bilang ingin lupa tapi yang terjadi malah seballiknya. Yang menumbuhkan perasaan di hati kita itu kan Allah, jadi kembalikan aja semua kepada-Nya. Kalau memang bang Akhtar bukan jodoh lo, minta dimudahkan untuk menghilangkan perasaan itu. Dan kalau emang dia jodoh lo minta dimudahkan jalan kalian untuk bersatu. Emang kedengarannya klise, tapi semua yang berhubungan dengan hidup kita itu ada campur tangan Tuhan di dalamnya.”
“Apa gue bisa El, hilangin perasaan ini?”
“Lo tuh gadis yang kuat. Gue percaya lo bisa ngejalanin semua ini, baik melupakan atau meneruskan perasaan elo. Tapi saran gue, kalau lo udah merasa lelah maka berhentilah Rain. Jangan menyiksa diri lo lagi. Mungkin awalnya sulit, tapi lama-lama akan terbiasa juga.”
“Lo marah ngga kalau gue sering curhat soal ini?”
“Gue udah bilang gue akan pasang telinga gue buat denger curhatan elo. Kapan pun elo mau curhat lo hubungi gue, tapi jangan pas waktu masuk shalat sama pas gue kuliah.”
Rain berdecak sebal, Elang terkekeh. Tapi dia cukup senang setidaknya sahabatnya sudah tidak menangis lagi.
“Udah nih curhatnya? Apa masih ada yang mau lo omongin?”
“Udah. Makasih ya El, lo selalu ada buat gue saat gue sedih.”
“Hmm.. itu gunanya kakak kan.”
“Cih, berasa tua lo ya. Padahal umur kita cuma beda lima bulan doang.”
“Biar lima bulan, yang penting gue lebih tua dari elo.”
“Iya yang tua, yang muda ngalah aja.”
Elang tergelak seraya tangannya memutar kunci kontak. Tak lama bunyi mesin kendaraannya terdengar. Diiringi rintik hujan yang mulai turun, mobil Elang melaju meninggalkan area pemakaman.
🍁🍁🍁
**Asik ya lihat persahabatan Elang Ama Rain. Elang yang dewasa dan Rain yang terbuka menerima nasehat sahabat sekaligus kakaknya. Ada yang udah mulai baper sama Elang belum nih???
Eh hari Senin nih, waktunya bagi2 vote. Kalau berkenan lempar vote kalian ke sini ya. Jangan lupa like and commentnya juga.
Happy Monday, Selamat Beraktivitas😎**
__ADS_1