Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Kecewa


__ADS_3

Akhtar mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja kerjanya. Sudah seminggu sejak peristiwa di apartemennya, dia belum bertemu dengan Rain lagi. Entah karena canggung atau karena sibuk, gadis itu belum menghubunginya lagi. Sudah beberapa kali Akhtar mencoba menelpon atau mengirim pesan, namun selalu diurungkannya karena bingung harus mengatakan apa.


Akhtar membuka kunci ponselnya. Dia sudah bertekad untuk menghubungi Rain. Ketika sedang mencari daftar kontak, dia melihat nama Lissa terpampang di layar ponselnya. Sejak kemarin sudah dua puluh panggilannya yang diabaikan oleh kekasihnya itu. Mengingat Lissa, kepala Akhtar kembali berdenyut. Semenjak pertengkaran mereka empat bulan lalu, hubungan mereka memang belum membaik.


Tiga hari yang lalu Akhtar mengetahui kepulangan Chalissa ke Bandung. Tapi gadis itu selalu menolak bertemu dengannya. Seperti ada yang disembunyikan oleh kekasihnya itu. Padahal dua minggu sebelumnya mereka sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan mereka. Sampai Akhtar meminta bantuan Jared untuk menyelidiki kalau-kalau sesuatu terjadi pada Chalissa saat di Singapura. Lamunan Akhtar buyar ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.


From Rain :


Kak Akhtar, figura foto pernikahan kak Sam dan kak Devi dikirim kemana? Aku telepon mailbox, kemarin dikirim ke apartemennya ngga ada orang.


Akhtar tersenyum, baru saja dia akan mengirim pesan pada Rain. Ternyata gadis itu sudah mengiriminya pesan lebih dulu.


To Rain :


Sam sama Devi lagi bulan madu. Simpan aja dulu di kantor L’amour. Nanti biar mereka yang ambil.


From Rain :


Ok kak.


To Rain :


Rain...


From Rain :


Iya.


To Rain :


Mau makan malam bareng?


From Rain :


Boleh kak. Di mana?


To Rain :


Rose cafe jam 7.


From Rain :


Ok


Akhtar melihat jam di pergelangan tangannya. dua jam lagi waktu janji makan malamnya dengan Rain. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya yang masih tersisa. Berkirim pesan dengan Rain cukup membuat mood-nya yang tadi turun, naik kembali.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Akhtar keluar dari ruangannya sambil bersiul. Sesekali kunci di tangannya dilemparkan ke udara. Baru saja kakinya masuk ke dalam lift, ponselnya berdering. Akhtar mengernyitkan keningnya melihat nomor tak dikenal menghubunginya.


“Halo.”


“Halo, Akhtar?”


“Ya betul, dengan siapa ini?”


“Ini Andrea, manajernya Lissa. Lissa masuk rumah sakit.”


“Apa?? Rumah sakit mana?”


“Rumah sakit Ibnu Sina.”


“Ya sudah saya ke sana sekarang.”


Begitu pintu lift terbuka, Akhtar menghambur keluar. Pikirannya hanya tertuju pada Lissa. Dengan kecepatan penuh dia memacu kendaraannya menuju rumah sakit Ibnu Sina yang terletak di bilangan Dago.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Akhtar sampai di sana. Dengan bergegas dia memasuki IGD, mencari keberadaan kekasihnya. Saking terburu-buru, Akhtar sampai menabrak seseorang yang ternyata adalah Reyhan.


“Bang Akhtar.”


“Rey, Lissa dirawat di mana?”


“Lissa?”


Belum sempat Reyhan menjawab, seorang wanita seumuran Chalissa memanggil Akhtar. Dengan terburu Akhtar menghampirinya. Reyhan memandangi punggung lelaki itu yang menghilang di balik tirai pembatas.


*S*ebegitu cemasnya dia dengar Lissa masuk rumah sakit. Apa dia bakal secemas itu kalau kakak yang sakit.


Akhtar duduk di sisi blankar. Tangannya terus memegang tangan Chalissa. Wajah perempuan itu begitu pucat. Beberapa kali Akhtar mengecup punggung tangannya. Andrea memperhatikan bagaimana Akhtar begitu mencemaskan sahabatnya. Tanpa tahu apa yang sudah terjadi dengan kekasihnya itu.


“Lissa sakit apa?” suara Akhtar memecah kesunyian di antara mereka.


“Dia kelelahan dan penyakit maag-nya kambuh, jadi tadi dia pingsan di studio.”


“Apa kamu...”


Akhtar tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Jared baru saja mengirimkan hasil penyelidikannya pada Chalissa selama di Singapura dua minggu terakhir ini. Mata Akhtar membelalak melihat foto-foto Chalissa bersama seorang pria masuk ke kamar hotel.


Tangan Akhtar mengepal, giginya menggeletuk. Amarahnya begitu membuncah. Wanita yang dicintainya, yang selalu ditunggunya, yang kini terbaring lemah di hadapannya ternyata telah menduakan cintanya. Akhtar berjalan menghampiri Andrea lalu memperlihatkan foto-foto yang diterimanya tadi pada asisten kekasihnya. Andrea terkesiap, dia menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Jelaskan apa ini?”


“Da.. dari mana kamu dapat foto itu?”


“Ngga penting dari mana saya dapat foto ini. Saya cuma ingin kejelasan!”

__ADS_1


“Kejadian itu terjadi seminggu yang lalu saat kami menghadiri pesta ulang tahun salah satu sponsor kami. Saat itu aku harus pulang lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Anak pemilik acara ternyata menyukai Lissa, dia memasukkan obat perangsang dalam minumannya kemudian membawanya ke hotel. Dan peristiwa naas itu terjadi.


Lissa tidak bisa melaporkan kasus itu karena tidak ada bukti pemerkosaan, mereka melakukannya atas keinginan bersama. Itulah yang membuat Lissa stress dan ngga berani untuk bertemu denganmu. Dia sangat mencintaimu Akhtar, tapi dia juga malu dengan keadaannya saat ini.”


Akhtar terduduk kembali di kursinya. Rasanya tak percaya kekasih yang sangat dicintainya telah kehilangan kesuciannya. Dia menggenggam tangan Chalissa erat. Sakit begitu mengetahui kenyataan yang terjadi. Tapi jauh di lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Chalissa.


Sementara itu di Rose cafe, Rain masih setia menunggu kedatangan Akhtar. Walau sudah lewat satu jam dari janji temu mereka. Kepalanya sudah pegal karena terus menoleh ke arah pintu masuk. Berkali-kali Rain menelpon lelaki itu namun tak diangkatnya. Bahkan kini panggilannya sudah terhubung ke kotak suara.


Rain meneguk minumannya frustrasi. Ini sudah gelas kedua yang dihabiskannya sejak datang ke cafe ini. Kemudian telinganya mendengar sambutan pelayan pada tamu yang datang. Spontan Rain menolehkan kepalanya, berharap Akhtar yang datang. Tapi ternyata,


“Rey, lo ngapain di sini.”


“Jemput kakak,” Reyhan menarik kursi di depan Rain lalu menghempaskan bokongnya di sana.


“Lo tahu gue dari siapa?”


“Pentingnya ya kak gue tahu dari siapa?”


Tentu saja Reyhan tahu dari Jared. Tanpa sepengetahuan Rain, Elang meminta Jared memasang pelacak di ponsel Rain sebelum kepergiannya ke London. Hanya Elang, Jared dan Reyhan yang tahu soal ini. Regan dan Sarah sama sekali tidak mengetahuinya. Bukan hanya Rain, tapi Yunda, Nara, Khayra, Ara dan Bilqis pun dipasangi alat pelacak yang sama. Tujuannya adalah untuk melindungi mereka. Kalau Firly tidak termasuk karena sudah ada Dimas yang menjaganya.


“Ayo pulang.”


“Lo duluan, gue masih ada janji.”


“Sama bang Akhtar?”


“Sok tau,” Rain tidak mau mengaku takut Reyhan akan menceramahinya lagi.


“Bang Akhtar ngga akan dateng. Dia sekarang lagi ada di rumah sakit, Lissa masuk IGD dan dia lagi nungguin PACARNYA.”


Reyhan sengaja menekankan kata pacarnya agar Rain sadar di mana posisinya sekarang. Tentu saja Rain terkejut sekaligus kecewa. Kebahagiaan yang tadi sempat dirasakannya kini menguap tak bersisa.


“Pulang kak, ayo. Dia ngga akan dateng.”


Rain tak punya pilihan selain menuruti perkataan adiknya. Dia berdiri kemudian berjalan menuju kasir. Setelah membayar minumannya, bersama Reyhan mereka kembali ke rumah.


🍁🍁🍁


**Rain cuma dijadiin pelampiasan aja sama Akhtar kayanya, siapa yang setuju?🙋


Terus dukung mamake ya..


Like..


Comment..


Vote**..

__ADS_1


__ADS_2