Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Malam Panjang


__ADS_3

Selesai memakai lingerienya, Firly buru-buru naik ke kasur lalu membalut tubuhnya dengan selimut. Tak lupa dia menaikkan suhu AC agar dirinya tidak masuk angin. Dua puluh menit kemudian Dimas masuk ke dalam kamar. Pandangannya langsung tertuju pada Firly yang tidur berbalut selimut. Dibukanya Tuxedo yang menutupi tubuhnya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Firly membuka matanya, sedari tadi dia tak bisa tidur. Rasa panas mulai melanda, maklum saja, tubuh Firly memang terbungkus selimut seperti dadar gulung. Baru saja dia akan melepaskan diri dari belitan selimut, pintu kamar mandi terbuka. Dimas muncul dari sana hanya mengenakan handuk yang membelit di pinggangnya. Firly menelan ludahnya kasar, jantungnya berdetak kencang. Ini kali pertama dia melihat pria itu bertelanjang dada, memamerkan dadanya yang bidang dan perutnya yang seperti roti sobek.


Firly kembali memejamkan matanya ketika pandangan Dimas mengarah padanya. Hanya sekilas, setelah itu dia membuka lemari lalu mengeluarkan pakaian dari dalam koper. Dimas kembali ke kamar mandi, beberapa saat kemudian kembali keluar sudah mengenakan celana bokser dan kaos oblong. Dia segera merangkak naik ke kasur.


Dimas memandangi Firly yang masih pura-pura terpejam. Ada titik-titik air yang membasahi keningnya. Lalu dia melihat remote AC yang tergeletak tak jauh dari Firly. Dimas mengusap keringat yang membasahi kening istrinya.


“Ly... Ily... kamu keringetan gini, itu dibuka selimutnya. Kamu ngga kepanasan apa?”


Tak ada jawaban dari gadis itu. Dimas kembali membangunkannya dengan mengguncang bahunya. Firly serba salah, kalau bangun dan membuka selimut dia malu kalau Dimas sampai melihatnya memakai lingerie tipis itu. Tapi kalau tidak bangun, bisa-bisa dia mati kepanasan.


“Ily.. bangun sayang. Buka dulu selimutnya.”


“Apa sih om, ganggu orang lagi tidur aja.”


CUP


Dimas mengecup bibir Firly membuat sang empu membelalakkan matanya.


“Kenapa kaget? Itu hukuman karena kamu manggil om lagi.”


“Lupa tau,” cicit Firly seraya mengerucutkan bibirnya.


“Udah lepas itu selimutnya. Kamu apa-apaan badan dililit selimut gitu udah kaya dadar gulung aja.”


“Dingin mas,” jawab Firly asal.


“Dingin dari mana? Nih lihat AC aja sampe 24 derajat gini terus kamu digulung selimut kaya gitu. Udah buka.”


Dimas menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya. sekuat tenaga Firly mencoba mempertahankan selimut itu namun apa daya tenaga suaminya lebih besar dan akhirnya terbukalah selimut tersebut.


Dimas menelan ludahnya kasar melihat pemandangan di depannya. Firly mengenakan lingerie berbahan tipis yang memperlihatkan pakaian dalam dan kulit mulusnya. Hasrat Dimas yang selama tujuh tahun dalam mode tenang seketika membuncah. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Wajah Firly melihat tatapan Dimas padanya, dia berusaha meraih selimut yang berada cukup jauh dari jangkauannya.


Dimas menahan tangan Firly yang berusaha mengambil selimut. Ditariknya tangan itu hingga Firly terjerembab di atas tubuhnya. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Firly, sehingga istri kecilnya itu tidak bisa melarikan diri.


“Kamu mau ngegoda mas ya pakai baju itu,” goda Dimas.


“Ng.. ngga.. ini kerjaannya Rain kayanya. Terus koperku ketinggalan di rumah.”


Dimas membalikkan posisi tubuhnya hingga kini Firly yang berada di bawah kungkungannya. Untuk sesaat pandangan mereka saling mengunci, Dimas mendekatkan wajahnya lalu mulai ******* bibir tipis kesukaannya. Mendapat ciuman lembut yang memabukkan, Firly terbawa suasana. Tanpa sadar tangannya melingkar di leher suaminya. ciuman keduanya pun semakin dalam dan menuntut.


Dimas melepaskan pertautan bibirnya, kini bibirnya mulai menjelajahi leher yang siang tadi belum selesai dijamahnya. Desahan Firly terdengar ketika dia menyesapnya sedikit kencang hingga meninggalkan bercak kemerahan. Tangan Dimas bergerak menuju gundukan kenyal lalu merematnya pelan. Lenguhan dari bibir Firly lolos begitu saja, membuat Dimas semakin bersemangat.

__ADS_1


Bibir Dimas mulai turun menyusuri bahu hingga dada istrinya. Firly menggerakkan tubuhnya tak tentu arah saat sentuhan Dimas berhasil membuatnya merasakan gelanyar aneh yang baru dirasakannya dan sialnya membuatnya ketagihan juga menuntut pemuasan yang lebih lagi.


“Sayang, apa kamu sedang halangan?”


“Ngga mas.”


“Kalau gitu boleh ya kita melakukannya sekarang?”


“Hmm.. sakit ngga mas?”


“Mas akan pelan-pelan. Boleh ya?”


Firly hanya mengangguk pelan. Dimas kembali memulai cumbuannya, bibir dan tangannya mulai bekerja secara aktif menyusuri semua lekukan tubuh istrinya. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya Dimas berhasil membobol gawang sang istri. Firly yang awalnya merasa kesakitan kini sudah mulai menikmati permainan suaminya.


Pergulatan panas nan panjang itu masih berlanjut. Deru nafas dan keringat bercampur menjadi satu melingkupi kedua insan yang tengah terbakar hasrat. Setelah tujuh tahun lamanya, kini Dimas dapat merasakan lagi gairah bercinta yang selama ini tertidur setelah kepergian Sissy.


Dengan penuh kelembutan dia membimbing istrinya yang belum berpengalaman itu menikmati surga dunia yang selalu menjadi candu bagi yang pernah mencobanya. Berkali-kali terdengar desahan dan lenguhan dari bibir tipis Firly. Dia begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Hingga akhirnya mereka berdua berhasil menggapai puncak nirwana secara bersamaan.


Dimas terdiam sebentar mengatur nafasnya yang masih memburu, kemudian dia menjatuhkan diri di samping Firly. Direngkuhnya tubuh mungil itu kemudian sebuah kecupan mendarat di kening berpeluh itu.


“Makasih sayang, I love you,” bisik Dimas.


Firly tak mampu menjawab ungkapan cinta Dimas. Tubuhnya masih terkulai lemas, rasanya baru saja mengelilingi lapangan bola sepuluh kali putaran. Dimas memeluk Firly erat. Pikirannya melayang pada masa lalu, di mana dia bersama Sissy sering membantu Alea mengurus Firly juga Firlan. Bahkan tak jarang dia menggantikan popoknya. Kini dirinya pula yang berhasil mendapatkan hal paling berharga dari gadis itu.


“Apa yang mas pikirkan?”


“Apa mas menyesal menikah denganku?”


“Justru aku takut kamu yang akan menyesal. Kamu masih muda, cantik, pintar, banyak laki-laki di luar sana yang menginginkanmu. Tapi kenapa kamu memilih pria tua ini?”


“Karena aku nyaman bersamamu mas. Aku mencintai semua yang ada di dirimu,” Firly membawa tangan Dimas ke bibirnya kemudian mengecupnya.


“Aku justru takut mas. Takut aku tidak bisa sebaik tante Sissy dalam mengurusmu, melayanimu dan memuaskanmu,” sambungnya lagi.


“Kalian adalah dua orang yang berbeda. Rasanya tak adil kalau membandingkan kalian berdua karena masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kisahku dengan Sissy sudah usai. Dan kini aku memulai lembaran baru denganmu, dengan kisah yang berbeda pula.”


“Apa mas masih mencintai tante Sissy?”


“Hmm.. sebagai ibunya Ara. Namun cintaku padanya hanyalah sebuah kenangan yang kusimpan di sudut hatiku. Sedang kamu adalah rumah baruku, di mana aku akan menghias setiap sudut rumah dengan cinta kita. Aku mencintaimu Ily, sangat. Jangan pernah ingin menjadi Sissy atau bersaing dengannya. Aku mencintaimu apa adanya. Hanya kamu yang membuat dada ini berdebar lagi setelah sekian lama membeku.”


Dimas mencium kening Firly lama lalu memagut bibirnya dengan penuh kemesraan dan kelembutan. Berkali-kali dia menyesap bibir tipis itu hingga menimbulkan decapan ketika bibir mereka saling memagut. Dimas mengakhiri ciumannya, tubuh Firly merangsek lebih dekat ke arah Dimas membuat dada mereka bersentuhan.


“Apa aku memuaskanmu mas?”

__ADS_1


“Bukan hanya puas, kamu membuatku gila Ily.”


Dimas menyurukkan kepalanya ke leher Firly. Menghidu dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuhnya. Hanya dengan berdekatan dengan istrinya membuat hasratnya kembali bangkit.


“Lagi ya sayang?”


Firly mengangguk, bukan hanya tak mau menolak keinginan sang suami tapi tak dipungkiri dia ingin merasakan kembali sensasi itu. Merasakan kenikmatan yang diberikan lewat sentuhan suaminya. Walau awalnya terasa sakit namun harus Firly akui, permainan Dimas benar-benar membuatnya ketagihan.


Dimas mulai mencumbu Firly. Memberikan ciuman bukan hanya di bibir, tapi juga leher, bahu dan dada tak luput dari sasarannya. Jangan lupakan bukit kembar yang tak pernah bosan untuk dik***u*nya. Tubuh Firly tak henti menggelinjang disertai desahan erotisnya.


Gempuran Dimas masih berlanjut, efek terlalu lama hidup sendiri membuatnya ingin menuntaskan hasratnya yang terpendam berkali-kali. Firly benar-benar kewalahan menghadapi Dimas, apalagi ini adalah pengalaman pertamanya. Saat yang ditunggu Firly pun tiba. Untuk kedua kalinya Dimas menyemburkan lava panasnya ke rahimnya. Keduanya ambruk di kasur dengan posisi Dimas memeluknya dari belakang. Keduanya mencoba menetralkan nafas yang masih tersengal.


“Terima kasih sayang... terima kasih.. kamu benar-benar membuatku gila Ily.”


Senyum tersungging di bibir Firly mendengar ucapan sang suami. Ada rasa bangga menyusupi hatinya. Tak peduli walau tubuhnya terasa lemas, yang penting dia berhasil memuaskan hasrat suaminya.


“Sayang, sebentar lagi shubuh. Kita mandi yuk.”


“Tapi gendong,” pintanya manja.


Dimas tersenyum, dia bangun lalu menggendong Firly ala bridal style. Sesampainya di kamar mandi, Dimas mendudukkan Firly di atas kloset yang tertutup. Lalu mulai mengisi bath tub dengan air hangat. Setelah dirasa cukup, Dimas mematikan kran lalu membawa tubuh Firly masuk ke dalam bath tub.


Selesai shalat shubuh Dimas mengajak Firly menuju ke meja makan yang lokasinya menyatu dengan dapur. President sutie room ini memang difasilitasi, ruang tamu, ruang makan juga dapur dengan posisi kamar terpisah. Demi menghindari terkaman suaminya, Firly memilih memakai kaos Dimas karena kopernya masih belum diantar. Dia duduk di meja makan memandangi suaminya yang sedang memasak.


Dengan cepat Dimas meracik masakan untuk sarapan mereka. Kemarin dia sudah mengisi kulkas dengan bahan makanan. Mata Firly tak lepas melihat suaminya. Lalu ingatannya kembali pada percintaan panas mereka yang baru berakhir saat menjelang shubuh. Wajah Firly memanas membayangkan betapa ganas dan liarnya sang suami di atas ranjang.


Firly masih sibuk dengan ingatannya ketika Dimas sudah menyajikan nasi, capcay dan beef teriyaki di atas meja. Dia menarik kursi di samping Firly, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


“Ayo makan sayang, pasti kamu laper kan.”


Dimas menyendokkan nasi dan lauknya ke dalam piring. Dengan cepat Firly menyantap makanan tersebut. Rasanya sudah tidak diragukan lagi. Dimas tersenyum melihat istrinya makan begitu lahap. Diusapnya puncak kepala Firly.


“Makannya pelan-pelan sayang, ngga akan ada yang ambil juga,” kekeh Dimas.


“Laper mas. Siapa coba yang udah bikin aku kecapean sampe kelaperan gini?”


“Biar cape tapi enak kan?” goda Dimas. Firly memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin wajahnya yang semerah tomat terlihat oleh suaminya.


🍁🍁🍁


**Uhuuk.. durennya Ily udah dibelah nih. Om Dimas buka puasa setelah 7 tahun jadinya main sampe shubuh deh🤭


Semakin mendekati ending ya kisah Om Dimas and Ily. Di sini udah mulai disisipin kisah Rain and Akhtar. Tapi jangan khawatir di season 2 nanti, om Dimas Ama Ily tetap ada koq.

__ADS_1


Jangan lupa ya ritualnya sehabis baca... like and commentnya juga vote... hari Senin nih bisa dong vote nya lempar ke sini, boleh ya.. ya.. ya..


Makasih😘😘😘**


__ADS_2