
Dokter Arkhan Wijaya adalah seorang dokter bedah spesialis kegawatan dan kedaruratan yang baru bergabung dua bulan lalu di rumah sakit internasional pasundan. Dia bukanlah orang baru di bidang medis. Kepiawaiannya sudah terkenal sejak lima tahun lalu. Dia adalah dokter termuda yang menyelesaikan program fellowship dalam usia 27 tahun.
Ayahnya yang juga seorang dokter bedah spesialis jantung adalah salah satu dokter senior di rumah sakit ini, dokter Armand Wijaya. Wajah mereka cukup mirip, sama-sama tampan dan berwibawa. Hanya saja dokter Arkhan terlihat lebih dingin dibanding sang ayah yang lebih banyak tersenyum. Tak banyak yang tahu perbedaan usia ayah dan anak ini hanya berjarak 18 tahun saja.
Dokter Armand yang dulunya seorang anak badung menghamili pacarnya saat masih sekolah dan saat mereka lulus, Armand pun langsung mendapat gelar seorang ayah. Dia segera menikahi Karin, kekasihnya dan hidup bahagia bersama Arkhan sampai akhirnya harus menyerah karena penyakit liver yang dideritanya 8 tahun lalu. Hingga kini dokter Armand setia hidup menduda dan menjalani profesinya sebagai dokter bedah spesialis jantung.
Berbeda dengan Arkhan yang tahun ini berusia 32 tahun. Empat tahun yang lalu Arkhan melepas masa lajangnya setelah berhasil menyelesaikan program fellowshipnya. Dia menikahi perempuan yang telah dipacarinya semasa kuliah. Namun pernikahan mereka hanya bertahan selama dua tahun lamanya. Kesibukan Arkhan membuat sang istri berselingkuh dengan teman kerjanya dan kejadian tak senonoh itu disaksikan sendiri oleh mata kepala Arkhan yang membuatnya langsung menjatuhkan talak pada istrinya.
Setelah bercerai dengan sang istri, Arkhan memilih mengabdikan dirinya menjadi dokter sukarelawan di daerah konflik di perbatasan Gaza. Selama hampir dua tahun Arkhan menjadi dokter relawan di sana dan akhirnya memilih kembali ke tanah air setelah dipanggil oleh sang ayah. Arkhan menerima pekerjaan sebagai dokter bedah di rumah sakit yang sama dengan sang ayah.
Sampai kini Arkhan memilih untuk hidup sendiri. Dia sudah tidak mempercayai lagi sebuah komitmen setelah dikhianati oleh orang yang begitu dicintainya. Bujukan sang ayah pun tak pernah mempan yang memintanya untuk menikah lagi karena usianya yang masih cukup muda.
Di rumah sakit ini dia juga bertemu kembali dengan sahabat lamanya dokter Fero, teman masa kuliahnya dulu. Dokter Fero yang playboy sejak dulu masih belum mau melepas masa lajangnya. Baginya hidup tanpa status lebih aman tanpa harus bertanggung jawab atas hal yang belum siap dia jalani.
“Dokter Arkhan!”
Arkhan menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Terlihat Jaya, salah satu dokter residennya berlari ke arahnya seraya membawa sebuah berkas. Setelah mengatur nafasnya yang tak berarturan, Jaya menyerahkan berkas di tangannya.
“Dok, ini laporan pasien yang kemarin dioperasi.”
Arkhan menerima berkas tersebut, mempelajarinya sebentar kemudian menyerahkannya lagi pada Jaya.
“Letakkan di ruangan saya. Setelah itu susul saya ke ruangan operasi 2. Ada pasien darurat yang harus segera dioperasi.”
“Siap dok.”
Jaya mengambil kembali berkas tersebut. Dengan berlari dia menuju ruangan Arkhan yang terletak di lantai 3. Sedangkan Arkhan meneruskan langkahnya menuju ruang operasi. Beberapa suster dan dokter anestesi sudah lebih dulu masuk ke ruang operasi.
Setelah hampir tiga jam berjibaku dengan peralatan bedah akhirnya operasi panjang itu berakhir sudah. Arkhan keluar dari ruang operasi dan langsung menuju ruang istirahat. Dokter Fero yang juga baru saja mengecek salah satu pasiennya menghampiri Arkhan seraya menyerahkan minuman dingin pada sahabatnya.
“Gimana operasinya?”
“Lancar.”
“Lancarlah, kamu pasti sudah sering menangani pasien yang lebih parah saat di Gaza dulu.”
“Hmm.... kebanyakan dulu pasienku anak-anak yang menjadi sasaran tembak dan bom.”
__ADS_1
“Kasihan mereka, semoga ada kedamaian untuk mereka.”
Suasana hening sejenak, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Fero berdiri dan mengajak Arkhan makan siang di cafe Rembulan.
“Makan siang di cafe yuk, aku yang traktir.”
“Cafe mana?”
“Cafe depan rumah sakit, makanannya enak.”
“Ok, aku ganti baju dulu.”
“Aku tunggu di lobi.”
Arkhan mengangkat jempolnya lalu berjalan menuju ruangannya. Setelah membersihkan diri dan berganti dengan setelan kemeja lengan pendek berwarna biru dan celana hitam, dia keluar dari ruangan. Di lobi terlihat Fero dengan pakaian santainya sudah menunggunya. Keduanya menyebrangi jalan menuju cafe Rembulan.
Suasana cafe Rembulan di jam makan siang seperti ini sudah bisa dipastikan sangat ramai. Berkat bantuan salah seorang pelayan yang merupakan fans Fero, mereka berhasil mendapatkan tempat duduk di bagian dalam, di dekat meja Sena biasa memperhatikan para pelanggannya.
Dengan tenang Arkhan membalik satu per satu halaman di buku menu. Kemudian pilihannya jatuh pada tenderloin steak dan mango lessi, sedang Fero memilih sop buntut beserta sepiring nasi putih dan es lemon tea. Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut segera meninggalkan meja Fero.
Tubuh semampai Sena yang terbalut blouse lengan pendek dan celana panjang hitam masih terlihat seksi di mata Arkhan. Lekuk tubuhnya jelas terlihat memperlihatkan bodynya yang bak gitar spanyol, seksi. Itu kata yang terlintas di benak Arkhan. Kemudian matanya mulai meneliti wajah Sena.
Bentuk wajah oval, mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir sedikit tebal di bagian bawah menambah kesan sensual di wajahnya. Cantik, Arkhan mengakuinya. Cantik dan seksi merupakan perpaduan yang sangat menarik baginya. Fero yang memahami arah pandang sahabatnya segera mencecarnya.
“Tertarik?”
“Siapa dia?”
“Sena, manager di cafe ini. semenjak dia menjadi manajer, cafe ini semakin ramai setiap harinya. Bukan hanya karena dia pandai melayani para pelanggan tapi juga banyak orang yang ingin makan di cafe ini karena penasaran dengan kecantikannya.”
“Hmm.. sudah menikah?”
“Masih lajang, usianya 27 tahun tapi sudah punya anak laki-laki.”
“Menarik.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Setelah menata pesanan di atas meja, pelayan tersebut undur diri. Arkhan dan Fero mulai menikmati makan siang sambil meneruskan perbincangan mereka.
__ADS_1
“Kamu berkencan dengannya?”
“Tentu saja tidak.”
“Tapi kamu tahu banyak soalnya.”
“Aku pernah menjadi dokter untuk anaknya yang pernah mengalami alergi makanan laut. Kalau tidak salah mungkin sekarang Abi berumur 10 tahun.”
Arkhan menoleh pada Fero terkait usia anak dari Sena. Fero yang tahu arti pandangan Arkhan hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Dia hamil saat masih sekolah dan memilih kabur dari rumahnya untuk mempertahankan kandungannya dan membesarkannya seorang diri. Wanita yang hebat bukan.”
“Selama ini tidak ada yang berusaha mendekatinya?” Arkhan menyuapkan sepotong steak ke dalam mulutnya.
“Dia sulit untuk didekati oleh lawan jenis. Banyak lelaki yang mendekatinya tapi semua ditolaknya mentah-mentah. Mungkin saja dia trauma pada mantan pacarnya itu atau bisa jadi masih mencintai dan mengharapkannya.”
“Kamu tidak mencoba mendekatinya?”
“Dia bukan tipeku. Kenapa bukan kamu saja yang mencoba?”
“Hmm.. akan kupikirkan.”
Keduanya melanjutkan makan siang di tengah-tengah perbincangan tentang Sena. Manajer cantik yang langsung menarik perhatian seorang Arkhan.
💮💮💮
**Yang mau ikuti kelanjutannya cuzz aja ke Gonovel, mamake udah up sampai episode 20. Di sana juga gratis ngga harus buka gembok atau beli koin.
Buat yang udah baca cerita ini, mamake kasih visualnya biar pas baca lanjutannya nanti bisa lebih asik ngehalunya.
Dokter Arkhan**
Sena
__ADS_1