Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Nino vs Tombak


__ADS_3

Rain mengambil kunci dari tangan Akhtar, kemudian membantunya naik ke kursi penumpang. Setelah menutup pintu, Rain bergegas naik ke mobil. Tanpa menunggu lama dia mulai menjalankan kendaraan tersebut.


Akhtar menyandarkan kepalanya ke jok mobil. Rasa sesak di dadanya sudah tak tertahankan lagi. Hatinya miris mengetahui kenyataan, kalau ayahnya adalah seorang pengguna sekaligus pengedar narkoba.


“Aaaaaghhhhh..!!!”


BUK


BUK


BUK


Akhtar memukul kaca jendela samping dengan tangannya. wajahnya tampak frustrasi. Berkali-kali dia meremas rambutnya. Perlahan butiran bening mulai membasahi pipinya. Hati Rain mencelos melihat lelaki yang dicintainya ini begitu rapuh.


“Kak..” Rain menyentuh tangan Akhtar.


“Dia ayahku Rain. Laki-laki tadi adalah ayahku, bukan papa Nino. Aku keturunan pria brengsek itu Rain.”


Akhtar mulai menangis tersedu. Ada kesedihan dari setiap ucapan yang terlontar. Rain menepikan kendaraannya. Kemudian melepas tali sabuk pengamannya, lalu merubah posisi duduknya menghadap Akhtar.


“Tidak masalah siapapun ayah kandungmu. Tapi satu yang harus kakak ingat, papa Nino sangat menyayangi kakak. Sampai kapan pun kakak adalah anaknya, jadi tidak usah pedulikan lelaki tadi. Hiduplah dengan baik kak, jadilah kebanggaan papa Nino. Tunjukkan kalau kakak tidak sama seperti lelaki itu. Kakak jauh lebih baik karena papa Nino sudah mendidik kakak dengan baik.”


“Rain... terima kasih.”


“Sama-sama kak.”


Rain kembali merubah duduknya menghadap ke depan, memasang sabuk pengamannya lalu kembali menginjak pedal gas. Perlahan kendaraan tersebut mulai berjalan. Akhtar memejamkan matanya mencoba menghalau mood buruknya.


Berselang empat puluh menit, mereka sudah tiba di kediaman Nino. Rain melihat ke arah Akhtar yang masih memejamkan matanya. Pelan-pelan Rain membangunkan Akhtar.


“Kak.. kak.. bangun.. udah sampe nih...”


Rain mengguncang bahu Akhtar. Perlahan pemuda itu membuka matanya. Matanya melihat ke arah Rain lalu beralih ke depan. Rumah bercat putih nampak di depan matanya. Dia membuka sabuk pengaman lalu membuka pintu. Rain ikut turun dari mobil lalu memapah Akhtar masuk ke dalam rumah.


Ketika kulit mereka bersentuhan, Rain merasakan hawa panas menguar dari tubuh Akhtar. Fikri yang melihat kedatangan mereka, segera membantu Rain memapah Akhtar ke kamarnya. Fikri membantu Akhtar berbaring, tak lama Kalila masuk ke dalam kamar. Wajahnya nampak cemas melihat keadaan putra sulungnya.


“Akhtar kenapa Rain? Kalian tadi habis dari mana?”


Rain tak langsung menjawab, ditariknya Kalila keluar dari kamar. Dengan suara setengah berbisik Rain menceritakan kemana mereka pergi dan siapa yang ditemui. Kalila tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tak menyangka Akhtar akan menemui ayah kandungnya secepat ini.


“Ma, Rain pulang dulu ya.”


“Iya sayang, makasih ya udah nemenin Akhtar.”


“Sama-sama ma. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”

__ADS_1


Rain keluar dari kediaman Akhtar lalu masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang menuju rumahnya, pikiran Rain tak bisa lepas dari Akhtar. Tadi pertama kalinya dia melihat lelaki itu begitu rapuh. Tak butuh waktu lama Rain sampai di rumahnya. Kedatangannya disambut Regan yang sedang duduk di teras.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, kok baru pulang Rain?”


“Iya pa, tadi abis nganterin kak Akhtar dulu.”


“Nganter kemana?”


Rain duduk di sandaran kursi yang diduduki Regan. Menatap sang papa sebentar, sungguh Rain gatal sekali ingin bertanya perihal Akhtar dan Nino.


“Hmm.. papa tau kalau kak Akhtar bukan anaknya papa Nino?”


“Akhtar udah tahu?” Regan malah bertanya balik dan Rain hanya mengangguk saja.


“Apa papa juga tahu siapa ayah kandungnya kak Akhtar?”


“Iya, kenapa? Jangan bilang kalau kalian tadi...”


p


“Iya pa, tadi Rain nemenin kak Akhtar ketemu sama ayahnya di lapas sukamiskin.”


“Akhtar tahu dari mana?”


“Rain ngga tahu pa. Tadi pas Rain antar undangan ke rumah papa Nino, Rain langsung diajak kak Akhtar ke lapas. Makanya Rain nanya papa, abis Rain ngga berani nanya sama kak Akhtar atau papa Nino.”


“Pulang dari lapas badan kak Akhtar demam. Mungkin dia shock pa.”


“Hmm.. pasti dia kaget. Ya sudah kamu masuk, papa mau lihat keadaan Akhtar dulu.”


“Iya pa.”


Rain mencium pipi Regan sebelum masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju kamarnya. Dipandanginya tangan yang sedari tadi digenggam oleh Akhtar, masih terasa hangat tangannya, terlebih saat Akhtar menautkan jemari mereka.


Please Rain stop it. Berhenti memikirkannya lagi, jangan baper. Sebentar lagi dia akan menjadi suami orang. Stop it Rain. Tapi di mana kak Lissa? Harusnya dia ada di sisi kak Akhtar di saat tersulitnya.


🍁🍁🍁


Nino menggebrak meja kerjanya. Baru saja Tombak menghubunginya. Dengan seenaknya dia membatalkan pernikahan putra putri mereka di saat waktu pernikahan tinggal seminggu lagi. Dengan kesal dia meminta sang sekretaris memanggil Eka, supir pribadinya. Eka masuk ke dalam ruangan dengan tergopoh.


“Pemisi pak, ada apa pak?”


“Kita ke Jakarta sekarang.”


“Baik pak.”

__ADS_1


Nino menyambar ponsel di meja kerjanya kemudian bergegas keluar dari ruangan. Di depan lobi, Eka sudah siap di belakang kemudi. Setelah Nino duduk di kursi belakang, Eka segera melajukan kendaraan.


Lewat jam makan siang Nino telah tiba di Golden Tower, dengan langkah panjang pria itu berjalan memasuki gedung. Di lobi dia berpapasan dengan Ganjar, asisten Tombak. Melihat kedatangan calon besan atasannya, lelaki berusia tiga puluhan itu segera mengantarkannya ke ruangan Tombak.


BRAKK


Dengan kasar Nino membuka pintu ruangan Tombak. Nampak pria itu tengah duduk santai di kursi kebesarannya. Setelah Willy Irawan tiada, Tombaklah yang mengurus Golden Chance Group, karena Ega sama sekali tidak berminat mengelola perusahaan tersebut.


“Apa maksud perkataan anda tadi pak Tombak?” tanpa basa-basi Nino langsung menanyakan hal yang telah membuat emosinya naik.


“Saya tak mengijinkan Lissa menikah dengan Akhtar. Jadi kita batalkan saja pernikahan ini.”


“Apa alasannya? Apa alasannya anda membatalkan pernikahan secara sepihak? Apa Lissa sudah tahu soal ini?”


“Anda tidak usah memikirkan Lissa. Cukup beri pengertian pada anak angkatmu itu kalau tidak akan ada pernikahan di antara mereka. Lissa akan menikahi laki-laki yang pantas bersanding dengannya, bukan dengan anakmu yang hanya keturunan seorang pecandu narkoba,” sinis Tombak.


Wajah Nino merah padam mendengar perkataan Tombak yang begitu merendahkan anaknya. Dicengkeramnya kerah kemeja Tombak dengan kasar hingga pria itu terlonjak dari duduknya.


“Tutup mulutmu brengsek!! Jangan pernah menghina putraku!! Aku pun tak sudi anakku mempunyai mertua jahanam sepertimu!!” Nino melepaskan cengkeramannya.


“Harusnya kamu bersyukur anakku masih mau menikahi anakmu. Apa kamu tahu bagaimana kelakukan putrimu? Dia itu tidak lebih dari wanita murahan!”


“DIAM!!!! Beraninya kamu menghina anakku!!!”


Kini giliran Tombak yang emosi. Dia mencengkeram kemeja Nino lalu mendorong tubuhnya ke tembok. Nino balik mencengkeram tangan Tombak lalu melepaskan tangan itu dari kemejanya.


“Jangan pernah menghina anakku kalau kamu tidak mau anakmu dihina. Akhtar memang bukan darah dagingku tapi aku membesarkan dan mendidiknya dengan baik hingga tumbuh menjadi lelaki terhormat. Sedangkan anakmu... cih tanyakan padanya kepada siapa dia menyerahkan kehormatannya. Perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya tidak pantas bersanding dengan anakku. Katakan pada anakmu jangan pernah mendekati lagi Akhtar. Kamu juga tahu kalau sejak awal dia yang mengejar anakku, bahkan dia rela kuliah di Bandung demi bisa dekat dengan anakku. Dasar keluarga menjijikkan!”


Nino keluar dari ruangan Tombak seraya membanting pintu dengan kencang. Tombak benar-benar kesal mendengar hinaan Nino pada Chalissa. Diambilnya vas bunga yang berada di atas meja lalu dilemparnya ke tembok.


PRANG


Bunyi pecahan vas yang membentur dinding mengejutkan Ganjar dan Selly yang ada di depan ruangan. Bergegas Ganjar masuk karena cemas dengan keadaan atasannya. Wajah Tombak nampak merah padam dengan nafas memburu dia berkata pada asistennya.


“Cari Chalissa!! Bawa dia ke sini secepatnya!!”


“Ba.. baik pak.”


Ganjar bergegas keluar ruangan. Tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih persegi. Kemudian dia mulai menghubungi anak buahnya mencari keberadaan Chalissa.


🍁🍁🍁


**Pernikahan batal😱😱😱


Oo Lissa.. ternyata kamu tidak sebaik itu ya.


Gimana nasib pernikahan Akhtar dan Lissa?

__ADS_1


Ikutin terus ya, mamake akan berusaha up tiap hari asal jangan lupa terus semangatin mamake ya dengan like, comment, vote nya. Kalau berkenan dengan hadiahnya juga ya😘😘


Happy Sunday😎**


__ADS_2