
Setelah kunjungan Azkia, semangat Erik kembali muncul dan berpengaruh pada kesehatannya. Dokter memutuskan untuk melakukan operasi pemasangan ring, sebelum kondisi Erik bertambah parah. Pagi-pagi sekali Elang dan Azkia sudah menuju rumah sakit Permata Medika. Sebelum masuk ke ruang operasi, Erik ingin bertemu dengan putrinya terlebih dulu.
Blankar yang membawa tubuh Erik telah sampai di dekat pintu masuk ruang operasi. Elang dan Azkia sudah menunggu di sana. Azkia mendekat ke arah blankar, Erik menggenggam tangannya erat.
“Doakan papa nak, supaya operasinya berhasil. Karena papa ingin memenuhi semua janji papa padamu.”
“Aku akan mendoakan dan menunggu sampai operasinya selesai. Tolong bertahanlah, dan ingat banyak orang-orang yang menunggu dan membutuhkanmu, termasuk aku.”
“Terima kasih nak. Terima kasih sudah membukakan hatimu untuk papa.”
“Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk papa saya.”
Azkia melihat ke arah dokter Rudi yang dibalas dengan anggukan olehnya. Hati Erik menghangat mendengar Azkia menyebut kata papa. Dokter Rudi memberikan isyarat pada kedua perawatnya untuk segera membawa masuk Erik. Azkia terus mengikuti blankar sampai ke depan pintu dengan tangan masih saling menggenggam.
“Papa harus kuat, ingat ada aku yang menunggumu.”
Perlahan Azkia melepaskan pegangan tangannya. Hati Erik sungguh bahagia Azkia mau memanggilnya papa. Tekadnya untuk sembuh semakin kuat. Sudah terbayang hari-hari indah yang akan dijalaninya bersama sang putri.
“Sayang, mas harus ke kantor dulu. Hari ini ada rapat penting yang ngga bisa ditinggalkan. Kamu ngga apa-apa?”
“Iya mas, ada om Iqbal bersamaku. Tapi habis rapat langsung ke sini ya mas.”
“Iya sayang.”
Azkia mencium punggung tangan suaminya. Elang mencium kening istrinya cukup lama kemudian memberikan pelukan hangat. Setelah berpamitan dengan Iqbal, Elang bergegas pergi. Sepeninggal Elang, Azkia mendudukkan diri di samping Iqbal. Sedang Deski memilih duduk di tempat yang terpisah. Dia tahu Azkia masih belum nyaman dengan kehadirannya.
Selama menunggu, terkadang Azkia berbicara dengan Iqbal, terkadang terdiam sambil berdzikir dalam hati. Operasi pemasangan ring diperkirakan akan memakan waktu sekitar 1 sampai 3 jam. Tak terasa satu jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Di tengah keheningan. Dirga datang bersama dengan Diva. Mereka segera menghampiri Iqbal dan Azkia.
“Bang,” panggilnya.
Iqbal yang sedang fokus dengan ponsel, mengangkat kepalanya. Dia berdiri lalu menyalami Diva dan memeluk Dirga. Pandangan Dirga langsung tertuju pada Azkia yang duduk sambil memandanginya.
“Kia, kenalkan ini om Dirga. Dia adalah adik papamu, dan ini istrinya, Diva,” ujar Iqbal.
Azkia berdiri lalu mencium punggung tangan Diva dan Dirga bergantian. Dirga langsung menarik Azkia dalam pelukannya. Sudah lama dia ingin memperkenalkan diri pada keponakannya itu. Azkia merasakan kehangatan dari sikap Dirga padanya. Dirga melepaskan pelukannya.
“Terima kasih Kia, terima kasih kamu mau memaafkan papamu.”
“Sama-sama om.”
“Sudah lama om mau memperkenalkan diri. Akhirnya moment ini tiba juga,” Dirga mengusap puncak kepala keponakannya ini.
“Deski mana bang?”
“Tuh,” Iqbal menunjuk dengan dagunga. Mata Dirga mengikuti arah dagu Iqbal.
“Lagi ngapain dia di sana, mojok deket tempat sampah gitu. Bukannya nemenin adeknya di sini.”
Azkia berdehem untuk mengusir kegugupannya. Iqbal membisikkan sesuatu di telinga Dirga. Mata Dirga membulat, sontak dia melihat ke arah Deski. Ditatapnya keponakannya itu dengan geram.
“Kenapa tuh anak harus ngikutin kelakuan bapaknya sih. Kia, atas nama Deski, om minta maaf ya. Om benar-benar minta maaf.”
“Lupain aja om. Jujur aku ngga nyaman kalau ingat itu semua."
“Iya, kamu benar.”
“Ga, abang ke kantor dulu ya. Ada yang harus diurus dulu. Kia, kamu sama om Dirga dan tante Diva dulu ya.”
“Iya om.”
Iqbal bergegas pergi sebelum ponselnya berdering lagi. Yonas berkali-kali menghubunginya agar segera datang ke kantor. Dirga merangkul Diva, mengajaknya untuk duduk. Namun sebuah suara yang sangat familiar menahan pergerakannya.
“Ga!”
Dirga menoleh, terlihat Zaki bersama Dinda berjalan ke arahnya. Di belakang mereka menyusul Ajeng dan Putri. Dirga menyambut kedatangan sahabatnya dengan senyum sumringah. Dirga dan Zaki berpelukan ala lelaki. Sahabat yang lainnya memeluk Diva bergantian. Azkia hanya memandangi mereka dalam diam. Kemudian pandangan Zaki tertuju padanya.
“Siapa Ga?”
“Oh.. kenalin ini Azkia.”
Dirga memang sudah menceritakan pada para sahabatnya perihal Erik yang mempunyai anak dari wanita lain.
“Jadi kamu yang namanya Kia. Masya Allah cantik bener. Kenalin, aku tante Putri, ini tante Ajeng dan ini tante Dinda, istrinya om Zaki yang suaranya kaya kaleng rombeng.”
“Dih.. biar kaya kaleng rombeng kan elo tetep butuh gue,” cibir Zaki.
__ADS_1
Azkia mencium punggung tangan para tetua di depannya bergantian. Dirga terharu melihatnya. Keponakannya ini begitu santun.
“Ponakan lo cantik banget Ga. Untung mirip emaknya, coba kalau mirip bapaknya, tuh muka mungikin ngga jauh beda sama jalan tol Cipali huahahaha.”
“Deski mana Ga? Dia ngga nungguin bapaknya?” tanya Ajeng.
“Noh..”
“Eh ponakan durjana, om sama tante dateng bukannya disamperin malah diem aja di situ. Sini!”
Deski terdiam sejenak namun tak urung kakinya melangkah mendekati mereka. Karena kalau tidak, bisa dipastikan suara kaleng rombeng Zaki akan membahana di lantai ini. Putri yang tahu permasalahan antara Deski dengan Azkia, memilih mendekat pada Azkia lalu merangkulnya.
“Ngapain mojok di sana. Ruang operasinya di sebelah sini bukan di sana. Kamu lagi ngeceng suster ya, makanya sengaja duduk di sana.”
“Ngga om.”
“Tumben nih anak diem kaya kucing abis disiram air, biasanya ada aja omongan ngeselin yang keluar dari mulutnya.”
Baik Deski maupun Dirga hanya terdiam. Dirga cukup malu kalau sampai para sahabatnya tahu, keponakannya telah menculik dan mencoba meniduri adiknya sendiri.
“Eh Des, denger ya. Kamu sekarang punya adik perempuan, cantik lagi. Kamu harus jagain jangan sampai diganggu sama cowok-cowok ngga bener.”
“Aku udah punya suami om. Tenang aja, suamiku yang bakal jagain aku,” sela Azkia yang tidak nyaman mendengar ucapan Zaki barusan. Deski yang tahu diri memilih kembali ke tempatnya demi menjaga perasaan adiknya.
“Wah udah nikah ternyata. Kirain masih jomblo, tadinya mau om jodohin sama anak om.”
“Ngarep,” ledek Dirga.
“Dia ini istrinya Elang. Anaknya Irzal Ramadhan, kalian pasti tahu kan.”
“Oh menantunya Irzal. Ya cocok deh, Elangnya juga ganteng,” seru Ajeng yang pernah beberapa kali bertemu dengan Elang.
“Jadi maksud lo, anak gue ngga ganteng gitu,” sewot Zaki.
“Untungnya mirip Dinda si Rasya, jadinya ganteng juga. Coba kalau mirip elo, ambyaar.”
Ledekan Ajeng langsung disambut gelak tawa yang lainnya. Zaki hanya mendengus kesal, dia bertambah kesal karena sang istri justru terlihat tertawa paling bahagia.
“Bahagia banget sih beb lihat suami dibully.”
“Astaga istri gue.”
Gelak tawa kembali terdengar. Suasana ruang tunggu yang tadi terasa tegang mulai mencair dengan kedatangan gank gesrek.
“Ga, hadiah kita-kita waktu lo ultah dulu masih ada ngga?” celetuk Zaki. Dia memang sengaja mengungkit masalah hadiah fenomenal untuk menjatuhkan harkat dan martabat sahabatnya di depan keponakannya sendiri.
“Apaan sih lo ngungkit masalah kado. Ya udah ngga adalah.”
“Ya kali aja hadiah dari yayang gue diwarisin ke Prima.”
“Mana ada!” sewot Dirga.
“Hadiah apa sih mas,” tanya Diva penasaran.
“Loh kamu ngga tau Va. Masa nikah udah lama ngga tahu soal itu. Lo bener-bener keterlaluan ya Ga, sama istri main rahasia-rahasiaan.”
“Aib itu pea!”
Semua tertawa melihat reaksi Dirga. Wajah Dirga memerah, takut si ember bocor keceplosan menyebutkan satu per satu kado tak bermanfaat yang dulu diterima dari para sahabatnya.
“Sebenernya yang paling baik itu gue ya Ga. Di antara yang lain cuma kado dari gue yang terbilang normal,” celetuk Putri.
“Mana ada cowok ultah dikasih hadiah boneka hello kitty, gede lagi,” sembur Dirga.
“Lah mending dari pada Dinda ngasih ****** warna pink pake sablonan para incess.”
Mata Dirga melotot ke arah Putri yang dengan santainya menyebutkan rahasia yang sudah dipendamnya rapat-rapat. Diva tak kuasa menahan tawanya, begitu pula Azkia.
“Jangan dengerin mereka Kia. Mereka itu memang sahabat ngga ada akhlaknya,” Dirga menutup kedua telinga Azkia yang tertutup hijab.
“Om.. tolong jangan peluk-peluk istri saya,” terdengar suara Elang dari arah belakang. Sontak semua melihat pada Elang. Melihat kedatangan suaminya, Azkia segera menghambur ke arahnya.
“Ya ampun El, dia kan keponakan om, masa ngga boleh meluk.”
“Tapi dia istri saya om.”
__ADS_1
“Astaga gue kaya dejavu,” celetuk Zaki.
“Om.. tante.. kenalin ini suami Kia, mas El.”
Elang mencium punggung tangan mereka satu per satu. Dirga tersenyum tipis, di zaman seperti ini, ternyata masih ada anak-anak yang tetap menjaga kesantunan mereka di hadapan para orang tua.
“Kok baru dateng El. Habis dari mana?”
“Dari kantor tante.”
“Hmm.. kamu tuh sama kaya Zi, workoholic.”
“Beda banget sama Za ya Put.”
“Tau ah aku pusing kalau mikirin Za. Eh iya, kata Za dia mau ngajakin kamu sama temen-temen perform di cafe.”
“Iya tan, tapi waktunya masih dikondisikan.”
“Emang kamu nge-band juga El?” tanya Dirga.
“Iya om.”
“Kapan-kapan kita duet bareng El,” seru Zaki dengan pedenya.
“Hilih suara kaya kaleng rombeng sok-sokan mau nyanyi.”
“Eh lo ngga tahu kalau gue udah les vocal?”
“Suara rombeng lo itu takdir yang tidak bisa diubah pea!”
Zaki mendengus kesal. Elang dan Azkia hanya senyum-senyum saja. Mereka cukup terkejut melihat sahabat Dirga yang tingkat kewarasannya patut dipertanyakan. Tak lama Poppy, Debby, Gara dan Hanin datang. Mereka langsung saling memperkenalkan diri. Debby dan Poppy bergantian memeluk Azkia untuk memberikan dukungan. Begitu juga dengan Hanin.
“Kakak.. yang sabar ya. Om Erik pasti kuat.”
“Iya, makasih Han.”
Hanin mengurai pelukannya lalu Gara datang mendekat. Dia sudah merentangkan kedua tangannya tanda hendak memeluk Azkia.
“Berani lo peluk Kia, gue tampol lo!”
“Ngga sopan lo sama kakak ipar.”
“Kakak ipar pala lo peyang. Sana.. sana.. ngga usah modus lo mau pegang-pegang bini gue,” Elang mendorong tubuh Gara menjauh dari Azkia.
“Dih.. dasar es doger,” ledek Gara.
Debby dan Poppy hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Elang dan Gara. Yang lainnya pun tak dapat menahan senyumnya seraya melirik ke arah Putri. Sikap posesif Elang mengingatkan mereka pada seseorang.
“Ya ampun beneran kak Ri jilid dua ini,” celetuk Zaki.
“Yang sabar ya Kia punya suami posesif. Nih berguru aja sama tante Putri, suaminya juga model yang begituan,” ucap Dinda.
“Tenang aja tan, aku udah berguru sama bunda. Soalnya posesifnya mas El nurun dari ayah.”
“Oh pantes Irzal sama kak Ri deket, satu frekuensi mereka,” celetukan Dirga sontak saja disambut tawa yang lainnya.
Tawa mereka terhenti ketika pintu ruang operasi terbuka. Dokter Rudi keluar dari dalamnya. Dirga segera menghampiri.
“Gimana dok, operasi kakak saya?”
“Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Pak Erik hanya tinggal menjalani perawatan untuk pemulihan.”
Azkia mengucap syukur dalam hati seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya. Elang merangkul istrinya, sebuah kecupan didaratkan ke puncak kepalanya.
Blankar yang membawa tubuh Erik keluar. Dua orang perawat mendorongnya menuju ruang perawatan intensif. Kondisi Erik akan terus dipantau di ruangan tersebut sampai dia sadarkan diri. Deski berdiri lalu mengikuti blankar tersebut diikuti yang lainnya.
🍁🍁🍁
**Yang kangen sama gank Gesrek semoga bisa terobati rasa kangennya.
Part mas El mulai mendekati akhir, siap² menuju season 4 ya.
Jangan lupa loh tinggalkan jejaknya. Kalau berkenan kasih vote-nya buat mamake😉 like and comment-nya jangan lupa juga.
Scroll lagi yah, mamake masih mau promosi novel yang lain👇**
__ADS_1