Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Rasa Yang Tertinggal


__ADS_3

Paginya setelah Azkia berangkat kuliah, Daniar menghubungi Adi, memintanya datang ke rumah. Ada yang harus dibicarakannya dengan pemuda itu. Setengah jam kemudian Adi datang. Seperti biasa dia tak pernah datang dengan tangan kosong. Bermacam jajanan pasar menemani dirinya menemui ibu dari wanita yang dicintainya.


Daniar memandangi Adi yang duduk bersisian dengannya. Lelaki muda itu begitu memperhatikan dirinya juga kedua anaknya. Daniar bisa merasakan perasaan tulus Adi pada Azkia. Namun sayang, hati anaknya bukanlah untuk pemuda itu.


“Ibu sehat?”


“Alhamdulillah. Bagaimana dengan skripsimu?”


“In Syaa Allah kalau ngga ada halangan minggu depan sidang bu.”


“Mudah-mudahan lancar ya nak Adi.”


“Aamiin.”


Daniar terdiam sejenak, begitu juga Adi. Mendadak hatinya tak tenang, tak biasanya Daniar memintanya datang seperti ini. Pasti ada hal penting yang ingin dibicarakannya.


“Hmm.. begini nak Adi, sebenarnya ada yang mau ibu bicarakan terkait lamaran nak Adi pada Azkia tempo hari.”


“Apa nak Adi benar tulus mencintai Kia?” sambung Daniar.


“In Syaa Allah bu.”


“Seandainya Kia mencintai laki-laki lain apa yang nak Adi lakukan?”


“Kecewa pasti bu, tapi saya juga tidak bisa memaksakan perasaan Kia pada saya.”


“Kalau Kia menerima lamaranmu tapi ternyata hatinya bukan untukmu bagaimana? Apa kamu mau tetap menjalani pernikahan itu?”


Adi masih belum menjawab. Perkataan Daniar tadi seperti sebuah tanda kalau itulah yang dirasakan Azkia saat ini. Dirinya memang mencintai Azkia dan ingin membangun rumah tangga dengannya. Namun jika hati gadis itu tidak tertuju padanya, apa dia bisa menjalaninya.


“Saya tidak ingin memaksakan kehendak saya pada Kia bu. Jika Kia menerima lamaran saya karena terpaksa, saya tidak mau. Karena bukan hanya dia yang akan tersiksa, tapi saya juga. Jika memang dia tidak mencintai saya, saya ikhlas melepaskannya bu.”


“Nak Adi, maaf bukan maksud ibu menyakitimu. Ibu hanya tidak mau Kia mengambil keputusan yang salah. Cukup ibu saja yang menikah karena terpaksa, jangan sampai Kia dan Hanin mengalaminya.”


“Saya mengerti bu. Ibu tidak perlu khawatir. Mulai saat ini saya membebaskan Kia dari lamaran saya. Anggap saja dia sudah menolak saya. Jika ada lelaki lain yang melamarnya, silahkan, saya tidak akan menghalangi.”


Mata Daniar berkaca-kaca, sungguh hati pemuda di hadapannya begitu tulus. Diraihnya tangan Adi, dengan gerakan pelan dia menepuk punggung tangan Adi.


“Terima kasih nak, terima kasih. Ibu ngga bisa membalas semua yang telah kamu lakukan untuk keluarga ibu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dan dirimu dipertemukan dengan wanita yang baik, wanita yang mencintaimu dengan tulus.”

__ADS_1


“Aamiin.. terima kasih bu.”


“Ibu harap tali silaturahim kita tetap berjaga. Selamanya kamu adalah anak ibu.”


“Iya bu. Saya juga sudah menganggap ibu, orang tua sendiri.”


Daniar memeluk Adi. Airmatanya tumpah saat memeluk tubuh pemuda itu. Mata Adi pun tampak berkaca-kaca. Tak dapat dipungkiri hatinya sakit mengambil keputusan ini. Namun dia percaya mencintai tidak harus memiliki. Melihat orang dicintai bahagia, dia pun akan ikut merasa bahagia, semoga saja.


🍁🍁🍁


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Azkia bersiap-siap untuk pulang. Seperti biasa Elang sudah menjemputnya. Azkia naik ke dalam mobil, tak lama kereta besi itu berjalan. Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Suasana hening pecah ketika ponsel Elang berdering. Matanya melirik pada layar ponsel, terlihat nama Engeng di sana. Elang menepikan kendaraannya lalu menjawab panggilan dari Rain.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. El... hiks... hiks...”


“Rain.. lo kenapa? Kenapa nangis?”


Jantung Azkia berdegup kencang ketika Elang menyebut nama Rain. Seketika ditolehkan wajahnya ke arah pemuda itu. Wajah Elang nampak panik, lamat-lamat Azkia dapat mendengar suara tangis Rain dari sebrang sana. Elang mengakhiri panggilannya lalu melihat ke arah Azkia.


“Mba Rayna?”


“Hmm.. ngga lama, kamu ikut aja ya.”


Azkia hanya mengangguk, walau hatinya menolak namun gerakan tubuhnya berkata lain. Elang kembali melajukan kendaraannya, pikirannya sedikit kacau mendegar isak tangis Rain. Tanpa sadar dia menekan pedal gas lebih dalam untuk mempercepat kendaraannya. Hati Azkia mencelos, melihat Elang seperti ini jelas sudah kalau nama Rain masih tertera di hatinya.


Mobil Elang berhenti di depan rumah berlantai dua itu. Dengan tergesa Elang turun dari mobil, tak mempedulikan Azkia yang ada di belakangnya. Weni, asisten rumah tangga Rain membukakan pintu. Tanpa bertanya Elang menerobos masuk.


“Rain.”


Rain yang sedang terduduk di sofa segera berdiri begitu mendengar suara Elang. Melihat sahabatnya datang Rain segera menghambur ke arah Elang lalu memeluknya. Elang membeku ketika tangan Rain melingkar di pinggangnya. Dia membenamkan wajahnya di dada Elang sambil menangis tersedu. Seketika rasa sesak menyerang Azkia. Pandangan Azkia buram karena airmata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tak sanggup menahan rasa sakit, Azkia berlari keluar dari rumah Rain.


Elang melepaskan tangan Rain dari pinggangnya lalu mengajaknya duduk. Dia cukup terkejut dengan reaksi Rain tadi. Dipandangi Rain yang duduk di sampingnya, isak tangisnya masih saja terdengar.


“Masih belum ada kabar dari bang Akhtar?”


“Belum El. Gue takut banget, udah dari kemarin malem ngga ada kabarnya. Mana daerah yang dia datengin ada gempa. Katanya banyak korban jiwa. Kalau terjadi sesuatu sama mas Akhtar, gue ngga sanggup El.”

__ADS_1


“Lo udah minta Jay ngelacak nomernya?”


“Udah El, tapi ngga bisa karena hp-nya mati.”


“Mending lo istirahat aja di kamar, biar gue yang cari kabar soal bang Akhtar.”


“Tapi lo temenin gue ya. Lo jangan pulang ya El.”


“Iya. Udah sana temenin Nanaz, kasihan dia. Gue ngga akan kemana-mana.”


Rain mengangguk, dia berdiri lalu masuk ke dalam kamar. Lama dipandangi Nanaz yang sudah terlelap tidur. Sedari sore anaknya menangis karena terus menanyakan keberadaan Akhtar. Mata Rain kembali memanas, dia naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di samping Nanaz.


Elang mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Jayden juga Bimo untuk membantu melacak keberadaan Akhtar. Dia juga menelpon beberapa koleganya yang berada di tempat yang Akhtar kunjungi. Saking sibuknya mengurusi Rain, Elang sampai lupa kalau tadi dia datang bersama Azkia.


Azkia berjalan menyusuri jalanan kompleks. Titik-titik air terasa menimpa kepalanya yang terbalut hijab. Dia mendongakkan kepalanya, gerimis mulai turun membasahi bumi. Bukannya mencari tempat berteduh gadis itu terus berjalan hingga gerimis berubah menjadi curahan air yang cukup deras.


Di depan kompleks dia menghentikan sebuah angkot yang melewati daerah tempatnya tinggal. Azkia duduk di dekat pintu, tubuhnya sedikit menggigil karena bajunya yang basah ditambah dengan terpaan angin.


Seturunnya dari angkot, Azkia harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa ojek pangkalan. Beruntung tukang ojek itu mau mengantarkannya di tengah hujan yang masih mengguyur. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumahnya. Azkia turun dari motor lalu memberikan sejumlah uang pada sang ojek. Sambil memeluk dirinya sendiri Azkia berjalan memasuki gang.


Baru saja kakinya menjejakkan kaki di teras rumah, suara teriakan Daniar terdengar dari dalam. Dengan segera Azkia membuka pintu. alangkah terkejutnya dia melihat Agus sedang menyiksa ibunya. Sedang Hanin tampak duduk ketakutan di pojok ruangan. Azkia segera merangsek maju ketika melihat Agus akan memukul Daniar.


“Jangan sakiti ibu!!!”


Azkia memeluk pinggang Agus dari belakang lalu menarik tubuh lelaki itu menjauh dari Daniar. Agus melepaskan pelukan Azkia, kemudian membalikkan badannya. Dengan pandangan berapi-api dia melayangkan tamparan ke pipi Azkia.


PLAKK!!


Saking kerasnya tamparan Agus, gadis itu sampai tersungkur ke lantai. Melihat Azkia terjatuh, Daniar berlari ke arah anak gadisnya itu. Dia memeluk Azkia, mencoba melindungi anaknya. Agus yang sedang kalap kembali menghampiri keduanya. Melihat itu Azkia membalikkan tubuhnya hingga kini dia yang menutupi tubuh Daniar.


Agus tak dapat menahan dirinya lagi, entah setan apa yang tengah merasukinya. Tanpa ampun dia menendangi tubuh Azkia, punggung, perut dan pinggangnya tak luput dari tendangannya. Hanin berteriak meminta Agus untuk berhenti begitu pula dengan Daniar namun tak dipedulikannya.


🍁🍁🍁


😱😱😱 **Azkia.. siapa yang bakalan nolongin Azkia ya..


Menurut kalian sikap Rain gimana sih? kasih pendapat di kolom komentar ya..


Jangan lupa ya kasih like, comment and votenya yang kenceng😉**

__ADS_1


__ADS_2